NovelToon NovelToon
Di Jodohin Sama Santri

Di Jodohin Sama Santri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.

Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Di luar teras Ndalem, suasana tidak kalah panas. Ummi Zuhair berjalan mondar-mandir dengan napas memburu, wajahnya merah padam karena masih syok melihat anaknya dipukul di dalam rumah sendiri. Sementara Mitha hanya berdiri gemetar di dekat pilar teras, tidak berani berkutik.

Begitu melihat Celina keluar, emosi Ummi Zuhair langsung tumpah ruah. Beliau menunjuk muka Celina dengan tatapan penuh kebencian dan keangkuhan.

"Ini semua gara-gara kamu, Celina! Gara-gara perempuan pembawa sial kayak kamu, anak saya jadi berani melawan orang tua dan sekarang malah dipukul sama santri kurang ajar itu!" semprot Ummi dengan suara melengking.

Celina yang dadanya sudah sesak hanya bisa mengepalkan tangan, mencoba menahan diri. Namun, ucapan Ummi berikutnya benar-benar melintasi batas kemanusiaan.

"Ummi tahu ya latar belakang kamu di Jakarta dulu itu seperti apa! Mantan anak salah pergaulan, nakal, bajingan! Jangan-jangan kamu susah hamil sekarang ini karena rahim kamu sudah rusak gara-gara dulu sering konsumsi obat-obatan yang aneh-aneh, kan?! Makanya mandul!" tuduh Ummi berapi-api tanpa bukti, menguliti masa lalu Celina di depan Mitha.

DEG.

Tuduhan keji itu rasanya seperti dihantam godam tepat di dada Celina. Padahal, meskipun dulu dia nakal dan salah pergaulan di Jakarta, Celina tidak pernah sekalipun menyentuh obat-obatan terlarang atau narkoba.

Detik itu juga, rasa sedih dan air mata Celina mendadak menguap, berganti menjadi badai emosi yang berkobar hebat. Cukup sudah dia mengalah dan diam karena menghormati status wanita itu sebagai ibu mertua. Celina maju satu langkah, menatap lurus-lurus ke dalam mata Ummi kandung Zuhair dengan pandangan yang tajam, berani, dan sama sekali tidak berkedip.

"Eh Ummi!" bentak Celina, suaranya lantang dan tegas, tidak ada lagi nada rintihan tangis di sana.

Ummi kandung Zuhair sempat tersentak kaget melihat menantunya yang biasa diam kini berani menantangnya.

"Rahim saya ini tempatnya Tuhan! Urusan anak itu mutlak kehendak Allah, bukan kehendak Anda yang cuma seorang manusia biasa!" ucap Celina dengan penekanan di setiap kalimatnya, jarinya menunjuk ke arah perutnya sendiri lalu beralih menunjuk ke langit. "Apalagi Anda ini seorang ibu! Kok bisa-bisanya dengan tega mengatai perempuan lain yang bahkan tulus menyayangi anak kandung Anda sendiri?!"

Celina tersenyum sinis, menatap mertuanya dari atas ke bawah. "Anda pakai baju syar'i, paham agama, tapi mulut Anda dengan gampangnya memfitnah saya konsumsi obat aneh-aneh dan mengatai rahim saya rusak? Di mana hati nurani Anda sebagai sesama perempuan, Ummi?!"

Mendengar skakmat dari Celina, kata-kata Ummi kandung Zuhair langsung tertahan di tenggorokan. Wajah wanita paruh baya itu pucat pasi, tidak menyangka bahwa menantu yang dianggapnya lemah dan penuh dosa masa lalu itu bisa membalas dengan kalimat yang begitu menohok dan meruntuhkan harga dirinya di depan teras Ndalem.

Mendengar keributan di teras luar, Celina yang sudah terlanjur meledak langsung berbalik masuk ke dalam rumah untuk menyusul suaminya. Namun, begitu melangkah ke ruang tamu, pemandangan di depannya membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.

Zuhair—yang sengaja menahan diri dan enggan menggunakan kemampuan miliknya karena sadar posisi Raka sebagai sahabat istrinya—sudah tidak bisa berkutik. Dia ambruk di sudut ruangan, pasrah dihajar habis-habisan oleh Raka yang sudah kalap. Sudut bibir Gus muda itu robek parah, pelipisnya berdarah, dan kemeja kokonya koyak akibat amukan Raka.

Melihat kondisi di dalam rumah yang hancur berantakan ditambah intimidasi keji dari ibu mertuanya di luar, Celina sampai pada titik jengah terdalamnya. Rasa hormatnya runtuh, berganti dengan rasa asing dan muak yang luar biasa pada tempat ini.

"Cukup, Raka! Stop!" teriak Celina dingin. Suaranya begitu datar dan hampa, membuat Raka seketika menghentikan pukulannya yang menggantung di udara.

Celina tidak mendekati Zuhair yang terengah-engah di lantai. Dengan tangan gemetar namun tatapan mata yang kosong, ia merogoh saku gamisnya, mengambil ponsel, dan langsung mendial sebuah nomor teman lamanya dari Jakarta.

"Halo, Laura? Jemput gue sekarang di Jombang. Bawa mobil. Gue mau cabut dari tempat bajingan ini," ucap Celina dingin sebelum langsung mematikan sambungan telepon.

Kabar keributan besar di Ndalem ini ternyata menyebar dengan sangat cepat, hingga akhirnya desas-desus kelakuan ummi Zuhair sampai ke telinga orang tua Celina. Mengetahui anak perempuan satu-satunya dihina, dituduh yang tidak-tidak, dan dipojokkan soal rahim, Papanya Celina (Roni) dan Mamanya (Siska) langsung tersulut amarah luar biasa. Mereka berdua langsung membatalkan semua urusan dan bertolak secepat kilat menggunakan jalur darat.

Beberapa jam kemudian, sebuah mobil mewah berhenti darurat dengan suara decitan ban yang nyaring di halaman Ndalem. Pintu mobil terbuka kasar.

Mama Siska berjalan cepat membelah teras, wajahnya yang biasa elegan kini mengeras penuh murka. Begitu masuk ke dalam ruang tamu dan melihat Zuhair yang sedang terduduk dengan luka-lukanya sementara Celina duduk menjauh, Mama Siska langsung melangkah maju tanpa suara.

PLAKKK!!

Satu tamparan keras dari Mama Siska mendarat telak di pipi kanan Zuhair yang belum sempat diobati, membuat kepala Gus muda itu terlempar ke samping.

"Kenapa kamu jadi laki-laki gak bisa tegas, Zuhair?!" bentak Mama Siska dengan suara bergetar menahan tangis dan amarah yang meluap-luap. "Kami menitipkan Celina ke kamu bukan untuk dihina, dipojokkan, dan dijadikan pajangan di Ndalem ini! Di mana harga diri kamu sebagai suami saat ibu kamu sendiri merendahkan anak saya?!"

Zuhair hanya terdiam, menunduk dalam dengan rasa bersalah yang teramat sangat menyiksa dadanya. Pukulan Raka tidak ada apa-apanya dibanding tamparan dan kekecewaan dari mertuanya ini.

Di belakang Mama Siska, sosok Papa Roni berdiri tegap dengan aura yang sangat mengintimidasi dan rahang yang mengeras menahan amarah. Matanya yang tajam menatap Zuhair dengan pandangan penuh kekecewaan mendalam. Beliau kemudian melirik ke arah Raka yang berdiri kaku di sudut ruangan bersama Athira yang baru saja menyusul dengan wajah cemas.

"Mulai hari ini, ceraikan anak saya!" titah Papa Roni dengan suara baritonnya yang menggelegar, tidak menerima bantahan atau penjelasan apa pun dari siapa pun. "Saya tidak sudi darah daging saya diinjak-injak di tempat yang katanya suci ini hanya karena urusan keturunan."

Papa Roni kemudian menoleh tajam ke arah Raka. "Raka! Bawa istrimu pulang sekarang! Saya gak sudi menginjakkan kaki di tempat seperti ini lebih lama lagi. Celina, ikut Papa dan Mama pulang nanti bersama Laura!"

Suasana di dalam Ndalem seketika membeku. Celina berdiri tanpa mengeluarkan air mata lagi, melangkah melewati Zuhair yang masih terpaku membisu di lantai, siap meninggalkan segala mimpi indahnya yang baru saja hancur berantakan dalam waktu satu sore.

1
Ulfa 168
seru lanjut thor
Veronicacake: aaaaa maacie udah baca yaaaa, jan lupa like komennya yahhhh! aku update tiap hari kok ka💕💕
total 1 replies
ChaManda
😭😭
Veronicacake: kak😭😭
total 1 replies
Ntaaa___
Jangan lupa mampir di ceritaku kak🤭😇
Anonim
SUKAAAA, GA TAMPLATE NARASINYAAAA! SEMANGAT THOR DI TUNGGU UDATE💕💕💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!