"Sayang...kamu kan calon suamiku, jadi ini wajar." Suara bisikan mesra Gabriela.
"Tapi, nona... maksudku sayang ini tidak..."
Sebuah ciuman yang begitu panas, perlahan merayap, sulit untuk menghentikan bujuk rayunya.
Gabriela tersenyum diam-diam. Dirinya akan membalas kekasihnya yang asli.
Kekasihnya yang asli?
***
Gabriela mengalami kecelakaan sebulan lalu. Laporan medis yang tertukar membuat semua orang mengira Gabriela mengalami amnesia.
Dika, tunangan Gabriela seorang pengusaha terkemuka memanfaatkan kesempatan ini untuk berselingkuh.
Saat Gabriela tersadar Dika mengatakan bahwa.
"Aku hanya majikan kekasihmu. Kekasihmu adalah orang ini." Kalimat yang diucapkan Dika menunjuk pada butler yang selalu melayani keperluannya.
Gabriela hanya mengangguk, ingin mengetahui hati tunangannya.
Dalam permainan cinta ini, hatinya perlahan terbakar oleh sang butler, membuang sosok Dika.
"Gabriela! Aku pacarmu yang asli!"
"Benarkah? Tapi yang palsu lebih perhatian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merebut Tunangan Majikan
Apa yang diharapkannya dengan menjadi pelayan keluarga Ananta seumur hidupnya? Dirinya hanya ingin hidup dengan damai hingga tua nanti. Segala hal sudah dilakukannya untuk keluarga Ananta.
Hampir 24 jam dirinya melayani keluarga tersebut. Bahkan mengabaikan perasaannya sendiri. Lagi pula jika Gabriella menikah dengan Dika, walaupun hanya melayani sebagai kepala pelayan, dirinya sama sekali tidak ragu. Karena hutang budinya kepada keluarga Ananta. Sion sama sekali tidak berharap lebih dari itu.
Tapi kali ini, Dika Ananta berani menghianatinya. Jangan harap dirinya akan berbelas kasih.
Dor!
Menembak secara efektif, melukai tapi tidak membunuh, kilatan cahaya lampu sedikit mengenai kacamatanya. Dirinya berhasil menembak lengan kanan dari salah satu preman yang memegang parang.
Darahnya terciprat mengenai wajah Sion. Pemuda yang segera melepaskan kacamata yang kotor oleh cipratan darah.
Lima orang yang bergerak hampir bersamaan, dirinya juga bergerak tidak kalah cepatnya.
Dor!
Dor!
Tembakan yang mengenai bahu dan lengan dua orang lainnya yang memegang parang.
Sion tersenyum menyeringai, tiga orang sudah roboh. Wajahnya yang biasanya terlihat ramah di hadapan Gabriella kini berubah bagaikan monster. Tetap terlihat rupawan tapi kulitnya yang begitu putih begitu kontras dengan darah yang terciprat.
Tiga orang lainnya bergerak, jarak mereka terlalu dekat. Jika dirinya menggunakan senjata api, maka sudah pasti ketiga orang ini akan mati. Karena itu, Sion kembali memasukkan senjata apinya. Memegang pergelangan tangan salah satu dari preman kemudian memanfaatkan berat badannya untuk membuatnya tidak seimbang.
Brak!
Bergerak begitu efisien, begitu cepat, menggunakan sikunya melumpuhkan pada area bagian tengkuk sang preman, hingga tidak sadarkan diri.
Pemuda yang memungut balok kayu kali ini.
Hanya tersisa dua orang, satunya memegang balok kayu, satunya lagi memegang pisau.
Anehnya mereka yang tadinya menyerang penuh semangat, saat ini melangkah mundur terlihat ketakutan.
"Jangan mendekat! atau kami akan membunuhmu!" Ucap salah seorang dari mereka yang gemetaran memegang pisau.
Sion mendekat tanpa ekspresi, tapi itulah yang membuatnya terlihat mengerikan. Darah masih terlihat mengotori wajahnya. Tangan kanannya menyeret balok kayu.
Suara balok kayu yang bergesekan dengan lantai membuat suasana semakin hening dan menegangkan.
Tapi.
Di tengah suasana hening itu, Sion tiba-tiba bergerak cepat. Benar-benar gerakan yang cepat.
Brak!
Brak!
Mereka masing-masing lumpuh dengan dua pukulan.
Sion melirik ke arah mereka, 3 diantaranya tidak sadarkan diri. Sedangkan tiga lainnya, berada dalam keadaan luka akibat tembakan senjata api.
Dirinya mulai tertawa."benar-benar balas budi sialan..."
Dika mungkin tidak menyadari, Sion tidak akan semudah dulu untuk dikendalikan lagi.
***
Kecemasan ada dalam diri Gabriella, sudah pukul 11.00 malam tapi Sion belum kembali juga. Ini benar-benar aneh baginya, biasanya pemuda itu begitu tepat waktu.
"Apa Dika memberinya perintah aneh-aneh lagi?"
"Atau yang lebih parah, dia berkencan dengan wanita lain? Lalu aku bagaimana?"
Wanita yang benar-benar cemas setengah mati, bergumam dengan pemikirannya sendiri.
Hingga pada akhirnya suara mobil memasuki pekarangan terdengar. Dengan cepat Gabriella berlari ke arah teras.
Tapi anehnya mobil sudah terparkir, pemiliknya sama sekali tidak terlihat.
Hingga hal yang aneh, dirinya melihat Sion mengendap-endap, berjalan melalui halaman samping. Ini aneh dan lucu, benar-benar aneh dan lucunya...
Membuat Gabriella menipiskan bibir menahan tawanya. Bagaimana pemuda itu mengendap-ngendap sambil membawa tas belanjaan serta box berisikan kue.
"Sayang..." suara panggilannya terdengar.
Tapi anehnya bukannya berhenti, Sion malah melangkah melarikan diri semakin cepat, melalui area samping rumah.
Tentu saja Gabriella bergerak cepat juga untuk mengejarnya."Sayang kenapa lari? kamu tidak merindukanku?"
Pertanyaan dari Gabriella membuat Sion menghela nafas, langkahnya terhenti.
Perlahan Gabriella berjalan mendekatinya.
Tapi.
Wanita itu tertegun, melihat cipratan darah di wajah Sion. Pemuda itu tidak memakai kacamata seperti biasanya. Juga, pakaian butler nya kotor, biasanya Sion begitu rapi. Tapi saat ini benar-benar berbeda.
Seperti... sedikit keren?
"Aku bisa menjelaskannya..." Sion tertunduk ragu, bagaikan penuh rasa bersalah.
"Tampan... Kenapa kamu menggunakan kacamata? Kamu bisa menyetir ke rumah tanpa kacamata. Itu artinya matamu tidak mengalami gangguan bukan?" Tanya Gabriella memujinya begitu antusias.
"Sebenarnya, sedikit mengalami gangguan, minus satu, aku masih bisa melihat tanpa kacamata. Tapi agar semua pekerjaan tidak ada kesalahan, termasuk mengenali wajah klien dari jauh, aku harus tetap menggunakannya bukan?"
Benar juga, pemuda ini benar-benar perfeksionis, tidak akan membiarkan ada celah sedikitpun dalam kegagalan pekerjaannya.
"Maaf aku pulang dalam keadaan kotor. Ini benar-benar tidak sengaja, aku tidak selalu menyukai kekerasan. Ini... sebenarnya karena---" kalimat Sion disela.
Gabriella menghela nafas. Kedua tangannya menangkup pipi Sion agar menatap padanya.
"Tidak apa-apa, aku menyukai Sion yang bersih maupun Sion yang kotor. Karena kamu adalah Sion ... pacarku..." kalimat demi kalimat dari Gabriella, membuat pemuda itu tertegun.
Senyuman Gabriella yang terkena cahaya bulan begitu cerah. Wajahnya yang selalu sedih ketika menunggu Dika datang, kini tersenyum begitu indah.
Gabriella selalu menjadi yang tercantik, dirinya sama sekali tidak memungkiri hal itu. Apa memilikinya adalah bagian dari salah satu keserakahan?
"Pacarku..." Gabriella menarik pipi Sion kuat, seperti gemas.
Benar! Ingatan Gabriela masih menghilang. Begitu ingatannya kembali, maka Gabriella akan kembali pada Dika, dirinya akan dilupakan. Kenapa Gabriella harus menyukai si brengsek?
Sion menepis tangan Gabriella, kemudian berusaha keras untuk tersenyum."Setelah membersihkan diri, aku akan menepati janji memasak makanan sederhana. Untuk sementara waktu, ini kue kiwi, makanlah...!"
Sion segera melangkah pergi meninggalkannya terburu-buru. Sedangkan Gabriella menghela nafas menerima kue.
Dirinya tidak ingin bertanya dari mana cipratan darah itu. Karena dirinya mengetahui, keluarga Ananta memiliki banyak musuh. Mungkinkah mereka yang mengincar Sion?
"Apa aku harus ngirim bodyguard untuk melindunginya ya?" gumam Gabriella ragu, terlihat sedikit cemas.
***
Aroma steak yang menggugah selera. Sion sama sekali tidak menggunakan kacamatanya. Apa mungkin hilang atau rusak?
Tapi tidak mengapa, entah kenapa kacamata bulat besar itu begitu mengganggu. Apa sebaiknya memberikan kacamata yang terlihat lebih modern?
Tapi tanpa kacamata betapa tampannya...
"Kamu suka?" tanya Sion meletakkan potongan daging lagi, pada piring Gabriella.
"Suka..." Gabriella mengunyah lebih banyak.
Sion menghela nafas, berucap penuh keraguan."Jika ingatanmu kembali nanti, bolehkah aku memintamu untuk menghindari Dika?"
"Kenapa?" tanya Gabriella dengan mulut penuh, kembali menyuapi mulutnya dengan makanan.
"Bukan apa-apa... makan perlahan..." Sion mengambilkan tisu, sedikit mengelap saus yang berada di sudut bibir Gabriella.
Pemuda yang mulai membayangkan, masa depan Gabriella. Dika begitu membela Saskia, suatu hari hal yang terjadi padanya, mungkin juga akan terjadi pada Gabriella. Saskia dapat menunjuk ke Gabriella, hingga Dika melukai Gabriella.
Gabriella tidak dapat melawan, harus menjadi sasaran tuduhan Saskia. Dika sudah pasti akan melukainya.
Karena itu...
Hanya ada satu-satunya jalan untuk melindungi Gabriella."Aku akan membuatmu mencintaiku, hingga kamu benar-benar melupakannya, bahkan saat ingatanmu kembali nanti..." kalimat yang hanya disimpannya dalam hatinya. Sebuah janji yang tidak diucapkan olehnya.
Semuanya hanya tersembunyi dibalik senyuman. Dirinya akan menghianati Dika, maupun keluarga Ananta...
jd kita tau jawabannya
😁😁
🤣🤣🤣🤣