NovelToon NovelToon
ISTRI CADANGAN SANG MAFIA

ISTRI CADANGAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Istri Cadangan Sang Mafia

Di hari pernikahan, Selena Kustiono menghilang.
Demi menyelamatkan keluarganya, Serina Kustiono dipaksa menggantikan sang kakak menikahi Vincent Timothy, bos mafia paling berkuasa sekaligus ayah tunggal dari Viren, putra genius yang menolak kehadiran ibu baru.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.
Tak ada cinta.Tak ada pilihan.

Namun saat Viren mulai memanggil Serina "Mama", Vincent menyadari satu hal—musuhnya kini tak lagi mengincar kekuasaannya, melainkan keluarganya.

Mampukah seorang istri cadangan bertahan di sisi pria yang seluruh hidupnya dipenuhi darah, pengkhianatan, dan rahasia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Serina menarik napas pelan. "Maaf... saya belum tahu siapa Anda."

Wanita itu tersenyum. "Aku, Lila Timoty, Ibu tirinya Vincent."

"Kalau begitu... Anda datang untuk bertemu Vincent?"

"Tentu."

Serina tersenyum sopan. "Silakan duduk, Bu."

Lila mengangguk pelan, lalu duduk di sofa ruang tamu. Gerak-geriknya tenang, seolah tempat itu bukanlah lingkungan yang asing baginya. Serina mengambil tempat di hadapannya.

Tak lama kemudian, Soraya datang membawa nampan berisi segelas teh dingin dan beberapa kudapan ringan. Ia meletakkannya di atas meja dengan penuh hormat. "Silakan, Nyonya Lila."

Lila menatap Soraya sesaat, lalu tersenyum tipis.

"Terima kasih, Soraya."

Soraya membalas dengan anggukan kecil.

"Sudah lama sekali," ujar Lila pelan sambil mengangkat gelas di hadapannya. "Aku tidak menyangka masih ada orang yang mengingat kesukaanku."

Soraya tetap berdiri dengan sikap hormat.

"Bagaimanapun juga, Nyonya pernah menjadi bagian dari keluarga Timoty."

Lila menyesap minumannya perlahan. "Teh melati dingin." Senyumnya kembali mengembang. "Rasanya tidak berubah."

Soraya hanya membalas dengan senyum tipis.

Sementara itu, Serina memperhatikan keduanya dalam diam. Ia dapat merasakan ada hubungan yang tidak sekadar antara pelayan dan tamu.

Soraya mengenal Lila. Dan Lila pun mengenal seluruh kebiasaan di mansion ini. Artinya... Wanita itu memang pernah menjadi bagian dari rumah ini.

Suasana ruang tamu sejenak dipenuhi keheningan.

Lila meletakkan kembali gelasnya di atas meja. Tatapannya beralih kepada Serina. "Jadi... apa yang membuat Vincent menikahimu?"

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi cukup membuat Serina terdiam beberapa saat. Ia tidak mungkin menceritakan kenyataan bahwa dirinya hanya menggantikan Selena di hari pernikahan.

"Itu keputusan kami," jawab Serina tenang.

Lila tersenyum tipis. "Hanya itu?"

Serina mengangguk. "Saya rasa, alasan itu cukup untuk diketahui orang lain."

Lila menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Vincent bukan pria yang mudah membuka hati." Tatapannya menelusuri wajah Serina, seolah mencari sesuatu. "Dia bahkan lebih memilih hidup sendiri daripada membiarkan seseorang masuk ke dunianya."

Serina hanya tersenyum kecil. "Mungkin beliau hanya merasa saya orang yang tepat."

"Lalu, apakah kamu mencintainya?" Pertanyaan itu datang begitu saja.

Serina kembali terdiam. Ia menurunkan pandangannya sesaat sebelum menjawab pelan,

"Saya menghormati beliau sebagai suami."

Lila memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Serina. "Kamu tidak menjawab pertanyaanku."

Serina mengangkat wajahnya. "Perasaan tidak selalu harus diucapkan, Bu."

"Menarik." Tatapannya tidak lagi setajam tadi.

"Setidaknya sekarang aku mengerti... kenapa Vincent memilihmu."

Percakapan mereka terhenti ketika suara mesin mobil terdengar memasuki halaman mansion.

Soraya yang berdiri tak jauh dari ruang tamu melirik ke arah jendela. "Tuan sudah pulang."

Tak lama kemudian, pintu utama terbuka.

Vincent melangkah masuk lebih dulu dengan jas yang masih rapi di tubuhnya. Di sampingnya, Viren berjalan sambil membawa tas sekolah di pundaknya.

Begitu memasuki ruang tamu, langkah Vincent langsung terhenti. Tatapannya jatuh pada sosok wanita paruh baya yang duduk berhadapan dengan Serina.

Viren yang semula hendak berlari menghampiri Serina ikut menghentikan langkahnya. Bocah itu mendongak ke arah ayahnya, lalu bergantian memandang wanita asing tersebut.

Suasana mendadak berubah sunyi.

Soraya menundukkan kepala. "Tuan... Nyonya Lila datang sejak tadi."

"Lila." Tidak ada sapaan. Tidak ada senyum. Hanya satu nama yang keluar dengan nada dingin.

Wanita itu bangkit perlahan dari duduknya. "Sudah lama sekali, Vincent."

Vincent berjalan mendekat. "Aku sudah pernah memperingatkanmu. Jangan datang ke mansion ini."

Lila tersenyum tipis. "Kamu masih keras kepala seperti dulu."

"Apa tujuanmu?"

Lila menatap Vincent tanpa gentar. "Aku datang mengambil hakku."

Ruangan langsung sunyi. "Hak apa?"

"Hak seorang perempuan yang pernah merawatmu ketika ayahmu meninggal."

Vincent menjawab tanpa ragu. "Ayahku sudah meninggal. Dan itu memutus hubungan antara kamu dan aku."

Lila tersenyum getir. "Jadi selama ini, hanya itu yang kamu pikirkan?"

Vincent menatap lurus ke arahnya. "Sebutkan tujuanmu."

Lila menghela napas. "Rumah yang kutempati sudah dijual. Aku tidak punya tempat tinggal."

Serina menoleh kepada Lila, mengamati wanita itu begitu rapuh.

"Aku tidak meminta perusahaanmu. Aku tidak meminta uangmu. Aku hanya ingin tempat untuk menghabiskan sisa hidupku."

Ruangan kembali hening.

Beberapa detik berlalu tanpa ada suara. Vincent memejamkan mata sejenak. Entah apa yang terlintas di benaknya. Mungkin wajah ayahnya.

Mungkin masa kecil yang ingin ia lupakan.

Akhirnya Vincent membuka mata. "Kau boleh mendapatkan tempat tinggal."

Semua orang terkejut. Termasuk Serina.

Namun kalimat Vincent belum selesai. "Tapi tidak di mansion ini." Tatapannya berubah dingin. "Jangan pernah menganggap mansion ini sebagai milikmu."

"Dimas akan menyiapkan rumah untukmu. Semua kebutuhanmu akan ditanggung."

Senyum tipis di wajah Lila perlahan menghilang.

"Jadi... kau benar-benar tidak mengizinkanku tinggal di mansion ini?"

"Tidak." Jawaban Vincent terdengar tegas, tanpa sedikit pun keraguan. "Lila, rumah ini bukan lagi tempatmu."

"Aku tidak membutuhkan rumah baru." Lila berdiri perlahan. "Aku datang ke sini bukan untuk meminta belas kasihan. Aku datang ke rumah yang dulu juga pernah menjadi tempat tinggalku."

Vincent menatapnya tanpa emosi. "Itu dulu. Sekarang rumah ini milikku."

Lila menggeleng pelan. "Rumah boleh menjadi milikmu. Tapi kenangan di dalamnya tidak akan pernah bisa kau usir."

Vincent berbalik. "Dimas."

"Ya, Tuan."

Suasana ruang tamu mendadak sunyi. Serina hanya memandang keduanya tanpa menyela.

Lila mengembuskan napas panjang. Ada sedikit kekecewaan di matanya, tetapi ia tidak memperdebatkannya.

"Baiklah."Ia bangkit dari duduknya. "Aku memang pernah merawatmu ketika ayahmu meninggal. Tapi rupanya, semua itu sudah tidak berarti lagi bagimu."

Vincent tidak menjawab. Tatapannya tetap datar.

Lila meraih tas tangannya. Saat melewati Serina, langkahnya terhenti. Ia menatap wanita muda itu beberapa saat. "Jaga Vincent."

Serina sedikit terkejut.

"Dia selalu terlihat kuat." Lila tersenyum getir.

"Padahal, dia hanya pria yang terlalu pandai menyembunyikan lukanya."

Serina belum sempat menjawab. Lila kembali melangkah menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.

"Terima kasih... karena sudah menjadi teman bagi Viren." Kalimat itu membuat Vincent mengangkat pandangannya.

Namun Lila tidak menunggu jawaban. Ia melangkah keluar dari mansion dengan tenang.

Soraya segera mengantar hingga ke halaman depan.

Pintu utama kembali tertutup. Keheningan menyelimuti ruang tamu.

Viren yang sejak tadi berdiri di samping ayahnya menggenggam ujung lengan jas Vincent. "Ayah..."

Vincent menunduk.

"Siapa nenek itu?"

Vincent terdiam beberapa saat. Lelaki itu menarik napas pelan. "Orang yang pernah menjadi bagian dari masa lalu kita." Hanya itu jawaban yang ia berikan.

Tanpa menambahkan apa pun, Vincent menggenggam tangan putranya dan melangkah menuju ruang kerja.

Sementara Serina tetap berdiri di tempatnya.

Tatapannya mengikuti punggung suaminya yang perlahan menjauh.

Ia menyadari bahwa masih ada begitu banyak kisah tentang Vincent yang belum pernah ia dengar.

Di luar gerbang mansion Timoty, sebuah mobil hitam telah menunggu. Lila masuk ke Kursi belakang tanpa berkata apa-apa. Baru setelah mobil mulai bergerak, ia mengeluarkan ponselnya.

Satu nomor segera dihubungi. "Aku tidak berhasil masuk."

Di seberang sana terdengar suara seseorang, tetapi tidak jelas. Lila memejamkan mata sejenak. "Vincent menolak mentah-mentah."

Ia mendengarkan beberapa detik, lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

"Baik."

"Aku akan mencari cara lain."

Sambungan telepon terputus.

Mobil terus melaju meninggalkan mansion.

Sementara itu, tak seorang pun di keluarga Timoty menyadari...

Kedatangan Lila hari itu ternyata bukan sekadar kunjungan biasa.

1
Kayla Rane
Vincent kayak gak suka Ibunya. apa jangan² ada sesuatu dibalik itu
Kam1la
ibu tirinya Vincent...kak
Kayla Rane
neneknya viren kah? orangtuanya ibunya viren🤭
Kayla Rane
serina mah tipe cewek yang gak kegatelan mandiri juga. mungkin itu yg di sukai vincent🤭
Anonim
Lanjut 💪💪💪
Anonim
Heeemmm😍😍
Anonim
Semakin menarik 🤭🤭🤭
Anonim
Lanjut 💪💪💪
Kayla Rane
kereen
Anonim
Lanjut 🤭🤭🤭
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Iya, iya, yuk.
Tio Buki
Iya lengkaplah, kan udah tersedia
Tio Buki
Iya sama sama.
Tio Buki
Jangan tanya aku, aku juga tidak tau
Tio Buki
Minumlah
Tio Buki
Itu cuma secara kebetulan saja
Tio Buki
Itu kamar namanya, kalau rumah, ada diluarnya🤣🤣
Tio Buki
Biarkanlah
Tio Buki
Oh begitu ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!