Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.
Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.
Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.
Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.
Tapi mereka lupa satu hal.
Dia bukan korban.
Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.
Termasuk dirinya.
Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.
Kakaknya menginginkan kematiannya.
Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.
Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.
Dunia mengira Sabrina akan tunduk.
Mereka salah.
Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...
dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.
Membunuh… atau kehilangan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Hukuman Bisu
"Nyo... Nyonya..." Marni tersedak ludahnya sendiri. Air mata mengalir deras melewati sudut matanya, menabrak jari-jari Sabrina yang berlumur darah kering. Bau pesing tajam meruap dari rok seragam hitam putih pelayan itu.
Sabrina menekan bilah pisau satu milimeter lebih dalam. Gesekan logam memutus lapisan daging tipis.
"Satu kali lagi kau gagap, aku putus trakeamu."
"Lima puluh juta!" Marni memekik tertahan, nyaris tanpa suara akibat ujung pisau di tenggorokannya. Napasnya putus-putus. "Lima puluh juta, Nyonya! Sumpah! Saya butuh uangnya malam ini juga!"
Sabrina tidak mengubah raut wajahnya. Otak kalkulatif Maureen menerima informasi kotor tersebut. "Untuk apa uang receh itu?"
"Bapak saya... bapak saya ditahan rentenir di kampung! Kalau besok pagi utangnya nggak lunas, bapak saya mau dibacok!" Marni merintih putus asa. Tubuhnya bergetar meronta pelan, memohon belas kasihan. "Nona Kania bilang... beliau bilang bubuk itu cuma obat lelap biasa! Biar dedek bayi tidur terus, biar Nyonya kelihatan nggak bisa ngurus anak. Sumpah mati saya nggak tahu itu racun mematikan!"
Sebuah jeda hening turun menyergap ruang pantri.
Sabrina melepaskan cengkeramannya dari rahang Marni perlahan. Ia memundurkan badannya setengah langkah, menarik pisau dari kulit leher gadis itu.
Rasa ngilu yang luar biasa menyayat pangkal panggulnya. Sabrina menggigit dinding dalam pipinya sampai mengecap rasa darah asin. Ia membiarkan sensasi pedih jahitan medisnya membumikan kewarasannya. Di sudut matanya, botol kaca yang pecah memantulkan cahaya kuning dari dalam kulkas raksasa.
Serbuk putih itu menempel di pecahan kaca. Lorazepam dosis jalanan. Obat penenang hewan yang sanggup menghentikan detak jantung bayi prematur dalam hitungan menit. Paru-paru kecil Sebastian tidak akan pernah sanggup memompa oksigen melawan efek sedatif sekuat itu. Kematian ranjang. Tidak ada tanda pencekikan. Dokter keluarga Halim pasti menyimpulkannya sebagai henti jantung alami.
Skenario Kania terlalu rapi untuk ukuran wanita neurotik penelan pil tidur. Ada dalang yang jauh lebih besar di balik perintah ini.
"Kau menukar nyawa bapakmu dengan nyawa bayiku," ucap Sabrina lambat-lambat. Matanya menatap genangan putih di lantai.
"Maafin saya, Nyonya! Saya mohon... laporin saya ke polisi aja! Penjarakan saya malam ini juga!" Marni menjatuhkan kedua lututnya ke lantai marmer yang basah oleh air kencingnya sendiri. Kedua tangannya menyembah ke arah kaki telanjang Sabrina.
"Polisi?" Sabrina memiringkan kepalanya. Ujung jarinya memutar gagang pisau perak. "Kau pikir Adrianus Halim butuh polisi untuk mengurus sampah di dalam rumahnya?"
Marni membeku seketika.
"Suamiku akan menyeretmu ke halaman belakang." Sabrina melangkah mendekat, ujung jari kakinya nyaris menyentuh lutut pelayan yang bersimpuh itu. "Adrian akan menyuruh pengawalnya mematahkan kedua kakimu, mencabut lidahmu, lalu melempar tubuhmu yang masih hidup ke dalam kandang rottweiler kelaparan. Bapakmu di kampung tidak akan pernah menemukan sisa tulangmu."
Isak tangis Marni terhenti seketika. Tercekik oleh teror visual yang sengaja dibangun Sabrina. Reputasi kekejaman Adrianus Halim bukan rahasia di kalangan staf rumah tangga.
"Dan Kania Tanjung?" Sabrina menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan Marni. "Wanita itu akan membiarkanmu mati menjadi tumbal. Dia tidak akan pernah mentransfer lima puluh juta itu ke rekening rentenir bapakmu. Baginya, kau murni bidak sekali pakai yang gagal mengeksekusi tugas."
"Tolong saya, Nyonya..." Marni menundukkan dahinya menyentuh lantai marmer yang dingin. Keputusasaan total melahap sisa kewarasannya. "Saya bakal lakuin apa aja. Apa aja, Nyonya."
"Semuanya?"
"Sumpah demi Tuhan, Nyonya!"
Sabrina meraih pergelangan tangan kanan Marni kasar. Menarik gadis itu paksa hingga kembali berdiri separuh bungkuk. Tubuh Sabrina memancarkan aura dominasi mutlak.
"Siapa lagi selain Lasmi yang menerima bayaran dari Kania?" interogasi Sabrina. Matanya menyapu lorong luar, memastikan tidak ada telinga tambahan yang mendengarkan sesi penyiksaan ini.
"Cuma Bu Lasmi, Nyonya!" Marni menjawab cepat dengan napas tersengal. "Bu Lasmi yang pegang uang kas untuk bayar pelayan-pelayan yang mau tutup mulut. Saya disuruh turun bikin susu karena Bu Lasmi tahu saya lagi kepepet utang."
"Bagus." Sabrina memutar tubuh Marni kasar, menekan punggung pelayan muda itu menempel kuat ke permukaan meja granit meja pulau.
Tangan kiri Sabrina menekan bahu Marni, mengunci pergerakannya. Tangan kanannya yang memegang pisau beralih menekan telapak tangan kanan gadis itu agar rata di atas meja.
"Nyonya mau apa... jangan potong tangan saya, Nyonya!" Marni memekik tertahan. Ototnya meronta, tapi kekuatan kunci Sabrina di titik sendinya membuat tenaganya menguap sia-sia.
"Aku tidak pernah memecat anjing yang sudah menggigit majikannya." Sabrina meletakkan bilah pisaunya di atas meja granit berdenting pelan. "Memecatmu hanya akan membuat Kania mengirim pembunuh baru yang belum kukenal wajahnya. Kau akan tetap bekerja di sini. Menjadi mata dan telingaku."
"Iya, Nyonya! Saya bakal jadi mata-mata Nyonya! Saya janji!"
"Tapi setiap kesepakatan butuh tanda tangan. Dan setiap dosa butuh penebusan fisik."
Tangan kanan Sabrina merayap turun. Jemarinya yang panjang dan berlumur noda darah kering meraih dua jari Marni. Jari telunjuk dan jari tengah. Dua jari kotor yang tadi membuka lipatan kertas perkamen dan bersiap menaburkan racun ke dalam botol susu Sebastian.
"Jari ini yang menyentuh botol anakku," bisik Sabrina mematikan tepat di telinga Marni.
"Jangan, Nyonya... ampun..."
Sabrina mengunci pergelangan tangan Marni kuat-kuat menggunakan siku kanannya.
Ia memutar dua jari pelayan itu ke arah atas. Berlawanan arah dengan batas elastisitas sendi alami manusia. Menariknya paksa dengan tenaga konstan tanpa keraguan sedikit pun.
Marni membuka mulutnya lebar-lebar untuk meneriakkan rasa sakit.
Tangan kiri Sabrina melesat kilat membekap mulut Marni sangat rapat. Menelan seluruh jeritan histeris gadis itu kembali ke dalam tenggorokannya.
Sabrina menekan jarinya ke bawah. Melewati batas toleransi tulang rawan.
Krak. Krak.
Dua bunyi patahan tumpul memecah kesunyian dapur. Tulang falang proksimal di jari telunjuk dan jari tengah Marni patah membelah otot. Sendinya bergeser lepas dari mangkuknya secara paksa.
Tubuh Marni mengejang brutal di atas meja granit. Matanya mendelik menahan siksaan luar biasa. Air matanya merembes membasahi telapak tangan Sabrina yang membekap mulutnya. Gadis itu kehabisan oksigen akibat jeritannya sendiri yang terperangkap di rongga dada.
Sabrina menahan tubuh kejang itu selama sepuluh detik penuh. Membiarkan saraf otak Marni merekam setiap detik rasa sakit ini sebagai trauma permanen yang tidak akan pernah hilang seumur hidup.
Ini adalah kurikulum pertama dari sang majikan baru. Kepatuhan yang lahir dari ketakutan fisik.
Sabrina akhirnya melepaskan bekapannya. Ia mundur perlahan, mengambil kembali pisau peraknya dari atas meja.
Marni merosot jatuh ke lantai marmer hitam. Gadis itu meringkuk memeluk tangan kanannya yang kini membengkak kebiruan. Dua jarinya bengkok ke arah yang tidak wajar. Ia menangis tanpa suara, tersedak oksigen, tubuhnya gemetar hebat layaknya daun tertiup badai salju.
Sabrina berdiri tegak menatap karya seninya. Sayatan di panggulnya kembali mengirim sinyal nyeri akibat kontraksi otot barusan, tapi ia mengabaikannya tuntas.
"Dengarkan baik-baik, Marni," ucap Sabrina, suaranya sangat tenang, berbanding terbalik dengan kekerasan yang baru saja ia ciptakan. "Kau akan membersihkan pecahan kaca dan tumpahan racun ini sampai tidak bersisa. Kau buang ke saluran pembuangan wastafel. Cuci bersih menggunakan sabun pemutih."
Marni mengangguk patah-patah di atas lantai. Wajahnya basah oleh keringat dingin dan air mata.
"Setelah itu, kau bikin satu botol susu formula baru. Antarkan ke kamarku." Sabrina menyelipkan kembali pisau peraknya ke balik lengan piama rumah sakit. "Besok pagi, kau balut tanganmu menggunakan perban. Kau bilang pada Lasmi jarimu terkilir karena terpeleset genangan air di dapur. Kau bilang rencanamu menabur racun gagal total karena aku tiba-tiba masuk memergokimu sebelum botolnya terbuka."
"I... iya, Nyonya..." Marni memaksakan pita suaranya bekerja.
"Sampaikan pesan dariku untuk Lasmi dan Kania. Beritahu mereka, bayiku sehat, dan aku tidak pernah tidur."
Sabrina memutar badannya. Meninggalkan pelayan itu memunguti pecahan kaca botol menggunakan satu tangan kirinya yang gemetar. Ia melangkah keluar dari dapur pantri menembus lorong gelap sayap barat.
Bunyi retakan tulang jari itu sangat pelan, tapi cukup untuk membuat seluruh pelayan mansion tahu siapa nyonya baru mereka.