Sinopsis
Pernah tidak kepikiran kalau saja kalian punya ilmu yang tiada tanding di alam lain? Ya... kita mungkin tidak pernah kepikiran sampai ke sana, tapi ini beda dengan yang di alami oleh Tan Xiao Yi. Di kehidupannya saat ini dia adalah seorang ibu rumah tangga dengan 3 orang anak dan sebagai istri dari seorang pengusaha yang cukup sukses.
Hingga suatu ketika pada saat malam tiba, dia langsung pindah ke dimensi alam lain yaitu era 700 masehi masa Dinasti Tang. Disanalah dia memasuki ke dalam tubuh seorang gadis cantik bernama Yiyi.
Bagaimana kehidupan dia disana sebagai Yiyi? Apakah dia bisa kembali ke alam nyatanya lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ide busuk selir Gu Mei terungkap
"Siapa yang berani melawan istriku?" tanya Mo Yan tegas pada mereka semua. Mo Yan melihat mereka semua yang sudah terluka. "Ling Zhe, bawa tuan Pat Kua pulang kerumahnya dan jangan biarkan dia bekerja di sini lagi!" suruh Mo Yan yang tidak senang dengan si tukang masak itu.
"Baik, pangeran," respon dari Ling Zhe yang langsung menyuruh ajudannya bergegas membawa si tukang masak itu pergi.
"Pangeran ke-3, ampuni hamba! Hamba sudah bersalah. Hamba mohon jangan usir hamba, pangeran!" teriak si tukang masak sambil berlalu pergi saat di bopong para ajudan Ling Zhe.
Mo Yan tidak menghiraukannya. Dia langsung menuju ke dayang tua yang masih meringis kesakitan.
"Pangeran ke-3, dia telah menyiksa hamba hingga seperti ini. Mohon keadilan, pangeran!" katanya sambil menunduk memohon di kaki Mo Yan.
"Dia? Siapa?" tanya Mo Yan yang ingin mendengar jawaban si dayang tua.
Dayang tua itu menunjukku. "Di.... dia... selir Yi!"
"Bukankah tadi kau menyebutnya selir b*suk?" tanya Mo Yan yang sontak membuat si dayang tua itu kaget ketakutan. "Lancang sekali mulutmu berani menyebut istriku dengan sebutan selir busuk! Apa kau sudah bosan hidup?" tanyanya yang mulai geram.
"Ampunnnnn, pangeran! Hamba tidak berani lagi. Mohon ampun, pangeran! Jangan bunuh hamba!" pintanya sambil menangis.
Mo Yan mengambil pedang Ling Zhe dan mengarahkannya pada leher si dayang tua. "Aku tidak akan membunuhmu, tapi dengan syarat.... katakan padaku siapa yang menyuruhmu untuk mengganggu selir Yi?" ancam Mo Yan.
Dayang tua sudah bergetar ketakutan. "Ampun, pangeran! Hamba.... hamba...hamba di suruh oleh selir Gu Mei untuk memfitnah selir Yi agar selir Yi diasingkan dan dijauhi semua orang," jawabnya yang membuat kami tercengang.
"Apakah kejadian saat malam pengantinku juga di dalangi oleh Gu Mei?" tanya Mo Yan lagi.
"I... itu... iya, pangeran. Selir Gu Meilah yang sengaja membuat pangeran Cheng Yi mabuk berat dan kemudian menyuruh beberapa orang membawanya ke kamar pengantin kalian. Sehingga selir Yi akan di tuduh atas kesalahannya yang berselingkuh dengan pangeran Cheng Yi. Hamba sudah mengatakannya semua. Pangeran, hamba mohon ampuni hamba!" jelasnya panjang lebar sambil memohon agar di ampuni.
Mo Yan menarik kembali pedangnya. "Aku akan mengampunimu," jawabnya dengan senyum menyeringai.
"Terima kasih, pangeran! Terima kasih banyak sudah mengampuni hamba," katanya sambil tidak berhenti memohon-mohon.
"Ling Zhe, kurung dia di penjara bawah tanah dan cambuk dia 50 kali!" perintah Mo Yan yang membuat dayang tua itu ketakutan lagi.
"Pangeran, ampuni aku! Pangeran, ini semua bukan salahku. Ini salah selir Gu Mei, pangeran. Aku mohon, bebaskan aku!" pintanya terus menerus saat sudah di bawa ajudan Ling Zhe pergi dari dapur istana.
"Pengawal!" panggil Mo Yan pada para pengawalnya.
"Siap, pangeran!" jawab mereka kompak yang berjumlah 6 orang.
"Bawa para dayang ini pergi dari sini! Pukul mereka 30 kali dan usir mereka keluar dari istana!" suruh Mo Yan dengan tegas.
Mereka semua tidak berani memohon ampun karena statusnya yang rendah dan pastinya tidak akan dikabulkan oleh Mo Yan. Mo Yan menghampiriku dan langsung memelukku dengan erat.
"Aku minta maaf karena selama ini sudah salah menilaimu, Yiyi," bisiknya di telingaku.
Aku dapat merasakan ketulusannya, tapi aku tidak mudah percaya padanya sebelum semuanya mendapatkan balasannya. Aku ingin Yiyi benar-benar bersih dari semua fitnahan.
Aku melepaskan pelukkannya. "Aku ingin kau menghukum selir ke-2!" pintaku yang sudah tidak senang mendengar kebusukkan selir Gu Mei.
"Baik! Aku akan menghukumnya sekarang juga. Kau ikut denganku!" kata Mo Yan sambil mengangguk menyetujui permohonanku dan mengajakku ke tempat selir ke-2.
'Bagus! Aku ingin lihat pertunjukkan yang seru hari ini,' ujarku dalam hati sambil tersenyum tipis.
Mo Yan langsung menuju ke paviliun 'Mawar Merah' tempat kediaman selir ke-2 dengan diikuti oleh Ling Zhe dan beberapa ajudannya. Aku mengikuti Mo Yan dari belakang, karena aku sangat penasaran dengan sandiwaranya.
Setibanya di paviliun selir ke-2, Mo Yan membuka paksa pintu rumahnya. Tampak selir ke-2 sedang menulis sesuatu di meja tulisnya. Dengan gugup, dia langsung mengambil kertas tersebut sambil meremasnya hingga berbentuk bola kecil dan digenggamnya dengan erat.
Mo Yan menatapnya aneh. "Apa yang kau tulis?" tanya Mo Yan penasaran sambil menghampirinya.
Dia sangat ketakutan. "Ti...tidak.. ada apa-apa, Yang Mulia," jawabnya terbata-bata.
"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa harus takut saat melihatku?" tanya Mo Yan sambil memicingkan matanya.
"Hamba hanya.... hanya... menggambar saja, Yang Mulia."
"Gambar apa yang sedang kau gambar? Tidak usah malu padaku, aku kan suamimu. Aku tidak akan menertawakan hasil gambarmu walaupun tidak sempurna," kata Mo Yan sembari mencari perhatiannya dan memberi aba-aba dengan tangannya kepada Ling Zhe.
Ling Zhe dengan sigap mengambil kertas tersebut dari tangan selir ke-2 tanpa sepengetahuannya. "Ini, pangeran!" katanya sambil menyerahkan kertas tersebut.
Mo Yan membuka kertas yang sudah jadi bola itu dengan pelan-pelan agar tidak sobek. Begitu kertasnya sudah terbuka lebar, Mo Yan melihatnya dengan serius sambil tersenyum dengan makna tersembunyi.
"Gu Mei, tidak ku sangka kau punya rencana yang sempurna. Kau berani bermain api dibelakangku. Hahahaha....." tawanya yang kelihatan sangat tidak senang.
Selir ke-2 berlutut lemas di depan Mo Yan. "Yang Mulia, anda salah paham. Ini semua tidak seperti apa yang anda bayangkan. Ini..."
"Diam kamu!" bentaknya yang membuat selir ke-2 tidak dapat berkata-kata. "Kau mau mengasingkan selir Yi agar kau dengan mudah menjatuhkan derajat jenderan Tan, ayahnya. Dan kau juga bersekongkol dengan musuh yang ingin menjatuhkan ayahku dengan segala siasat busukmu. Kau berani mencuri keuangan istana untuk kemakmuran keluargamu. Kau benar-benar hebat, Gu Mei," kata Mo Yan sambil bertepuk tangan setelah mengetahui kejahatan selir ke-2. "Ternyata, kau adalah mata-mata tersembunyi yang mengikutiku selama 5 tahun ini. Sikapmu yang baik ternyata menyembunyikan segala kebusukkanmu. Kau merencanakannya dengan sangat rapi sekali, tapi sayang... Tuhan sudah berpihak padaku. Jadi....."
"Ampuni hamba, Yang Mulia! Hamba terpaksa melakukan ini karena diancam oleh keluargaku. Hamba mohon, maafkan hamba!" pintanya sambil memohon-mohon pada Mo Yan sambil menangis.
"Hapus air matamu! Aku sudah muak melihatmu. Ling Zhe...." kata-kata Mo Yan terhenti saat selir ke-2 dengan gesit sudah berada di belakang Mo Yan dan mengarahkan pisau tajamnya ke leher Mo Yan.
"Diam!" titahnya yang sudah kelihatan liar. "Aku sudah sabar selama ini menanti pembalasan cinta darimu. Aku sangat mencintaimu, tapi karena kau tidak pernah mencintaiku maka aku merencanakan ini semua. Keluargaku ada dendam dengan kaisar Lim. Oleh karena itu, aku di utus untuk masuk istana dan menjadi mata-mata di sini sampai akhirnya aku benar-benar mencintaimu. Tadinya, aku memang ingin menghilangkan jenderal Tan dari sisi ayahmu agar tidak ada lagi yang bisa melindunginya sehingga mudah bagiku untuk membunuhnya kapanpun. Ayahku juga ingin mengambil semua keuangan istana agar kami menjadi kaya sehingga dapat menguasai dunia seperti kaisar Lim. Ayahku sudah menyuruh beberapa orang untuk membunuhmu, tapi aku cegah. Karena apa? Karena cintaku padamu yang sudah melindungi nyawamu. Aku tidak peduli dengan yang lain mau mati atau tidak. Aku hanya ingin kamu selalu disampingku, tapi sekarang kau menghancurkan mimpiku," jelasnya panjang lebar.
Bukan nya cpet2 slesaiin misi, emang ga mikir ninggalin suami n anak2 di dunia modern
Makasih banyak ya buat support mu pada karya ku! ❤️🤗😘