Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Uhuk.. Uhuk.."
Kara menatap resah Narisa yang sejak tadi bersin dan batuk tanpa jeda. Keadaan mereka malah terbalik.
Semalam Kara yang demam sampai lemas, sekarang justru Narisa yang menggigil di balik selimut.
"Kata gw juga apa. Ketularan kan. Lo gak percaya sih," omel Kara sambil menempelkan kompres ke dahi Narisa.
Narisa membuka mata setengah.
"Kan lo yang cium gw," protesnya serak.
Kara hampir membantah. Padahal jelas-jelas semalam Narisa yang nyosor duluan. Tapi melihat cewek itu pucat begini, dia malas debat.
Saat suasana kamar mulai tenang, pintu depan terbuka. Tidak lama kemudian terdengar suara plastik belanjaan dan langkah kaki mendekat.
Nuri masuk ke kamar sambil membawa termos dan beberapa kantong belanja.
"Ma.." panggil Narisa lirih.
Nuri langsung mendekat ke kasur. Kara buru-buru bergeser memberi tempat.
"Kok jadi sakit begini?" Nuri menyentuh pipi Narisa. sekilas sebelum melirik Kara. "Kamu gak sekolah, Ra?"
"Gak mungkin ninggalin dia lagi sakit, Tan," jawab Kara jujur.
Nuri melirik jam dinding.
"Masih jam delapan, Kalau berangkat sekarang masih sempat kan?"
"Dia udah biasa bolos, Ma," gumam Narisa sambil menarik selimut lebih tinggi.
"Ya gak boleh dibiasain," tegur Nuri ringan. "Kamu sekolah aja sana. Risa biar Tante yang jagain."
Kara sebenarnya masih ragu, tapi akhirnya mengangguk.
"Yaudah, Nanti aku balik cepet deh."
Sebelum keluar kamar, dia sempat mendekat lagi ke Narisa.
"Minum obatnya jangan pake drama."
Narisa mendelik lemah. "Bawel."
"Lah, masih bisa galak."
Narisa refleks ingin melempar bantal, tapi baru mengangkat tangan sedikit sudah batuk lagi. Kara ketawa kecil sebelum akhirnya pergi.
Setelah memarkir motor di dekat pagar belakang, Kara masuk santai ke area sekolah. Hari itu pos keamanan kosong. Mungkin satpamnya sedang sarapan atau beli gorengan seperti biasa.
Baru beberapa langkah menuju kelas, suara berat menghentikannya.
"Hei! Ke sini kamu!"
Kara menoleh malas. Pak kasim berdiri sambil melipat tangan.
"Kenapa, Pak?"
"Sudah telat masih tanya kenapa, ke Bk sekarang."
Kara menghela napas pendek.
"Iya, Pak."
Begitu masuk ruang Bk, Bu Rahayu langsung menatapnya dengan ekspresi capek lahir batin. Pak Kasim bahkan belum selesai menjelaskan, beliau sudah hampir memijat pelipis sendiri.
"Kamu lagi, kamu lagi."
Kara duduk santai di depan meja.
"Saya juga kangen, Bu."
"Jangan bercanda. Kenapa terlambat?"
Kara mengeluarkan surat dari Olin dan menyerahkannya.
"Kemarin izin sakit. Tadi bangun masih pusing, jadi mikir dulu kuat sekolah apa enggak,"
Bu Rahayu membaca surat itu sekilas lalu memperhatikan wajah Kara lebih lama. Cewek itu memang masih terlihat pucat. Hidungnya merah karena pilek, dan sesekali dia menahan batuk kecil.
"Kalau masih sakit harusnya istirahat di rumah."
"Keburu disuruh berangkat."
"Kamu dipaksa siapa?"
Kara diam sebentar.
"Diusir halus."
Bu Rahayu menghela napas.
"Ya sudah. Nanti kalau memang tidak kuat, ke UKS saja. Sekarang kamu boleh masuk kelas."
Kara mengangguk kecil, tapi tidak bergerak dari kursinya. Bu Rahayu mulai curiga.
"Kara?"
"Iya, Bu?"
"Kok masih duduk?"
Kara menyandarkan tubuh sambil menatap lantai.
"Pusingnya balik lagi, Bu."
Padahal bukan itu. Sejak masuk sekolah tadi, pikirannya justru ke mana-mana. Baru satu jam tidak melihat Narisa, rasanya sudah aneh sendiri.
Bu Rahayu memperhatikan beberapa saat. Biasanya anak ini ribut, jawabannya suka ngasal, mukanya juga nyebelin. Sekarang malah diam.
"Kamu ada masalah?" tanya Bu Rahayu lebih lembut.
"Kayaknya iya, Bu."
"Mau cerita?"
Kara menghela napas panjang.
"Saya suka sama orang, Bu."
Bu Rahayu langsung diam mendengarkan.
"Tapi saya bingung."
"Bingung kenapa?"
Kara mengusap tengkuknya pelan.
"Saya takut dia nyesel kalau sama saya."
"Dia pernah bilang begitu?"
"Enggak sih."
"Lalu kamu simpulkan sendiri?"
"Saya cuma..." Kara berhenti sebentar. "Saya gak bisa bayangin dia sama orang lain. Tapi saya juga takut kalau saya terlalu jauh."
Rahayu tersenyum tipis. Persis remaja SMA kebanyakan, pikirnya. Galau, overthinking, lalu bikin teori sendiri.
"Kamu terlalu sibuk menebak isi kepala orang."
Kara mengangkat pandangan. "Kalau ternyata dia gak bahagia?"
"Itu biar dia yag menentukan."
Kara terdiam.
"Kadang anak seusia kalian suka merasa harus melindungi semuanya sendiri," anjut Bu Rahayu santai. "Padahal hubungan itu dijalani dua orang."
Kara tanpa sadar tertawa kecil. "Iya juga."
"Kalau memang saling suka, ya jalani saja dulu. Tidak usah lompat mikir sampai sepuluh tahun ke depan."
Kara mengangguk pelan. Aneh. Padahal Bu Rahayu tidak tahu apa-apa. Terutama soal siapa yang Kara maksud. Tapi kata-katanya tetap bikin dada Kara terasa lebih ringan.
"Makasih ya, Bu."
"Nah gitu. Sekarang masuk kelas."
Kara akhirnya berdiri. Di depan pintu dia sempat berhenti sebentar.
"Bu,"
"Iya?"
"Ibu cocok jadi tempat curhat."
Bu Rahayu tertawa kecil. "Lebih baik kamu curhat daripada bolos kan."
Kara nyengir tipis lalu keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup, Bu Rahayu malah bengong sendiri.
"Astaga.. Aku tadi malah dukung anak orang pacaran."
Tapi mengingat wajah Kara yang tadi murung lalu berubah sedikit lebih hidup, dia akhirnya tersenyum kecil.
~
Pulang sekolah, Harum langsung menganga waktu Kara bilang dia izin latihan hari ini. Itu langka. Sangat langka.
"Lo masih sakit?" tanyanya curiga.
"Bukan. Bonar yang gantian sakit," jawab Kara pendek sambil memasukkan buku ke tas.
Harum langsung mengangguk paham.
"Oh. Pasti abis ngapa-ngapain makanya ketularan."
Kara mendelik datar. "Sotoy amat."
Harum malah cekikikan. "Gw ikut lah."
"Lo gak latihan?"
"Gak seru gak ada lo."
Kara memutar mata malas.
"Terserah lo dah. Motor gw di belakang."
Harum mengacungkan jempol sebelum mereka berpisah menuju parkiran masing- masing.
Begitu sampai depan rumah, Kara langsung turun dari motor sambil mengernyit. Pagar terkunci. Dia mengeluarkan kunci cadangan dari tas, lalu membuka pagar dan membawa motornya masuk.
Tapi begitu sampai depan pintu, perasaan tidak enak mulai muncul. Saat pintu dibuka, dugaannya benar. Tidak ada siapa-siapa.
Harum yang baru masuk ikut bengong.
"Lah, bini lo ke mana?"
Kara tidak menjawab. Dia langsung menuju kamar Narisa dan membuka pintunya begitu saja. Kosong.
Selimut di kasur masih berantakan, gelas obat masih ada di meja, tapi Narisa tidak ada.
Kara langsung mengambil ponselnya. Tidak ada apapun dari Narisa atau Nuri.
"Kayaknya dibawa pulang sama mamanya," gumamnya pelan.
"Oiya. Tadi pagi katanya mamanya dateng kan?"
"Iya,"
Kara menutup pintu kamar pelan. Aneh banget. Tadi di sekolah rasanya sudah kosong karena tidak ada Narisa. Sekarang rumah malah lebih sepi.
Apa Narisa juga sering merasa begini tiap dia tinggal kerja?
"Terus gimana?" tanya Harum sambil duduk santai depan TV seperti rumah sendiri.
"Bentar."
Kara langsung menelepon Nuri.
"Eh, Kara," sapa Nuri ringan, "Tante lupa ngabarin. Risa Tante bawa pulang dulu. Tante inget ada paket mau dateng.
Kara menghela napas kecil. Syukurlah.
"Oh gitu. Nanti aku jemput aja ya, Tan?"
Hening sebentar di seberang.
"Mending gak usah dulu deh sampai dia sembuh. Nanti repot kalau kamu malah ketularan,"
Kara ingin bilang 'Narisa yang ketularan', tapi dia masih sadar diri. Lagipula nanti sore dia harus masuk kerja karena kemarin sudah izin. Tidak mungkin meninggalkan Narisa sendirian di rumah sementara dia kerja sampai malam.
"Yaudah deh," katanya akhirnya. "Nanti aku ke sana bentar ya, Tan,"
"Oke. "
Panggilan ditutup. Harum langsung melirik penasaran.
"Gimana?"
"Ke rumahnya yok."
Alis Harum langsung naik.
"Wih. Akhirnya gw bisa tau rumah bini orang."
"Tai lo."
Akhirnya mereka kembali naik motor dan menuju rumah Narisa. Begitu sampai, Nuri langsung menyambut hangat.
"Masuk dulu. Risa lagi tidur tuh."
Harum langsung sopan mendadak.
"Permisi, Tante."
Kara hampir muntah dengar nada suaranya.
Mereka masuk ke kamar Narisa. Cewek itu benar-benar masih tidur pulas dengan selimut sampai dagu. Hidungnya merah, rambutnya berantakan, dan napasnya terdengar berat karena pilek.
Entah kenapa dada Kara langsung ikut nyut-nyutan.
"Kalian udah makan belum?" tanya Nuri dari depan pintu. "Makan gih. Tapi Tante cuma masak kangkung dadar."
"Itu juga enak banget sih, Tan. Apalagi gratis," jawab Harum cepat tanpa tahu malu.
Nuri langsung tertawa.
"Ra, ajak temen kamu makan ya. Tante mau ganti kompres dulu,"
Kara mengangguk lalu menarik kerah Harum.
"Ayo."
Mereka pindah ke ruang makan. Harum langsung duduk santai sambil mengambil nasi.
"Lo udah kayak mantu beneran aja di sini," komentarnya sambil menyendok kangkung.
" Soalnya gw sering jemput Bonar."
"Alasan."
Kara malas meladeni dan mulai makan. Jujur, masakan Nuri memang enak banget. Padahal cuma menu sederhana. Jauh lebih cocok di lidahnya dibanding masakan Eka. Tapi kalau dia ngomong begitu, mungkin dia bisa diusir dari keluarga.
Sorenya Harum malah asyik ngobrol dengan Nuri. Entah kenapa mereka malah nyambung. Sementara Kara lebih banyak diam sambil sesekali melirik jam.
Sebelum pergi kerja, Kara masuk lagi ke kamar Narisa. Cewek itu masih tidur. Posisi tidurnya bahkan hampir tidak berubah.
Kara duduk di pinggir kasur dan memperhatikan wajah pucat itu beberapa saat. Tangannya naik mengusap rambut Narisa pelan.
"Sorry ya," bisiknya lirih. "Lo jadi sakit gara-gara ngurusin gw."
Narisa menggeliat kecil. Matanya terbuka sepersekian detik sebelum menatap Kara samar.
"Santen?"
"Hm?"
"Muka monyet."
Kara langsung melotot.
"Anjir. Lagi sakit masih bisa menghina."
Narisa malah memejam lagi. "Jangan ganjen."
"Buset. Ngigau aja masih bisa cemburu."
Narisa sudah tidak menjawab lagi. Kara cuma bisa menghela napas kecil sambil tersenyum sendiri. Dia merapikan selimut, lalu mengecup dahi Narisa sekilas sebelum berdiri.
Meski tidak tega, tapi dia sadar masih punya tanggung jawab di kafe.
~
Jam tujuh malam Narisa akhirnya bangun dengan kepala masih berat. Badannya hangat, tenggorokan dan hidungnya gatal, sementara lidahnya terasa pahit sekali. Jadi saat Nuri menyodorkan semangkuk bubur hangat, Narisa langsung menggeleng lemah.
"Pait, ma," rengeknya sambil menarik selimut.
"Minimal dikit aja biar bisa minum obat. Sini, mama suapin," bujuk Nuri sabar.
"Gak mau..."
Suara Narisa terdengar makin manja karena sakit. Nuri sampai menghela napas kecil.
"Oiya, tadi sore Kara sama Harum datang jenguk kamu."
Narisa langsung membuka mata lebih lebar.
"Seriusan, ma?"
"Iya. Kamu tidur terus dari tadi siang."
Narisa terdiam sebentar. Tadi dia memang sempat merasa ada yang menyentuh dahinya. Bahkan samar- samar dia ingat wajah Kara. Tadinya dia pikir itu cuma mimpi gara-gara demam,
Jangan-jangan Kara memang beneran nyium dia?
Sudut bibir Narisa hampir naik saat pintu kamar tiba-tiba terbuka lagi. Taslim masuk dengan wajah penuh khawatir. Begitu melihat Narisa. sudah bangun, dia langsung mendekat.
"Udah makan belum, nak?"
Tangannya yang besar langsung menempel di dahi dan leher Narisa bergantian.
"Masih panas ini," gumamnya pelan. "Abis ini kita ke dokter ya."
Narisa langsung menggeleng malas.
"Cuma gini doang, pa."
"Tetep aja." Taslim melirik mangkuk di tangan Nuri. "Ini kenapa belum dimakan?"
"Gak mau anaknya," adu Nuri.
Taslim langsung menghela napas panjang. Sebagai ayah, dia memang paling tidak tahan melihat Narisa sakit. Apalagi anaknya biasanya ribut terus. Sekarang lemas begini malah bikin dia ikut tidak tenang.
Akhirnya Taslim mengambil mangkuk bubur dari tangan Nuri lalu duduk di pinggir ranjang.
"Makan ya."
Narisa langsung merengut.
"Kalau kamu gak makan, papa juga gak makan." Narisa memejam kesal.
Ancaman klasik. Dan sialnya selalu berhasil. Dulu waktu dia kecil pernah mogok makan seharian gara-gara sakit tenggorokan. Taslim benar-benar ikut tidak makan sampaii malam cuma karena menunggu dia mau makan duluan. Setelah itu Narisa kapok.
Akhirnya dia membuka mulut setengah ikhlas.
"Pait.." keluhnya setelah suapan pertama masuk.
"Ya namanya lagi sakit," kata Taslim sabar sambil menyuapi lagi.
Narisa buru-buru meneguk air putih supaya rasa pahit di lidahnya hilang. Untung bubur buatan Nuri lembutbdan hangat, jadi masih gampang ditelan.
Meski dari tadi mengeluh terus, Taslim tetap menyuapi Narisa pelan pelan sampai habis setengah mangkuk.
"Ini baru anak papa," katanya lega.
Narisa mendecih lemah.
"Ya kali anak tetangga."
Taslim malah ketawa kecil sambil mengusap kepala anaknya yang masih acak-acakan karena tidur seharian.
Setelah memastikan Narisa nyaman, barulah kedua orang tuanya makan sebentar sebelum akhirnya membawa Narisa ke dokter malam itu.
~
Dua hari sudah Narisa dirawat di rumah orang tuanya. Kara sempat datang kemarin sore, tapi lagi-lagi Narisa sedang tidur. Sore tadi dia tidak bisa datang karena latihan basket sudah terlalu banyak ditinggal.
Aneh. Padahal baru beberapa hari, tapi hidup Kara rasanya sudah berubah total. Rumah jadi lebih sepi. Pulang kerja jadi tidak terlalu menyenangkan. Bahkan sekarang dia sering melamun sendiri cuma gara-gara sadar tidak ada Narisa yang ribut di rumah.
"Ra. Kara!"
Kara tersentak saat dua gelas miuman diletakkan di meja bar. Sofian menatapnya curiga sambil menyeringai.
"Lo kenapa dah? Dari kemarin bengong mulu. Lagi putus cinta lo?"
"Sotoy amat, bang," jawab Kara datar.
"Itu teori si Jamal."
Kara malas menanggapi. Dia mengambil nampan lalu menatap dua minuman di atasnya cukup lama.
"Ini meja berapa ya?" tanyanya akhirnya.
Sofian langsung ngakak.
"Tujuh, Ra. Bahaya juga ternyata orang galau."
Kara mendecih pelan lalu pergi sebelum makin diledekin. Bahkan beberapa customer sampai sadar wajahnya lebih datar malam ini. Biasanya Kara masih suka nyaut atau ketawa kecil kalau diajak bercanda. Sekarang malah lebih banyak kosongnya.
Dan yang paling aneh... dia jadi tidak semangat pulang. Mungkin karena sadar tidak ada yang menunggu di rumah.
Sudah hampir jam satu malam saat Kara sampai di rumah. Lampu teras masih menyala karena memang sengaja dia hidupkan sebelum berangkat kerja. Tapi begitu membuka pintu, langkahnya terhenti.
Ruang tamu terang benderang.
"Gw lupa matiin lampu?" gumamnya bingung. "Perasaan enggak deh,"
Meski agak curiga, Kara tetap masuk santai. Dia terlalu capek buat mikir aneh-aneh, kalau Narisa ada di posisi ini, mungkin cewek itu sudah teriak histeris dan nuduh rumahnya berhantu lagi.
Membayangkan itu malah bikin Kara senyum kecil.
Dia mengunci pintu lalu berjalan menuju kamar, bahkan mengabaikan seluruh rumah yang terang benderang. Tapi baru satu langkah masuk, tubuhnya langsung berhenti lagi.
Lampu kamar menyala. Ac dingin. Dan di atas kasurnya ada satu manusia tergulung selimut seperti kepompong gagal evolusi.
"Bonar?"
Mata Kara langsung melebar. Ranselnya dilempar asal ke lantai sebelum dia buru-buru mendekati kasur. Tangannya refleks menempel di dahi Narisa.
Dingin.
Lega langsung menghantam dadanya.
"Bonar. Woy."
Narisa menggeliat pelan sebelum membuka mata setengah sadar. Dia berguling sekali lalu telungkup lagi.
"Lama amat pulangnya," gumamnya serak.
Kara langsung ketawa kecil karena terlalu lega. Saking leganya, dia otomatis memeluk Narisa dari belakang.
"Lo udah sembuh ?"
"Berat, santen," keluh Narisa malas. "Gw balik gara-gara lo gak dateng tadi sore. "
"Sorry. Gw latihan. Udah absen dua hari."
Narisa langsung berbalik sambil mencubit lengan Kara.
"Jadi basket lebih penting daripada gw?"
Kara garuk kepala. "Ya... gak gitu juga."
"Buktinya apa? Gw sakit malah ditinggal. "
Bukannya kesal, Kara malah makin senang lihat Narisa sudah bisa ngomel begini.
"Kok gw kangen ya," gumamnya pelan
Narisa langsung mendelik jijik.
"Bohong lo, najis."
"Tapi beneran,"
"Halah."
Narisa membuang muka lagi sambil merengut ke bantal.
"Katanya sayang," gerutunya kecil. "Tapi gw dicuekin."
"Gw chat lo tiap sepuluh menit."
"Gw tidur."
"Ya itu bukan salah gw."
Narisa diam sebentar sebelum akhirnya melirik sinis.
"Terus sekarang ngapain masih duduk? Tidur. Mau sakit lagi?"
Kara baru sadar dia bahkan belum ganti baju. Dia buru-buru bangkit, cuci muka sebentar, lalu kembali ke kasur. Kali ini dia langsung rebahan sambil memeluk Narisa dari belakang.
Hidungnya menempel di tengkuk cewek itu. Narisa langsung merinding.
"Santen... jangan di situ. Perasaan gw gak enak."
Tapi bukannya menjauh, Kara malah sengaja mengecup tengkuk Narisa pelan.
"Ahh-"
Narisa langsung membekap mulut sendiri lalu turun dari kasur dengan muka merah.
"Rese lo!"
Blam.
Dia kabur keluar kamar begitu saja. Kara malah ngakak sendiri di kasur sambil menatap pintu yang dibanting tadi.
Oke. Dia memang harus pelan-pelan.
Narisa masih gampang salah tingkah. Jangan sampai cewek itu ilfeel, panik, lalu malah kabur ke rumah orang tuanya.
"Sabar. Sabar."
Kara mengusap dada sendiri. Setelah itu dia mencoba tidur, meskipun senyum kecilnya masih ada dan badannya jadi sedikit.. panas.
.