NovelToon NovelToon
Dipaksa Nikah, Suamiku Ternyata Orang Terkaya

Dipaksa Nikah, Suamiku Ternyata Orang Terkaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta setelah menikah / Percintaan Konglomerat
Popularitas:74.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

"""Kamu tidak perlu disukai semua orang. Cukup aku yang menyukaimu.""

Berawal dari sebuah jebakan yang memaksanya bangun di ranjang Arka Surya, hidup Lina Chen seketika berubah 180 derajat. Dari seorang anak ""pembawa sial"" menjadi seorang ratu yang bertatah di kerajaan Surya.

Meski terduduk di kursi roda, pewaris muda konglomerat itu mampu melindungi Lina dari setiap serangan, baik itu dari ibunya yang kejam, mantan tunangan brengsek, hingga musuh-musuh tersembunyi.

Namun, semua itu malah menumbuhkan rasa curiga di hati Lina dan semakin menguat ketika Lina bangun dengan pinggang remuk setelah malam pernikahannya. Bagaimana bisa seseorang yang cacat begitu gesit?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Chen Jiajun Menyesal Setengah Mati

Reza membawa Ko Jun ke koridor servis di belakang restoran.

Tidak ada musik lembut mall di sana. Tidak ada etalase terang, tidak ada aroma parfum mahal. Hanya lampu putih, suara mesin pendingin, dan lantai beton yang dingin. Ko Jun berdiri dengan punggung menempel ke dinding, napasnya tidak teratur.

"Kamu tidak bisa begini," katanya. "Aku kakak Lina."

Reza melipat lengan kemejanya. "Justru karena Anda kakak Nyonya, Tuan Arka masih memberi Anda kesempatan bernapas lega."

"Aku sudah minta maaf."

"Maaf yang keluar setelah tahu posisi Tuan Arka tidak dihitung sebagai penyesalan. Itu disebut kalkulasi."

Ko Jun menatap pintu, mencari jalan kabur. Dua orang Bayu berdiri di ujung koridor.

Reza melangkah mendekat. "Dengarkan baik-baik. Mulai malam ini, jangan hubungi Nyonya untuk Pak Hartono, proyek keluarga, atau omong kosong soal bakti anak. Jika Anda mendekati beliau dengan niat buruk, tangan Anda akan benar-benar tidak berguna."

"Kamu mengancamku?"

Reza tersenyum sopan. "Saya menyampaikan kebijakan rumah tangga."

Ko Jun marah. "Lina akan membencimu kalau tahu."

"Nyonya sudah cukup lama membenci dirinya sendiri karena keluarga seperti Anda. Saya rasa beliau tidak punya sisa tenaga untuk membenci saya."

Kalimat itu membuat Ko Jun terdiam.

Reza tidak perlu membuat keributan besar. Ia hanya menahan kedua pergelangan Ko Jun, menekan dan memutar dengan teknik cepat. Ko Jun menjerit tertahan, lututnya hampir jatuh. Tidak ada tulang yang benar-benar patah, tetapi rasa sakitnya cukup membuat tangan itu gemetar tak terkendali.

"Ini peringatan," kata Reza. "Masih bisa sembuh. Kesempatan berikutnya mungkin tidak."

Ko Jun merosot ke lantai, memegang pergelangan tangannya dengan wajah basah keringat.

"Kamu semua gila," bisiknya.

"Tidak," jawab Reza. "Kami hanya telat datang ke hidup Nyonya."

Di area parkir VIP, Lina duduk di dalam mobil sambil membuka grup WA wali murid.

Ia tidak tahu detail apa yang terjadi pada Ko Jun. Ia memilih tidak bertanya dulu. Mungkin itu pengecut. Mungkin itu cara tubuhnya menjaga diri setelah terlalu banyak konflik dalam satu malam.

Grup wali murid kembali ramai.

Bu Lina, terima kasih rekap materinya.

Bu, anak saya mau latihan tambahan.

Maaf Bu, tadi saya ikut khawatir karena dengar dari grup lain.

Lina membaca pesan terakhir dengan dahi berkerut.

Dengar dari grup lain?

Ia mengetik balasan singkat, tetap sopan. Lalu ia mengirim file latihan tambahan yang sudah ia siapkan di mobil tadi. Jari-jarinya bergerak otomatis. Bagian dirinya yang guru tetap bekerja bahkan ketika bagian lain ingin tidur panjang.

Arka masuk ke mobil beberapa menit kemudian. Reza duduk di depan. Bayu tidak ikut, hanya mengetuk kaca dan mengangkat jempol sebelum pergi.

Mobil bergerak keluar dari parkiran mall.

Lina menatap Arka. "Ko Jun?"

"Pulang dengan pelajaran."

"Pelajaran seperti apa?"

Arka menatapnya. "Yang tidak akan membuatnya masuk rumah sakit."

Lina menghela napas pelan. Ia tidak tahu apakah itu cukup menenangkan. Namun ia juga tahu Ko Jun tidak akan berhenti hanya dengan kata-kata. Selama ini, semua orang di keluarga Chen berani karena yakin Lina akan diam.

Malam ini, mereka belajar bahwa Lina tidak lagi sendirian.

Jalanan Jakarta malam itu masih ramai. Lampu mobil memanjang seperti garis merah di kaca. Lina mencoba fokus pada grup WA, tetapi pikirannya terus berputar.

Pak Hartono melihatnya sebagai perempuan yang bisa dipaksa.

Ko Jun melihatnya sebagai alat keluarga.

Madam Hong melihatnya sebagai noda yang harus dihapus.

Dan Arka?

Arka melihatnya sebagai apa?

Istri, katanya.

Pasangan, mungkin.

Namun setelah tahu masa lalunya dengan Pak Hartono, apakah Arka jijik? Apakah ia berpikir Lina membawa terlalu banyak masalah? Apakah tadi ia marah karena harus membersihkan kekacauan yang bukan miliknya?

Lina tahu pikiran itu tidak adil. Arka sudah membela, sudah melindungi, sudah menatapnya tanpa menyalahkan. Tetapi luka lama tidak menunggu bukti untuk bicara. Luka lama selalu berbisik lebih dulu.

Ia membuka chat Arka tanpa sadar, padahal pria itu duduk di sampingnya.

Kolom ketik kosong.

Arka melihat dari sudut mata. "Mau mengirim pesan padaku?"

Lina kaget dan langsung mengunci layar. "Tidak."

"Aku duduk di sini."

"Aku tahu."

"Kalau ingin bertanya, tanya."

Lina menatap keluar jendela. "Tidak ada."

Arka tidak memaksa.

Justru diamnya membuat Lina makin gelisah. Dulu, jika Kenzie diam, Lina akan panik. Ia akan mencari kesalahan sendiri, meminta maaf lebih dulu, menawarkan solusi untuk masalah yang belum tentu ia sebabkan.

Sekarang kebiasaan itu kembali.

"Arka," panggilnya akhirnya.

"Ya?"

"Kamu..." Lina menelan ludah. "Kamu marah?"

"Ya."

Jawaban itu membuat jantung Lina turun.

Ia memaksa tersenyum. "Karena aku?"

Arka menoleh penuh padanya. "Bukan."

"Tapi wajahmu sejak tadi..."

"Aku marah pada Pak Hartono. Pada Ko Jun. Pada Madam Hong. Pada semua orang yang membuatmu berpikir kamu harus bertanya apakah aku marah padamu setelah kamu disakiti."

Lina terdiam.

Kata-kata itu seharusnya menenangkan. Namun justru membuat matanya panas.

"Aku tidak mau merepotkanmu," bisiknya.

Arka menghela napas sangat pelan. Ia mengulurkan tangan, berhenti di tengah, menunggu izin. Lina melihat tangan itu, lalu perlahan meletakkan jarinya di telapak Arka.

Arka menggenggamnya hati-hati.

"Kamu bukan masalah yang harus kubersihkan," katanya. "Kamu istriku."

Lina menunduk. Air mata jatuh satu, cepat ia hapus.

Namun rasa lega itu belum sempat mengakar. Ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Bu Mei muncul.

Bu Lina, besok pagi harap datang lebih awal. Ada beberapa orang tua yang ingin berdiskusi langsung soal metode PR.

Lina memejamkan mata.

Arka membaca pesan itu dari samping. Wajahnya kembali dingin.

"Siapa yang menggerakkan mereka?" tanyanya.

Lina tidak menjawab. Ia juga belum tahu.

Tetapi wajah Madam Hong muncul di kepalanya. Ancaman di toilet masih terlalu segar. Hancurkan karier dan nama baik. Lina menggenggam ponsel lebih erat. Sekolah adalah tempat paling aman dalam hidupnya. Jika tempat itu ikut diserang, ia tidak yakin bagian mana dari dirinya yang masih bisa berdiri.

Arka memperhatikan jari-jarinya yang memutih di sekitar ponsel. Ia tidak berkata apa-apa lagi, tetapi rahangnya mengeras.

Mobil terus melaju ke arah SCBD. Di luar jendela, pantulan lampu kota bergerak di wajah Arka yang mendadak sangat dingin.

Dan Lina tidak bisa menebak apa yang sedang direncanakan suaminya.

Ia hanya tahu keheningan kali ini berbeda. Bukan keheningan marah padanya. Bukan juga keheningan yang meminta ia menebak kesalahan sendiri. Ini keheningan seseorang yang sedang menyusun langkah.

Lina menggenggam ponsel di pangkuan. Besok pagi, ia akan kembali berdiri di sekolah sebagai guru. Tapi malam ini, di sisi pria yang terlalu tenang itu, ia mulai mengerti bahwa perang kecil di grup WA mungkin sudah berubah menjadi sesuatu yang lebih besar.

Ia melirik Arka sekali lagi. Pria itu tidak memandangnya, tetapi tangannya masih menggenggam tangannya. Dingin di wajahnya untuk musuh, hangat di telapak tangannya untuk Lina.

Perbedaan itu membuat Lina semakin sulit menebak batas pria itu.

Mungkin suatu hari ia harus bertanya. Tentang Tuan Besar. Tentang kaki Arka. Tentang semua orang yang tahu lebih banyak daripada dirinya.

Tapi malam ini, ia terlalu lelah. Untuk sementara, genggaman tangan itu menjadi jawaban yang bisa ia terima.

Besok baru ia bertanya.

Sementara itu, Arka menatap keluar jendela dengan wajah dingin, seolah jawabannya sudah berubah menjadi rencana.

1
sitanggang
bener2 gak jelas jalan cerita yg sangat buruk
sitanggang
jalan ceritanya AMBIGU 🙄
sitanggang
hadeuhhhhh kok bisa bodoh bgt keterusan bodohnya kina ini🤣🤣🤣🤣
sitanggang
lagi2 kek kebo🤣
sitanggang
terlalu lemah dan mudah dikendalikan org lain ... kek kebo dungu dicucuk hidungnya🤣🤣🤣🤣🤣
sitanggang
kukira MC pintar , tegas. masalah madam Hong saja gak kelar2, gak lucu🤣🤣
sitanggang
Lina terlalu lemah, bodoh lagi cupu sok jual mahal, mudah ditindas tak tau terima kasih
Wirda Wati
😂😂😂😂😂
Wirda Wati
lucu. kamu Reza .nyawa juga penting 🤣🤣🤣🤣
Wirda Wati
lanjuuut
Wirda Wati
untung dpt suami yg baik dan pengertian
Wirda Wati
🤣🤣🤣🤣😂😂😂😂
ceritamu kereeen thort
Wirda Wati
kereeeen❤️
Wirda Wati
🤣🤣🤣🤣❤️👍
Wirda Wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤭
Wirda Wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣😂😂😂😂😂
Wirda Wati
❤️
Wirda Wati
Maya dan Roja sama gilanya 😂
Wirda Wati
Kereeen lina👍
Biar Maya belajar dari kesalahannya.
Wirda Wati
Dasar mata ngga tau malu😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!