NovelToon NovelToon
Terjerat Hati Adik Ipar

Terjerat Hati Adik Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.

Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.

Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.

Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20• Menantu Nomor Dua

Mobil berhenti di halaman rumah pukul 07.20. Cahaya pagi redup memantul di jarum jam dashboard.

Naya turun lebih dulu. Pintu mobil ditutup pelan. Ia tidak menoleh ke Bara. Kakinya melangkah masuk, melewati teras yang masih basah oleh embun.

Di ruang tengah, Ibu Desy duduk di sofa. Jarinya menggeser layar ponsel, tapi matanya terangkat saat mendengar suara pintu.

“Dari mana kalian?” Suaranya ketus. Tatapannya menyipit ke arah Naya.

Naya menggigit bibir bawah. Mulutnya terbuka, tapi tenggorokannya mengencang. Ia tidak tahu kebohongan mana yang harus disusun.

Beruntung, Bara masuk sesaat setelahnya.

“Tadi Mbak Naya minta diantar ke kantor Mas Arkan, Ma,” kata Bara tenang. “Berkasnya ketinggalan.”

Sekali lagi, Bara menutupi.

Ibu Desy mengangguk pelan, lalu meletakkan ponsel di meja. “Bukannya hari ini hari pertama kamu masuk kerja, nak?” tanyanya ke Bara.

Bara tersenyum tipis. “Iya, Ma. Aku mau mandi, ganti baju dulu.” Ia melangkah pergi ke kamar, meninggalkan ruang tengah yang mendadak terasa lebih dingin.

“Aku ke kamar dulu, Bu,” ucap Naya. Suaranya canggung.

“Nay, tunggu dulu,” Ibu Desy menyela. Ia menyilangkan tangan di dada. “Jeslyn bilang akan datang hari ini untuk fitting baju tunangan. Karena ibu tidak bisa menemani, jadi kamu gantikan.”

Naya mengangkat wajah. “Tapi Bu…”

Ibu Desy menghela napas kasar. “Jangan menolak.”

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan pergi. Meninggalkan Naya berdiri kaku di ruang tengah.

Satu jam kemudian, rumah kosong kecuali Naya. Ia menunggu Jeslyn datang. Padahal suasana hatinya masih buruk, tapi paksaan Ibu Desy membuatnya menurut.

Mobil Jeslyn masuk ke halaman. Ia turun santai, kedua tangan penuh kantong dan kotak. Saat melihat Naya di ruang tengah, Jeslyn tersenyum. Terlalu lebar untuk terlihat tulus.

“Eh Mbak Naya, udah lama nungguin?” Suaranya melengking dari arah pintu.

“Aku bawa kue buat Bara dan Mas Arkan,” lanjutnya sambil mengangkat kantong kertas. “Tolong simpan di kulkas ya. Eh, yang ini pelan-pelan bawanya, isinya tas mahal buat Ibu Desy.” Ia menunjuk paper bag bertuliskan nama brand ternama.

Naya menurut. Ia menyimpan kue ke kulkas, lalu kembali ke ruang tengah. Jeslyn masih sibuk dengan ponselnya, seolah Naya tidak ada.

“Eh udah ditaruh kulkas? Aduh lupa lagi, maaf ya Mbak. Kamu gak aku beliin oleh-oleh, kelupaan. Lagian banyak teman yang nitip, jadi lupa sama Mbak Naya,” kata Jeslyn tanpa menoleh.

Naya mengangguk. “Gak apa-apa, Jes. Jadi fitting bajunya?”

“Jadi dong,” jawab Jeslyn, masih menatap layar. “Tapi tolong bikinin minum dulu. Aku haus.” Ia menoleh sekilas, mengedipkan mata dan tersenyum saat memberi perintah.

Napas Naya tertahan. Lagi-lagi ia direndahkan oleh calon menantu Ibu Desy, padahal status itu belum sah. Pantas Bara tidak pernah melirik Jeslyn seperti saat ia menatap Naya. Keduanya terlalu bertolak belakang.

“Maaf ya, Jes. Aku bukan pembantu di sini,” ujar Naya. Cukup. Ia sudah terlalu sering merasa kecil di depan perempuan itu.

Jeslyn mengerutkan alis. Jarinya langsung menekan tombol panggil di ponsel, menghubungi Ibu Desy. Sejak awal ia sudah menyiapkan skenario ini. Jika Naya menolak, ia tinggal mengadu.

“Halo, Tan. Mbak Naya gak mau nemenin aku fitting baju. Gimana nih, aku udah janjian sama orang butik,” ucap Jeslyn. Suaranya mendadak melemah, dibuat memelas.

Naya membelalak. “Gak, gak bener. Aku mau nemenin kok.”

Jeslyn menatap tajam ke arah Naya. Ia mendekatkan ponsel yang sudah diaktifkan mode pengeras suara.

“NAYA! KAMU HARUS NURUT DENGAN JESLYN! DIA CALON MENANTU SAYA!” Suara Ibu Desy menggelegar, menusuk gendang telinga Naya dan menghantam lurus ke dadanya.

Tanpa berkata lagi, Naya berbalik ke dapur. Ia membuatkan minuman untuk Jeslyn. Di ruang tengah, Jeslyn mematikan ponsel dan tersenyum puas.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di butik pilihan Jeslyn. Gaun-gaun pengantin tergantung rapi, berkilau di bawah lampu. Naya sempat melirik satu gaun. Harga di labelnya hampir setara gaji Arkan dua bulan.

Dulu, saat menikah dengan Arkan, ia hanya menyewa gaun yang harganya tidak sampai setengah juta. Sekali lagi, jarak itu terasa.

“Bara suka gak ya kalau aku pilih gaun ini?” Jeslyn menunjuk satu gaun putih dengan belahan di sisi paha, penuh manik-manik mutiara menjuntai. Gaun itu lebih pantas untuk pernikahan daripada tunangan.

“Jes, kamu kan cuma tunangan. Masa pakai gaun berlebihan seperti mau menikah,” ujar Naya. Pendapat jujur.

Jeslyn langsung melirik tajam. “Kamu bilang cuma? Kamu iri aku nikah sama Bara?” Nadanya naik, padahal Naya hanya menilai gaun itu.

Tak lama kemudian, Bara datang. Ia muncul di tengah keributan Naya dan Jeslyn.

“Ada apa kok bentak Mbak Naya?” tanyanya sambil mendekat dan berdiri di samping Naya.

“Bar, dia gak suka kita tunangan. Dia iri kayaknya, dulu pernikahannya gak semewah pesta tunangan kita nanti,” jawab Jeslyn sambil meraih tangan Bara.

Bara melepaskan genggaman itu. Ia mendekati gaun yang ditunjuk Jeslyn, lalu menatapnya kembali. “Kamu berlebihan, Jes. Kita cuma tunangan, gak seharusnya kamu pakai gaun semewah itu. Dan gak seharusnya juga kamu pergi ke butik seperti ini.”

Kata-katanya jelas membela Naya, meski tidak diucapkan terang-terangan.

Jeslyn mengepalkan tangan. “Bar, aku mau pesta tunangan kita meriah. Kamu tau kan Papa aku orang terpandang di kota, undangannya pasti banyak.”

“Kalau bukan karena Mama, aku gak akan datang ke sini buat ribut sama kamu, Jes,” balas Bara. Lalu ia pergi, meninggalkan Jeslyn dan Naya di tempat itu.

“Ih, Baraaa!” teriak Jeslyn.

“Udah, Jes. Mungkin Bara butuh waktu. Dia capek, habis kerja dan cuma izin keluar sebentar,” kata Naya, masih berusaha menahan keadaan, padahal ia sendiri ingin pergi dari sana.

“Gara-gara lo, Bara jadi marah!” bentak Jeslyn. Lalu ia pergi, meninggalkan Naya berdiri sendirian di antara deretan gaun mahal yang terasa semakin asing.

1
azzura faradiva
terlalu berbelit²,tinggal bilang aku ga jadi nikah aja kok susah....🙄
azzura faradiva
dasar si Arkan bunglon semoga saja pasangan gila itu mendapatkan karma,mereka tertawa bahagia diatas penderitaan dan luka hati si naya
azzura faradiva
seharusnya Naya menghilang dan pergi yg jauh,biar ga pernah bertemu lagi dgn kluarga gila itu lagi
azzura faradiva
pergi aja, ngapain juga masih bertahan di rumah syetan itu.udah di tindas harga diri di injak² masih aja mau di jadikan budak🙄
azzura faradiva
lagian jadi perempuan ga ada harga dirinya sama sekali,udah tau di budakin dan di khianati masih saja bertahan tinggal disitu
Raden Saleh
💪 semangat terus berupaya, karena cinta tak selalu mulus, dan perlu di perjuangkan. 👍
senjani jingga: benar sekali😁💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!