NovelToon NovelToon
Run Lady Run

Run Lady Run

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.

"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"

Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Drama

Cyprian menatap pelayan itu sekilas, lalu mengalihkan pandangan dinginnya kembali pada Sybilla yang gemetar.

"Pelayan," suaranya rendah namun memerintah, tanpa perlu meninggikan nada. "Bawa Lady Sybilla kembali ke kamarnya. Jangan biarkan dia berkeliaran di koridor umum dengan pakaian seperti ini lagi. Itu memalukan."

Pelayan itu segera membungkuk dalam-dalam, wajahnya masih pucat. "Baik, Your Grace! Segera hamba laksanakan!"

Cyprian kemudian menatap lurus ke mata Sybilla, tatapan emasnya seolah menembus jiwa gadis itu.

"Dan kau..." jeda sejenak, membuat udara semakin berat. "Lady Sybilla. Jagalah sikapmu. Kau bukan anak kecil yang baru belajar berjalan, apalagi seorang calon Duchess yang seharusnya menjadi teladan."

Tanpa menunggu jawaban, Cyprian berbalik, jubah hitamnya berkibar pelan saat ia melangkah pergi, meninggalkan Sybilla yang masih terduduk lemas dengan air mata yang akhirnya tumpah.

"Aku... aku takut..." bisiknya, suaranya pecah bergetar. Lututnya tak lagi mampu menopang berat tubuhnya, dan ia pun luruh ke lantai marmer yang dingin. Air matanya kini mengalir deras, membasahi pipi pucat itu tanpa bisa dibendung. Rasa malu, takut akan hukuman Cyprian, dan beban menjadi tunangan seorang Duke yang begitu menakutkan, semuanya runtuh dalam satu detik.

Pelayan wanita itu terkejut melihat tuannya jatuh. Ia segera berlutut di samping Sybilla, tangannya gemetar ragu-ragu ingin menyentuh bahu gadis itu, takut membuatnya semakin tersinggung atau marah.

"My Lady... oh, Tuhan," desis pelayan itu dengan suara penuh kecemasan. "Tolong, jangan seperti ini. Anda membuat hamba semakin ketakutan."

Ia mencoba membantu Sybilla berdiri, meski tubuh gadis itu terasa lemas bagai boneka kain. "Ayo, My Lady, kita kembali ke kamar. Di sana lebih aman. Tidak ada siapa-siapa yang akan melihat Anda menangis seperti ini. Mari, sebelum His Grace berubah pikiran dan kembali..."

Sybilla hanya menurut pasrah, membiarkan dirinya diseret pelan oleh pelayan setia itu menyusuri koridor panjang yang mendadak terasa begitu mencekam. Bayangan tinggi Cyprian seolah masih menghantui setiap langkah mereka.

.

.

.

Sore Hari – Kamar Lady Sybilla

Cahaya matahari sore yang keemasan menyelinap masuk melalui celah tirai beludru tebal, menciptakan garis-garis debu yang menari di udara hening. Sybilla duduk kaku di tepi tempat tidur, tangan terlipat rapat di atas pangkuannya. Ia sudah mengganti gaunnya, rambutnya disisir rapi, dan air matanya telah diusap hingga tak bersisa. Namun, jantungnya masih berdetak kencang, seolah menunggu bencana berikutnya.

Pelayan yang tadi membantunya kini membeku di dekat pintu, wajahnya pucat pasi. Pintu kamar itu tidak diketuk. Tidak ada peringatan.

Pintu itu hanya terbuka perlahan, didorong oleh tangan besar yang sarung tangan kulitnya masih melekat.

Cyprian berdiri di ambang pintu. Siluet tubuhnya yang tinggi menutupi sebagian cahaya dari koridor, membuat ruangan terasa mendadak lebih gelap dan sempit. Ia tidak langsung masuk. Mata emasnya yang tajam menyapu ruangan, berhenti sejenak pada pelayan yang gemetar, lalu terkunci pada Sybilla.

"Keluar," perintahnya pada pelayan itu. Suaranya datar, tanpa emosi, namun cukup untuk membuat pelayan itu nyaris berlari keluar sambil membungkuk cepat.

Pintu tertutup lagi dengan bunyi klik yang halus namun final. Kini, hanya ada mereka berdua.

Cyprian melangkah masuk. Langkah kakinya yang berat terdengar jelas di atas karpet tebal, setiap langkahnya seolah menghitung mundur waktu Sybilla. Ia berhenti tepat di depan gadis itu, namun tidak duduk. Ia memilih untuk tetap berdiri, mendominasi ruangan dengan kehadirannya yang mengintimidasi.

Sybilla menahan napas, matanya tertuju pada pola karpet di lantai, takut menatap wajah pria itu.

"Aku mendengar kau menangis," ucap Cyprian tiba-tiba. Suaranya rendah, bukan membentak, tapi justru itu yang lebih menakutkan. "Hingga lututmu luruh di lantai koridor."

Sybilla tersentak sedikit. "Saya... saya mohon maaf, Your Grace. Saya tidak bermaksud mempermalukan Anda. Saya hanya..."

"Hanya apa?" potongnya tajam. Ia membungkuk sedikit, memaksa Sybilla untuk mendongak atau setidaknya merasakan napasnya yang hangat. "Apakah aku begitu mengerikan bagimu, Lady Sybilla, hingga keberadaanku di dekatmu membuatmu runtuh seperti anak kecil?"

Tidak ada kemarahan meledak-ledak kali ini. Yang ada hanyalah nada dingin yang menyelidik, seolah ia sedang mencoba memecahkan teka-teki yang menyebalkan.

"Saya..." Sybilla tergagap, tenggorokannya tercekat. "Saya takut melakukan kesalahan lagi. Tadi... pakaian saya... sikap saya..."

Cyprian menghela napas panjang, seolah lelah. Ia meluruskan tubuhnya kembali, tangannya merapikan ujung jasnya dengan gerakan lambat dan anggun.

"Kau memang melakukan kesalahan," katanya tegas, membuat bahu Sybilla menegang. "Tapi bukan karena pakaian atau sikapmu yang kurang sempurna di mata orang lain."

Ia menatap lurus ke manik mata Sybilla yang berkaca-kaca.

"Kesalahanmu adalah berpikir bahwa aku akan menghukummu karena hal sepele seperti itu. Aku bukan ayahmu, Sybilla. Dan aku bukan monster yang akan memakanmu hanya karena kau menangis."

Jeda sejenak. Udara di ruangan itu terasa berubah. Ancaman tadi sepertinya menguap, digantikan oleh sesuatu yang lebih rumit.

"Berdirilah," perintahnya, kali ini lebih lembut, meski tetap otoriter. "Kita akan turun untuk minum teh. Kau perlu makan, dan aku perlu memastikan calon istriku tidak pingsan lagi di depan tamu malam ini."

Ia mengulurkan tangannya. Bukan untuk menarik paksa, tapi menunggu. Sebuah tawaran, sekaligus perintah yang tak bisa ditolak.

"Ayo, My Lady. Jangan membuatku menunggu terlalu lama, hmm?"

1
❄Snow white❄IG@titaputri98
Semangat Thor😍😍😍
Thinker Bell ><
Keep up the good work for myself.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!