NovelToon NovelToon
You Are My Destiny

You Are My Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Snow White

Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.

Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.

Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bom Waktu

Sebenarnya Jeevan tidak ingin bertengkar dengan Valerie pagi ini, tapi ia sangat kesal karena Valerie tidak pulang semalaman tanpa kabar. Dengan siapa dia, dan apa yang sedang dilakukan, pikiran Jeevan penuh dengan curiga dan overthinking. Amarahnya tidak bisa dibendung lagi saat Valerie begitu saja pergi meninggalkannya tanpa jawaban yang jelas.

Kesabaran Jeevan sepertinya sedang diuji dan ia tidak sanggup lagi menahannya, langkah kakinya mengikuti Valerie yang berjalan menuju kamar karena merasa lelah dan ingin memberikan tubuhnya dengan mandi air hangat. Belum sempat Valerie menuju kamar mandi, Jeevan lebih dulu menarik tangannya sehingga ia jatuh ke dalam dekapan Jeevan. Valerie kaget bukan main saat berada dalam dekapan Jeevan dengan cepat ia mendorong dan melepaskan kedua tangan Jeevan dari tubuhnya.

"Mau apa sih kamu?" Valerie mulai kesal karena Jeevan sudah menggangunya.

"Aku cuma mau tanya kamu dari mana?" tanya Jeevan dengan suara yang mulai meninggi membuat Valerie sedikit keheranan.

Kenapa tiba-tiba saja Jeevan menjadi sedikit kasar? Biasanya ia adalah sosok yang lemah lembut dalam setiap ucapan dan perbuatannya. Tapi saat ini yang di hadapannya bukanlah Jeevan melainkan seperti orang lain yang tidak dikenal oleh Valerie.

"Kenapa? Aku udah bilang kamu nggak usah tahu aku dari mana!"

Emosi Jeevan mulai meluap mendengar ucapan Valerie, dan ketika mereka terlibat perdebatan panas tiba-tiba saja ponsel Valerie berdering terdengar sangat kencang. Keduanya terdiam saling menatap satu sama lain dengan tatapan tajam, secepat kilat Jeevan berhasil merebut tas Valerie yang dipegangnya sejak tadi.

Sontak Valerie terkesiap saat Jeevan mengambil paksa tas yang sedang dipegangnya. Dibukanya tas tersebut lalu mengambil ponselnya yang terus berdering. Valerie merasa tidak terima dengan sikap Jeevan yang sudah menggangu privasinya. Mereka berdua terlibat saling merebut ponsel satu sama lain, tapi Jeevan mengangkat satu tangan kanannya yang sedang memegang ponsel ke atas.

Tubuh Jeevan yang sangat tinggi sangat susah untuk Valerie meraih ponsel miliknya. Sebisa mungkin Valerie mencoba mengambil dari tangan Jeevan tapi sayang tidak bisa. Sorot mata Jeevan terus menatap Valerie dengan tajam seakan hendak menerkamnya. Dilihatnya ponsel yang masih dipegang olehnya, sebuah nama tertulis dengan jelas di layar ponsel Valerie dengan tulisan 'Hero♥️'.

Jeevan semakin terbakar cemburu saat melihatnya, apalagi ada tanda hati di belakang namanya. Senyum sinis Jeevan menatap Valerie yang masih berusaha merebut ponsel darinya. Tanpa basa-basi Jeevan menggeser tanda hijau dan menekan tanda Loudspeaker (pengeras suara) sehingga bisa terdengar dengan jelas siapa yang telah meneleponnya.

"Halo sayang. Kamu udah sampai rumah?" ucapnya suara lelaki begitu lembut terdengar saat Jeevan mengangkat panggilan masuk.

Jeevan kaget bukan main menatap Valerie dengan tajam, mendengar suara seorang lelaki yang begitu lembut. Hati Jeevan hancur seketika dan terbakar cemburu, wajahnya mulai memerah dengan sorot mata menyeramkan. Begitu juga dengan Valerie yang tidak kalah kaget ternyata telepon dari Owen yang baru saja pulang dari luar negri.

Valerie melihat Jeevan begitu lekat seolah memendam amarah untuknya, dan saat Jeevan lengah Valerie berhasil mengambil ponselnya dari tangan Jeevan lalu mematikannya tanpa menyapa Owen lebih dulu. Tawa sinis Jeevan Kembali terlihat ketika berhasil menangkap basah Vale.

"Jadi semalaman kamu sama dia? Iya?" tanya Jeevan dengan kedua tangannya terlihat gemetaran menahan amarah yang hendak meledak namun sebisa mungkin ia menahannya.

Sebenarnya semua tuduhan Jeevan kepada Valerie salah, mana mungkin dirinya bersama Owen sedangkan sahabatnya baru saja kembali dari luar negri. Jeevan tidak boleh tahu jika selama ini dirinya mengurus rumah sakit kanker, karena jika tahu semua rahasianya akan terbongkar.

"Jawab!" Teriak Jeevan mulai histeris membuat Valerie kaget mendengarnya.

Buliran berwarna bening mulai memenuhi pelupuk matanya Valerie saat mendengar bentakan Jeevan. Hatinya sedih dan juga sakit, ia tidak mungkin berkata jujur kepada Jeevan. Biarlah semua menjadi salah paham. Tidak ada jawaban dari Valerie membuat Jeevan hanya bisa menarik napas panjangnya sambil memejamkan kedua bola matanya.

Yang ingin Jeevan lakukan saat ini adalah memukul sesuatu untuk meluapkan emosinya, tapi tidak ingin dilakukan di depan Valerie karena akan membuatnya trauma dan membenci dirinya. Lama Jeevan menunggu jawaban Vale yang hanya bisa terdiam sambil menangis mengatakan air matanya. Tanpa berpikir panjang Jeevan pergi meninggalkan Valerie sendirian.

Masih memakai pakaian yang semalam Jeevan pergi mengendarai mobil begitu cepat, berapa kagetnya Kenzie saat melihat Jeevan yang datang ke kantor dengan keadaan sangat berantakan dan pakaian yang sama dipakai kemarin.

"Lah berantakan banget, dari mana lo?" tanya Kenzie saat Jeevan memasuki ruang kerjanya dengan wajah muram dan penuh emosi.

Tidak ada kata yang terucap dari mulut Jeevan, ia langsung menuju kamar pribadinya yang berada di dalam ruangan tersebut. Kamar yang dibuat Jeevan untuk bisa beristirahat sejenak di waktunya yang padat. Di sana sudah tersedia semua keperluannya mulai dari bermacam baju kemeja, stelan jas, sepatu, dasi, makanan dan juga lain-lain.

"Berisik lo!" Timpal Jeevan dengan nada sinis berlalu melewati Kenzie yang sedang merapihkan dokumen untuknya.

Melihat Jeevan yang berlalu melewatinya menuju kamar membuat Kenzie keheranan dan bisa menebak, pasti sahabatnya sedang ada masalah dengan Valerie, masalah rumah tangganya. Kenzie hanya bisa menghela napas panjang dan segera menghampiri Jeevan yang sedang terbaring di atas tempat tidur.

"Bukannya mandi malah tidur lagi," celetuk Kenzie sedikit kesal saat melihat Jeevan yang memilih untuk berbaring sambil memejamkan kedua bola matanya seperti mempunyai masalah yang sangat besar.

"Tolong kosongin jadwal gue sampe siang. Gue mau istrahat sebentar," pinta Jeevan tanpa menjawab pertanyaan Kenzie.

"Nih anak udah tahu banyak rapat malah minta dikosongin. Memang ada apa sih muka lo kusut banget? Ada masalah sama Valerie?" tebak Kenzie berjalan menghampiri Jeevan yang masih saja terbaring lemas tak berdaya seolah tidak ingin diganggu.

"Sumpah, gue lagi badmood banget sekarang. Lo tahu kalau semalaman dia nggak pulang," jelas Jeevan mulai menceritakan masalah yang sedang dihadapinya.

"Hah! Serius lo? Memang dia kemana?" tanya Kenzie dibuat kaget dengan ucapan Jeevan.

Jika membahas soal Valerie tidak pulang membuat Jeevan semakin marah dan ingin melampiaskannya, tapi hatinya tidak bisa berbohong kalau Jeevan sangat membencinya saat ini. Apa mungkin yang tadi meneleponnya adalah cinta pertamanya yang kini mulai kembali kepadanya. Jika memang benar itu tandanya Jeevan tidak bisa lebih lama lagi dengan Valerie.

"Jalan sama cowok," jawab Jeevan membuat Kenzie tidak percaya.

"Yang bener lo?" Kenzie tidak percaya dan akhirnya Jeevan menceritakan semuanya tentang kejadian tadi pagi kepadanya.

Kenzie hanya terdiam mendengarnya tidak bisa berkata apa-apa, ia tidak tahu wejangan apa yang harus dikatakan kepada sahabatnya karena ia tidak ahli dalam hal seperti ini.

"Lo yakin kalau dia cinta pertamanya?" Kenzie kembali bertanya seolah tidak percaya dengan ucapan Jeevan.

"Kenapa? Lo ragu sama ucapan gue?" Jeevan balik bertanya seolah kesal jika Kenzie meragukannya.

Setelah Jeevan pergi meninggalkan Valerie, tiba-tiba saja kepada Valerie kembali terasa berat dan pusing. Serta rasa sakit yang luar biasa, kini cairan kental keluar dari hidungnya membuat Valerie ketakutan, dengan cepat ia menelepon Rania untuk segera ke apartemennya.

Sesampainya di sana Rania mendapati Valerie sedang muntah-muntah di kamar mandinya dan tanpa berpikir panjang, Rania segera membawa Valerie ke rumah sakit. Selama di dalam perjalanan Rania mencoba menelepon Jeevan tapi sayang tidak ada jawaban karena ponsel Jeevan tertinggal di sofa ruang TV apartemennya.

Beberapa jam kemudian ada ponsel Kenzie berbunyi dan melihat nomor tidak dikenal di layar ponselnya. Merasa terganggu dengan bunyi ponselnya membuat Jeevan yang sedang membaca beberapa dokumen terganggu.

"Hp lo masih dipake nggak?" sindir Jeevan bertanya secara halus kepada Kenzie dengan nada terdengar ketus.

Memang saat ini Jeevan tidak bisa diganggu karena suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja, begitu sensitif dan mudah emosi. Sejak tadi Kenzie lebih memilih untuk menjauh darinya daripada menjadi target sasaran empuk luapan emosinya.

"Sorry. Ada telepon nggak dikenal," jelas Kenzie sesaat kemudian menerima panggilan masuk yang entah dari siapa.

Sebenarnya Kenzie sangat malas menerima panggilan masuk atau membalas pesan dari nomor yang tidak dikenal, tapi berhubung ada di depan Jeevan dengan suasana hati yang tidak baik membuat Kenzie terpaksa menerimanya.

"Halo." Kenzie menerima panggilan masuk dengan suara terdengar datar.

"Kenzie ini gue, Rania," sebuah suara yang sangat dirindukan olehnya menyapa telinganya membuat Kenzie tidak percaya.

Ada rasa heran dan tidak percaya jika memang yang didengarnya saat ini adalah suara Rania. Tapi nomor telepon siapa yang sedang dipakai oleh Rania, karena Kenzie sudah memblokir dan menghapus nomornya. Ternyata itu nomor Valerie. Tubuh Kenzie masih terdiam mematung dengan ponsel masih melekat di telinganya.

"Lo masih di sana, kan?" Rania menyadarkan Kenzie yang sesaat melamun.

"Ngapain lo telepon gue?" sikap Kenzie berubah menjadi sinis dan dingin.

"Gue cuma mau minta tolong kasih tahu Jeevan kalau Valerie sekarang ada di rumah sakit."

"What! Rumah sakit?" Teriak Kenzie kaget membuat Jeevan yang ada di sebelahnya menoleh ke arahnya.

Mendengar Valerie masuk rumah sakit akhirnya Jeevan dan Kenzie segera pergi ke rumah sakit tempat Valeri di rawat. Tadinya Jeevan sangat malas untuk menemui Valerie karena emosinya masih ada di dalam hatinya, belum juga hilang. Tapi Kenzie memaksanya karena seperti yang Rania bilang jika Valerie kondisinya lemah.

Sesampainya di rumah sakit tempat Rania bekerja, kedua lelaki tampan masih terdiam di dalam mobil. Seharusnya Jeevan cepat turun dan berlari ke dalam ruangan tempat Valerie di rawat. Tapi Jeevan terlihat diam melamun seperti hatinya sedang berkecamuk.

"Ngapain masih di sini, cepat turun sama cari Valerie," saran Kenzie melihat Jeevan masih terdiam melamun di dalam mobil dengan tatapan kosong.

"Mau ngapain gue ke dalem juga," gumam Jeevan membuat Kenzie keheranan.

"Nih anak amnesia apa. Istri lo ada di dalem lagi nggak baik-baik aja, dan lo sebagai suami seharusnya ada di samping dia."

"Gue males ke dalem, kenapa bukan lo aja yang turun ke dalem?" Jeevan balik bertanya kepada Kenzie membuatnya habis kesabaran.

Jika Jeevan sedang emosi dan suasana hatinya tidak baik seperti ini sangat sulit sekali untuk melunakkan hatinya. Memang hanya Kenzie yang bisa menghadapi Jeevan selama ini. Tawa ringan terlukis di bibir Kenzie saat Jeevan menyuruhnya turun dan melihat keadaan Rania. Apa Jeevan lupa jika di dalam sana adalah kandang singa baginya, di sana ada dr. Geonathan, dr. Alex dan juga Biyan. Akan terjadi perang dunia ketiga jika mereka bertemu.

"Lo mau ini ruma sakit hancur? Buat gue itu kandang singa, di sana banyak yang nggak suka sama gue. Kalau mereka tahu gue ada di sana, habis gue."

"Balik aja deh, males gue."

"Nih anak!" Kenzie sudah mulai kesal menghadapi Jeevan yang tidak bisa ajak kompromi.

Akhirnya mau tidak mau Kenzie menemani Jeevan ke dalam dengan menggunakan masker agar tidak dikenali oleh dr. Geonathan, dr. Alex dan Biyan. Meski sebenarnya perasaannya takut dan gundah saat memasuki rumah sakit tersebut. Kedua bola matanya terus mengawasi keadaan sekitar berharap tidak bertemu dengan ketiga lelaki itu.

Sesampainya di kamar rawat inap, Jeevan melihat Valerie sedang tertidur pulas dengan wajah yang sedikit pucat. Tatapannya sendu dan merasa iba meskipun tadi mereka berdua sempat bertengkar. Tapi rasa sayang Jeevan melebihi apapun kepada Valerie.

"Udah sana ngapain diem di pintu sih," ucap Kenzie menyuruh Jeevan menghampiri Valerie saat mereka berdua berdiri di ambang pintu.

Tidak lama kemudian Rania datang membuat Kenzie kaget dan ketakutan, ia pikir yang datang adalah salah satu lelaki yang sedang dihindarinya. Namun nyatanya bukan dia adalah Rania. Kedua bola mata mereka bertemu dan saling menatap satu sama lain, meskipun Kenzie memakai masker tapi Rania masih bisa mengenalinya.

"Udah datang?" tanya Rania kepada Jeevan yang berdiri tidak jauh dari tempat tidur Valerie sambil terus menatap istrinya yang sedang tertidur begitu lekat.

"Sakit apa dia?" Jeevan balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Rania ataupun menoleh ke arahnya.

"Diagnosa dokter dia kecapean, tapi tadi pas aku datang ke sana dia lagi muntah-muntah," jelas Rania membuat Jeevan tiba-tiba saja menoleh ke arahnya dengan tatapan lekat.

"Muntah-muntah?" Jeevan memperjelas ucapannya Rania dan perempuan bermata sedikit bulat hanya mengangguk.

"Iya, muntah-muntah," angguk Rania.

"Maksudnya dia hamil?" sela Kenzie salah bicara bertanya membuat Rania dan Jeevan kaget bukan main menatap Kenzie yang tiba-tiba saja asal bicara.

1
Black Swan
Geraaaaaĥhhh🥵🥵🥵🥵
Black Swan
Bener-bener lo ya Jeevan🤣
Ria Irawati
sudah mampir..
bagus² nama tokohnya.
Ria Irawati: sama-sama kak
total 2 replies
Amila FM,IG:amilaeditslife
semangat semangat, ayo update 💪😍
❄Snow white❄IG@titaputri98: 🥰🥰Makasih kak
total 1 replies
mary dice
berita baik atau buruk nihh?? habis berantam biasanya bawaan negatif mulu atau curiga🤔 lanjut ya thor😍
❄Snow white❄IG@titaputri98: 😄🤭Biasanya gitu ya bikin Overthinking. Tunggu bab selanjutnya ya kak🥰makaskih
total 1 replies
only siskaa
aku mampir thorrr😋
❄Snow white❄IG@titaputri98: Makasih kak🥰
total 1 replies
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
❄Snow white❄IG@titaputri98: Makasih Kak🥰
total 1 replies
Tulisan_nic
Tinggalnya di PIK 2🤣
❄Snow white❄IG@titaputri98: 😄😄🤭🤭wah jangan2 ini salah satu penghuninya ya😄😄🤭🤭
total 1 replies
Tulisan_nic
Namanya bagus kak, Valeri Felicia Irene💕
❄Snow white❄IG@titaputri98: Makasih kak🥰
total 1 replies
Black Swan
Kenzie tipikal cowok nggak banyak ngomong, tau-tau ada wallpaper di laptopnya🤣🤣🤣
Black Swan
Lanjut kak😍💪
Na2 Chan
sudah mampir sayang ku....
❄Snow white❄IG@titaputri98: Makasih Kak Nana🥰🥰
total 1 replies
Black Swan
𝑺𝒆𝒎𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕 𝒌𝒂𝒌😍
Niche
saran dikit kak

maaf sebelumnya

narasinya itu di tiap chapter semuanya panjang

mungkin bisa dipecah untuk kenyamanan pembaca kak

sebagian pembaca ada yang sensitif liat narasi panjang satu blok penuh

cuma saran teknis aja kak 👍

semangat ya.
❄Snow white❄IG@titaputri98: 🥰Makasih banyak Kak sarannya
total 1 replies
Black Swan
Jeevan mulai memcintai secara ugal-ugalan😄💪
Black Swan
Pengen gue getok si Jeevan🤣🤣🤣🤭
Black Swan
Up tiap hari ya thor, 😍😍
Rain
Helo… aku apresiasi karyanya ya. Smoga semangat terus berkarya kaka🙏😍
mama Al
lanjut
❄Snow white❄IG@titaputri98: Siap, Kak. Up tiap hari kok🥰👍
total 1 replies
Black Swan
Jeevan mulai bucin, 😄😄🤣🤣suka sama second lead nya ini Kenzi🤭🤭😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!