NovelToon NovelToon
Crossed Destinies

Crossed Destinies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Keluarga
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Suasana di depan mansion keluarga Karadağ pecah oleh teriakan Maria. Wajahnya merah padam, dikuasai oleh amarah yang bercampur dengan ketakutan luar biasa akan masa lalu.

"Aliya, pulang atau aku bakar rumah ini!" ancam Maria dengan suara yang melengking, sebuah ancaman yang lahir dari rasa putus asa.

Aliya yang ketakutan setengah mati melihat ibunya kehilangan kendali, akhirnya melepaskan pelukan Emirhan dengan tangan gemetar. Ia tahu ibunya tidak main-main.

Dengan langkah gontai dan air mata yang terus mengalir, ia masuk ke dalam mobil.

Maria segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu yang mengepul di halaman mansion.

Namun, Emirhan tidak tinggal diam. Ia segera menyambar kunci mobilnya dan melesat mengikuti mereka dari belakang.

Ia tidak peduli pada peringatan ayahnya atau tatapan sinis ibunya; ia tidak akan membiarkan Aliya menghadapi badai itu sendirian.

Sesampainya di rumah, Zartan yang sedang berada di teras terkejut melihat Aliya turun dari mobil dalam keadaan menangis sesenggukan.

"Ibu, ada apa lagi? Kenapa Aliya sampai seperti ini?" tanya Zartan cemas sambil merangkul adiknya.

"Tanya pada adik tersayangmu itu! Dia punya kekasih yang usianya jauh lebih tua, laki-laki yang akan menghancurkan hidupnya!" bentak Maria sambil membanting tasnya ke meja.

Tak lama kemudian, mobil Emirhan berhenti tepat di depan rumah mereka.

Pria itu keluar dengan langkah mantap, wajahnya menunjukkan ketegasan seorang pria yang siap memperjuangkan cintanya.

"Emir..." lirih Aliya.

Ia langsung berlari dan kembali memeluk Emirhan, mencari perlindungan di satu-satunya tempat yang membuatnya merasa aman.

Emirhan mengusap punggung Aliya, mencoba menenangkan napas gadis itu yang tersengal.

Ia kemudian menatap Zartan dan Maria secara bergantian.

"Boleh aku duduk dan menjelaskan semuanya dengan baik-baik? Aku tidak datang untuk mencari keributan," ucap Emirhan dengan nada rendah namun berwibawa.

Zartan, yang melihat kesungguhan di mata Emirhan dan penderitaan di wajah adiknya, menghela napas panjang.

Ia merasa pria di hadapannya ini berbeda dari pria-pria lain.

"Silakan duduk," ujar Zartan mempersilakan, mengabaikan geraman tidak suka dari ibunya yang masih berdiri dengan tangan bersedekap.

Di ruang tamu yang sederhana itu, Emirhan bersiap menghadapi ujian terberatnya demi mempertahankan Aliya.

Suasana di ruang tamu yang sempit itu terasa begitu panas, kontras dengan ketenangan yang biasanya menyelimuti rumah mereka.

Emirhan duduk dengan punggung tegak, tangan kanannya tetap menggenggam jemari Aliya yang masih gemetar.

"Perkenalkan, namaku Emirhan. Dan di depan Anda semua, aku menyatakan bahwa aku mencintai Aliya dengan sungguh-sungguh," ucap Emirhan, suaranya mantap tanpa keraguan sedikit pun.

Maria tertawa sinis, matanya berkilat penuh luka lama yang kembali terbuka.

"Itu bukan cinta, Emirhan! Itu hanya obsesi seorang pria dewasa terhadap gadis kecil yang tidak tahu apa-apa. Kamu hanya akan menghancurkan masa depannya!"

"Ibu, tapi aku benar-benar mencintai Emir," sela Aliya dengan suara serak, air mata kembali membasahi pipinya.

"Hanya dia yang ada saat aku merasa sendirian."

Maria berdiri, menatap Aliya dengan pandangan yang sulit diartikan—antara benci, kecewa, dan ketakutan yang mendalam.

"Baiklah. Kalau itu maumu, Aliya. Kalau kamu merasa laki-laki ini adalah duniamu, silakan! Pergilah! Tinggallah di sana, di rumah megah itu, dan rasakan sendiri bagaimana rasanya hidup dengan orang-orang seperti mereka!"

Aliya tersentak mendengar pengusiran ibunya untuk kedua kalinya.

Ia semakin erat memeluk lengan Emirhan, seolah pria itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya.

"Aku, Emirhan, bersumpah akan menjaga Aliya lebih dari nyawaku sendiri. Dia tidak akan kekurangan apa pun di sisiku," tegas Emirhan, menatap Maria dengan berani.

Zartan hendak memprotes, namun Maria mengangkat tangannya, menghentikan putra sulungnya itu.

"Biarkan dia, Zartan. Jangan cegah dia lagi," ucap Maria dingin sambil memalingkan wajah.

"Ibu mau lihat, apakah dia akan betah di sana setelah tahu dunia macam apa yang sebenarnya ia masuki. Anggap saja mulai hari ini, dia bukan lagi tanggung jawab rumah ini."

Aliya terisak hebat, namun ia tidak melepaskan pelukannya pada Emirhan.

Emirhan kemudian berdiri, membimbing Aliya dengan lembut untuk bangkit.

Ia mengangguk hormat pada Zartan, lalu menuntun Aliya keluar menuju mobilnya.

Di ambang pintu, Aliya sempat menoleh ke arah ibunya, namun Maria tetap berdiri mematung membelakangi mereka, menyembunyikan tangisnya sendiri yang pecah dalam diam.

Zartan hanya bisa terdiam membisu di ruang tamu yang mendadak terasa sangat hampa.

Ia menatap pintu yang tertutup rapat, menyisakan keheningan yang menyesakkan setelah kepergian Aliya bersama pria asing itu.

"Dunia semakin lama semakin gila, Zartan," ucap Maria dengan suara yang terdengar sangat lelah, hampir seperti bisikan putus asa.

Tanpa menunggu jawaban dari putranya, ia melangkah berat menuju kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.

Di dalam kamar yang remang-remang, Maria ambruk di balik pintu.

Ia memejamkan matanya rapat-rapat, namun bayangan wajah pria di mansion tadi justru semakin jelas terlintas di benaknya.

Wajah yang selama belasan tahun ini ia coba hapus dari ingatannya dengan segala kebencian yang ia miliki.

"Kenapa aku harus bertemu lagi denganmu, Onur? Kenapa harus sekarang?" gumam Maria dengan suara bergetar.

Air mata yang sejak tadi ia tahan di depan anak-anaknya kini tumpah tak terbendung.

Pertemuan singkat di ambang pintu mansion tadi seolah meruntuhkan benteng pertahanan yang ia bangun dengan susah payah.

Bukan hanya karena Aliya memilih pergi bersama Emirhan, tapi karena Maria menyadari bahwa takdir sedang mempermainkannya dengan cara yang paling kejam.

Ia teringat bagaimana Onur menatapnya tadi—tatapan yang sama seperti bertahun-tahun lalu, sebelum segalanya hancur berantakan.

Maria mencengkeram dadanya yang terasa sesak, menyadari bahwa Emirhan adalah putra Onur.

Dua puluh tahun yang lalu, aroma laut Marmara masih terasa segar di ingatan Maria.

Di sebuah sudut tersembunyi di Istanbul, Onur muda yang berusia 25 tahun menatap Maria dengan binar mata yang penuh janji.

Saat itu, dunia terasa milik mereka berdua, meski tembok besar bernama "Keluarga Karadağ" berdiri kokoh menghalangi.

"Aku mencintaimu, Maria. Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan Ayah atau status sosial kita," ucap Onur sambil menggenggam tangan Maria yang saat itu baru menginjak usia 22 tahun.

Maria menatap wajah tampan pria di hadapannya, seorang pewaris takhta bisnis yang rela mempertaruhkan segalanya demi gadis sederhana seperti dirinya.

"Aku juga mencintaimu, Onur. Tapi aku takut, keluargamu tidak akan pernah menerimaku."

"Biarkan itu menjadi urusanku. Yang penting adalah kita," jawab Onur meyakinkan, sebelum mengecup kening Maria dengan lembut.

Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sekejap. Keluarga besar Karadağ tidak tinggal diam.

Mereka menganggap hubungan itu sebagai noda bagi silsilah keluarga terpandang di Turki.

Tekanan demi tekanan diberikan kepada Onur, hingga suatu pagi yang kelabu, Maria terbangun dengan kabar yang menghancurkan dunianya.

Tanpa sepatah kata, tanpa surat pamit, Onur dikabarkan telah meninggalkan Turki.

Kabar yang sampai ke telinga Maria begitu pahit: Onur pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan dan dijodohkan dengan wanita pilihan keluarganya—Zaenab.

Maria menunggu di pelabuhan selama berhari-hari, berharap semua itu hanya mimpi buruk atau rencana jahat keluarga Onur untuk memisahkan mereka. Namun, Onur benar-benar pergi.

Pria yang berjanji akan menjaganya justru meninggalkannya sendirian di tengah badai.

Kembali ke masa kini, Maria membuka matanya yang sembab di dalam kamar gelapnya.

Luka yang ia kira sudah mengering itu ternyata kembali berdarah.

"Kamu pengecut, Onur," bisik Maria dalam isaknya. "Dan sekarang, putramu datang untuk melakukan hal yang sama pada putriku."

1
falea sezi
jangan restuin buk anak mu ma emir bisa bisa ank mu yg lemah mati
falea sezi
maaf ya karakter Alia ini menye menye oon
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
kecil kecil uda jd jalang tolol bgt sakit hati pergi jauh kabur malah ke club trs lu dilecehkan nanges goblok
merry yuliana
crazy up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!