NovelToon NovelToon
SISTEM PANGERAN AUTO PILOT

SISTEM PANGERAN AUTO PILOT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Sistem
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

"Saat pedang musuh hampir mencabut nyawaku, sebuah suara mekanis mengambil alih kendali tubuhku dan mengubahku menjadi mesin pembunuh yang sempurna."

​​Jacob adalah pangeran kedua kerajaan Helios yang selalu berlindung di balik punggung kakaknya, George. Namun, sebuah pengkhianatan di medan perang membuat George lumpuh dan pasukan mereka terbantai. Di tengah keputusasaan, sebuah Sistem Auto Pilot aktif di dalam kesadaran Jacob. Sistem ini tidak memberikan misi atau hadiah cuma-cuma, melainkan mengambil alih kendali saraf otot Jacob untuk melakukan gerakan bertarung yang mustahil dilakukan manusia biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Hakim di Tanah Anarki

​Derap langkah kuda hitam Jacob memecah keheningan di gerbang utama ibu kota Scolar yang sudah tak lagi memiliki daun pintu. Pandangannya menyapu tumpukan gerobak hancur, sisa-sisa kayu terbakar di sudut jalan, dan warga yang berlarian panik menghindari sekawanan pria berpedang.

​Toko-toko di pinggir jalan utama telah habis dijarah tanpa sisa. Pecahan benda berharga dan genangan darah segar menjadi bukti betapa gilanya manusia saat hukum benar-benar menghilang dari kehidupan mereka.

​"Serahkan semua gandum ini atau aku akan memenggal kepala anakmu sekarang juga!" teriak seorang pria bertubuh kekar sambil menodongkan pedang karatan ke leher seorang bocah laki-laki.

​Bocah itu menangis histeris sementara ibunya bersujud memohon ampun di tanah berbatu dengan wajah yang penuh air mata keputusasaan.

​Jacob menarik tali kekang kudanya perlahan dan turun tanpa mengeluarkan suara sedikit pun saat melihat keributan di depan kedai tersebut. Matanya menatap tajam ke arah kerumunan bandit yang sedang menyiksa rakyat Scolar.

​{Tidak ada hukum benar-benar membuat manusia berubah menjadi monster yang lebih buruk dari binatang buas.}

​"Bukankah kalian dulunya adalah prajurit Scolar? Mengapa kalian justru menjarah rakyat kalian sendiri?" tanya Jacob dengan nada suara yang sangat datar namun penuh ancaman mematikan.

​Pria kekar itu menoleh dengan raut wajah meremehkan ke arah Jacob yang datang sendirian mengenakan jubah cokelat sederhana menutupi zirah tempurnya.

​"Raja Cerick sudah menyerah dan Pangeran Bernard sudah membusuk di lembah! Tidak ada lagi gaji untuk kami, jadi kami mengambil apa yang menjadi hak kami dari orang-orang lemah ini!" jawab pria kekar itu tanpa rasa malu sedikit pun.

​"Menjijikkan. Seorang prajurit yang kehilangan kehormatannya bahkan tidak lebih berharga daripada kotoran hewan," desis Jacob sambil menyentuh gagang pedangnya.

​"Siapa kau berani ikut campur urusan kelompok Serigala Merah? Pergi dari sini sebelum aku membelah perutmu!" bentak bandit tersebut sambil meludah ke arah kaki Jacob.

​Jacob tidak memberikan jawaban secara lisan. Tubuhnya melesat maju menembus jarak lima meter hanya dalam satu kedipan mata, mengabaikan segala batasan kecepatan manusia normal yang pernah ada.

​Suara retakan tulang terdengar sangat keras saat lutut Jacob menghantam dada pria kekar tersebut dengan tenaga murni hasil dari latihan brutal berbulan-bulan.

​Bandit itu terlempar ke belakang hingga menabrak dinding batu, memuntahkan darah segar sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri seketika.

​"Serang dia! Bunuh pria asing ini sekarang juga!" teriak lima bandit lainnya yang langsung mengepung Jacob dengan senjata terhunus dari berbagai arah.

​Jacob memutar pedang pendeknya dengan sangat tenang. Setiap ayunannya memotong otot tangan dan kaki para penjahat itu tanpa rasa ragu sedikit pun. Percikan darah langsung membasahi jalanan tanah yang berdebu tebal itu.

​Hanya butuh sepuluh detik bagi Jacob untuk membuat kelima pria itu merintih kesakitan di atas tanah dengan anggota tubuh yang tak lagi bisa digerakkan secara bebas.

​||||||||||||||

​Wanita yang sedari tadi bersujud segera memeluk anaknya dengan erat sambil menangis penuh kelegaan melihat para penyiksanya tumbang.

​"Terima kasih, Tuan! Kebaikan Anda telah menyelamatkan nyawa putraku satu-satunya di tengah neraka ini," ucap wanita itu dengan suara bergetar karena rasa syukur.

​Jacob menyimpan kembali pedangnya ke dalam sarung dan menatap kumpulan warga Scolar yang perlahan mulai keluar dari tempat persembunyian mereka di balik puing-puing.

​"Kumpulkan seluruh tetua, cendekiawan, dan mantan pejabat Scolar yang masih hidup. Bawa mereka menemuiku di aula utama istana Cerick dalam waktu satu jam," perintah Jacob dengan wibawa seorang raja penakluk.

​Warga saling berpandangan dengan wajah penuh kebingungan dan rasa takut yang mendalam karena tidak mengenali identitas pria asing tersebut.

​"Siapa Anda sebenarnya, Tuan? Istana saat ini dijaga ketat oleh mantan pengawal Cerick yang memberontak dan mengklaim takhta untuk diri mereka sendiri," tanya seorang pria paruh baya dengan nada ragu dan waspada.

​"Katakan pada pengawal pengkhianat itu bahwa Jacob dari Helios telah datang untuk mengambil haknya atas tanah taklukan ini. Jika ada yang menghalangi jalanku, aku akan mengirim mereka menyusul jenderal kalian ke neraka," jawab Jacob dengan sorot mata yang menyala tajam.

​Penyebutan nama sang pangeran penakluk membuat seluruh warga membelalakkan mata dan spontan mundur beberapa langkah akibat teror kekalahan fatal mereka di masa lalu.

​Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, Jacob kembali menaiki kudanya dan memacu langkah menuju jantung istana Scolar yang kini menjadi sarang para tikus pengerat.

​||||||||||||||

​Pintu utama aula istana hancur berkeping-keping saat Jacob menendangnya dengan kekuatan yang sangat dahsyat hingga serpihan kayunya berhamburan.

​Belasan pria berpakaian zirah emas kusam yang sedang berpesta pora langsung berdiri dari kursi takhta dengan pedang terhunus ke arah pintu masuk.

​"Siapa yang berani merusak pintu ini? Pasukan penjaga, bunuh dia dan gantung mayatnya di gerbang kota!" teriak pria tambun yang duduk di atas takhta Cerick dengan wajah murka.

​Jacob berjalan perlahan memasuki aula dengan pedang pendek yang sudah berada dalam genggamannya yang mantap.

​"Kalian menikmati anggur dan daging di atas penderitaan rakyat yang kelaparan di luar sana," sindir Jacob sambil melangkah menaiki satu demi satu anak tangga menuju takhta kebesaran itu.

​"Tutup mulutmu! Kami adalah penguasa baru istana ini sekarang!" teriak pria di atas takhta sambil mengayunkan pedangnya dengan panik ke arah leher Jacob.

​Jacob menghindari tebasan itu dengan memiringkan kepalanya sedikit, lalu meninju ulu hati pria tersebut dengan tenaga murni tanpa bantuan sistem mekanisnya.

​Suara retakan tulang rusuk menggema di aula saat pria itu memuntahkan darah dan jatuh tersungkur di kaki Jacob. Pria tambun itu mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya yang terasa seperti baru saja dihantam oleh godam baja.

​Mendengar dentuman tubuh pemimpin mereka yang jatuh tak berdaya, nyali para mantan pengawal Cerick lainnya langsung ciut.

​Mereka menjatuhkan senjata ke lantai secara serentak karena menyadari kekuatan mengerikan pria yang berdiri tegak di hadapan mereka.

​"Ampuni kami, Baginda Raja Jacob! Kami hanya mencoba mencari perlindungan dan makanan di istana ini!" ratap salah satu pengawal sambil bersujud memohon ampun dengan tubuh gemetar.

​"Ikat diri kalian sendiri di pilar luar istana sekarang juga. Jika aku melihat satu saja dari kalian mencoba melarikan diri, aku akan memastikan kalian mati dengan cara paling menyakitkan," ancam Jacob dengan tatapan yang membekukan darah.

​Mantan pengawal itu berlarian panik keluar aula, berebut tali untuk mematuhi perintah Jacob karena ketakutan yang teramat sangat menyelimuti akal sehat mereka.

​Jacob menduduki takhta Cerick yang kosong tersebut dan mengamati seluruh penjuru ruangan dengan saksama.

​{Istana ini begitu megah, namun pondasi kekuasaannya sangat rapuh karena dibangun di atas kelicikan. Aku harus menempatkan orang yang tepat untuk mengurus semua ini secepat mungkin.}

​||||||||||||||

​Satu jam kemudian, puluhan tetua desa dan beberapa cendekiawan Scolar yang masih tersisa berjalan memasuki aula dengan langkah yang sangat ragu.

​Mereka semua berlutut serentak di hadapan Jacob, menyerahkan seluruh nasib kota mereka ke tangan raja muda dari kerajaan musuh yang telah menaklukkan mereka.

​"Bangunlah kalian semua. Aku tidak datang ke sini sejauh ini untuk sekadar meminta kalian menyembahku sebagai dewa kematian," perintah Jacob sambil memberikan isyarat tangan.

​Mereka berdiri dengan tubuh yang masih sedikit gemetar, menatap Jacob dengan rasa takut dan harap yang bercampur aduk di dalam dada.

​"Aku menaklukkan Scolar bukan untuk membumihanguskan tanah ini. Aku datang untuk memastikan tidak ada lagi pengkhianat yang berani mengancam kedamaian Helios dari tempat ini," jelas Jacob dengan wibawa penuh.

​"Kami mengerti, Baginda Raja. Namun tanpa adanya pemimpin yang mengatur, kami rakyat kecil hanya menjadi mangsa bagi para penjahat bersenjata di setiap sudut jalan," ucap seorang pria dengan rambut keperakan yang berdiri di barisan paling depan.

​Jacob menatap pria tersebut dengan saksama. Pakaiannya sangat sederhana, namun postur tubuhnya menunjukkan ketegasan yang jarang dimiliki oleh rakyat biasa yang tertindas.

​"Siapa namamu, dan apa pekerjaanmu di Scolar sebelum istana ini jatuh ke tanganku secara mutlak?" tanya Jacob dengan nada menuntut.

​"Nama saya Gareth, Baginda. Saya dulunya hanyalah seorang kepala pencatat pajak kota yang dipecat oleh Raja Cerick karena menolak memeras warga miskin," jawab pria bernama Gareth itu dengan tatapan mata yang sangat tenang.

​{Orang ini memiliki ketenangan yang sangat unik. Dia tidak terlihat ketakutan seperti yang lainnya, seolah dia sudah siap menerima hukuman mati kapan saja.}

​"Kau berani menentang rajamu sendiri demi melindungi rakyat jelata? Itu tindakan yang sangat berani atau justru sangat bodoh," respons Jacob sambil tersenyum tipis.

​"Keadilan tidak pernah bodoh, Baginda. Bahkan jika itu harus dibayar dengan jabatan dan nyawa saya sendiri," bantah Gareth dengan suara yang sangat mantap dan penuh pendirian.

​Bisik-bisik mulai terdengar dari para tetua lain yang ketakutan mendengar Gareth berani membalas ucapan seorang raja penakluk yang terkenal bengis.

​"Tutup mulut kalian semua," perintah Jacob seketika, membuat aula kembali sunyi senyap tanpa ada yang berani mengambil napas panjang.

​Jacob berdiri dari takhta dan berjalan perlahan menuruni tangga marmer, mendekati Gareth hingga jarak mereka hanya tersisa satu langkah saja.

​"Aku butuh seseorang untuk memimpin wilayah ini. Seseorang yang tidak gila harta kekuasaan, tapi cukup berani untuk menegakkan aturan dengan tangan besi," ucap Jacob sambil menatap tajam tepat ke mata Gareth.

​"Menjadi pemimpin di tanah yang hancur ini adalah tugas yang sangat mematikan. Banyak faksi bangsawan tersisa yang akan mencoba membunuh siapa pun yang duduk di kursi itu, Baginda," jelas Gareth mengutarakan realitasnya.

​"Bagaimana jika para bangsawan menolak membayar pajak dan mengumpulkan tentara bayaran sendiri untuk menggulingkanmu?" pancing Jacob untuk menguji nyali pria tersebut.

​"Saya akan menghukum mereka sesuai hukum pengkhianatan, Baginda. Meskipun saya harus maju sendirian menantang pedang mereka," jawab Gareth tanpa berkedip sedikit pun.

​Jacob mencabut pedang pendeknya dalam satu gerakan cepat dan menodongkannya tepat ke dada Gareth untuk menguji kesungguhannya.

​Gareth tidak mundur satu sentimeter pun dari tempatnya berpijak. Dia tetap berdiri tegak menerima ancaman mematikan dari sang raja Helios.

​{Keberanian yang sangat tulus dan tidak dibuat-buat. Dia rela mati demi prinsipnya. Ini adalah kualitas pemimpin yang tidak bisa dibeli dengan emas berlimpah.}

​Jacob menyarungkan kembali pedangnya dan berbalik membelakangi kerumunan para sesepuh Scolar tersebut.

​"Mulai detik ini, aku menunjukmu sebagai Gubernur Utama wilayah Scolar. Kau memiliki otoritas penuh untuk mengatur hukum, mengumpulkan pajak, dan menata ulang kota ini atas namaku," perintah Jacob dengan suara yang menggema ke seluruh penjuru aula.

​Gareth melebarkan matanya karena terkejut, tidak menyangka bahwa dia akan diberikan tanggung jawab sebesar itu oleh raja musuh yang meruntuhkan kerajaannya.

​"Bagaimana dengan pasukan keamanan, Baginda? Hukum tidak bisa ditegakkan tanpa adanya prajurit yang mengawal setiap keputusan," tanya Gareth yang segera memikirkan langkah strategis ke depan.

​"Bentuklah barisan prajurit keamanan kotamu sendiri dari rakyat yang kau percaya. Pasukan Nightmare adalah senjata pemusnah, aku tidak akan merendahkan mereka dengan tugas menangkap pencuri roti di pasar rakyat," instruksi Jacob dengan tegas.

​"Jika bangsawan memberontak dan mengerahkan tentara bayaran dalam jumlah besar ke kota ini, apa yang harus kami lakukan, Tuanku?" tanya Gareth dengan raut wajah penuh perhitungan.

​"Cukup kirimkan pesan padaku secara langsung. Meriam Api Naga milik Helios akan segera selesai dibangun, dan aku akan meratakan rumah kebanggaan mereka dari jarak ribuan meter tanpa perlu mengirim satu pun prajurit," jawab Jacob sambil memberikan senyum yang sangat kejam.

​"Senjata yang bisa menghancurkan dari jarak sejauh itu? Mengerikan sekali," gumam Gareth dengan nada suara yang bergetar.

​"Kedamaian butuh taring yang sangat tajam, Gareth. Pastikan seluruh bangsawan di kota ini tahu bahwa aku tidak ragu untuk menggunakannya jika mereka mencoba mengkhianati Helios," ucap Jacob menekan setiap kata-katanya.

​"Saya menerima tugas ini dengan seluruh jiwa dan raga saya, Baginda Jacob. Saya bersumpah tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan yang Anda berikan hari ini," sumpah Gareth sambil berlutut dan menundukkan kepalanya dalam-dalam menyentuh lantai marmer.

​"Buktikan sumpahmu itu mulai besok pagi. Pastikan Scolar kembali bangkit dari abu dan jadikan tanah ini sebagai wilayah taklukan Helios yang patuh dan makmur," perintah Jacob dengan tatapan mata yang membara.

1
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!