Update setiap hari
"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."
Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.
Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.
Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: TOPENG SANG RATU
Langit Jakarta pagi ini tertutup mendung tipis, seolah ikut menyembunyikan rahasia besar yang mulai dirajut oleh Larasati Hardianto. Di dalam mobil mewahnya yang meluncur membelah kemacetan, Larasati menatap pantulan dirinya di cermin kecil. Ia memoles lipstik merah menyala, warna yang melambangkan keberanian sekaligus bahaya. Tidak ada lagi sisa air mata dari kejadian di lokasi proyek semalam. Wajahnya adalah sebuah benteng yang tak tertembus.
"Ingat, Laras," bisik Aditama yang duduk di sampingnya sambil memeriksa tablet. "Tuan Kusuma adalah rubah tua. Dia sudah bermain di lantai bursa sejak ayahmu masih merintis. Dia bisa mencium bau pengkhianatan dari jarak satu kilometer. Kamu harus benar-benar terlihat... hancur."
Larasati menarik napas panjang, membiarkan dadanya sesak sejenak sebelum mengembuskannya perlahan. "Aku sudah menghabiskan sepuluh tahun hidupku dalam penyamaran, Adit. Menjadi Gendis yang lugu jauh lebih sulit daripada menjadi Larasati yang patah hati. Aku tahu apa yang harus kulakukan."
Begitu sampai di kantor, Larasati berjalan dengan langkah yang sedikit gontai. Ia tidak menyapa stafnya dengan ketegasan biasanya. Ia membiarkan lingkaran hitam di bawah matanya—yang sengaja tidak ia tutupi dengan concealer sepenuhnya—terlihat jelas. Ia ingin dunia melihat bahwa ia baru saja kehilangan cintanya demi tahtanya.
Pukul sepuluh pagi, Larasati melangkah masuk ke ruangan Tuan Kusuma. Ruangan itu luas, penuh dengan piala golf dan foto-foto lama bersama para pejabat tinggi. Tuan Kusuma sedang duduk di balik meja kayu jati besarnya, tampak sangat puas melihat penampilan Larasati yang lesu.
"Larasati, keponakanku tersayang," sapa Tuan Kusuma dengan suara bariton yang dibuat-buat ramah. "Aku menerima pesanmu semalam. Aku tahu itu keputusan yang sangat berat, tapi percayalah, ini yang terbaik untuk masa depan Hardianto Group."
Larasati duduk di kursi di depan pria itu, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Saya merasa sangat kosong, Paman. Baskara adalah satu-satunya orang yang menemani saya di masa-masa tersulit. Tapi saya sadar, perusahaan ini adalah segalanya bagi Ayah. Saya tidak bisa membiarkan ego saya menghancurkan apa yang sudah Ayah bangun."
Tuan Kusuma berdiri, berjalan memutari meja dan meletakkan tangannya di bahu Larasati. Sentuhan itu membuat kulit Larasati meremang—bukan karena rasa hormat, tapi karena rasa jijik yang luar biasa. Ia teringat kata-kata Maya: Dialah yang mematikan alat bantu napas ayahmu.
"Ayahmu pasti sangat bangga melihat kedewasaanmu, Laras," ucap Tuan Kusuma. "Sekarang, karena masalah pribadimu sudah selesai, mari kita bicara soal RUPS. Kita perlu melakukan reorganisasi besar-besaran. Ada beberapa manajer lama yang menurutku perlu diganti dengan orang-orang yang lebih... setia pada visi kita."
Larasati mendongak, matanya berkaca-kaca—sebuah teknik yang ia pelajari dari bertahun-tahun menelan kepahitan. "Siapa pun yang Paman rekomendasikan, saya akan setuju. Saat ini, saya tidak punya energi untuk berdebat soal birokrasi. Saya hanya ingin perusahaan ini stabil."
Tuan Kusuma tersenyum lebar. Inilah yang ia inginkan. Seorang ratu yang patah arang dan menyerahkan kendali sepenuhnya padanya. "Bagus. Aku sudah menyiapkan daftar namanya. Kamu tinggal menandatanganinya nanti sore."
Begitu keluar dari ruangan Tuan Kusuma, wajah lesu Larasati seketika menghilang, berganti dengan kilatan mata yang dingin dan penuh perhitungan. Ia masuk ke ruangannya sendiri dan mengunci pintu.
"Adit, dia sudah masuk ke lubang yang kubuat," ucap Larasati melalui telepon internal. "Dia memberikan daftar orang-orangnya. Artinya, dia sedang menarik semua kekuatannya ke satu titik. Ini saatnya kita bergerak di sisi lain."
Di sisi lain kota, di sebuah gudang tua yang dijadikan kantor sementara, Baskara sedang menatap papan tulis putih yang penuh dengan bagan hubungan antara Tuan Kusuma dan beberapa perusahaan cangkang di luar negeri. Di sampingnya, seorang pria paruh baya yang merupakan mantan kepala keamanan di rumah sakit sepuluh tahun lalu, tampak ragu-ragu.
"Tuan Baskara, saya tidak ingin mencari masalah. Tuan Kusuma orang yang sangat berkuasa," ucap pria itu ketakutan.
Baskara menyodorkan sebuah amplop berisi uang tunai dan tiket pesawat. "Ini bukan soal masalah, Pak. Ini soal kebenaran. Sepuluh tahun Anda menyimpan rahasia tentang siapa yang masuk ke kamar Tuan Hardianto malam itu. Jika Anda bicara sekarang, Nona Larasati akan menjamin keselamatan keluarga Anda selamanya. Jika tidak... Tuan Kusuma akan segera tahu bahwa kami sedang mencari Anda, dan Anda tahu apa yang dilakukan rubah tua itu pada saksi yang tidak berguna."
Pria itu gemetar, lalu akhirnya mengangguk pelan. "Malam itu... CCTV memang sengaja dimatikan selama lima belas menit. Saya melihat Tuan Kusuma masuk dengan jas dokter. Dia keluar sepuluh menit kemudian, dan tak lama setelah itu, alarm jantung berbunyi. Saya tidak berani bicara karena dia mengancam akan menghabisi anak saya."
Baskara mengepalkan tangannya. Amarah membakar dadanya, namun ia menahannya. Ia segera mengirimkan pesan suara singkat kepada Larasati: "Saksi kunci sudah di tangan. Kita punya bukti fisik bahwa dia ada di sana malam itu. Sekarang tinggal mencari bukti instruksi pemutusan alat bantu napasnya."
Malam harinya, Larasati mengundang Tuan Kusuma untuk makan malam pribadi di rumah besarnya—rumah yang dulunya disita dari keluarga Pratama. Ia ingin membuat pria itu merasa sangat nyaman, merasa bahwa ia benar-benar telah memenangkan hati sang keponakan.
"Rumah ini terasa lebih hangat sekarang, bukan?" ucap Tuan Kusuma sambil menyesap wine mahal di ruang makan yang mewah.
"Iya, Paman. Berkat bantuan Paman," jawab Larasati lembut. Ia menyajikan hidangan pembuka dengan tangannya sendiri. "Paman, boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tentu, Laras."
"Malam terakhir Ayah di rumah sakit... Paman adalah orang terakhir yang beliau panggil, kan? Apa pesan terakhir beliau untuk saya yang belum Paman sampaikan?" tanya Larasati, suaranya sangat tenang, seolah-olah ia hanya bertanya soal cuaca.
Tuan Kusuma terdiam sejenak. Gelas wine di tangannya sedikit bergetar, namun ia segera menguasai diri. "Beliau hanya bilang... jaga perusahaan. Dan jaga Larasati. Beliau sangat mencintaimu, Nak."
Larasati tersenyum—sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. "Terima kasih, Paman. Pesan itu sangat berarti bagi saya. Sangat... memotivasi saya untuk melakukan apa yang harus saya lakukan malam ini."
Tepat saat itu, ponsel Tuan Kusuma berdering. Ia melihat layarnya dan wajahnya berubah pucat. Itu adalah telepon dari orang kepercayaannya di panti rehabilitasi Maya.
"Maaf, Paman harus mengangkat ini sebentar," ucap Tuan Kusuma terburu-buru.
Ia pergi ke arah balkon, sementara Larasati duduk tenang di meja makan, menatap bayangan dirinya di pisau perak yang tajam. Di bawah meja, ia menekan sebuah tombol perekam.
"Halo? Apa? Maya hilang? Bagaimana bisa wanita lumpuh hilang dari kamarnya!" teriak Tuan Kusuma dengan suara tertahan di balkon.
Tuan Kusuma tidak tahu bahwa Maya tidak hilang. Maya dipindahkan oleh Baskara ke tempat yang jauh lebih aman—bukan untuk melindunginya, tapi untuk menjadikannya saksi kedua melawan Tuan Kusuma. Larasati telah membuat kesepakatan dengan Maya: Kesaksian melawan Tuan Kusuma, atau kembali ke penjara selamanya tanpa fasilitas rehabilitasi. Dan bagi wanita seperti Maya, bertahan hidup jauh lebih penting daripada kesetiaan pada sekutu jahatnya.
Tuan Kusuma kembali ke meja makan dengan wajah yang dipenuhi keringat dingin. "Larasati... Paman sepertinya ada urusan mendadak. Kita lanjutkan makan malam ini lain kali."
"Ada masalah, Paman?" tanya Larasati dengan nada pura-pura khawatir.
"Hanya masalah kecil di kantor. Selamat malam, Laras."
Begitu Tuan Kusuma keluar dari rumah, Larasati berdiri dan melempar gelasnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. "Masalah kecil, Paman? Tidak. Masalahmu baru saja dimulai."
Ia segera menghubungi Baskara. "Baskara, dia sudah panik. Dia tahu Maya sudah tidak ada di bawah kendalinya. Ini saatnya kita merilis umpan kedua."
"Siap, Laras. Besok pagi, seluruh pemegang saham akan menerima email anonim tentang ketidakberesan dana di yayasan panti asuhan yang dikelola Tuan Kusuma—yang ternyata adalah tempat pencucian uang korupsinya dulu. Itu akan membuatnya sibuk dan tidak fokus pada RUPS," jawab Baskara di seberang sana.
Larasati berjalan menuju jendela, menatap hujan yang mulai turun membasahi taman. Ia teringat Ayah. Air matanya jatuh, namun kali ini bukan air mata kepedihan, melainkan air mata keadilan.
"Ayah... aku akan menyeretnya ke hadapanmu dengan tangan terikat," gumam Larasati.