Dimas Saputra seorang pemuda tampan yang sholeh, mendapatkan hati seorang wanita cantik yang kaya raya.
Seorang pemuda yang bekerja di sebuah perusahaan besar milik keluarga Haristian, kini telah memikat hati seorang putri cantik dari pemilik perusahaan tersebut.
Berawal dari kehidupan yang sederhana, membuat dirinya merasa tak pantas untuk mendampingi wanita yang begitu terlihat sempurna. Namun kenyataannya jika yang kuasa sudah berkehendak, semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enchya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
"Kurang tau sih, tapi kayaknya aku belum pernah lihat sama tuh cowok yang tadi jemput si Lisa." Pesan Aulia.
"Mana sih dia, kog ga nongol-nongol, biasanya juga dia gercep." Pesan Vika.
"Lagi sibuk pacaran kali, hahahaha." Pesan Sela.
"Udah-udah jangan gosip-in tuh anak, ntar telinganya merah." Pesan Rere.
"Kita tanya aja nanti bareng-bareng, siapa cowok itu sebenarnya." Pesan Aulia.
"Bener-bener, dari pada kita nebak-nebak ga jelas gini." Pesan Vika lagi.
Lisa tersenyum sendiri membaca pesan grup dari sahabat-sahabatnya itu, memang keempat sahabatnya itu yang bisa menghibur Lisa saat dia sering merasa kesepian karena tidak di perhatikan oleh kedua orang tuanya. Ya walaupun Lisa dulu sering malas untuk ikut main-main bersama mereka, tapi mereka selalu bisa membuat Lisa tersenyum.
"Hallo guys, sory baru buka hape aja nih, ya aku juga setuju buat kita jalan-jalan, emang udah lama banget kita ga keluar bareng." Pesan Lisa setelah membaca semuanya.
"Eh ni si princess baru nongol aja, kemana aja sih kamu?" tanya Rere
"Sory-sory tadi ada sedikit urusan." Pesan Lisa.
"Ngomong-ngomong siapa tuh cowok yang tadi jemput kamu di kampus? kog ga ada cerita sama kita-kita kalau punya gebetan baru." Pesan Vika.
"Gebetan apaan? ngarang aja kamu Vik." Pesan Lisa.
"Terus kalau bukan gebetan apaan donk? calon suami?" tanya Sela.
"Itu cowok yang nyebelin yang pernah aku temui." Balas Lisa disertai dengan emoticon marah.
"Haty-haty loh Lis, dari benci bisa jadi cinta, hahahaha." Pesan Aulia.
"Ga ih, amit-amit dah." Pesan Lisa.
"Jangan gitu Lis, entar kemakan omongan sendiri loh. Wkwkwk." Goda Rere.
"Kalian ini semuanya sama aja ya, orang aku tuh sebel banget dari pertama ketemu dia, dia itu rekan bisnis papaku, dulu kita ketemu pertama di kantor." pesan Lisa.
Lisa tidak menceritakan kalau dirinya memang sengaja di pertemukan sama Faris oleh papa Adit. Kalau Lisa menceritakan yang sebenarnya nantinya bisa di ketawain habis-habisan sama sahabat-sahabatnya itu.
"Eh tapi keliatannya cowok tadi cakep juga loh Lis, hehehe." Pesan Aulia.
"Kalau kamu mau ambil aja, wkwkwk." Pesan Lisa.
"Main ambil aja, emangnya permen Lis?." pesan Aulia.
"Hahahahaha." balasan mereka berlima satu per satu.
"Jadi semua setuju nih ya kalau hari libur besuk kita ke puncak?" pesan Vika kemudian.
"Kita semua ngikut aja Vik." balas Rere mewakili semuanya.
"Nanti buat persiapan kita, biar supir aku yang urus semuanya, kita mau dirikan tenda kan di sana?." pesan Lisa.
"Iya itu lebih seru." Balas Rere.
"Okelah semua sudah setuju, untuk lebih lanjut besuk kita bahas di kampus ya." Pesan Vika.
"Oke." Pesan mereka berempat bersamaan.
Lisa menutup ponselnya dan beranjak dari duduknya, dia berniat mau ke kamarnya namun terdengar suara bel yang di pencet dari luar pintu utama.
Lisa berjalan menuju pintu.
"Biar aku saja bi yang buka." Ujar Lisa yang melihat bi Inah mau membukakan pintunya.
"Baik non."
Lisa membuka pintu dan ternyata papanya yang baru pulang dari kantor, Lisa meraih tangan papanya dan mencium punggung tangan papanya.
"Papa kog pulang malem?"
"Iya sayang, ada sedikit masalah tadi di kantor."
Lisa bergelayut manja menggandeng tangan papanya.papa adit merasa sangat senang dengan sikap Lisa yang seperti anak kecil itu, meskipun Lisa sudah besar tapi kadang tingkahnya seperti anak SD yang memang dulu dia tidak bisa merasakan kasih sayang yang dia inginkan dari kedua orang tuanya itu. Dan sekarang Lisa menjadi anak yang manja, dan kadang manjanya berlebihan, seperti sekarang ini yang udah nempel terus sama papa Adit.
"Pah, aku ga suka banget tuh sama si Faris, dia tuh nyebelin banget pah."
"Loh kenapa kamu tiba-tiba bahas si Faris sayang?"
"Papa tau ga tadi tuh Lisa pulang kuliah di jemput Faris,."
"Lha emang pak Mamat kemana?."
"Itu dia pah, pak Mamat tadi udah jemput Lisa, tapi saat di parkiran katanya Faris datang dan menyuruh pak Mamat pulang, dan dia bilang di suruh papa buat jemput aku."
"Papa ga ada nyuruh dia tuh."
"Maka dari itu pah, Lisa kesel banget sama Faris,selain nyebelin, dia juga suka bohong. Memang dia itu siapa berani nyuruh-nyuruh pak Mamat, dan juga berani jemput Lisa."
"Ya udah sayang, besuk kalau dia gitu lagi akan papa tegur."
"Eh bentar pah, darimana dia bisa tahu kalau Lisa kuliah di kampus itu, papa ga kasih tahu dia kan?"
"Ga sayang, papa dulu nyuruh dia tanya ke kamu langsung, kan kamu juga dengar sendiri waktu itu."
"Iya sih pah, Lisa denger itu, tapi kog dia bisa tahu ya."
"Ga usah bingung gitu lah sayang, kamu tau kan siapa dia? banyak anak buahnya yang bisa mencarikan info soal kamu."
"Iya sih pah, Lisa ngerti, ya udah sana papa mandi dulu, bau nih."
"Eh dasar anak nakal, walaupun papa ga mandi sehari, papa tetep wangi loh, mana ada papa bau, buktinya dari tadi juga kamu nempel terus sama papa." Ujar papa Adit sambil mencubit hidung Lisa.
"Sakit tau pah, ya udah sana mandi dulu, biar capeknya hilang."
"Oke sayang, tunggu papa buat makan bareng ya."
"Siap komandan." Jawab Lisa sambil tangannya diangkat di sebelah keningnya tanda hormat.
Papa Adit tersenyum melihat tingkah putri tunggalnya itu, dia mengacak rambut Lisa dan menggelengkan kepala melihat sikap Lisa yang kadang berubah seperti anak kecil. Kemudian papa Adit melangkah pergi naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Lisa yang di tinggalkan papanya itu kembali duduk di sofa, tapi kali ini Lisa duduk di ruang keluarga. Mama Ita keluar dari kamarnya dan turun ke lantai satu lalu bergabung dengan Lisa. Lisa memulai pembicaraan dengan mama Ita.
"Mah, Lisa minta izin buat ke puncak besuk pas hari libur."
"Sama siapa sayang?" Tanya mama Ita sambil mengusap lembut rambut Lisa.
"Biasa mah sama sahabat-sahabat Lisa."
"Nanti ngomong sama papa kamu dulu ya."
"Iya mah nanti Lisa juga minta izin sama papa, tapi mama boleh kan?"
"Pergilah sayang, apapun yang buat kamu bahagia mama izinkan, tapi di sana nanti kamu harus hati-hati"
"Iya mah, Lisa bisa jaga diri kog."
Tak lama kemudian, papa Adit turun dan ikut bergabung duduk di ruang keluarga. Dan Lisa langsung meminta izin kepada papanya itu. Papa Adit juga memperbolehkan Lisa mengikuti acara liburan bersama sahabat-sahabatnya itu.
Papa Adit dan mama Ita merasa bahagia dengan kehidupan mereka yang sekarang. Tidak seperti dulu yang mana mereka sibuk bekerja dan jarang bisa berkumpul dengan keluarga seperti sekarang ini.