NovelToon NovelToon
Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Persaingan Mafia / Sugar daddy
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.

Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.

Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.

Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fase Pemulihan

Biasanya Gwen hanya butuh tiga puluh menit untuk bersiap. Tapi malam ini dia menambah lima belas menit lagi untuk makeup. Dia ingin tampil maksimal, siapa tahu mereka bertemu salah satu mantan Raymon. Memang agak sia-sia, tapi dia tidak peduli.

Dia menemukan Raymon di dapur. Pria itu bersandar di meja, menopang tubuh dengan kruk di tangan kiri, sementara tangan kanannya memegang segelas whisky.

Kakinya sudah jauh lebih baik. Di dalam suite, dia sudah lama tidak memakai kursi roda. Gwen tahu dia juga sedang berlatih memakai tongkat, tapi setiap kali Gwen ingin melihat, Raymon selalu menolak. Katanya dia tidak mau terlihat pincang di depan Gwen. Bodoh, tapi Gwen tidak memaksanya.

Gwen menatapnya dari atas ke bawah. Celana hitam dan kemeja hitam yang membentuk tubuhnya dengan sempurna membuatnya terlihat sangat menggoda.

“Ya ampun, ganteng banget kamu malam ini.” Gwen menaruh tangan di dadanya dan merapikan kemejanya. “Kursi roda kamu mana?”

“Malam ini gak pakai.”

Mata Gwen langsung membesar. “Serius?”

“Serius.”

Gwen bersorak kecil dan menciumnya. “Aku seneng banget, baby.” Dia menyibakkan rambut dari dahi Raymon. “Orang-orang bakal gila lihat kamu!”

Clarra yang pertama melihat Raymon, dan ekspresinya benar-benar tak ternilai. Dia berdiri di seberang lorong dekat pintu kamar Whitman ketika mendengar mereka datang. Matanya melebar, dan tumpukan handuk yang dibawanya langsung jatuh ke lantai.

Gwen menahan senyum dan tetap bersikap santai saat mengikuti Raymon ke lift. Cara berjalan Raymon sudah jauh lebih baik sejak memakai kruk baru. Hampir normal. Mungkin sedikit lebih lambat dari sebelum kecelakaan, tapi itu tidak masalah. Gwen tahu kondisi lututnya. Fakta bahwa dia bisa sampai sejauh ini saja sudah seperti keajaiban.

Begitu keluar dari lift, Whitman dan seorang penjaga terlihat berjalan ke arah dapur. Sepertinya mereka akan ikut malam ini. Begitu melihat Raymon, mereka langsung berhenti di tempat.

Whitman yang mendekat. “Presiden. Gweneverre Frost.”

Dia mengangguk lalu membuka pintu untuk mereka.

Dari sudut mata, Gwen melihat Dottie mengintip dari balik lorong dengan mulut terbuka. Sudah pasti saat mereka kembali nanti, semua orang akan tahu kabarnya.

Klub itu lebih besar dari yang Gwen bayangkan, menempati seluruh lantai dasar gedung kaca tiga lantai. Di luar hanya ada beberapa orang, sepertinya mereka datang terlalu awal. Tapi begitu pintu kaca dibuka dan mereka masuk, Gwen terkejut melihat sudah banyak orang di dalam.

Sebagian besar berdiri di sekitar meja tinggi di pinggir ruangan. Gwen sempat berharap mereka akan berhenti di salah satunya, tapi mereka terus berjalan melintasi ruangan besar menuju pintu lain.

Dua pria berjaga di sana dan langsung membukakan pintu saat mereka mendekat.

“Presiden,” sapa mereka sambil mengangguk ke Raymon, lalu ke Gwen.

“Ny. Frost.”

Gwen sedikit bingung. Dia tidak menyangka orang-orang sudah tahu tentang dirinya.

Ruangan kedua lebih kecil, tapi jauh lebih mewah. Tidak ada meja tinggi, melainkan lima booth setengah lingkaran. Dua kecil di masing-masing sisi, dan satu besar di tengah di atas platform kecil.

Whitman berjalan ke booth besar dan berdiri di sisi kanan dengan tangan di belakang. Sekilas Gwen khawatir melihat Raymon harus menaiki dua anak tangga kecil, tapi dia melakukannya tanpa masalah.

Raymon berbalik dan mengulurkan tangan. Gwen naik dan duduk di sampingnya. Penjaga berdiri di sisi kiri, mengambil posisi yang sama seperti Whitman.

“aku ngerasa aneh,” bisik Gwen saat duduk di tengah booth.

“Kenapa kamu bisik-bisik?”

“Gak tahu,” bisiknya lagi. “Kenapa semua orang liatin kita?”

“Emang kenapa,” jawab Raymon santai. Dia menarik dagu Gwen dan langsung menciumnya.

Seorang pria mendekati Whitman dan membisikkan sesuatu di telinganya. Wajahnya terasa familiar, mungkin salah satu anak buah Mason. Whitman mengangguk lalu melirik ke arah Raymon, tetapi saat Raymon menggeleng, pria itu langsung disuruh pergi. Raymon tidak sedang ingin berurusan bisnis malam ini. Pesannya bisa disampaikan saja ke Mason.

Gwen duduk merapat di sampingnya, segelas wine di tangan, matanya menyapu keramaian. Sejak mereka masuk, dia tidak berhenti bicara, tapi beberapa menit terakhir tiba-tiba diam.

Raymon jadi bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkannya. Perempuan itu selalu membuatnya penasaran. Sosok kecil yang aneh, yang perlahan menyusup ke dalam dirinya sejak pertama kali dia melihatnya di restoran kumuh itu.

Raymon juga mulai memikirkan apa yang akan terjadi setelah enam bulan ini berlalu, saat Gwen sadar dia tidak punya niat untuk melepaskannya. Tidak akan pernah.

Tangannya terangkat, menelusuri garis bahu Gwen yang terbuka, lalu turun perlahan sampai ke pergelangan tangannya yang halus. Gwen tampak begitu rapuh, tapi Raymon tahu penampilan bisa menipu.

“Ikutin aku menari,” bisiknya di telinga Gwen.

Kepala Gwen terangkat. Mata hitamnya menatap langsung ke arahnya, jelas ada pertanyaan di sana. Dia pasti bertanya-tanya bagaimana caranya menari dengan pria yang bahkan sulit berjalan. Tapi seperti yang sudah Raymon duga, dia tidak mengatakannya.

“Oke.” Gwen tersenyum. “Kasih kaki kamu.”

Raymon mengangkat alis saat Gwen berbalik sedikit, menyilangkan kaki, lalu meletakkan kaki kanannya di tangannya. Pelan-pelan Raymon melepas sepatu haknya dan menaruhnya di kursi di seberangnya, lalu melepaskan pergelangan kaki Gwen.

“Lepasin.”

“Kamu harusnya cari terapi, Raymon. Fetish kaki kamu makin parah aja.” Gwen tertawa, lalu menukar posisi kakinya, dan Raymon mengulang hal yang sama pada sepatu satunya.

Raymon mengambil salah satu kruknya, berdiri, lalu menggenggam tangan Gwen. “Naik, Babby. Berdiri di kursi.”

Gwen tertawa, lalu berdiri di atas bangku sofa dan melingkarkan tangannya di leher Raymon. Raymon tersenyum. Bahkan dengan posisi begitu, tinggi Gwen hanya lebih satu sentimeter darinya.

“aku suka posisi begini.” Gwen mencium bibirnya. “Mulai sekarang aku bakal bawa bangku kecil ke mana-mana.”

1
Agnes💅
kalo udah nikah kuras harta nya aja sekalian🤣
Agnes💅
wah seru cerita nya 😍
Neng Anne
lanjut thoooorrrr
Neng Anne
Padahal ceritanya bagus. susunan kata-katanya, bahasanya dan tentu ceritanya. tetap semangat thor,,, jangan menyerah... aku padamu😘🫶🫰
Na-Hyun: terimakassi kk 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!