NovelToon NovelToon
Bisikan Batu Nisan

Bisikan Batu Nisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:292
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Terik yang mulai memancarkan panas telah menyinari seluruh halaman rumah dua lantai yang ditinggali oleh Laura bersama kedua orang tuanya. Dinding beton rumah berwarna putih bersih kombinasi krem, dengan tambahan aksen kayu coklat hangat terlihat sangat menawan di tengah hamparan taman yang dirawat dengan rapi. Bunga mawar merah, melati putih, pohon mangga besar di halaman belakang, dan berbagai jenis tanaman hias lainnya tumbuh subur di sekitar jalan setapak yang mengarah ke pintu utama. Di luar pagar rumah, jalanan yang cukup sepi mengarah ke dua arah, satu menuju kota dan yang lain menuju kawasan perkebunan yang lebih jauh. Di seberang jalan, hamparan kebun teh yang luas membentang hingga ke kejauhan, dedaunan hijaunya terlihat menyegarkan mata, sementara di baliknya gunung Salak muncul samar di balik selimut awan tipis yang selalu menghiasi pagi hari.

“Pastikan kamu makan dengan teratur ya, nak,” ujar ibunya sambil menyesuaikan kemeja yang dikenakan Laura. Ibunya membawa tas kecil berisi wadah yang diisi dengan salah satu makanan kesukaan putrinya, nasi liwet dengan ayam bakar dan lalapan segar. “Ibu sudah menyisakan makanan untuk makan malam jika kamu pulang terlambat.”

Laura tersenyum hangat, meraih tangan ibunya dengan lembut. “Terima kasih, Bu. Jangan khawatir, aku akan mempercepat jam pulangku. Aku akan pulang secepat mungkin setelah bertemu dengan teman-teman.”

Ayahnya berdiri di sisi pintu mobil yang sudah siap mengantar, kedua tangannya mencelup masuk ke dalam kantong jas berwarna abu-abu yang ia kenakan. Wajahnya yang tadi tegas kini menunjukkan ekspresi penuh kasih sayang. “Kamu bisa menghubungi sopir kapan saja jika ingin pulang lebih awal. Jangan terpaksa jika merasa lelah atau tidak nyaman,” ujarnya dengan nada yang menekan bercampur perhatian.

“Ya, Ayah. Aku mengerti,” jawab Laura sambil mencium pipi ayahnya. Ia kemudian memasuki mobil hitam yang sudah menunggu di halaman, sementara sopir pribadi Pak Jani dengan ramah membuka pintu untuknya. Setelah Laura duduk dengan nyaman, Pak Jani menutup pintu dengan hati-hati dan berjalan ke arah jok pengemudi.

Ibunya menggeleng-geleng kepala dengan senyum saat melihat mobil mulai bergerak perlahan keluar dari halaman. “Lihat saja, dia sudah mulai kembali seperti dulu,” ujarnya kepada suaminya.

Ayahnya mengelilingi pinggang istrinya dengan lembut. “Ya. Semua butuh waktu, dan akhirnya waktunya tiba untuknya agar melangkah keluar dari bayangan."

Selama perjalanan, Laura menghadapkan wajahnya ke arah jendela mobil, menikmati pemandangan kebun teh yang melewati matanya. Angin segar dari pegunungan membawa wangi khas daun teh yang menyegarkan, membuat hatinya merasa lebih tenang. Di kejauhan, gunung Salak seolah sedang menyapa dirinya dengan bentuknya yang gagah, mengingatkannya akan betapa kecilnya masalah manusia di hadapan kebesaran alam.

Akan tetapi, di antara panorama yang tadinya memukau, mata Laura tiba-tiba menangkap sesuatu yang aneh; penampakan tiga gaun merah, melintang dan melayang liar di atas hamparan dedaunan teh; tiga gaun itu mengambang dan menyusut seperti sedang bernapas dengan susah payah, berkibar seperti menggeliat dalam air. Hanya beberapa detik ia bisa mengamatinya sebelum pemandangan itu hampir hilang di balik rerumputan tinggi. Tetapi, hal semacam itu seakan membuyarkan semangat paginya, Laura meluruskan ingatannya, mencoba berpikir positif; apakah ketiga gaun tadi hanyalah layangan berbentuk pakaian wanita yang sengaja diterbangkan, ataukah ada tiang-tiang yang memang sengaja mengibarkannya? "Sudahlah, aku harus berkonsentrasi memikirkan kegiatanku hari ini." Ketusnya, mencoba mengabaikan.

Setelah sekitar lima puluh menit perjalanan, mobil akhirnya sampai di depan kampus yang menjadi tempatnya kuliah dulu. Sekolah Tinggi Desain Komunikasi Visual yang terletak di pusat kota Bogor. Gedung kampus yang modern dengan aksen desain etnis lokal terlihat mencolok di tengah kawasan perkantoran dan perdagangan. Laura melihat Ariana, Amelia, dan Roni sudah menunggu di depan gerbang utama kampus, dengan wajah-wajah mereka penuh senyum saat melihat mobilnya datang.

Pak Jani membuka pintu untuk Laura, dan ia segera turun dari mobil dengan langkah yang lebih ringan dibandingkan beberapa hari yang lalu. “Laura! Kamu datang!” teriak Amelia dengan senyum lebar, langsung berlari mendekatinya dan memberikan pelukan erat.

Ariana dan Roni segera menyusul, masing-masing memberikan pelukan yang penuh kasih sayang. “Kamu terlihat lebih baik ya,” ujar Ariana sambil mengusap punggungnya. “Wajahmu sudah tidak selembab sebelumnya.”

Laura tersenyum, merasakan kehangatan dari teman-teman sekaligus rasa nostalgia yang menyelimuti dirinya saat melihat kampus tempat ia menghabiskan masa-masa menyerap pembelajaran yang penuh semangat. “Aku merindukan tempat ini,” ujarnya sambil melihat ke arah gedung utama. “Rasanya seperti baru kemarin aku masih berlari-lari dari satu ruangan ke ruangan lain bersama kalian.”

“Mari kita duduk di taman kampus aja yuk,” ajak Roni yang sudah membawa beberapa botol minuman dari warung dekat kampus. “Aku sudah memesan beberapa kue untuk kamu, seperti yang kamu suka.”

Mereka berempat berjalan ke arah taman kecil di tengah kampus, di mana beberapa pohon besar memberikan naungan yang sejuk. Keempatnya duduk di atas bangku kayu yang terletak di bawah pohon beringin, dengan hamparan rumput hijau yang terawat rapi di sekelilingnya. Di kejauhan, bisa dilihat mahasiswa-mahasiswi muda yang sedang berdiskusi atau sedang membuat sketsa desain, semuanya mengingatkan Laura pada dirinya sendiri beberapa tahun yang lalu.

“Kamu tahu tidak, kampus ini baru saja membuka program magang untuk alumni,” ujar Ariana sambil membuka tasnya dan mengambil sebuah amplop putih. “Kepala jurusan mengingatkan aku tentang kamu. Dia bilang jika kamu mau, ada kesempatan untuk menjadi pembimbing praktik bagi mahasiswa baru di kelas desain komunikasi visual.”

Laura terkejut mendengarnya. Ia pernah bermimpi untuk mengajar di kampus setelah lulus, namun setelah bertemu Doni, rencananya sedikit bergeser ke arah pekerjaan lepas. “Aku tidak tahu. Apakah aku cukup mampu untuk itu?” tanya Laura dengan rasa ragu.

“Tentu saja kamu mampu!” ujar Amelia dengan penuh keyakinan. “Kamu adalah salah satu alumni terbaik jurusan kita. Selain itu, mengajar bisa menjadi cara untuk menyampaikan ilmu yang kamu punya dan mungkin menemukan inspirasi baru dalam dirimu.”

Roni mengangguk menyetujui. “Dan satu lagi, aku baru saja mendapatkan proyek fotografi untuk sebuah majalah lokal tentang keindahan alam tropis. Aku butuh seseorang yang bisa membuat konsep dan naskah untuk proyek itu. Maukah kamu membantu aku, Laura?”

Laura terdiam sejenak, merenungkan tawaran yang diberikan teman-temannya. Sebelum ini, ia selalu merasa bahwa ia tidak bisa lagi melakukan hal-hal yang pernah ia cintai tanpa Doni di sisinya. Namun kini, melihat wajah-wajah teman-temannya yang penuh harapan dan merasakan kehangatan kampus yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya, ia merasa ada semangat baru yang muncul di dalam dirinya.

“Aku mau mencoba,” lantang Laura dengan suara yang mantap. “Mungkin itu adalah langkah yang tepat untuk aku mulai kembali menjalani hidupku dengan penuh makna seperti dulu.”

Teman-temannya langsung bersorak kegirangan. Ariana memberikan amplop putih itu padanya. “Ini adalah formulir pendaftaran untuk program magang. Kamu bisa mengisinya dan menyerahkannya minggu depan jika sudah siap.”

“Kita bisa mulai membahas konsep proyek fotografi besok jika kamu mau,” tambah Roni. “Kita bisa bekerja di kedai kopi langganan, atau jika kamu ingin, bisa juga di kebun teh di seberang rumahmu. Pemandangannya sangat bagus untuk mencari inspirasi.”

Laura mengangguk, merasakan bahwa hati yang dulu penuh dengan kesedihan kini terisi dengan harapan dan semangat baru. Ia mengambil buku catatan kecil dari tasnya dan menuliskan beberapa kata dengan cepat: “Hari ke-6. Kembali ke kampus tempat aku kuliah, bertemu dengan teman-teman di bawah pohon beringin yang pernah menjadi tempat kami banyak berdiskusi dan bermimpi. Mereka memberikan aku kesempatan baru, kesempatan untuk mengajar dan bekerja pada proyek fotografi yang menarik. Aku menyadari bahwa Doni tidak akan ingin aku berhenti bermimpi. Hidup memang terus berjalan, dan aku harus berusaha untuk mengisi setiap langkah dengan arti yang baik.”

Mereka berempat terus berbincang dengan hangat, berbagi cerita tentang apa yang telah mereka alami selama beberapa bulan terakhir. Ariana baru saja menyelesaikan proyek desain untuk sebuah perusahaan lokal, Amelia sedang menjalani program spesialisasi di bidang konsep arsitektur industri, sedangkan Roni baru saja kembali dari perjalanan fotografi di daerah pedalaman Sumatera. Mereka juga berjanji untuk sering bertemu dan saling mendukung satu sama lain, seperti yang selalu mereka lakukan semenjak masa kuliah.

Saat mereka siap beranjak, Laura tiba-tiba merasakan pusing hebat memukul di kepalanya, dahinya berkerut dan kedua kelopak matanya memejam erat. Ketiga temannya sontak terkejut, mereka segera berkerumun mendekat dan berusaha memastikan Laura baik-baik saja. Akan tetapi, ketika Laura membuka kedua matanya, kecemasan dan kebingungannya melebihi apa yang dialami oleh ketiga temannya; semua menjadi gelap, sangat gelap dan tidak ada yang dapat ia amati selain apa yang biasa ia saksikan saat terpejam. "Laura, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu sangat pucat?" Mata Laura lurus menerawang tajam, tidak mengetahui di mana wajah Amelia yang baru saja bertanya. Dalam kegelapan, ia melihat sekelebat cahaya kemerahan, seperti tiga buah tiang api yang berkobar, sebelum perlahan memudar dan menghilang. Selang beberapa saat yang mendebarkan, penglihatan Laura berangsur mulai kembali, ia kini dapat melihat Amelia di hadapannya, juga Roni dan Ariana yang berada di dua sisinya.

Saat matahari mulai berpindah ke sisi barat, memberikan warna yang indah pada langit kampus, Laura merasa bahwa apa yang baru saja terjadi pada dirinya adalah bagian dari gangguan kecil kesehatannya. Meski ia masih sedikit bingung dengan bagian saat ia melihat tiga bayangan cahaya merah seperi api dalam kegelapan matanya, tetapi setidaknya penglihatannya kini kembali normal. Di kejauhan, gunung Salak terlihat semakin samar di balik awan tebal, seolah mengintip dan menjadi saksi bisu atas perjalanan hidup penuh misteri dari banyak anak manusia di bawah kakinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!