Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
“Kita hampir sampai,” suara Lysara terdengar lebih pelan dari biasanya, langkahnya tetap ringan tapi kini lebih berhati-hati saat menyingkirkan cabang-cabang tipis yang menggantung rendah di depan jalur sempit itu.
“Hampir sampai ke mana?” Alexandria menatap sekeliling, alisnya sedikit mengerut karena sejak tadi yang ia lihat hanya hutan yang semakin rapat dan cahaya yang makin redup.
“Tempat yang tidak akan kalian temukan kalau berjalan sendiri,” jawab Lysara tanpa menoleh.
Leonard melirik sekilas ke arah itu, lalu kembali fokus ke depan. “Kedengarannya seperti tempat persembunyian.”
“Karena memang itu,” sahut Lysara singkat.
Alexandria tersenyum tipis. “Rahasia juga, ya?”
“Tidak semua orang layak tahu,” jawab Lysara, kali ini menoleh sedikit, “dan belum tentu kalian termasuk.”
Leonard mendengus pelan. “Kalau kami tidak layak, kamu tidak akan membawa kami ke sini.”
Lysara tidak langsung membalas, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit. “Aku membawa kalian karena aku penasaran.”
“Bukan karena percaya?” tanya Alexandria ringan.
“Kepercayaan itu mahal,” jawab Lysara, “dan kalian baru saja menunjukkan bahwa kalian… mungkin pantas dipertimbangkan.”
“Wah, kehormatan besar,” gumam Alexandria, tapi nada suaranya tetap santai.
Leonard menahan senyum tipis.
Mereka berjalan beberapa langkah lagi sebelum Lysara tiba-tiba berhenti dan mengangkat tangannya lagi.
“Kita sudah sampai.”
Alexandria mengedarkan pandangan. “Di mana?”
“Di depanmu.”
“Aku cuma lihat pohon,” jawab Alexandria jujur.
“Karena kamu melihat dengan mata manusia,” sahut Lysara.
Leonard menyipitkan mata, lalu melangkah satu langkah ke depan, tangannya terangkat sedikit seperti menyentuh udara.
“Ini ilusi,” katanya pelan.
“Lebih tepatnya… penyamaran,” koreksi Lysara.
Alexandria mendekat sedikit. “Jadi… kita masuk begitu saja?”
“Kalau kamu tahu caranya.”
“Dan kalau tidak?”
“Kamu akan tetap melihat pohon sampai bosan.”
Alexandria menoleh ke Leonard. “Kamu tahu caranya?”
Leonard tidak langsung menjawab, tapi matanya fokus ke satu titik, lalu ia menarik napas pelan sebelum berkata, “Ada lapisan energi di sini… bukan untuk menahan, tapi untuk menyaring.”
“Cepat belajar,” komentar Lysara.
Leonard mengangkat tangannya, lalu mendorong pelan ke depan.
Udara di depan mereka bergetar.
Cahaya tipis muncul seperti permukaan air yang disentuh, lalu perlahan… terbuka.
Di baliknya—bukan hutan lagi.
Sebuah area terbuka yang cukup luas, dengan beberapa bangunan kayu dan batu yang menyatu dengan alam, cahaya hangat dari dalam rumah-rumah kecil itu terlihat hidup, dan beberapa sosok tampak bergerak cepat… lalu berhenti saat melihat mereka.
Alexandria menahan napas.
“Ini…” ia tidak melanjutkan kalimatnya.
“Tempat kami bertahan,” jawab Lysara.
Leonard melangkah masuk lebih dulu.
“Dan mereka semua tahu kamu membawa orang luar?” tanyanya.
“Sekarang mereka tahu,” jawab Lysara santai.
Beberapa sosok mendekat.
Seorang pria tinggi dengan rambut perak panjang berhenti beberapa langkah dari mereka, matanya langsung tertuju pada Leonard.
“Kau…” ucapnya pelan, jelas mengenali sesuatu.
Leonard menatap balik tanpa ragu. “Sudah lama.”
Pria itu menyipitkan mata. “Kupikir kau sudah mati.”
“Banyak yang berharap begitu.”
Alexandria melirik Leonard, lalu ke pria itu. “Teman lama?”
“Tidak cukup dekat untuk disebut teman,” jawab Leonard.
Pria itu tersenyum tipis. “Masih sama, ya.”
Lysara mendekat sedikit. “Riven, mereka masuk tanpa mati di perbatasan.”
“Standar baru kita sekarang?” sahut Riven.
“Standar realistis,” balas Lysara singkat.
Riven menghela napas pelan, lalu matanya beralih ke Alexandria.
“Dan dia?”
“Dia bersamaku,” jawab Leonard cepat.
“Semua orang yang datang ke sini ‘bersama seseorang’,” ucap Riven, nada suaranya tidak sepenuhnya ramah.
Alexandria tidak mundur. “Kalau kamu ingin tanya langsung, tanya saja. Jangan pakai cara muter.”
Riven sedikit terkejut, tapi lalu tertawa pelan. “Aku suka yang seperti ini.”
Leonard melirik Alexandria sekilas. “Dia memang tidak suka diperlakukan seperti bayangan.”
“Bagus,” kata Riven, “karena di sini, semua orang harus berdiri sendiri.”
“Kalau begitu kamu akan suka aku,” sahut Alexandria santai.
Lysara memperhatikan pertukaran itu tanpa bicara.
“Masuk dulu,” akhirnya kata Riven, “kalau kalian memang mau tinggal hidup lebih dari satu malam.”
Leonard tidak langsung bergerak. “Kami tidak datang untuk bersembunyi.”
Riven berhenti, menoleh. “Tidak ada yang benar-benar bersembunyi di sini. Kami hanya… belum mati.”
“Perbedaan tipis,” gumam Alexandria.
“Perbedaan yang penting,” balas Riven.
Mereka masuk lebih dalam ke area itu, beberapa orang masih menatap mereka dengan waspada, sebagian berbisik pelan.
Alexandria mendekat sedikit ke Leonard. “Mereka tidak terlalu suka kita.”
“Mereka tidak suka siapa pun yang membawa masalah,” jawab Leonard.
“Kita masalah?”
Leonard menoleh, senyum tipis muncul. “Kita ancaman.”
“Ke siapa?”
“Ke semua yang berdiri di tengah.”
Lysara menoleh sedikit. “Dan itu alasan kenapa kalian masih hidup.”
Alexandria menghela napas kecil. “Kedengarannya rumit.”
“Ini baru awal,” jawab Lysara.
Riven berhenti di depan sebuah bangunan yang lebih besar dari yang lain.
“Kita bicara di dalam,” katanya.
Mereka masuk.
Ruangan itu sederhana tapi kokoh, meja besar di tengah, beberapa peta terbentang, dan aroma kayu hangat memenuhi udara.
Riven bersandar di meja, menatap Leonard langsung.
“Jadi… kau benar-benar kembali.”
Leonard mengangguk pelan. “Ya.”
“Dan kau datang bukan untuk bersembunyi.”
“Tidak.”
Riven melirik Lysara. “Dia bilang kalian menarik.”
“Dia suka menilai cepat,” jawab Leonard.
Lysara menyilangkan tangan. “Dan aku jarang salah.”
Riven kembali menatap Leonard. “Kalau begitu jelaskan.”
“Valerius,” jawab Leonard singkat.
Riven tertawa kecil. “Tentu saja.”
“Kami akan menjatuhkannya,” lanjut Leonard, nada suaranya tenang tapi tegas.
Ruangan itu langsung sunyi. Beberapa orang yang tadi ikut masuk saling pandang.
Riven menatap Leonard lama, lalu berkata pelan, “Kau tahu berapa banyak yang bilang hal yang sama?”
“Dan berapa banyak yang benar-benar mencoba?” balas Leonard.
Riven tersenyum tipis. “Lebih sedikit.”
Alexandria menyela, “Kalau kalian sudah terbiasa kalah, wajar kalau kalian berhenti percaya.”
Semua mata langsung beralih padanya. Leonard meliriknya sebentar, tapi tidak menghentikan.
Riven mengangkat alis. “Berani juga.”
“Aku hanya jujur,” jawab Alexandria.
Lysara menatapnya, lalu berkata pelan, “Dia tidak takut.”
“Dia tidak bodoh,” sahut Leonard cepat.
Riven tertawa pelan. “Bagus… kita butuh yang seperti itu.”
Ia menghela napas, lalu berdiri tegak.
“Kalau kalian serius… kalian tidak hanya butuh keberanian.”
“Kami tahu,” jawab Leonard.
“Kalian butuh orang,” lanjut Riven, “dan kepercayaan tidak datang dari kata-kata.”
“Lalu?” tanya Alexandria.
Riven menatap mereka berdua, lalu berkata dengan nada lebih serius, “Buktikan.”
Leonard menyipitkan mata. “Bagaimana?”
Riven tersenyum tipis.
“Ada satu tempat di wilayah barat,” katanya, “dulu markas kecil kami, sekarang diambil alih oleh pasukan Valerius.”
Lysara langsung menoleh. “Kau ingin mereka ke sana?”
“Aku ingin lihat apakah mereka benar-benar seperti yang mereka katakan,” jawab Riven santai.
Alexandria melirik Leonard. “Kedengarannya seperti jebakan.”
“Semua hal di sini seperti jebakan,” sahut Lysara.
Leonard menghela napas pelan, lalu menatap Riven.
“Kalau kami berhasil?”
Riven tidak ragu. “Kalian dapat dukungan kami.”
“Dan kalau tidak?” tanya Alexandria.
Riven tersenyum tanpa humor. “Kalian tidak akan kembali untuk menanyakan itu.”
Keheningan jatuh sejenak.
Leonard menoleh ke Alexandria. “Bagaimana?”
Alexandria menatapnya balik, lalu tersenyum tipis.
“Kita tidak datang sejauh ini untuk berhenti sekarang.”
Leonard mengangguk pelan, lalu kembali menatap Riven.
“Kami ambil.”
Lysara memperhatikan mereka beberapa detik, lalu menghela napas kecil.
“Sepertinya aku harus ikut,” gumamnya.
Riven tersenyum. “Aku memang berharap begitu.”
Alexandria melirik Lysara. “Kamu tidak percaya kami bisa sendiri?”
Lysara menatapnya datar. “Aku hanya tidak ingin kalian mati terlalu cepat.”
Alexandria tersenyum miring. “Perhatian sekali.”
Leonard menahan senyum.
Riven menepuk meja pelan. “Bagus, kalau begitu kita sepakat.”
Ia menatap mereka satu per satu.
“Mulai sekarang, kalian bukan tamu lagi.”
“Lalu?” tanya Leonard.
Riven tersenyum tipis.
“Kalian bagian dari masalah yang sama.”
Alexandria menghela napas pelan, tapi kali ini senyumnya tidak hilang.
“Kedengarannya… menyenangkan.”
Leonard meliriknya. “Kamu aneh.”
“Dan kamu tetap ikut,” balasnya cepat.
Lysara menggeleng kecil. “Besok kita berangkat,” katanya.
“Cepat juga,” gumam Alexandria.
“Kalau kalian mau hidup lama, jangan kasih waktu musuh untuk siap,” jawab Lysara.
Leonard mengangguk.
“Kalau begitu kita tidak buang waktu.”
Riven menatap mereka sekali lagi, lalu berkata pelan, “Selamat datang di Eldoria yang sebenarnya.”
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka masuk ke dunia itu, Alexandria benar-benar merasakan satu hal dengan jelas— ini bukan lagi tentang bertahan hidup.
Ini tentang memilih… untuk bertarung.