Bukan kisah pengantar tidur. Bukan untuk anak-anak manusia yang polos.
Ini adalah kitab untuk anak-anak jiwa yang sudah siap menghadapi kenyataan di balik kegaiban.
Bahwa di balik dinding realitas yang kau anggap nyata, terdapat celah.
Dan di dalam celah itu... hukum alam mati. Logika hancur.
Segala sesuatu menjadi abstrak, melengkung, dan berteriak.
PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertelan (Bag 20)
Jejak-jejak itu tertinggal, mereka memahami bahwa yang telah terjadi adalah telah terjadi, ilusi yang teraktual, dan itu artinya, setiap sentuhan gaib, akan benar-benar memberikan sentuhan.
Kegelapan akhirnya mulai pudar. Perlahan, langit di timur memutih. Semua yang hitam pekat bergeser menjadi abu-abu kelam yang suram.
"Matahari... lihat ayah, akhirnya matahari kembali muncul..." seru Umar, jarinya menunjuk ke ufuk timur.
Benar. Bola api besar mulai menampakkan diri di sela-sela pepohonan. Cahayanya menyinari kampung mati itu, membuat bayangan-bayangan hantu perlahan meleleh dan lenyap seperti lilin terbakar.
Pagi. Akhirnya pagi.
Mereka menghela napas. Beban di dada terasa sedikit terangkat. Sinar mentari pagi terasa seperti berkah ilahi, obat paling ampuh untuk melenyapkan teror malam.
"Lihat! Jam saya sudah pukul 07:00 pagi!" Ungkap Herman, suaranya sedikit lebih lega. "Waktu kembali normal. Tidak ada yang menyimpang, tidak ada yang terbalik, dan tidak ada yang terpotong.
"Jangan terlalu percaya diri," potong Sulaiman tiba-tiba, meski wajahnya juga tampak sedikit rileks. "Siang hari di sini bukan berarti aman. Hanya musuhnya yang berbeda wujud."
Mereka membereskan sisa api unggun dan bersiap berjalan. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan balai desa, keanehan mulai menyerang mata mereka.
Matahari itu... terlalu besar.
Bola api itu menggantung rendah di langit, seolah bersiap jatuh menimpa mereka. Warnanya bukan kuning keemasan, melainkan MERAH MENYALA seperti bola darah yang hampir meledak. Cahayanya tidak hangat, melainkan panas membakar, menyengat kulit hingga terasa seperti dipanggang bara, seolah mereka berada di dalam oven raksasa yang menyala.
"Panass... panas sekali..." rengek Deri, mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah yang sudah merah padam. "Kulit saya perih, Bos... rasanya mau gosong."
"Itu bukan matahari," desis Sulaiman pelan, matanya menyipit tajam menatap langit yang tinggi. "Itu mata... mata yang sedang mengawasi kita."
Dan benar saja. Saat mereka memandang lebih lama, bintik hitam pekat di tengah bola merah itu bergerak. Itu adalah pupil. Mata itu berkedip.
Kliippp...
Dunia gelap sejenak, lalu terang lagi.
"APA! APA ITU? MATA APA ITU?!" teriak Herman, kali ini ketenangannya hancur total. Panik mulai menggerogoti akal sehatnya.
Serangan psikis siang hari ini jauh lebih gila dan brutal. Bayangan mereka di tanah tiba-tiba memiliki kehidupan tersendiri.
Bayangan Sulaiman menari-nari, menirukan gerakannya tapi dengan gaya yang konyol, menghina, seolah sedang menertawakan kebodohannya. Bayangan putranya, Umar berlari menjauh, sehingga ia berdiri tanpa bayangan. Bayangan Deri justru terlihat berlutut dan menangis tersedu-sedu, lehernya memanjang aneh, padahal aslinya Deri berdiri diam kaku ketakutan.
"Lihat! Lihat bayangan kita! Mereka hidup!" teriak Deri histeris.
"Ini cara mereka menghancurkan akal sehat kita," geram Sulaiman. Ia mencoba menendang bayangannya, tapi bayangan itu tertawa lebar dan menepis kakinya dengan mudah. "Mereka ingin kita percaya bahwa tubuh dan jiwa kita sudah terpisah. Bahwa kita sebenarnya sudah mati dan tidak sadar."
Suara dengung keras terdengar di dalam kepala.
Zzzzzzzttttttt...
Seperti suara listrik tegangan tinggi yang siap meledak.
Pohon-pohon di siang bolong ini tampak menyimpang. Daunnya bukan hijau, melainkan ungu pekat dan hitam legam. Tanah di bawah kaki mereka bergerak-gerak seperti cairan kental, berdenyut-denyut seakan ingin menelan mereka masuk ke dalam lapisan bawah yang panas membara.
"JANGAN LIHAT SEKELILING!!! LIHAT UJUNG SEPATU KALIAN! JALAN LURUS! TETAP LURUS! JANGAN BERHENTI!!!" Raung Sulaiman. Ia tahu, semakin lama memandang keanehan ini, semakin dalam mereka terperosok ke dalam kegilaan tak berujung.
Mereka terus melangkah, memaksa kaki yang lemas untuk bergerak. Perut mereka keroncongan hebat. Energi dari makanan beberapa hari yang lalu sudah habis terserap oleh tubuh yang bekerja keras melawan teror.
"Kita harus cari makan," kata Sulaiman, menghentikan langkah di tepi sungai kecil yang airnya keruh pekat dan berbau amis. "Tanpa makanan, otak kosong. Dan kalau otak kosong, ilusi bebas masuk dan bertahta di sana."
"Airnya hitam sekali, Bos... jijik," kata Deri.
"Di air keruh biasanya banyak ikan, atau kita cari hewan lain," jawab Sulaiman. Ia menyuruh Herman mencari kayu, sementara matanya mengamati jejak di tanah lembap.
Matanya menangkap sesuatu.
Jejak kaki besar. Lebar dari telapak tangan orang dewasa, terlihat cetakan kuku belah.
"Jejak Rusa," gumam Sulaiman. "Hewan besar. Dagingnya tebal. Tapi mungkin saja dia hewan jelmaan."
Tiba-tiba...
WUSH! BRAAK!
Dari semak belukar setinggi manusia, sesuatu melompat keluar. Sesosok hewan sebesar sapi kecil dengan bulu kecokelatan, tubuh kekar penuh otot, dan tanduk melengkung di atas kepala. Itu dia, pejantan besar yang sedang marah.
Hewan itu menatap mereka dengan mata merah liar, lalu menundukkan kepala, menodongkan dua tanduk melingkarnya yang tampak kokoh.
"GRRRROAAAAARRRR!!!"
"DIAM KAU!! JANGAN LARI!!!
Sulaiman tidak memberi kesempatan. Ia berlari cepat, bukan menghindar, tapi menerjang langsung ke arah maut. Gergaji mesinnya sudah menderu garang di tangan.
"JANGAN LARI! HADAPI MATI!!" teriaknya.
Rusa itu kian menunduk, mengarahkan tanduk mautnya dan menyeruduk secepat kilat.
Sulaiman melompat tinggi dengan lincah, tepat mendarat di atas punggung keras hewan itu. Ia duduk kokoh seperti penunggang kuda perang, membuat hewan itu meronta hebat, berputar-putar liar ingin melemparnya.
GRRRZZZTTTT!!! KRRSAAAAAAKK!!!
Gergaji tajam itu mencebur dalam tepat di pangkal leher.
SREEEEKKKKK!!!
Darah segar menyembur deras seperti pancuran panas di kawah gunung. Rusa itu sontak meringkik kesakitan, suaranya mengerikan seperti melepas jeritan secara keseluruhan untuk terakhir kali. Tubuhnya bergetar hebat, tapi Sulaiman tidak memberi ampun. Ia menekan gergaji itu semakin dalam, memotong tendon, urat, dan mulai menggerogoti tulang leher yang keras.
Akhirnya, dengan satu tarikan kuat...
Sraaaakk!!!
Kepala hewan itu terlepas, menggelinding jauh ke dalam lumpur.
Tubuh hewan tanpa kepala itu masih berdiri sejenak, darah memancar dari leher yang putus, lalu ambruk ke tanah dengan suara kekalahan.
Herman dan Deri hanya terpaku. Mereka sudah terbiasa, tapi setiap melihatnya, bulu kuduk tetap berdiri. Sulaiman bukan manusia biasa. Di hutan ini, dia adalah predator di puncak rantai makanan.
"Daging segar," kata Sulaiman dingin, melompat turun dari bangkai. "Potong! Bakar! Isi perut! Kita harus lari sebelum 'mata' itu berkedip lagi!"
Asap mengepul tinggi, menebar aroma daging bakar yang gurih bercampur bau anyir darah yang masih segar. Di bawah tatapan "matahari" merah raksasa yang mengawasi mereka seperti tatapan yang memendam murka, mereka berempat melahap makanan dengan lahapnya.
Daging itu keras dan alot, tapi bagi perut kosong yang hanya diisi air keruh, itu adalah hidangan surgawi. Deri mengunyah sampai ke tulang-tulang kecil, menghancurkannya dengan gigi, air mata bercampur keringat dan darah menetes di pipinya.
"Jangan makan terlalu cepat, nanti muntah," tegur Herman, meski tangannya sendiri tak berhenti merobek daging dengan parang pendeknya.
Sulaiman makan dengan tenang tapi cepat, sesekali ia memotong daging menjadi lebih kecil untuk diberikan kepada Umar putranya. Matanya tak lepas dari sekeliling. Perut terisi, tenaga kembali menggelegak. Tapi rasa gelisah itu tak hilang. Hutan ini terlalu diam. Terlalu patuh setelah ia membunuh banyak jelmaan.
"Sudah cukup," kata Sulaiman, melempar sisa tulang ke semak. "Kita jalan. Semakin lama diam, semakin kuat racun tempat ini masuk ke otak."
Mereka lalu berjalan menyusuri aliran sungai. Logika berkata air mengalir ke bawah, dan di situlah jalan keluar. Tapi di hutan terkutuk ini, logika seringkali menjadi jalan menuju kematian.
Vegetasi di sekitar semakin aneh dan menyakitkan mata. Pohon-pohon bengkok seperti orang yang kesakitan pinggang, akarnya menjalar di permukaan tanah seperti belut-belut mati yang membusuk.
Tiba-tiba...
GERRRR!!!
Petir menyambar tanpa cahaya kilat. Langit yang merah tiba-tiba berubah menjadi HIJAU TOSKA yang menyilaukan dan memualkan.
"Apa lagi ini?!" teriak Deri, menutup mata karena silau.
"JANGAN MENENGADAH! LIHAT BAWAH!" Tegur Sulaiman. Tapi ia sendiri terpaku kaku melihat apa yang ada di tanah.
Tanah lembek di sepanjang tepian sungai itu, yang tadinya lumpur, kini berubah menjadi... tumpukan rambut manusia, memanjang dan menyebar seperti tumbuhan rambat.
Di antara serabut rambut itu mulai bermunculan mulut-mulut dengan bibir kering seperti tembok retak, setiap mulut seakan menatap, kemudian bergerak-gerak seperti sedang berbicara, sebagian menjerit kosong dalam kebisuan.
"Ini... ini seperti jejak kulit kepala orang-orang yang hilang," bisik Herman, wajahnya pucat pasi. "Sisa-sisa rambut mereka tertelan tanah... dan menjadi bagian dari hutan ini secara permanen."
"JANGAN INJAK MEREKA! HATI-HATI!" teriak Deri histeris, melompat-lompat panik mencari jalan aman. "AWAS! JAGA KAKI KALIAN!! JANGAN SAMPAI TERJERAT!"
Benar. Saat kaki mereka menginjak tanah di sela-sela rambut itu, tanah terasa lengket dan berdenyut. Lumpur di sekitarnya hidup.
GLEK... GLEK... GLEK...
Dari mulut-mulut terbuka itu, keluar gas beracun berwarna putih kehijauan. Baunya sangat menyengat, campuran bangkai dan telur busuk yang menusuk hingga ke otak.
"NAPAS DITAHAN! ITU RACUN GILA!" teriak Sulaiman sambil memeluk putranya. Ia segera menutup hidung rapat-rapat.
Tapi terlambat. Gas itu menyerap lewat kulit.
Saat asap tipis itu menyentuh mereka, pandangan dunia berubah total.
Di mata Sulaiman, Deri bukan lagi anak buahnya. Deri berubah menjadi seekor babi hutan gemuk, berkulit merah muda menjijikkan, dengan moncong basah dan taring tajam, berdiri seakan mengincar Umar putranya.
"Hah! Dasar babi laknat! Kau mau makan anakku ya?!" raung Sulaiman, matanya merah membara. Tangannya refleks mencengkeram gagang gergaji, siap menebas.
"Bo bo bos?! Kenapa lihat saya begitu?!" Deri mundur ketakutan. Tapi di mata Deri, Sulaiman juga berubah menjadi sosok asing yang sama sekali tak ia kenal, sosok laki-laki muda yang mengenakan kaca mata, rambut yang disisir rapi, dan kemeja putih bersih, dengan lengan digulung, seakan pria itu sedang istirahat dari pekerjaan kantornya.
"Hahahah? Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di sini!" teriak Deri, menantang dan kehilangan setengah kewarasan.
Herman yang sedang berusaha keras menenangkan diri pun akhirnya terjatuh. Di matanya, semua pohon berubah menjadi tiang gantungan. Dan di setiap tiang itu, menggantung tubuhnya sendiri, tubuh istrinya, anaknya. Leher mereka patah, lidah menjulur panjang, bergoyang ditiup angin.
"Kenapa kau tinggalkan kami... kenapa kau selamatkan diri sendiri..." bisikan itu terdengar jelas, menusuk hati.
"AKU TIDAK BERSALAH!" teriak Herman kehilangan akal. Ia mengayunkan parangnya ke arah pohon-pohon kosong. "AKU HARUS HIDUP! ITU WAJAR! AKU TIDAK BERSALAH!!"
Umar pun tiba-tiba merasa tubuhnya membeku, ia tak mampu menggeser langkah kakinya. "Ayah tolong aku! Aku tidak bisa bergerak..!"
Kekacauan total. Empat orang yang seharusnya saling menjaga, kini mengalami gangguan yang berbeda. Mereka berteriak, menangis, dan ada pula yang saling mengancam, masing-masing jiwa terpisah oleh dinding ilusi setebal baja.
"KEMBALI! SADAR KALIAN SEMUA!
SADAAARRR!!!
Sulaiman memukul kepalanya sendiri dengan gagang gergaji berkali-kali.
Brak! Brak! Brak!
Rasa sakit dan darah yang mengalir di dahinya sedikit banyak membantunya sadar.
"INI ILUSI! GAS HALUSINOGEN! FOKUS PADA RASA SAKIT! FOKUS PADA KAKI YANG MENGINJAK TANAH!"
Dengan sisa-sisa kewarasan terakhir, mereka berempat memaksakan diri berpegangan tangan satu sama lain. Meski di mata mereka tangan yang dipegang itu terlihat seperti cakar hantu atau ular berbisa, atau saat Sulaiman menggendong Umar, putranya yang di matanya seakan ia sedang menggendong seekor Landak berduri; mereka tetap fokus, memaksakan diri untuk tidak melepaskan.
Mereka berjalan membuta menembus lahan kuburan hidup, diiringi oleh ribuan mata kosong dari balik kegelapan yang terus mengawasi dan menertawakan kehancuran jiwa mereka.
"Pak, kita sudah jalan berapa jam?" suara Herman memecah keheningan yang memekakkan telinga. Suaranya terdengar sangat parau, seolah ada debu halus yang menyumbat di tenggorokannya.
Sulaiman memutar lehernya, tulang lehernya berbunyi krak keras. Dia menatap sekeliling dengan tatapan waspada. "Kurang lebih tiga jam. Kita harus cepat sebelum hal aneh lain terjadi."
Tapi ada yang salah.
Deri menunjuk ke sebuah pohon beringin besar yang akarnya menjalar seperti tangan-tangan keriput yang mencengkeram tanah. "Bo bos... pohon itu... ta tadi kita sudah lewat sini, kan?"
Sulaiman mendengus kasar, suaranya seperti geraman macan. "Omong kosong!!! Hutan memang begitu, semua pohon terlihat sama. Jangan lemah di depanku, Deri!!"
Namun hati kecil Sulaiman mulai terasa tidak nyaman. Dia menyadari apa yang dikatakan anak buahnya benar. Mereka terus berjalan, memacu langkah lebar, memotong semak dengan parang, tapi pemandangan di depan mata mereka tidak pernah berubah. Pohon yang sama, bebatuan yang sama, bahkan bau busuk dan bau anyir yang samar tercium persis di titik yang sama. Mereka berjalan, tapi mereka tidak kemana-mana. Mereka terperangkap dalam sebuah lingkaran, sebuah ilusi ruang yang menjebak dan memakan korban.
Malam lain yang tidak diketahui mulai turun, dan kegelapan yang tidak biasa kembali datang. Gelapnya pekat, pekat hingga terasa menyakitkan di mata. Cahaya senter mereka yang redup seolah ditelan oleh bayang-bayang pohon, hanya mampu menerangi beberapa langkah di depan hidung mereka.
Dan di saat itulah, sesuatu yang tidak kasat mata mulai bergerak. Sesuatu yang lapar akan ketakutan, dan sesuatu yang tahu betul bahwa di balik sikap keras dan kasar Sulaiman, ada jiwa yang bisa dihancurkan perlahan-lahan. Apabila yang paling kuat dapat dihancurkan, maka yang lain hanya sedang menunggu tanpa perlu di sentuh.
Teror itu akhirnya dimulai.
Bukan dengan teriakan, bukan dengan hantu yang muncul tiba-tiba, tapi dengan gangguan psikis lain yang perlahan, seperti sebelumnya, mencoba menggerogoti akal sehat mereka satu per satu.
Awalnya hanya terdengar seperti desiran angin. Tapi angin di hutan ini tidak berhembus. Daun-daun diam membisu.
Pssssst... Sulaiman... Ehehh...
Suara itu berbisik tepat di telinga kanannya. Halus, mendesah, penuh ejekan.
Sulaiman menghentikan langkahnya seketika, menurunkan Umar ke tanah. Dia menoleh tajam ke belakang. "Siapa yang berani main-main?! Keluar kau! Kalau berani, lawan aku secara jantan!"
Deri dan Herman terlonjak kaget. "Ada apa, Pak? Siapa yang ada di sana?" tanya Herman dengan tangan gemetar memegang senter ke arah semak-semak.
"Gak denger kalian ada yang manggil?" bentak Sulaiman.
"Denger apa, bos? Cuma suara jangkrik," jawab Deri bingung.
Sulaiman mengerutkan kening. Apa aku yang sedang berhalusinasi? pikirnya. Tapi belum sempat dia melangkah, bisikan itu datang lagi. Kali ini bukan satu suara. Puluhan, ratusan suara berbisik dari segala arah. Dari atas pohon, dari bawah tanah, dari belakang punggung mereka.
Kau tidak bisa keluar... Kau akan tinggal di sini...
Lihat sekelilingmu... ini kuburanmu...
Suara-suara itu masuk ke dalam kepala, menusuk gendang telinga, berputar-putar seperti gerigi besi yang menggilas otak. Sulaiman memegang kepalanya kuat-kuat. "Diam! Semuanya DIAM!" Dia berteriak sekuat tenaga, mencoba menenggelamkan bisikan itu dengan amarahnya. Tapi semakin dia marah, suara itu semakin keras, semakin cerdik, semakin menusuk.
Deri dan Herman mulai panik melihat pemimpin mereka yang biasanya tak tergoyahkan kini terlihat seperti orang kepanasan. "Pak? Bapak kenapa?!"
"Suaranya... suaranya terlalu banyak! Mereka sedang membicarakan kita!" teriak Sulaiman.
Umar pun kembali memecahkan tangisannya.
Ini adalah teror pemekik suara. Teror jeritan yang menggerogoti. Mengubah keheningan yang mencekam menjadi siksaan berisik yang menghantam ketenangan hati.
Setelah bisikan itu mereda, hal lain datang, yaitu datangnya perasaan yang jauh lebih mengerikan. Perasaan sedang diawasi.
Tapi bukan sekadar diawasi. Rasanya seperti ada sesuatu yang memasuki mata mereka. Tatapan itu tidak ramah, tatapan di dalam tatapan mereka sendiri, bukan tatapan penasaran, tapi penuh dengan kebencian murni, lapar, dan penuh dengan hinaan.
Sulaiman mencoba menenangkan diri, sembari membujuk putranya agar berhenti menangis. Dia mencoba berpikir logis. Tapi, saat dia menoleh ke kiri, rasa itu berpindah ke kanan. Saat dia menutup mata, dia bisa merasakan mata-mata itu menyipit, menertawakan ketakutannya, dari balik ke kelopak matanya sendiri.
"Aku ngerasa... ada yang liatin kita," gumam Herman pelan, bulu kuduknya meremang di seluruh badan. "Rasanya... panas di tengkuk."
"Iya, Pak. Saya juga ngerasa. Kayaknya... mereka lagi nunggu kita lemah," tambah Deri dengan suara gemetar.
Sulaiman menegakkan badannya. Dia mencoba memasang wajah paling garang. Dia menatap lurus ke dalam kegelapan paling pekat di antara dua pohon besar. "Dengarkan! Aku sedikit pun tidak takut dengan sekumpulan pengecut yang hanya berani bersembunyi!"
Tapi sebaliknya, rasa tatapan-tatapan itu semakin intens. Memaksa mereka merasakan kehadiran sesuatu yang besar, sesuatu yang sangat besar yang berdiri diam di balik dinding pepohonan, mengamati setiap detak jantung yang mulai berpacu cepat. Teror ini membuat mereka merasa kecil, tidak berdaya, seperti serangga yang sedang diteliti oleh raksasa yang siap menginjak mereka kapan saja.
Kejahatan hutan yang tak pernah lelah, rimba yang tak pernah beristirahat, hadir untuk memberikan panggung gangguan yang mengerikan.
Waktu terasa kian membosankan. Atau mungkin waktu berjalan terlalu cepat. Mereka tidak tahu. Yang jelas, hutan ini mulai memainkan persepsi mereka.
"Kita harus ke barat!" tunjuk Sulaiman.
"Itu bukan barat, Pak! Itu arah timur, kita tadi datang dari situ!" sanggah Herman.
"Ayah kapan kita pulang, aku sudah sangat lelah..." ucap Umar merengek-rengek.
"Bo bos, jangan kita meneruskan langkah ke arah sana, di sana kelihatannya terlalu berbahaya." Raut Deri memucat.
"Berani kau membantah?! HAAH!! Mata penyimpangan ada di sini! Sangat banyak!!"
Tapi saat mereka berjalan ke arah yang ditunjuk Sulaiman, mereka malah kembali ke tempat yang sama persis di mana mereka tadi berdiri. Sebuah batu besar dengan bentuk aneh yang sudah mereka lihat berkali-kali.
"Kita... kita jalan di tempat," lirih Herman mulai merasa lemas. Keringat terus merembes di wajahnya.
Pemandangan mulai berdistorsi. Batang pohon yang tadinya lurus, kini terlihat melengkung-lengkok seperti tulang raksasa. Akar-akar pohon seolah bergerak pelan, merayap mendekati kaki mereka. Jarak yang tadinya terlihat dekat, ternyata sangat jauh
Bayangan Sulaiman tiba-tiba memanjang sangat panjang ke belakang saat ia sedang diam. Bayangan Deri pun seolah sedang dipukuli oleh bayangan lain meski saat itu di dekatnya tidak ada siapa-siapa.
"Jangan lihat bayangan kalian!" teriak Sulaiman tegas "Fokus! Jangan lihat apa-apa! Mereka hanya sedang mencoba mengulangi cara agar kalian terjerat."
Namun sulit untuk fokus ketika realitas sedang hancur di depan mata. Mereka melihat jalan setapak yang jelas, tapi saat diinjak, itu hanyalah tebing curam yang menyelamatkan nyawa mereka sepersekian detik. Mereka mendengar suara air sungai, tapi saat dicari, yang ada hanya jurang maut.
Hutan ini memainkan otak mereka. Membuat mereka ragu pada apa yang mereka lihat, ragu pada apa yang mereka rasakan. Paranoia mulai menguasai.
"Bos... apakah bos yakin itu Herman?" tanya Deri tiba-tiba sambil menunjuk temannya. "Soalnya... kakinya tak menyentuh tanah..."
Herman menjerit ketakutan. "Apaan sih! Aku di sini! Aku berpijak di tanah!"
Mereka saling membantah, beradu argumen, hingga membuat darah Sulaiman mendidih, "DIIIAAAAMMMM!!!!"
hati bertanya tanya
mengapa di saat paling horor seperti yg digambarkan di awal cerita,
Mereka bertukar cerita horor ?🥹
Apakah jawabannya ada di bab selanjutnya?