NovelToon NovelToon
Bukan Pengantin Cadangan

Bukan Pengantin Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: tami chan

Arunika Safana terpaksa menurut ketika kedua orang tua angkatnya memintanya untuk menikahi Bratasena Arka Sadajiwa, karena kakak angkatnya -Bianca- kabur tepat di hari pernikahannya dengan Sena. Demi menjaga nama baik kedua keluarga, Aruni menyetujui permintaan kedua orang tuanya meskipun Aruni dan Sena terpaut usia yang cukup jauh yaitu 12 tahun.

Sena; "Semua orang kek anj*ng! semua gara-gara Lo, Bii! kenapa Lo harus kabur di hari pernikahan kita! dan gue harus menikah dengan bocah ini?!"

Arunika; "Astaga kayak mimpi! Nggak ada yang tau, kalau selama ini aku memang suka sama Mas Sena. I have loved him since the first time we met, 2 tahun yang lalu. Dan sekarang aku harus menggantikan Kak Bi jadi pengantin Mas Sena? absolutely I do!"

Gimana ya, keseruan Arunika untuk mendapatkan hati Sena? berhasilkah dia? yuk ikuti kisah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ngambek yang nggak niat.

Sena duduk menyilangkan kaki di sofa, menatap Aruni lama sambil melipat kedua tangannya di dada.

Aruni merasa seperti anak kecil yang sudah berbuat salah dan sedang dimarahi oleh orang tuanya.

“Mana gaun yang kamu beli?” tanya Sena. Suaranya datar, berat dan menakutkan.

“I-ini…” Dengan perlahan Aruni menyerahkan paper bag warna merah yang didalamnya berisi gaun yang dia beli bersama Vivi barusan.

Sena menghela panjang, mengeluarkan gaun itu dari dalam papper bag. Membuka lebar dan memperhtikan modelnya. Sena melirik Aruni lalu kembali menatap gaun yang sedang dia bentangkan di depan wajahnya. “kamu suka model seperti ini?”

Aruni mengangguk, “Aku kurang suka model kemben.. takut melorot.. trauma…” ucap Aruni.

“Tapi.. apa lengannya tidak terlalu..”

“Ini bahannya jatuh, Mas. Jadi nggak menggelembung kok. Aku sudah mencobanya tadi, bagus dan nggak terlihat seksi…”

Sena berdecak, “gaun begini siapa yang bakal bilang seksi… ini di beri kerudung aja sudah bisa buat berangkat pengajian!” gumam Sena.

“Ya sudahlah, yang penting kamu suka…” Sena memberikan gaun tadi pada Aruni, “berangkat jam berapa?”

“Nanti jam tujuh…” Aruni melirik jam di dinding, masih jam lima sore, masih cukup untuk mandi dan berdandan sedikit.

“Kamu nggak ke salon?”

“Buat apa?”

Sena terdiam menatap istrinya yang polos itu, "Ya dandan.. make up, hair do, atau menipedi…”

“Buat apa?”

Sena terdiam lagi, entah untuk yang keberapa kalinya. Istrinya ini benar-benar wanita langka. Ataukah perempuan lain saja yang aneh? “Biasanya.. Bianca kalau ada undangan pesta, dari siang dia pasti sudah sibuk ke salon, meni pedi dan macam-macam-“

“Aku bukan kak Bianca!" ucap Aruni –kesal. Dari tadi siang, sewaktu Aruni membeli gaunpun suaminya ini selalu membicarakan Bianca! Bianca! Bianca! Memang dia kira Aruni senang mendengarnya?!

“Aku Arunika! Bukan Bianca! Jangan terus bandingkan aku dengan kak Bianca! Aku bukan dia dan nggak akan pernah jadi dia!” Aruni balik badan dan lari ke kamarnya dengan langkah menghentak-hentak , kesal.

Sena terdiam –bingung. “Memangnya aku salah ngomong?” gumamnya sambil menghela. Ketika dia bangun dari duduknya, sebuah kotak perhiasan yang dari tadi ada di saku jasnya –terjatuh. “Sial! Niatnya mau kasih kalung ini.. gimana cara kasihnya? Orangnya lagi ngambek.”

.

Aruni yang kesal, mengurung dirinya di kamar. Setelah mandi, Aruni langsung sibuk di depan meja riasnya untuk berdandan. Dandanan yang tak terlalu mencolok, flowles dan fresh.

“Cuma dandan simple begini, ngapain ke salon! Dasar orang kaya, sukanya buang-buang duit aja!" kesal Aruni sambil menepuk-nepukkan spon bedak ke pipinya.

“Memangnya aku  artis? Segala dandan di salon! Rambut di tata! Dia nggak takut apa, kalau aku cantik ada yang naksir?!” gerutunya. Tak ama kemudian Aruni terdiam, menatap nanar bedak padatnya yang beberapa detik tadi menjadi tempat pelampiasan kemarahan.  Lalu tersenyum getir teringat ucapannya sendiri. “kalau ada yang naksir aku.. mungkin kamu langsung minta cerai, ya? mungkin malah itu yang kamu mau biar bisa cari Kak Bianca terus balikan.” Aruni menarik napas dalam, “yah.. bagaimanapun aku memag tak bisa dibandingkan dengan Bianca! Bibit bebet bobotnya saja sudah beda jauh…” tiba-tiba pelupuk mata Aruni terasa panas, hatinya langsung nyeri ketika kenyataan hidup menampar dirinya.

“Di angkat anak oleh keluarga kaya, tidak menghilangkan asal usulku sebagai anak pemabuk yang kasar,” Aruni menatap cermin sambil tersenyum, “Sial! Maskaraku jadi belepotan! Ngapain sih, pake nangis segala! Cengeng banget si Lu, Arunika!”

Saat sedang memperbaiki makeupnya, ponsel Aruni berdering. Nama Vivi muncul di sana, dan Aruni segera mengangkat panggilan telpon itu.

“Halo?”

“Udah siap belom?” cerocos Vivi begitu telponnya diangkat oleh Aruni.

“Udah kok,”

“Ya udah buruan turun! Gue udah di depan rumah Lu!” ucap Vivi.

“Oh iya, oke. Aku turun.” Aruni menutup panggilan telponnya, mengambil tas bulu mungil warna putih, lalu memasukkan ponselnya ke dalam. Setelah itu dia pun bergegas keluar dari kamar sambil menjinjing sepatu highels warna silver.

Sena masih duduk di sofa, saat Aruni menuruni anak tangga. Mata mereka bersiborok, tapi tak ada yang bicara. Sampai akhirnya Aruni pun angkat bicara, dia harus pamit, kan?

“Mas, aku pergi dulu,” ucapnya ketika sampai di dasar anak tangga. Aruni tak mendekati Sena, setelah bicara dia langsung berbelok menuju pintu utama.

“Aruni!”

Tangan Aruni membeku saat akan membuka handel pintu. Dia diam menghadap ke pintu yang masih tertutup.

Terdengar langkah kaki Sena yang mendekat. Lalu berdiri tepat di belakangnya –sangat dekat, membuat jantung Aruni berdebar-debar tak karuan.

Tiba-tiba sebuah kalung berwarna putih dengan bandul permata berwarna biru tua, melingkari lehernya. Nafasnya tercekat saat tangan Sena bergerak melingkari lehernya. Rantai dingin menyentuh kulitnya. Jari-jari Sena yang hangat dan lembut, menyingkirkan beberapa anak rambut yang menempel di leher Aruni hingga tanpa sengaja jari besar dan kekar Sena yang hangat menyentuh bagian belakang lehernya -dan Aruni menggigil.

Dekat sekali. Mas Sena sangat dekat.

Sena mengaitkan pengait kalung di belakang leher Aruni dengan hati-hati. Gerakannya lambat, sengaja, seolah ingin memperpanjang momen. Nafas Sena menghembus pelan di rambut Aruni. Membuat Aruni tanpa sengaja menahan napas, padahal jantungnya berdebar-debar tak karuan di dalam sana.

Bandul permata biru itu jatuh tepat di lekuk dada Aruni, di atas gaun biru langit. Sempurna dengan gaunnya.

“Maaf…” bisik Sena.

Aruni tak menjawab, dia hanya menunduk, tangannya gemetar sambil menggegam bandul kalung yang sangat indah itu.

“Aku nggak bermasud membandingkan kamu dengan siapapun… Aruni..” bisiknya lagi.

Aruni mengangguk –paham, tapi tak berani menoleh, dia masih menunduk.

Sena terdiam, menatap tengkuk Aruni. Rambut Aruni yang tadi dia sibak ke bagian kiri, dan Aruni yang terus menunduk, makin menunjukkan betapa cantiknya tengkuk itu. Putih, jenjang dan tampaknya manis untuk dikecup.

Astaga! Sena langsung mengejapkan matanya, berusaha menyadarkan dirinya sendiri. Lalu dengan buru-buru menarik rambut Aruni untuk menutupi tengkuk cantik itu.

“Aakh! Mas, sakit!” pekik Aruni yang kaget dengan gerakan Sena yang tiba-tiba.

“Eh, maaf.. sa- eh maaf Aruni…”

“Mas Sena ini kenapa, sih?” Aruni mengusap kepalanya yang sedikit perih karena rambutnya secara tak sengaja tertarik barusan.

“Maaf, nggak sengaja.. tadi nyantol..” Sena langsung mengusap kepala Aruni sambil merapihkan rambut panjang yang tergerai lembut.

Gerakan itu tentu saja membuat pipi Aruni memerah. Mas Senanya sedang mengusap-usap kepala Aruni, siapa yang nggak deg-degan coba.  Hanya satu gerakan kecil dari Sena ini, sudah sukses membuat Aruni bahagia, padahal beberapa jam yang lalau dia marah-marah tak jelas pada suamnya ini. Ngambek yang benar-benar nggak niat, sebentar saja langsung luluh. Yah.. cinta memang begitu, nggak bisa di prediksi.

Seolah sadar Aruni gugup karena dirinya, Sena langsung menjauhkan tangannya dari kepala Aruni. “Cepat berangkat, jangan sampai terlambat,” ucapnya untuk mengalihkan perhatian.

“I-Iya..” Aruni mengangguk –gugup. Lalu membuka pintu dan ternyata Vivi sudah ada di depan –menunggunya. Wajahnya tersenyum penuh arti saat melihat Aruni dengan wajah merona dan Sena yang terlihat gugup.

“Siap?” tanyanya.

“I-Iya, ayo.” Aruni langsung menarik tangan Vivi dan bergegas meninggalkan Sena yang masih diam di ambang pintu.

“Aruni! Vivi, Kalian naik apa?” tanya Sena dengan suara lantang.

“Naik motor-“ jawab Vivi.

Sena mendengus, “tunggu, biar kuantar!”

“Yes!” pekik Vivi senang.

Sedangkan Aruni makin berdebar tak karuan.

1
hiro_yoshi74
kira" ada apa ya ...?
partini
maklum lah Aruni Wedi mbakyune balik kan sangangpuluh Sanga % pada nongol kaya jelangkung 😂😂
falea sezi
perawan dpet bekass 🤣🤣kasian amat dpet bekas kakak sendiri klo q sih mual
Tamie: g papa kak, kan emang bukan kamu yg dapet... 🤭
total 1 replies
falea sezi
ya sena cowok bekass🤣🤣🤣🤣 males deh
Reni Anjarwani
lanjut
sryharty
ya salaaam 5 ronde gaeessss,,
lecet2 ga ya punya rumi,,😁😁
Tamie: jangan ditanya... 🤭🤣
total 1 replies
hiro_yoshi74
wk wk hebat juga run 5 x di bolak balik kayak tahu goreng dadakan ....🤭
hiro_yoshi74: mendadak 🤭🤣🤣
total 2 replies
hiro_yoshi74
nah to bikin treveloka kk tam .....
Tamie: 🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭
total 1 replies
partini
nek sampe ping 4 pa 5 kue normal ping 1 pa 2 kue Ra normal
masa iya perdana kur Pindo 😂😂🤭🤭🤭 ya noo good lah
Tamie: weh.. suhune metu... 🤭🤣🤣
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut
Tamie: udah kak 🤭
total 1 replies
sryharty
kentang ka kentang,,bikin penisirin aja
selanjutnya mau apa mereka di kamar😁😁😁
Tamie: ngapain ya kira2... 🤭🤭😅
total 1 replies
partini
ya elah otak ku wis Travelling Thor 🤭😂😂
Tamie: 🤣🤣🤣 wes ngarep mesti kie... 🤣🤣🤣
total 1 replies
Hiro Yoshi
siap eksekusi run🤭🤣🤣
Hiro Yoshi: lanjut kk
total 2 replies
aku
buyar dah moment nya 😌😌🤣🤣🤣
Tamie: ambyar... 😅😅
total 1 replies
partini
welehhh endingnya di kokop tadi mode Curek budek gawe nek wkwkwkwkkkk
partini: he ahh ngerti Bae koh,,ga kokop sedina ora afdol 🤭🤭😂😂
total 2 replies
hiro_yoshi74
mau mau aje ly di umpani adit ren ren wirang kan 🤭🤣🤣🤣🤣🤣
Tamie: kasihan... 🤭🤭😅
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Hiro Yoshi
sadapp..... begitu Dateng langsung dapet samsak ........ jozzz
Hiro Yoshi: bobel up lah KK 🤭 plissss🙏
total 2 replies
partini
lah Thor part Sena cuma SE etttttwellll
partini: yesss ora ngapak ora kepenak 🤭
total 4 replies
hiro_yoshi74
wk🤣🤣🤣🤣 ngk nyangka juga vivi bakalan langsung tersepona sama adit 🤭🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!