NovelToon NovelToon
Nai "Panggil Bunda Saja"

Nai "Panggil Bunda Saja"

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Navy Ane

Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.

Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.

Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.

Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Dua Minggu sebelum ulang tahun Arkan"

Di sebuah ruangan yang tampak asri, sofa-sofa empuk tersusun rapi dengan karpet tebal yang menutupi seluruh lantai. Sebuah televisi besar tergantung di dinding, berhadapan dengan rak buku yang memenuhi sisi ruangan, dipenuhi deretan buku dari berbagai genre.

Di salah satu sofa panjang, duduk seorang wanita cantik yang telah berumur, memancarkan wibawa dalam diamnya. Di sampingnya, seorang anak kecil tampak tenggelam dalam dunianya sendiri, menatap layar tablet dengan serius.

"Yang mana, Arkan? Dari empat gaun ini, mana yang paling bagus?" tanya Diana, wanita yang duduk di sampingnya.

Arkan tampak masih tenggelam dalam dunianya, sesekali menggeser layar tabletnya.

"Oma, semuanya cantik," serunya polos.

"Ya, makanya Oma bingung. Coba pilih satu yang paling cantik."

Arkan akhirnya menoleh sekilas, lalu mengernyit kecil. "Oma, kenapa warnanya biru semua? Kenapa nggak ada yang warna cokelat?"

"Supaya sama dengan baju Arkan. Nanti kita semua pakai warna begini," ujar Diana, menunjuk salah satu gaun berwarna biru langit.

"Ini kan warna kesukaan Arkan," sambungnya.

"Tapi sekarang Arkan sukanya warna cokelat," serunya semangat.

Diana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menghela napas pelan. Anak-anak memang cepat sekali berubah.

"Jadi... pilih warna cokelat saja?" tanya Diana memastikan.

"Iya!" jawab Arkan tanpa ragu.

"Kenapa cepat sekali berubah warna kesukaannya?" gumam Diana, sambil kembali fokus pada tabletnya dan mencatat ulang pilihannya.

"Kakak Nay kan suka warna cokelat," ujarnya sambil tertawa riang.

Diana menatap Arkan lekat. Ternyata Nayla berpengaruh sebesar itu terhadap cucunya.

"Jadi… diubah, ya? Temanya sekarang cokelat?" tanyanya lagi, memastikan.

Arkan mengangguk antusias.

"Coba pilih satu gaunnya, nanti kita ubah warnanya jadi cokelat," ujar Diana, menunjuk layar tablet.

Arkan menatap serius beberapa saat, lalu menunjuk. "Yang ini saja."

"Matamu memang jeli. Oma juga tadi condong ke yang ini," seru Diana dengan nada senang.

Arkan tersenyum lebar, memamerkan gigi kecilnya.

"Oma, bajunya kapan jadinya? Arkan sudah nggak sabar mau pakai."

Diana terkekeh pelan, lalu mengusap kepalanya lembut. "Masih lama. Dua minggu lagi. Nanti papahmu yang bawa."

"Kenapa lama sekali? Arkan ingin lihat Kakak Nay pakai baju yang Arkan pilih."

Diana tertawa kecil.

"Kan ulang tahunmu dua minggu lagi, jadi dipakainya nanti."

"Arkan mau ulang tahun!" serunya penuh semangat.

"Iya… ulang tahun yang keempat. Arkan semakin besar," sahut Diana sambil menarik gemas hidungnya.

"Yeyy! Berarti Kakak Nay ikut, kan? Berarti Arkan punya foto lengkap!" girangnya, sampai melompat-lompat di atas sofa.

Diana menatapnya dengan mata yang mulai menghangat. Pemandangan itu… membuat sesuatu di dalam dirinya terusik.

Perlahan, ingatan itu kembali berputar—dua puluh dua tahun silam.

Drettt…

Layar ponselnya menyala.

❤️ Kael, anakku ❤️

Dulu… ia pernah berjanji akan merayakan ulang tahun Kael yang ke sepuluh.

Namun saat itu, perusahaan lebih membutuhkan dirinya.

Dan ia memilih pergi.

Janji itu pun ia ingkari.

…yang ternyata menjadi panggilan terakhir dari anaknya.

Saat ia akhirnya pulang untuk merayakan ulang tahun itu, Darvian hanya menatapnya sinis… lalu mengabaikannya.

Diana sempat berpikir—terlambat satu atau dua hari bukanlah masalah. Anaknya pasti tetap senang.

Namun hari itu berbeda.

Tatapan Darvian kosong.

Tak ada lagi senyuman yang dipaksakan.

Tak ada lagi usaha untuk menyembunyikan kecewa.

Di usianya yang ke sepuluh tahun, ia bahkan membenci nama tengahnya sendiri—Kael.

Dan saat itu… ia menatap Diana seperti orang asing.

Sejak hari itu, Diana tahu—ada sesuatu yang benar-benar hilang.

Karena itulah, kini ia tak ingin mengulang kesalahan yang sama.

Sesibuk apa pun dirinya, ia akan selalu berusaha hadir… di hari lahir Arkan.

Ia sudah kehilangan satu hati anaknya… dan ia tak ingin kehilangan yang kedua.

Meskipun Darvian bersikap dingin terhadap Arkan, ia tetap menyempatkan diri untuk datang.

Seperti tahun lalu.

Ia hadir… namun hanya untuk menyerahkan sebuah hadiah mainan seharga tujuh puluh juta. Setelah itu, ia sekadar mengusap kepala Arkan singkat—tanpa benar-benar menatap—lalu melenggang pergi.

Seolah kehadirannya hanya formalitas.

Saat itu, Arkan berteriak memanggilnya.

Namun Darvian tak berhenti.

Bahkan untuk sebuah foto bersama pun… harus diambil diam-diam.

Arkan menatap sosok itu hingga benar-benar menghilang dari pandangannya. Setelah itu, ia menunduk, menatap mainan di tangannya dengan senyum yang tertahan.

Hati Diana mencelos melihatnya.

Ia tak habis pikir… seperti apa dulu Darvian kecil yang selalu menunggu kepulangannya.

Tanpa sadar, air matanya jatuh.

"Oma kenapa nangis?" tanya Arkan polos.

Diana mengedipkan matanya pelan, kembali pada kenyataan.

"Oma ini nangis bahagia," jawab Diana, menatap wajah Arkan yang benar-benar tulus. "Karena Arkan akan punya foto lengkap," lanjutnya lembut.

Arkan langsung memeluknya erat. "Terima kasih, Oma."

Diana berseru kecil, sedikit terkejut. "Wah, Arkan sudah pintar bilang terima kasih, ya," ucapnya sambil menangkup wajah Arkan.

Arkan tersenyum lebar, memperlihatkan gigi susunya yang mungil.

"Kakak Nay yang ajar. Katanya, kalau kita senang karena seseorang, kita harus bilang terima kasih," ucapnya lantang.

Diana terenyuh. Lagi-lagi, Nayla berperan besar dalam tumbuh kembang Arkan. Kehadirannya benar-benar seperti anugerah.

"Oma, Arkan mau kasih tahu Kakak!" ucapnya lantang, lalu berlari pergi.

Langkah kecilnya bergegas menuju kamar Nayla.

Ceklek.

"Kakak?" panggilnya lembut.

Namun kamar itu kosong.

Arkan membuka pintu kamar mandi. Tetap tidak ada.

Perasaannya mulai gelisah. Takut Nayla pergi.

Ia pun berlari keluar—

Bruk!

"Aduh… sayang, kamu nggak apa-apa?" suara Nayla terdengar panik.

Arkan menggeleng pelan. Saat ia hendak berbicara—

"Kakak tadi—"

"Arkan, tunggu… Kakak sakit perut," potong Nayla cepat, lalu berlari secepat kilat.

Arkan hanya bisa terbengong sejenak… sebelum akhirnya ikut berlari mengejarnya.

Arkan menunggu Nayla dengan sabar. Namun, saat Nayla keluar, ia justru kembali masuk ke kamar mandi.

"Huuu…" Nayla menghembuskan napas panjang begitu akhirnya keluar lagi. Ia segera membuka laci, lalu meminum obat diare.

Setelah itu, ia menghempaskan tubuhnya ke kasur.

"Dasar seblak sialan," gerutunya sambil mengelus perut.

Arkan terkekeh lucu, tak bisa menahan tawanya melihat tingkah Nayla.

Nayla berbalik, lalu langsung menggelitiknya. "Ampun, Kakak! Ampun!" teriak Arkan di sela tawa.

"Hahaha…"

"Oh iya…" Nayla tiba-tiba berhenti, seolah baru ingat sesuatu. "Arkan tadi mau cerita apa?"

Arkan terbengong.

"Arkan lupa…" ujarnya pelan, mencoba mengingat. Namun beberapa detik kemudian ia menggeleng.

"Nggak tahu… lupa, Kakak..."

Arkan masih nyengir sambil pegang perut habis ketawa

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!