NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Sang Mantan

Benih Rahasia Sang Mantan

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Single Mom / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:59.4k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.

Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.

5 tahun berlalu~

Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Sore harinya,

Drttt!!!

"Hallo, ada apa, Bu?"

Miranda baru keluar, dan sudah berada di samping motor hendak pulang. Tapi tiba-tiba saja gawainya bergetar.

"Tadi Ibu dapat pesan dari grub sekolahnya Tama... Bahwa besuk anak-anak dapat undangan menghadiri santunan peresmian Masjid di dekat taman kota, Mir. Oh ya...Setelan Koko Tama yang putih kaya udah kekecilan deh. Kamu nanti mampir ke toko ya kalau pulang. Nanti uangnya Ibu ganti." Bu Sri sangatlah pribadi yang pengertian. Ia tidak pernah merepotkan anak menantunya, dan malah selalu memberi apapun yang dia punya.

Tama bukan lah sekedar cucu. Meskipun bukan darah daging Arya, tapi Bu Sri sudah menganggap bocah kecil itu lebih dari hidupnya. Sebagai pengganti anak laki-lakinya. Tama selalu dirinya manjakan. Selain bekerja sebagai tukang sapu jalanan, Bu Sri juga memiliki usaha laundry di samping rumahnya. Jadi, penghasilan itu sangat cukup membantu perekonomiannya kala sang suami sudah tiada sejak Arya berusia 12 tahun.

"Iya, Bu, nanti Miranda belikan. Nggak usah di ganti, ini Miranda ada uang kok. Tapi kayaknya besuk Miranda nggak bisa temenin Tama deh, Bu... Miranda nggak enak sama Bosnya, karena baru masuk dua hari ini."

Bu Sri cukup mengerti. "Besuk biar Ibu yang temenin. Ibu juga tahu itu. Ya sudah, itu saja pesan Ibu. Kamu hati-hati pulangnya. Assalamualaikum."

"Walaikumsalam..." Miranda mematikan telfonnya.

Setelah memasukan gawainya ke dalam tas, Miranda begegas memakai helm, dan langsung melajukan motornya keluar.

Tanpa sepengetahuan Miranda, sejak tadi Ezar mengikuti mantan kekasihnya itu dari belakang. "Untung saja aku tepat waktu. Ternyata pulangnya jam 4 tepat," gumamnya. Tiba-tiba dahinya mengernyit kala motor Miranda sen ke kiri belok di sebuah toko baju cukup besar. "Mau ngapain dia? Apa mau belanja?"

Ezar sempat berhenti sejenak. Menunggu Miranda turun, baru lah dirinya mengikuti masuk ke dalam.

Di sana, Miranda selalu terpukau jika mampir di tempat toko itu. Baju anak terpampang rapi seperti pelangi. Yang membuat Miranda terkagum-kagum adalah modelnya yang lucu-lucu, apalagi baju anak cewek keluaran terbaru. Itu sangat menggemaskan di mata miranda.

Setelah cukup memilih, Miranda kalap melihat setelan baju tidur untuk Tama. Niatnya cuma beli setelah Koko berwarna putih. Tapi ya, mau gimana lagi, namanya juga ibu-ibu, apalagi kalau ada diskonan seperti saat ini. Beli 1 stel jadi 3 stel.

Miranda cukup menertawakan dirinya sendiri.

Setelah di rasa cukup, ia membawa keranjang tasnya menuju kasir. Miranda merogoh dompet dalam tasnya. Tapi disaat ia akan membayar, tiba-tiba ada suara seseorang dari samping yang sangat familiar.

"Belanjaan itu biar saya yang bayar! Ini," Ezar menyodorkan black card miliknya kepada wanita berjilbab di balik meja kasir.

Deg!

Miranda syok. Ia bahkan sampai menoleh dengan tatapan tak percaya. "Mas Ezar? Ngapain Mas Ezar ada di sini? Mas Ezar ngikutin saya ya?"

Ezar hanya melirik sekilas. Lalu kembali menatap depan tanpa memperdulikan. Sementara ATM itu masih menggantung pada tangan sang Kasir. "Udah, Mbak biar saya yang bayar-"

"Eh-eh... Nggak, Mbak! Kembalikan ATM itu. Saya bayar sendiri, habis berapa memangnya?" Miranda melirik Ezar sekilas, kilatan matanya sangat menahan rasa muak.

"Mbak, udah gesek saja kartunya. Saya nggak punya waktu banyak disini," tekan Ezar. Dan akhirnya kasir tadi berhasil menggesek kartu milik Ezar.

"Mohon maaf, Mbak... Bapak ini sudah membayar. Ini kartunya, Pak," dikembalikan lah kartu debit tadi.

Miranda masih belum terima. Ia tidak mau ada sangkut paut apapun yang terjadi pada mantan kekasihnya itu. Melihat Ezar yang sudah membalikan badan hendak keluar, Miranda juga bergegas mengikuti langkah mantan pujaannya dulu.

"Mas Ezar, tunggu!"

Tangan Ezar menggantung pada handle mobil. Pria itu perlahan menoleh, menampakan wajah tetap tenang. Meksipun ia tahu jika hatinya merasa resah dan takut.

Miranda sudah menghampiri dengan wajah masamnya. Lalu, tiba-tiba saja ia menarik tangan Ezar.

Kurang lebih ada pecahan seratus dua lembar dan lima puluh satu lembar yang dirinya taruh pada telapak tangan Ezar.

Kedua mata Ezar membola. Lalu kembali menatap Miranda. Sementara Miranda sudah melanjutkan. "Ini saya kembalikan uang Mas Ezar mulai dari kita bertemu di alun-alun kota kemarin. Mulai dari uang mainan, uang dua porsi sate, lalu pakaian Putra saya!"

Ezar menghembuskan nalas panjang. Ia tarik tas Miranda dan memasukan uang itu ke dalamnya. "Kamu pikir saya butuh uang recehanmu? Uang saya banyak, Miranda! Saya nggak butuh uang recehan kaya gitu."

Miranda menggeram. Wajahnya sudah sangat kesal, hingga irish kecoklatan itu membuat Ezar merasa bersalah.

"Tapi saya nggak mau hutang budi sama Mas Ezar! Oh ya, saya lupa. Satu lagi... Ini hp Mas Ezar!" Namun tangan Miranda menggantung kala Ezar menahannya.

Tatapan kuat mereka bertemu. Ezar tak mampu menahan gejolak dalam hatinya saat ini. Cinta yang belum usai itu membuatnya semakin tercekik, apalagi mendapati kenyataan yang sebenarnya.

"Nama kamu sebagai Sekertaris saya belum sepenuhnya hilang! Dan kamu masih terikat kontrak kerja dengan saya. Jadi, di dalam hp itu masih banyak pekerjaan yang harus kamu persiapkan untuk saja!" Ezar tak punya alasan lain. Ia segera mengindar, lalu masuk ke dalam mobil begitu saja.

Miranda berusaha mengejar. Namun mobil Ezar sudah melaju pergi.

"Ya Allah... Kenapa harus serumit ini. Aku harus segera membuat surat pengunduran diri dari Prajaya Group!" Miranda menatap ponsel itu kembali, lalu juga beregas pulang.

*

*

Sebelum pulang, Miranda mampir terlebih dulu ke rumah mertuanya untuk memberikan setelan koko milik putranya.

Tama~bocah kecil itu sudah wangi dibalik aroma minyak telon dan bedak yang membingkai wajah bulatnya.

"Mir... Tama biar tidur di sini saja. Biar kamu nggak usah repot anterin pagi-pagi. Soalnya jam 7 anak-anak sudah ngumpul di sekolah," jelas Bu Sri sambil meletakan botol minun untuk Tama.

Miranda yang tengah menyuapi Putranya hanya dapat tersenyum lega. Selain tidak di anggap Ibunya sendiri, nyatanya Miranda menemukan kasih sayang itu dari Mertuanya~Sri.

"Makasih ya, Bu! Miranda nggak bisa bayangkan di hidup Miranda yang sendirian saat ini kalau nggak ada Ibu," lirihnya sambil mengusap lengan Bu Sri.

Setelah cukup bercengkrama ringan, Miranda pamit untuk pulang. Kali ini tanpa Tama.

"Sayang nggak boleh nakal ya kalau mau bobok. Sebelum tidur harus buang air kecil dulu. Gosok gigi jangan lupa, ya!" Miranda mengecup pipi Tama.

Tama mengangguk pasti. "Baik, Bunda! Daaa, Bunda...."

Miranda kembali melajukan motornya. Tidak lama, hanya memerlukan waktu 10 menitan saja.

Di saat Miranda hendak berbelok, tetangga kompleknya menghentikan. "Eh, Mir... Tunggu dulu!" seorang Ibu-Ibu menghampiri. Memakai daster bunga berpadu batik bewarna merah cetar. Jilbabnya instan hanya menutupi lehernya.

"Iya, Bu, ada apa?" Miranda sudah mematikan motornya, menaikan helmnya.

"Tadi, di depan rumah kamu ada mobil bagus yang berhenti. Karena saya penasaran siapa orangnya, saya keluar berniat menegur. Tapi, begitu saya keluar, mobil tadi sudah pergi lagi," jelas Ibu-ibu tadi.

Miranda cukup berpikir keras. "Ibu lihat siapa orangnya?"

"Sebentar saya ingat-ingat!" begitu selesai mengingat, Ibu tadi menatap kembali. "Orangnya masih muda. Memakai setelan jas bewarna merah tua. Tinggi, tapi badanya gak terlalu besar."

Jas Marun? Sementara kalau Ezar, pria tadi memakai jas abu. Lalu siapa orang itu?

1
Naufal hanifah
bagus
Ig:@septi.sari21: maciihhh kak😍✋
total 1 replies
SisAzalea
adakah " Jauh kan tanganmu?"
Nessa
👍🏻👍🏻
Sarinah Quinn
di sini yang jahat menang telak author dukung Sinta dan ezar sedangkan Miranda yg hancur in s
ezar yg tanggung jawab Arya sama dewa, Sinta yang berjaya modal air mata dan ngancam bundir. gak sesuai ekspektasi sih tapi apa lah pembaca hak penuh author 🙏
Sarinah Quinn: terserah author nya. takdir nya di tangan author hanya gak ikhlas SJ gt Thor Sinta SM ezar. kalau nanti ezar di pertemukan dengan orang yg di cintai nya mungkin etis juga ini kn terpaksa nikah nya. tapi lagi lagi kn pembaca ini hanya pembaca thor mengikuti alur nya saja 🙏🥰
total 2 replies
Yunita Sophi
aahh aq kira Miranda akan nikah dgn Ezar...
Ig:@septi.sari21: sad ending ceritanya kak💔🥀
tapi sama-sama bahagia kok😍
total 1 replies
Yunita Sophi
keren thor ceritanya 👍
tia
👍👍👍👍👍
tia
lanjut thor
ardiana dili
lanjut
Dew666
🎈🎈🎈🎈
ardiana dili
lanjut
Nessa
nexxttt..
Yunita Sophi
bagus Ezar... libas aja tuh cewek barber tukang fitnah..
tia
lanjut thor,,
Yunita Sophi
kak thor cepat lanjutin yah... jadi makin penisirin ini...😄
Yunita Sophi
ciah Ezar punya modal nama Tama di bawa bawa..😄
Yunita Sophi
kata Dewa dia ikut agama mamah nya... terus papah nya beda gitu yah thor..
Yunita Sophi
semangat Zar...
Yunita Sophi
👏👏👏👏👏 seru nih tante 😄😄😄
Yunita Sophi
Ria mau kaya apa pun di lakukan... merebut suami kakak,membunuh kakak tp setelah berhasil menguasai malah selingkuh ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!