“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”
Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.
Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.
Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 - Peraturan Pesantren
Jam empat pagi di Pesantren Al-Farizi bukanlah waktu untuk bermimpi. Itu adalah waktu untuk bangun, dan pesantren memastikan tidak ada satu pun penghuninya yang terlewat. Suara bedug yang dipukul dengan ritme khas bergema di udara dingin, diikuti oleh suara pengeras suara masjid yang memutar nasyid pembangun tidur, lalu kumandang adzan Subuh yang merdu menyapu kompleks.
Naura melompat dari tempat tidur seperti disetrum, jantungnya berdebar brutal karena terkejut. Ia memegangi dadanya, napasnya memburu, matanya berkeliling di kamar yang masih asing itu. Lalu, realita menghantamnya. Ia bukan di kamarnya yang nyaman di rumah orang tuanya, di mana ia bisa tidur hingga jam sepuluh pagi dan mengabaikan dunia. Ia adalah istri seorang Gus. Ia tinggal di pesantren.
"Nggak ada tombol snooze di sini," batin Naura pasrah. Ia mengusap wajahnya, lalu mendengar ketukan halus di pintu kamar.
"Naura." Suara bariton Azzam tembus dari balik pintu kayu itu. Tenang, namun tegas. "Waktu Shalat Subuh. Bersiaplah, saya menunggu di ruang tengah."
Tidak ada nada marah karena Naura belum keluar. Hanya sebuah pernyataan bahwa waktu sedang berjalan, dan Naura harus mengikutinya. Naura menggerutukan rambutnya yang berantakan. Dengan gerakan terburu-buru, ia berlari ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin yang membuatnya terbangun sepenuhnya, lalu mengenakan mukena putih yang sudah disiapkan di rak.
Saat ia turun ke ruang tengah, Azzam sudah duduk di sajadah, mengenakan jubah putih dan sorban, sedang membaca Al-Qur'an dengan suara lirih yang memenuhi ruangan. Punggungnya tegak, konsentrasi penuh pada huruf-huruf suci.
Naura berjalan tipis-tipis, mencoba tidak mengganggu, tapi langkahnya terhenti saat matanya menangkap jam dinding. Pukul 04:15 pagi. Di dunianya yang lalu, ia baru saja tidur di jam segini. Azzam menoleh, menangkap kehadiran Naura. Ia menutup mushaf dengan lembut, lalu menatap istrinya. Mata hitamnya menyapu wajah Naura yang masih terlihat mengantuk, dan ada kilat amusemen yang cepat hilang di sana.
"Selamat pagi," sapa Azzam.
"Pagi," balas Naura serak, menyeduh dirinya sendiri karena suaranya terdengar seperti katak yang disiram air garam.
Azzam berdiri, mengajak Naura berjalan menuju masjid besar pesantren yang berjarak dua ratus meter dari rumah mereka. Udara pagi sangat dingin, menembus lapisan mukena Naura. Sepanjang jalan, mereka berpapasan dengan santri-santri yang berlari kecil, berwudu, dan membawa kitab. Semua menunduk memberi hormat pada Azzam dengan penuh rasa segan, lalu menatap Naura dengan mata penasaran yang tak disembunyikan.
Di area perempuan masjid, Naura merasa seperti spesies langka yang baru saja masuk ke kandang singa. Santriwati-santriwati duduk rapi dengan jubah dan kerudung syar'i mereka, membaca wirid. Saat Naura melangkah masuk, suara bising pelan terdengar. Mata-mata menatapnya, ada yang penasaran, ada yang kagum, tapi banyak yang menghakimi.
Naura menunduk, mencari posisi di barisan paling belakang, berusaha menjadikan dirinya sekecil mungkin. Ia tidak terbiasa dengan ini. Ia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian karena alasan yang salah.
Shalat Subuh berlangsung berat. Kaki Naura kesemutan, pikirannya melayang, dan saat imam (suaminya sendiri) membaca surat yang panjang, Naura harus berjuang keras menahan diri untuk tidak menggeliat. Setelah shalat, ada wirid bersama, lalu maulid. Di dunia Naura, setelah shalat selesai, orang langsung pulang. Di sini, sepertinya agama adalah pekerjaan full-time tanpa jeda coffee break.
.
.
.
Sarapan pagi di rumah Azzam disajikan oleh Ibu Jamilah, seorang pembantu pesantren paruh baya yang ramah namun sangat disiplin. Di atas meja panjang, terhidang nasi hangat, lauk sayur bening, tempe orek, dan sambal. Tidak ada croissant, tidak ada scrambled egg, tidak ada oat milk latte.
Naura duduk di seberang Azzam, menatap piringnya dengan ekspresi kosong. Ia mencoba menyuap nasi, tapi perutnya terasa aneh, bukan lapar, tapi mual karena kelelahan dan kecemasan. Azzam yang duduk di ujung meja tampak sangat tenang menyantap makanannya. Ia makan dengan cepat, rapi, dan sedikit menunduk. Sesekali ia menoleh pada Naura, memperhatikan istrinya yang hanya menggerak-gerakkan nasi di piringnya.
"Kamu tidak suka sayurnya?" tanya Azzam, suaranya netral. "Saya bisa meminta Ibu Jamilah memasakkan yang lain."
"Nggak, makanannya enak kok," Naura menggeleng cepat, tidak ingin merepotkan. "Aku-u...cuma... belum terbiasa bangun subuh."
Azzam mengangguk pelan. Ia meletakkan sendoknya, menatap Naura dengan tatapan yang mencoba mengukur sesuatu. "Naura, saya tahu ini semua sangat berbeda dari kehidupanmu sebelumnya."
"Itu pepatah understatement of the year, Azzam," cibir Naura lemah, mengusap pelipisnya yang mulai berdenyut. "Dunia ku berubah 180 derajat dalam waktu seminggu. Aku dari orang yang bisa nongkrong di cafe jam 2 siang, sekarang harus bangun jam 4 pagi, duduk di masjid dua jam, dan makan tempe orek."
Azzam menyeringai tipis, seolah menemukan sesuatu yang lucu dari keluhan Naura. "Tempe orek tidak seburuk itu. Naura."
"Lho siapa bilang tempenya nggak enak, tempenya enak. Tapi lifestyle-nya..." Naura menarik napas panjang, meletakkan sendoknya. "Aku merasa sesak, Azzam. Banyak aturan. Bangun subuh, wirid, pakai baju ini, jangan ke sana, tutup aurat. Semuanya terikat. Aku takut aku nggak bisa hidup di dalam lingkungan ini."
Ruangan senyap. Suara jangkrik dari luar terdengar jelas di telinga Naura. Ia menunduk, menyesal sudah mengeluh, tapi keluh-kesah yang ia rasakan layak di keluarkan. Lalu, Azzam berdiri. Ia berjalan mengelilingi meja, lalu duduk di kursi tepat di samping Naura, bukan di seberang, tapi di samping, sehingga bahu mereka nyaris bersentuhan.
"Kamu pikir saya lahir langsung bisa menjalani semua ini?" tanya Azzam pelan, matanya menatap lurus ke depan. "Saya diasuh di pesantren sejak umur enam tahun. Saat anak lain bermain, saya menghafal Al-Qur'an. Saat remaja lain memberontak, saya belajar tafsir. Dulu, saya juga merasa sesak, Naura. Saya merasa dunia ini terlalu sempit."
Naura menoleh, terkejut. Ia selalu mengira Azzam adalah manusia yang diciptakan tanpa celah, sempurna sejak lahir. Mendengar pengakuan itu dari bibir pria itu terasa... menyejukkan.
"Lalu bagaimana lo... hm... K-aamu... bisa bertahan?" Gugup Naura belum terbiasa.
"Karena saya percaya bahwa aturan itu bukan kotak yang mengurungku," Azzam menoleh, menatap mata Naura dengan intensitas yang membuat napas gadis itu tertahan. "Tapi pagar yang melindungiku. Di luar pagar, badai bisa menghancurkanmu. Di dalam pagar, kamu mungkin tidak bisa berlari kemana-mana, tapi kamu bisa hidup dengan tenang."
Naura menelan ludah. Logika itu masuk akal, tapi hatinya masih memberontak. Ia adalah burung yang terbiasa terbang bebas, memasukkannya ke dalam kandang, meski kandang itu dari emas tetaplah penyiksaan.
"Tapi aku bukan seperti kamu, Azzam," bisik Naura, suaranya retak. "Aku nggak bisa diam. Aku nggak bisa diam menjadi istri seorang Gus yang sempurna yang semua orang bayangkan. Aku selalu salah. Aku akan buat malu kamu. Aku..."
"Berhenti." Satu kata dari Azzam, diucapkan dengan lembut namun memiliki kekuatan untuk menghentikan kepanikan Naura.
Tangan Azzam terulur, menutupi punggung tangan Naura yang dingin di atas meja. Ibu jarinya mengusap kulit Naura dengan gerakan yang menenangkan.
"Saya tidak memintamu menjadi istri yang sempurna, Naura. Aku memintamu menjadi istriku. Kamu bisa membuat kesalahan. Kamu bisa memberontak. Kamu bisa mengeluh soal tempe orek setiap pagi jika itu yang kamu mau."
Azzam mencondongkan tubuhnya, menatap Naura dari jarak yang sangat dekat. "Tapi jangan pernah berpikir bahwa kamu tidak cocok di sini. Karena tempatmu... tempatmu ada di sampingku. Di manapun itu."
Jantung Naura berdebar brutal. "Tempatmu ada di sampingku."
Seharusnya Naura merasa terjebak, tapi entah bagaimana, kata-kata Azzam malah membuatnya merasa... berlabuh. Ia tidak tahu mengapa, tapi kehadiran pria ini selalu berhasil mengubah rasa sesaknya menjadi sesuatu yang lain.
"Kamu terlalu pandai merayu untuk seorang ustaz," gerutu Naura, menunduk menyembunyikan pipinya yang memanas merah padam.
Azzam tertawa pelan, suara rendah yang menggetarkan udara di sekitar mereka. Ia tidak membantah, hanya tersenyum, lalu kembali ke kursinya melanjutkan sarapan.
"Susudah sarapan. Hari ini kamu ingin apa? Saya harus mengajar di kelas santri jam delapan, tapi sore saya free. Mau kutemani mengenal lingkungan pesantren?"
Naura menggeleng cepat. "Nggak usah. Aku mau... eksplorasi sendiri aja. Aku butuh waktu untuk mencerna semuanya."
Azzam mengangguk, wajahnya kembali serius namun tetap lembut. "Baik. Tapi jangan keluar kompleks pesantren tanpa memberitahuku. Dan jika ada santriwati atau siapa pun yang membuatmu tidak nyaman, kamu tahu harus mencari siapa."
Ia berdiri, mengambil jubahnya, dan sebelum berjalan keluar, ia menyinggung puncak kepala Naura dengan kelembutan, satu sentuhan singkat yang terasa seperti pengesahan. Lalu pria itu pergi, meninggalkan Naura sendirian di meja makan dengan perasaan yang kembali kacau balau.
.
.
.
Siang harinya, Naura memutuskan untuk keluar rumah. Ia mengenakan gamis earth tone yang longgar dan kerudung instan yang masih canggung ia pakai, lalu berjalan menyusuri koridor pesantren. Ia membawa kameranya satu-satunya barang yang ia bawa dari masa lalunya yang tidak bisa ditinggal, berharap bisa menemukan sudut indah untuk difoto.
Tapi pejalan kaki di pesantren ini tampaknya memiliki peraturan tidak tertulis: 'Jangan menatap Gus Azzam, tapi boleh menatap istrinya dengan tatapan menghakimi.'
Ke mana pun Naura pergi, bisik-bisik mengikuti. Santriwati berhenti mengobrol saat ia lewat, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan namun tetap terdengar. Beberapa ibu-ibu jamaah yang sedang nyantri menatapnya dari atas ke bawah, mengamati cara Naura berjalan, cara kerudungnya yang tidak rapi, dan cara ia memegang kamera yang dianggap "terlalu duniawi".
"Kasian Gus Azzam, istrinya kelihatan belum istiqomah," bisik seorang ibu cukup keras agar Naura mendengar.
"Iya, jangankan ngaji, baca huruf hijaiyah aja mungkin masih tertukar. Anak pengusaha mah, nggak ada pengetahuan soal agamanya," balas temannya.
Naura mengehentikan langkahnya. Tangannya yang memegang kamera mengencang. Dada bagian dalamnya terasa seperti disiram air keras. Ia ingin menoleh, ingin membentak, ingin mengatakan bahwa ia hafal Juz 30 waktu SD, bahwa ia tidak seburuk itu, bahwa ia sedang berusaha.
Tapi ia tahu, membantah hanya akan memberi mereka lebih banyak bahan untuk digunjingkan. Ia menunduk, mempercepat langkah, meninggalkan koridor itu dengan mata yang terasa perih. Ia berlari kecil menuju bagian belakang pesantren, mencari tempat berlindung, dan akhirnya menemukannya.
Sebuah taman kecil yang terbengkalai di antara perpustakaan dan gudang kayu. Tidak ada orang di sini, hanya tanaman liar yang tumbuh semaunya, sebuah pohon bungur tua, dan bangku taman yang catnya sudah mengelupas.nNaura jatuh terduduk di bangku itu, memeluti lututnya, dan akhirnya membiarkan air matanya tumpah.
Ini lebih sulit dari yang ia bayangkan. Ia pikir ia cukup kuat, ia pikir ia bisa mengabaikan tatapan mereka, tapi kata-kata itu seperti racun yang perlahan meracuni keyakinannya.nApakah ia memang tidak pantas di sini? Apakah ia hanya akan menjadi aib bagi Azzam? Apakah ia akan selalu menjadi gadis modern yang salah di mata orang-orang pesantren?
Ia menangis dalam diam, suaranya tertelan oleh deru angin siang yang berhembus kencang. Ia tidak tahu, di balik jendela perpustakaan di lantai dua, sepasang mata sedang menatapnya dengan kebencian yang membara. Zahra Humaira berdiri di sana, memegang kitab di tangannya, menatap sosok Naura yang sedang menangis di bangku taman.
"Biarlah kamu menangis di sini," bisik hati Zahra gelap. "Karena ini baru permulaan. Aku akan memastikan setiap harimu di pesantren ini menjadi neraka, sampai kamu sendiri yang memilih pergi dari sisi Gus Azzam."
.
.
.