NovelToon NovelToon
Jiwa Pembunuh Di Tubuh Gadis SMA

Jiwa Pembunuh Di Tubuh Gadis SMA

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:151.9k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.

Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.

Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.

Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…

Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Aleta tidak langsung menjawab. Tatapannya bergeser pelan ke arah Victor, menelusuri wajah pemuda itu tanpa ekspresi. Tidak ada keterkejutan, tidak juga rasa takut hanya dingin yang datar, seolah dia sedang menilai sesuatu yang tidak terlalu penting.

"Tidak ada untungnya aku memberitahumu," balasnya singkat.

Nada suaranya ringan, nyaris seperti angin lewat. Namun cukup untuk membuat beberapa siswa di sekitar mereka menahan napas.

Victor berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka tidak sampai satu langkah. Senyum miringnya masih terpasang, tapi sorot matanya berubah lebih tajam seakan sedang menilai Aleta dari luar dan dalam.

"Berarti benturannya cukup keras sampai bikin kau berubah sejauh ini."

Aleta memiringkan kepala sedikit.

"Bisa jadi," jawabnya datar. "Aku hanya muak bersikap bodoh."

Ucapan itu membuat beberapa siswa langsung saling pandang. Serena bahkan refleks menutup mulutnya, tidak menyangka Aleta akan berbicara setajam itu.

Victor terdiam sepersekian detik. Lalu terkekeh pelan.

"Bodoh, ya…" ulangnya. "Menarik."

Dia melangkah lebih dekat, sedikit menunduk agar sejajar dengan Aleta. "Aku jadi penasaran, Aleta yang sekarang ini… masih bisa didorong jatuh seperti dulu atau tidak."

Aleta tidak mundur sedikit pun. Tatapannya tetap lurus menatap Victor, tanpa goyah.

"Kau boleh mencobanya," ucapnya tenang. "Tapi pastikan kau siap dengan akibatnya."

Suasana di sekitar mereka langsung menegang. Beberapa siswa bahkan mulai mundur perlahan, menyadari ini bukan lagi sekadar adu mulut biasa.

Victor menatap Aleta beberapa detik lebih lama. Mencari celah. Mencari reaksi. Namun yang dia dapatkan hanya ketenangan yang nyaris tidak manusiawi.

Tidak ada emosi. Tidak ada retakan. Hanya dingin yang stabil.

"Hah…" Victor menghembuskan napas pendek, lalu tersenyum lagi. "Aku suka yang begini."

Dia akhirnya mundur setengah langkah, memberi ruang.

"Tapi ingat satu hal," lanjutnya santai, "sekolah ini bukan tempat untuk kau main sendiri."

Aleta mengangkat alis tipis. "Aku juga tidak tertarik bermain dengan siapa pun."

Balasannya cepat. Tegas. Tanpa basa-basi.

Victor menatapnya lagi, kali ini lebih lama. Lalu dia menyeringai. "Ya sudah. Kita lihat saja nanti."

Aleta tidak menanggapi lagi. Dia langsung berjalan melewati Victor tanpa menoleh, langkahnya tetap tenang seolah percakapan barusan tidak berarti apa-apa.

Serena buru-buru menyusul di sampingnya, masih terlihat tegang.

"Let… itu tadi Victor Wallac," bisiknya pelan. "Dia itu..."

"Aku tahu." Jawaban Aleta memotong.

Serena terdiam. Beberapa langkah kemudian, dia kembali melirik Aleta. "Kau… benar-benar tidak apa-apa?"

Aleta tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan, kosong namun tajam.

"Hal seperti itu," ucapnya akhirnya, "tidak cukup penting untuk membuatku terganggu."

"Belakangan ini aku merasa kau cukup banyak berubah, apa itu cuma perasaanku saja?"

Aleta mengangkat bahunya acuh. "Mungkin, aku juga tida tahu di bagian mana aku berubah."

***

Ravian tengah berkutat dengan dokumen di tangannya ketika pintu ruang kerjanya di buka secara kasar dari luar, Ravian melirik sekilas melihat siapa orang yang baru saja mengganggu pekerjaannya.

"Ravian!"

Wanita paruh baya berpakaian glamour mendekat ke arah meja Ravian, lalu menggebrak meja pria itu sampai membuat atensi Ravian sepenuhnya tertuju padanya.

"Apa yang kau rencanakan hah?!" Wanita bernama Fia itu menunjuk wajah Ravian dengan jari telunjuk. "Kau mau menikah? Apa kau sudah gila?"

"Ibu..." Ravian meletakan dokumen yang di pegangnya ke atas meja. "Jangan marah-marah, kau tidak malu dengan para karyawan di perusahaan ini?"

"Sialan, katakan kenapa kau mau menikah dengan gadis rendahan itu?"

"Aku menyukainya."

Tawa Fia menggema, wanita itu menyilangkan tangan di depan dada. "Menyukainya? Kau pikir Ibu percaya dengan omong kosong seperti itu?"

"Aku tidak meminta Ibu untuk percaya, aku hanya menjawab apa yang Ibu tanyakan."

Suasana di dalam ruangan itu terasa dingin, tatapan Fia pada putra keduanya sangat tajam seperti silet yang bisa menggores kulit pria itu kapan saja.

"Kau menolak ketika Ibu menjodohkanmu, tapi kau menerima gadis rendahan yang di pilih oleh kakekmu. Kau tidak menghargai usaha Ibu, Ravian!"

"Usaha?" Ravian terkekeh, dia menangkup kedua tangannya di atas meja. "Usaha seperti apa? Usaha untuk menyingkirkanku dari keluarga ini?"

"Jaga bicaramu!"

Ravian sama sekali tidak tersinggung. "Maaf, Bu. Aku hanya emosi sesaat, aku tidak mau merepotkanmu terlalu jauh. Kau sudah cukup kesulitan mengurus adikku, mana mungkin aku sebagai anak tertua juga harus membuatmu kesulitan."

Fia terdiam sesaat. Namun itu bukan karena dia tidak punya jawaban melainkan karena amarahnya semakin memuncak.

"Kau…!" napasnya memburu. "Jangan membalikkan keadaan, Ravian. Ibu melakukan semua ini demi kau!"

Ravian menyandarkan punggungnya ke kursi, tatapannya tetap tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti ini.

"Demi aku?" ulangnya pelan.

Sudut bibirnya terangkat tipis, tapi tidak ada kehangatan di sana.

"Kalau memang demi aku, seharusnya Ibu tidak perlu repot-repot mengatur siapa yang harus aku nikahi."

Fia mengepalkan tangannya.

"Kau tidak tahu apa-apa!" suaranya meninggi. "Perempuan itu tidak punya latar belakang yang jelas, reputasinya buruk, dan sekarang bahkan namanya sudah mulai jadi bahan pembicaraan! Kau mau menjadikan dia bagian dari keluarga kita? Memalukan!"

Ravian tidak langsung menyela. Dia justru menatap Fia sejenak, seolah menimbang setiap kata yang baru saja diucapkan.

"Lalu?" tanyanya singkat.

Fia mengernyit. "Apa maksudmu?"

"Kalau dia memang seperti yang Ibu katakan," lanjut Ravian, nada suaranya tetap datar, "bukankah itu justru menguntungkan?"

Fia menatapnya tidak percaya. "Menguntungkan?"

Ravian meraih kembali dokumen di mejanya, membukanya seolah percakapan ini bukan sesuatu yang penting.

"Perempuan tanpa latar belakang kuat. Tanpa koneksi. Tanpa kekuatan." Dia membalik satu halaman. "Artinya dia tidak akan jadi ancaman."

Fia terdiam. Untuk pertama kalinya, ada keraguan yang melintas di wajahnya.

"Atau…" Ravian berhenti, lalu mengangkat pandangannya kembali. "Ibu lebih khawatir dia akan mengganggu rencana Ibu?"

Tatapan mereka bertemu. Fia menarik napas dalam, berusaha menahan emosinya.

"Kau terlalu banyak berpikir," ucapnya akhirnya. "Ibu hanya tidak ingin nama keluarga kita tercemar oleh perempuan seperti itu."

Ravian mengangguk pelan. "Kalau hanya soal nama," katanya santai, "aku bisa menjaganya."

Dia menutup dokumen itu. "Tapi keputusan ini tidak akan berubah, aku tetap akan menikah dengannya meski harus menentang Ibu."

Nada suaranya tidak tinggi. Namun tegas mutlak tanpa ruang untuk dibantah.

Fia menatap putranya lama. Mencoba mencari celah. Namun seperti biasa, Ravian tidak pernah memberikan itu.

"Aku tidak akan merestui pernikahan ini," ucap Fia dingin.

Ravian mengangkat bahu ringan. "Itu hak Ibu, aku tidak membutuhkan restumu karena restu kakek lebih dari cukup untuk pernikahanku."

Jawaban yang terlalu sederhana. Itu yang justru membuat Fia semakin geram.

"Kau akan menyesal, Ravian," desisnya. "Perempuan seperti itu hanya akan membawa masalah, kau tidak berpikir jika ayahmu juga akan setuju, kan?"

"Ayah pasti setuju, karena ini permintaan kakek."

"Kau pasti akan malu memiliki istri sepertinya."

Ravian tak menjawab. Dia hanya kembali membuka dokumennya, seolah percakapan tadi sudah selesai.

Sikapnya jelas dia tidak akan mundur meski harus berdebat seharian.

Fia menatapnya penuh amarah, lalu berbalik dengan kasar dan melangkah keluar dari ruangan itu.

Pintu ditutup keras. Suasana kembali sunyi. Beberapa detik berlalu, Ravian tidak langsung melanjutkan pekerjaannya. Tangannya berhenti di atas kertas. Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat tipis.

"Bermasalah, ya…" Gumamnya pelan. "Aku penasaran masalah seperti apa yang akan gadis itu lakukan padaku."

1
mable☆
ak kasi aplus buat author nya🙆
Qaisaa Nazarudin
Kapan Aurelia membalaskan DENDAM kematiannya ke para pengkhianat ini?? kelamaan..
Qaisaa Nazarudin
Sayang banget sudah dihujung2 bab baru nyerang ke Inti nya,kalau gitu kapan bahagianya? kayak tergantung gitu alurnya, Padahal ceritanya tipe aku banget..
Qaisaa Nazarudin
SEJAUH BAB INI, KAPAN ALETA/AURELIA BALAS DENDAM KE ORANG2 YANG SUDAH MENGKHIANATI DULU?? kenapa harus NYANGKUT dengan kisah ALETA & RAVIAN doang sih..Kan judulnya BALAS DENDAM..Terus kapan balas dendamnya??🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Yah kamu benar,Karena dia BUKAN ALETA TUNANGAN MU yg kamu ABAIKAN,Aleta sudah GAK ADA LAGI,Moga aja kamu/Jacob gak Nyesel saat tau kebenarannya suatu saat nanti..
Qaisaa Nazarudin
Udah NGAKU2 sekarang,Dulu aja Gak di ANGGAP..
Qaisaa Nazarudin
Aku curiga kalau mereka ini orang suruhan Fia mamanya Ravian..
Qaisaa Nazarudin
Udah gak perlu PENASARAN lagi kamu ke Aleta..
Qaisaa Nazarudin
Lumayan
Qaisaa Nazarudin
Kalian gak tau aja siapa dia,Dia emang petarung handal dan pembunuh upahan, apa reaksi kalian saat tau siapa Aleta?
Qaisaa Nazarudin
Tega banget kakek Jacob menjodohkan Aleta dengan Ravian,Seolah Kakek Jacob sengaja menyodorkan Aleta cucu nya kemalaikat maut setiap saat, Kenapa gak diJODOHIN je lelaki lain aja,Udah tau Ravian banyak MUSUH,Aneh nih kakek Jacob..
Qaisaa Nazarudin
SKAKMAT..Aku suka Aleta yg selalu membalikkan KATA2 dan keadaan je Ravian 👏👏👏👍👍👍👍
Qaisaa Nazarudin
Apakah kalau Bukan Aurelia dlm tubuh Aleta yg sekarang, Ravian akan memperlakukan Aleta seperti sekarang? gak kan?
Karena sudah setahun juga berlalu kenapa baru sekarang Ravian penasaran/ngejar2 Aletta? bukan dari dulu?? Berarti yang Ravian sukai sekarang BUKAN Aleta TAPI Aurelia..
Qaisaa Nazarudin
Aku pada mu Aleta..Jangan mau mengalah dengan orang-orang siapa pun itu..
Qaisaa Nazarudin
Lha itulah kebodohan mu,Siapa juga yang mau Nikah sama CEWEK MURAHAN kayak kamu..
Qaisaa Nazarudin
Kasian deh kamu Clara,Aletta/Aurelia yang membunuhnya,malah kamu yg kena tuduh..
Qaisaa Nazarudin
Noh itu pasti Clara,baru juga dicari Viktor 😅
Qaisaa Nazarudin
Itu orang yg mmg buat salah tapi Coba untuk menyangkalnya,Lha ini kalau kita gak berbuat apa-apa terus ngapain marah2..
Qaisaa Nazarudin
hoooo hooo apakah Fia ini ibu TIRI??
Qaisaa Nazarudin
Gosip MURAHAN, Abaikan aja Aleta toh kamu gak lakuin semua itu,Anggap aja Itu semua kerjaan musuh2 mu yg lagi Caper..😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!