Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 | Lip Tint Merah Ceri
Sesi konsultasi satu jam itu akhirnya resmi berakhir.
Untuk pertama kalinya sejak Orion dirawat di Silver Oak, percakapan mereka berjalan relatif tenang tanpa ada insiden fisik yang membahayakan, meski ketegangan emosional di antara keduanya masih terasa amat tebal.
"Waktu sesi hari ini sudah habis, Orion," ujar Luna, suaranya sudah kembali stabil dan tenang. "Kamu bisa kembali ke kamar dengan perawat. Saya ada rapat singkat dengan tim medis di ruang staf."
Orion tidak langsung bangkit. Ia hanya mengangguk pelan, menatap Luna yang mulai merapikan barang-barang di atas meja kerjanya.
Luna melepaskan jubah putih dokternya dan menyampirkannya di sandaran kursi. Sebelum keluar dari ruangan, ia melangkah ke arah cermin kecil yang terpajang di dekat pintu. Luna meringis tipis melihat pantulan dirinya. Wajahnya tampak agak pucat dan lelah setelah melalui badai emosi sejak semalam.
Agar tidak terlihat mengenaskan saat bertemu dengan rekan-rekan dokter lainnya, Luna merogoh saku tasnya dan mengeluarkan sebuah lip tint berwarna merah ceri yang manis. Dengan perlahan, Luna memoleskan pemerah bibir itu ke bibir bawah dan atasnya, lalu meratakannya. Warna merah yang segar seketika menghidupkan kembali rona di wajah cantiknya.
Namun, Luna tidak menyadari bahwa di belakangnya, sosok Orion sudah berdiri tanpa suara.
Mata abu-abu Orion membelalak tipis, mengunci pandangan pada cermin, menatap bagaimana bibir mungil Luna kini terpoles warna merah yang begitu basah, ranum, dan menggoda. Binar tenang yang baru saja terbentuk di mata Orion seketika musnah, digantikan oleh kilat hitam yang pekat dan sarat akan obsesi murni.
Sebelum Luna sempat memutar tubuhnya, sebuah tangan tegap menyambar pergelangan tangannya, menghentikan gerakannya yang hendak memasukkan kembali lip tint ke dalam tas.
"E-eh? Orion?!" Luna tersentak kaku saat tubuhnya mendadak diputar paksa, menyudutkannya ke dinding di samping cermin.
Orion berdiri sangat dekat, menangkup tubuh Luna hingga bayangannya menutupi seluruh cahaya di depan wanita itu. Rahang pria itu mengeras tajam, matanya menatap bibir merah Luna dengan posesif yang membakar.
"Mau kemana kamu pakai warna ini, Nanae?" bisik Orion, suaranya berubah menjadi geraman rendah yang sangat berbahaya.
"A-apa maksudmu? Saya cuma mau ke ruang staf untuk rapat!" sahut Luna panik, mencoba menarik tangannya dari cengkeraman Orion.
"Untuk siapa kamu mempercantik bibirmu begini?" potong Orion dingin. Ia mencondongkan tubuhnya, memotong jarak hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Napas hangat pria itu berhembus kasar di depan bibir Luna.
"Untuk dokter-dokter pria di luar sana? Atau untuk kakak polisimu yang mau menjemputmu nanti malam, hm?"
"Orion! Jangan berpikiran yang aneh-aneh! Ini cuma pemerah bibir biasa–"
"Aku tidak suka," pangkas Orion tegas dan tak terbantahkan.
Sebelum Luna sempat memprotes lebih jauh, ibu jari Orion terangkat. Dengan tekanan yang sedikit kasar namun sarat akan kepemilikan, Orion mengusap bibir bawah Luna secara perlahan, menghapus polesan warna merah ceri itu dan membiarkannya menempel di kulit jarinya sendiri.
Luna membeku, menahan napasnya saat merasakan gesekan ibu jari Orion yang hangat di bibirnya.
"Bibir ini hanya milikku, Rellunae," bisik Orion rendah, matanya berpindah dari bibir Luna naik mengunci mata cokelat wanita itu. "Tidak boleh ada pria lain yang melihatmu dengan warna seperti ini. Cuma aku yang boleh."
Orion mengangkat ibu jarinya yang kini ternoda warna lip tint merah Luna, lalu tanpa ragu menjilat noda merah itu tepat di depan mata Luna, sambil menyunggingkan senyum miring yang begitu manis sekaligus mematikan.
"Manis," gumam Orion pelan dengan pendar gila di matanya. "Lain kali, biar aku sendiri yang mewarnai bibirmu."
Luna mematung sempurna. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga suaranya seolah memenuhi ruang konseling. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Orion menjilat noda lip tint merah dari ibu jarinya, sebuah tindakan yang begitu intimidatif, gila, sekaligus sarat akan rasa memiliki yang teramat pekat.
"K-kau... gila..." bisik Luna, suaranya bergetar hebat. Pipi dan telinganya terasa amat panas, campur aduk antara rasa malu, panik, dan terintimidasi.
Orion tidak menyahut. Pria itu justru menyunggingkan senyum miringnya yang khas. Jemarinya yang tadi menghapus polesan bibir Luna kini mengusap sudut bibir wanita itu dengan amat lembut, seolah memastikan tidak ada sisa warna merah yang tertinggal untuk dilihat orang lain.
"Aku gila karena kamu, Nanae," bisik Orion rendah, merendahkan kepalanya hingga dahi mereka hampir bersentuhan. "Ingat kata-kataku. Kamu cuma milikku. Jangan pernah berdandan atau tersenyum untuk pria mana pun di luar sana. Mengerti?"
Luna meneguk ludah dengan susah payah. Sebelum ia sempat membalas ucapan posesif itu, pintu ruang konseling mendadak diketuk dari luar.
Tok tok tok!
"Dokter Luna? Rapat tim medis lima menit lagi akan dimulai di lantai empat," suara seorang perawat terdengar dari balik pintu.
Interupsi itu memecahkan mantra sihir yang mengurung mereka. Luna refleks memalingkan wajahnya, memanfaatkan momen itu untuk mendorong dada Orion menjauh. Kali ini, Orion membiarkan wanita itu melepaskan diri. Ia melangkah mundur dua langkah, menyilangkan tangan di dada sambil terus memandangi Luna yang sibuk merapikan baju dan rambutnya dengan gerakan serba panik.
"S-saya segera ke sana!" teriak Luna pada perawat di luar, suaranya diusahakan senormal mungkin.
Luna menyambar tasnya di atas meja, sama sekali tidak berani menatap mata abu-abu Orion lagi. "Saya harus pergi," cetus Luna dingin tanpa menunggu jawaban, lalu melangkah lebar meninggalkan ruang konseling.
Orion berdiri menyandarkan tubuhnya di dekat dinding, menatap punggung Luna yang menghilang di balik pintu. Senyum tipis yang penuh obsesi kembali terukir di wajah tampannya.
☆☆☆
Sore harinya, jarum jam menunjukkan pukul 18.45 WIB.
Suasana RSJ Silver Oak mulai lenggang saat jam operasional rawat jalan berakhir. Luna duduk di ruangannya, menatap layar laptop yang menampilkan laporan pasien. Namun, pikirannya sama sekali tidak ada di sana.
Bayangan interaksi gilanya dengan Orion seharian ini terus berputar di kepala. Ditambah lagi... peringatan dari Xabiru tadi siang.
Ting!
Ponsel Luna di atas meja bergetar. Satu pesan masuk dari Xabiru.
Xabiru: Aku sudah di parkiran depan RSJ, Re. Turun sekarang. Kita pulang bersama.
Dada Luna seketika berdesir cemas. Ia menghela napas panjang, merapikan barang-barangnya, lalu mematikan lampu ruangan. Ia memilih untuk mematuhi perintah Xabiru malam ini karena ia tau betul kalau pria itu bukanlah tipe orang yang suka dibantah bila sudah memasang mode 'polisi'.
Luna melangkah menyusuri koridor utama menuju lobi luar. Begitu melewati pintu kaca, ia langsung melihat mobil SUV hitam milik Xabiru sudah terparkir tepat di depan tangga lobi.
Xabiru berdiri di samping pintu kemudi. Pria itu sudah memutar gulungan kemejanya turun dan mengenakan jaket kulit hitam. Wajahnya terlihat amat kaku dan dingin di bawah sorotan lampu lobi, menyiratkan aura berbahaya yang amat pekat.
"Kak Biru..." panggil Luna pelan sambil menuruni anak tangga.
Xabiru tidak menjawab dengan kata-kata. Matanya yang tajam menatap Luna dari atas ke bawah, secara refleks memeriksa kondisi adiknya. Saat matanya hinggap di leher Luna yang masih tertutup plester, rahang Xabiru tampak makin mengeras.
Xabiru membukakan pintu penumpang depan untuk Luna. "Masuk, Renae."
Luna menurut tanpa banyak bicara. Ia masuk dan duduk di dalam mobil. Xabiru menyusul masuk ke kursi pengemudi, menutup pintu dengan dentuman keras, lalu langsung melajukan mobilnya membelah jalanan malam yang mulai merayap dingin.
Di dalam mobil, keheningan terasa begitu mencekam. Xabiru mencengkeram kemudi dengan erat, matanya fokus menatap jalanan di depan, sementara Luna memilih menatap keluar jendela.
"Kapan kamu mulai menyembunyikan sesuatu dari aku, Re?"
Suara berat Xabiru mendadak memecah keheningan. Intonasinya tidak lagi seperti seorang kakak yang ramah, melainkan seperti seorang penyidik yang siap membedah kebohongan.
Luna menoleh canggung. "M-maksud Kak Biru apa? Aku ngga sembunyiin apa-apa–"
"Jangan bohong!" potong Xabiru tegas, melirik Luna sekilas dengan mata hitamnya yang berkilat marah. "Aku udah lihat rekaman CCTV ruang konselingmu kemarin siang, Renae."
Mobil mendadak melambat saat berhenti di lampu merah, namun jantung Luna rasanya berhenti berdetak seketika saat mendengar kalimat itu. Wajahnya langsung pucat pasi.
"K-kak Biru... lihat CCTV?" bisik Luna gemetar.
"Ya," sahut Xabiru dingin. Ia memutar tubuhnya sedikit menghadap Luna, menatap adiknya lurus-lurus dengan tatapan murka yang tertahan. "Aku lihat sendiri bagaimana bajingan bernama Orion itu memegangmu... dan bagaimana dia meletakkan bibirnya di lehermu sampai membekas!"
Napas Luna tercekat di tenggorokan. "Kak Biru, itu... itu cuma insiden–"
"Insiden?!" potong Xabiru dengan nada tinggi. "Dia pasien gangguan jiwa yang berbahaya, Rellunae! Dia menyentuhmu, melecehkanmu di dalam ruanganmu sendiri, dan kamu malah menutupi perbuatannya pakai plester dan bohong sama aku?!"
"Aku cuma ngga mau bikin masalah ini makin rumit, Kak!" bela Luna, air mata panik mulai menggenang di pelupuk matanya. "Dia tanggung jawabku! Kalau sampai hal ini bocor, reputasi dan lisensi praktik aku bisa dicabut!"
Xabiru mengepalkan tangannya di atas kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Sisi posesif dan protektif yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik topeng 'kakak yang baik' perlahan mulai retak dan pecah.
"Aku ngga peduli soal lisensimu atau rumah sakit gila itu!" geram Xabiru rendah, suaranya begitu mengintimidasi hingga membuat suasana mobil terasa makin menyempit.
Xabiru mengulurkan tangannya, meraih dagu Luna dan memutar wajah wanita itu agar menatapnya lurus-lurus. Cengkeraman jemari Xabiru di dagu Luna terasa sedikit terlalu kuat.
"Kamu milikku, Renae. Aku yang menjaga kamu dari dulu," bisik Xabiru dengan pendar gelap di matanya, mengungkapkan obsesi terselubungnya yang selama ini tersembunyi. "Ngga ada seorang pun yang boleh menyentuh atau memberikan tanda di tubuhmu... apalagi pasien gila seperti dia."
Luna membelalak kaget. Cara Xabiru menatapnya dan kata-kata yang keluar dari mulutnya itu terdengar amat mirip dengan ucapan Orion beberapa jam yang lalu.