Ini kisah tentang mahasiswi yang menikah dengan dosen di kampusnya. dosen muda dan tampan tetapi memiliki sikap dingin sekaligus menyebalkan dan sialnya Hamra, nama mahasiswi tersebut, menyukai dosen itu.
Dosen baru yang tanpa permisi telah mengobrak-abrik hati dan pikiran Hamra.
Banyak hal yang tak terduga terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosyda19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Matahari telah kembali keperaduannya bergantian dengan sang bulan. Tidak seperti biasanya Hamra menjadi
pendiam bahkan saat makan malam pun Hamra yang biasanya ceria dan bawel kini menjadi pendiam.
“Hamra kamu sakit?” tanya Ibu Arka karena merasa aneh dengan sikap diamnya Hamra.
“Nggak kok bu, cuma kecapean aja kayaknya,” jawab Hamra.
“Udah ini langsung istirahat ya,” ucap Ibu perhatian. “Arka, Hamranya jangan diajak bergadang!” perintah Ibu Arka pada anak sulungnya itu.
“Kapan aku ajak Hamra bergadang, Bu,” rajuk Arka.
“Lah jadi belum bikin cucu buat ibu dong?” tanya Ibu dengan raut sedih.
“Astagfirullah, Bu. Kirain apa. Itu rahasia dapur, ibu gak boleh tahu. Tahu-tahu ada hasil,” jawab Arka tanpa di saring
terlebih dahulu.
Hamra hanya menunduk pikirannya terus mengarah pada teror yang di terimanya tadi.
Perasaan selama ini aku gak pernah buat masalah sama orang, kok aku ada yang neror sih?
“Dek,” panggil Arka sambil menepuk halus pundak Hamra.
“Eh... iya apa a?” tanya Hamra.
“Makannya udah?” Arka menanyakan itu karena ia melihat di piring Hamra masih tesisa setengah porsi dari biasanya Hamra makan.
“Udah aja a, aku kenyang,” jawab Hamra lesu.
“Kamu kenapa? Ada masalah?” tanya Arka karena sudah tidak tahan dengan sikap aneh Hamra hari ini.
“Gak ada a.”
“Kalau gaada kenapa kamu diem aja dari tadi?”
“Kan tadi aku udah bilang kalau aku kecapean aja. Aa gak usah khawatir ya,” jawab Hamra sambil mengenggam tangan Arka agar Arka tidak khawatir.
“Ya sudah sekarang kamu istirahat aja, biar yang beresin ini Ibu sama Mia aja,” perintah Ibu yang tidak bisa Hamra bantah.
Hamra langsung menuju kamar karena sebenarnya ia lelah, lelah dengan pikiran yang mengarah pada teror itu.
Saat Hamra akan memejamkan matanya Arka datang dan duduk di samping Hamra yang sedang berbaring.
“Kalau ada masalah ade cerita aja ke Aa. Anggap aja Aa itu sahabat kamu,” ucap Arka sambil mengelus puncak kepala Hamra. Tak ingin membuat Arka khawatir Hamra harus berbohong jika ia tidak memiliki masalah apapun.
“Aa,” panggil Hamra.
“Hm...”
“Aku boleh minta sesuatu gak?” tanya Hamra ragu wajahnya sudah memerah karena ia malu ingin mengungkapkannya.
“Mau minta apa sayang?” tanya Arka lembut.
“Pengen minta peluk, sama Aa bilang Ana Uhibbuki Fillah, ya ya ya,” pinta Hamra dengan menampilkan puppy eyesnya tapi tak bisa dipungkiri juga bahwa wajah Hamra sudah memerah.
“Peluk aja sayang halal kok.” Mendapat persetujuan itu Hamra langsung memeluk Arka yang posisinya setengah berbaring.
“Sekarang bilang yang kata aku tadi,” pinta Hamra lagi.
“Harus ya?” tanya Arka karena ia malu jika harus mengukapkan itu.
“Harus!” jawab Hamra tegas.
“Sayang, rasa itu tidak selamanya diungkapkan lewat kata-kata bisa juga dengan perbuatan seseorang pada pasangannya,” jawab Arka yang mampu membuat Hamra melting.
“Sekarang tidur,” ucap Arka sambil mencium kening Hamra dan membaringkan tubuhnya sambil memeluk Hamra.
***
Pagi menyapa kedua insan yang masih tertidur tanpa terganggu dengan cahaya hangat matahari pagi memasuki celah celah gorden bahkan kicauan burung sekalipun tidak membuat sepasang pasangan halal itu terbangun.
Setelah melaksanakan sholat subuh mereka tertidur kembali karena cuaca yang dingin ditambah dengan jadwal mereka yang masuk siang.
Tok tok tok
“Kak Arka, Kak Hamra bangun, sarapan.”
“Tak ada jawaban dari dalam kamar yang pintunya diketuk tadi.
Tak menyerah Mia terus mengetuk pintu kamar kakaknya bahkan sekarang ketukan itu sudah berubah menjadi irama.
Merasa terganggu Arka terbangun, tepat ketika membuka mata yang pertama dilihat adalah wajah tenang Hamra yang menambah kesan cantik di mata Arka.
Kegiatan paginya harus terganggu karena ketukan dari adiknya. Dengan menahan rasa kesal Arka bangkit dan membuka pintu.
“Berisik, Mia,” geram Arka, bukannya takut Mia malah membalas Arka.
“Abisnya kakak gak bangun-bangun dari tadi di bangunin.”
“Sekarang udah bangun kan, ya udah kamu sana turun!” perintah Arka langsung menutup pintu lalu menuju pada kekasih halalnya.
“Dek, bangun, sarapan dulu yuk.” Seperti biasa cara membangunkan Hamra adalah dengan mengelus kepala Hamra sambil dibisikan agar cepat bangun.
Tak lama Hamra terbangun yang langsung disuguhkan oleh pemmandangan indah, yaitu senyum Arka.
Cup
“Morning kiss,” ucap Arka setelah mengecup sudut bibir Hamra.
“Ih... mesum.”
“Gak apa-apa mesum sama istri sendiri.”
“Udah ah aku mau makan, laper.” Setelah mengatakan itu Hamra melenggang pergi menuju ruang makan. Sebenarnya itu hanya alibinya saja karena ia tidak mau terlihat oleh Arka kalau wajahnya sudah memerah.
Belum jua Hamra sampai di ruang makan Arka sudah menyusul dan menyusupkan tangannya dengan tangan Hamra agar bergandengan.
Pukul 9 Hamra berangkat ke kampus sendiri karena Arka harus ke kantor terlebih dahulu. Mendapatkan izin dari Sang Suami Hamra berangkat ke kampus menggunakan sepeda motor. Sesampainya di kampus ia bertemu dengan Zareen, mereka bertegur sapa sebentar.
Saat sampai di kelas, kelas masih terlihat sepi hanya ada beberapa mahasiswa yang sudah datang itu pun yang terkenal rajin. Setelah mengucapkan salam Hamra langsung duduk di tempatnya.
Baru saja ia duduk sudah berdiri kembali bahkan sampai kursi yang di dudukinya bergeser cukup jauh. Di mejanya terdapat sebuah surat yang bertuliskan ‘MATI KAMU!’ yang di tulis menggunakan spidol merah. Hamra ingin menjerit tapi ia tahan tidak mau membuat yang lain ikutan heboh atau merasa takut.
“Hamra...” panggil Syakira dengan sedikit berlari dan memeluk Hamra seperti mereka tidak bertemu bertahun-tahun lamanya padahal kemarin saja sudah bertemu.
Hamra menyembunyikan kertas teror itu disaku gamisnya agar tidak diketahui oleh Syakira, yang ada nanti dia akan lapor kepada Arka.
“Apa sih Sya kayak yang udah gak ketemu bertahun-tahun?” tanya Hamra dengan nada seperti risih tapi tak urung Hamra pun membalas pelukan Syakira.
“Kangen tahu gak, biasanya kan yang aku lihat pertama di kosan itu kamu,” ujar Syakira dengan raut sedih yang
dibuat-buat.
“Berasa aku suami kamu tahu gak Sya,” ucap Hamra dingin. Lalu mereka tertawa bersama menertawai kekonyolan mereka.
Pukul setengah sepuluh kelas baru terasa ramai karena memang jadwal perkuliahan kelas Hamra adalah pukul 10.
“Eh tugas udah belum?” tanya Zara yang baru saja datang.
“Ni anak dateng-dateng nanyain tugas, pasti belum,” ucap Isfana.
“Hehe tahu aja deh kamu. Mau lihat dong.” Tanpa banyak bicara Isfana memberikan bindernya untuk di salin oleh Zara.
Karena hanya satu mata kuliah jadi mereka memilih untuk pergi ke kafe yang dekat dengan kampus mereka.
“Eh Ra itu bukannya Pak Arka ya? Kok sama cewe?” tanya Ara sambil menunjuk meja yang agak jauh dari tempat mereka duduk.
Dengan secepat kilat Hamra melihat kearah yang ditunjuk Ara. Ternyata itu memang Arka. Hamra mengirim pesan pada Arka untuk memastikan.
Hamrawira
A, lagi dimana?
Arkana Ezra
Lagi di kafe. Emang kenapa?
Hamrawira
Sama siapa? Kok gak ajak ade sih:(
Arkana Ezra
Sama temen-temen kantor sayang:*
Sejauh ini mungkin Arka jujur pada Hamra. Namun, Hamra ingin menanyakan lebih lanjut apakah Arka jujur atau tidak.
Hamrawira
Perempuan atau laki-laki?
Arkana Ezra
Laki-laki sayang, kamu tenang aja
Hamra memandang kecewa pada Arka. Pikiran-pikiran buruk menghantuinya, tapi segera ia tepis.
Mungkin dia gak mau buat aku cemburu. Pikir Hamra.
Sedangkan itu laki-laki yang baru dikirimi pesan oleh istrinya menatap ponsel dengan penuh penyesalan.
Maaf aku harus bohong, aku belum siap untuk menceritakan masa lalu aku. Batin Arka.
“Siapa?” tanya seorang gadis di hadapan Arka.
“Istriku,” jawab Arka singkat.
Gadis itu melihat kesekeliling kafe, lalu tatapan matanya tidak sengaja bertemu dengan Istri Arka. Bagaimana ia tahu? Gadis itu melihat di laman instagram laki-laki yang ada di hadapannya ini, lelaki yang masih menempati hatinya.
Tatapan mata Istri Arka yang diketahuinya bernama Hamra terus mengarah pada Arka, sedangkan yang ditatap sedari tadi tidak menyadari keberadaan sang istri. Bahkan tadi tidak sengaja ia melihat isi pesan dari Arka bahwa ia berbohong.
Ingin membuat istri mantanya itu cemburu, gadis itu meletakkan tangannya di atas tangan Arka. Arka sempat ingin menarik tapi ditahan oleh sang gadis.
Gadis itu melihat Hamra menuju kamar mandi, ia pun mengikutinya.
“Kamu istri dari Arka, kan?” tanya gadis yang bersama Arka tadi.
Hamra hanya mengangguk saja karena dihatinya ia sangat marah, karena Arka diam saja ketika tangannya dipegang oleh wanita lain. Apalagi sekarang wanita itu ada dihadapannya.
“Perkenalkan aku Tiara, mantan Arka.” Wanita itu memperkenalkan diri pada Hamra membuat Hamra terkejut.
Pantas saja A Arka berbohong.
***
Aku seneng sih banyak yang menanti cerita ini sampai komen "lanjut" banyak banget, tapi aku lebih seneng kalau komennya itu tentang alur atau tokoh yang ada di cerita ini, bukan berarti yang komen lanjut aku gak seneng, seneng banget malahan itu tandanya kalian suka dan menanti cerita ini yang gak ada bagus-bagusnya. Pokoknya makasihh