Skywa Caeloryn Isyra
Seorang gadis hidup tanpa ibu. Di besarkan oleh orang tua tunggal membuatnya menjadi kepribadian yang mandiri. Dari kalimat yang asal di ucap namun bermakna serius. Mengantarkan Cael—begitu orang memanggilnya ke pernikahan yang dingin. Cael bak kasat mata dalam istana megah. Cinta sepihak menghancurkan seluruh mimpi dan harapannya setelah suaminya—Kavi Danendra Bimantara. Membawa wanita lain sebagai adik madu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa suara
Dua minggu telah berlalu sejak rumah itu berubah menjadi panggung sandiwara yang paling menyakitkan. Cael benar-benar telah menjadi bayangan yang kasat mata; dia bergerak tanpa suara, makan tanpa suara, dan bernapas tanpa suara. Kehadirannya begitu tipis sehingga Kavi dan Sheza terbiasa bertingkah seolah rumah itu hanya milik mereka berdua.
Namun, pagi ini, ada sesuatu yang terasa ganjil. Kavi turun ke lantai bawah dengan langkah santai, bersiap untuk rutinitas sarapan yang kini selalu ditemani oleh tawa Sheza. Saat melewati ruang tengah, matanya secara tidak sadar melirik ke arah sudut sofa tempat Cael biasanya duduk diam mengecek isi tas nya sebelum ke kantor, atau ke arah meja makan tempat Cael biasanya meletakkan secangkir kopi hitam yang mulai dingin.
Ruangan itu kosong. Benar-benar kosong.
Langkah Kavi terhenti. Ia menatap kursi kayu yang biasanya diduduki Cael dengan pandangan heran. Untuk pertama kalinya dalam empat belas hari, ia menyadari bahwa ia tidak mendengar suara pintu kamar Cael terbuka, tidak mencium aroma parfum tipis yang biasa tertinggal di lorong, dan tidak melihat sosok yang selama ini ia abaikan itu melintas di depannya.
Ada kesunyian yang berbeda pagi ini—bukan sunyi karena pengabaian, melainkan sunyi karena kehilangan sebuah eksistensi. Hatinya yang selama ini beku tiba-tiba berdesir oleh rasa asing yang sulit ia definisikan.
"Di mana Cael?" gumamnya lirih pada diri sendiri, sementara matanya menyisir setiap sudut ruangan yang kini terasa terlalu luas dan hampa tanpa kehadiran 'hantu' yang selama ini ia sia-siakan.
"Nona Cael tidak pulang, tuan. Dia menginap di rumah lama nya karena lelah pulang dari kantor langsung ke rumah sakit menjenguk tuan Sadipta." Sahut asisten rumah tangga.
...----------------...
Suasana rumah yang biasanya tenang mendadak terasa berat saat mobil yang membawa Sadipta memasuki halaman. Lelaki tua itu tampak jauh lebih kurus, wajahnya masih pucat pasi setelah berhari-hari dirawat di rumah sakit. Guncangan hebat saat melihat putra kandungnya sendiri membawa pulang wanita asing dan mengakuinya sebagai istri kedua, hampir saja merenggut nyawanya.
Cael berdiri di ambang pintu, menelan pahitnya kenyataan. Ia harus menyampingkan luka hatinya demi menyambut sang mertua yang selama ini sudah ia anggap seperti ayah kandung.
Sadipta berhenti sejenak, matanya yang sayu menatap Cael dengan penuh rasa bersalah dan kesedihan mendalam. Tanpa kata, Ia menggenggam tangan menantunya itu, seolah ingin meminta maaf atas dosa yang dilakukan putranya.
"Papa langsung istirahat ya... Mama juga. Jangan pikirkan apa-apa." Cael menggandeng lengan Sadipta menuju kamar.
"Kamu tetap disini, 'kan?" Shania bersuara memastikan kalau menantunya akan tetap disana.
"Iya." Cael tersenyum tipis. "Aku tetap disini sementara sampai papa benar-benar pulih."
"Mama minta maaf..." Hanya kalimat itu yang mampu keluar dari bibir Shania sebelum masuk ke dalam kamar nya.
Cael terdiam menatap kosong pintu kamar mertuanya yang tertutup pelan. Ia menghembuskan nafas pelan lalu memutar tumitnya untuk pergi tapi pergerakan itu terhenti ketika pandangan nya jatuh pada sosok yang muncul di atas anak tangga. Pandangan mereka beradu sebelum salah satu nya memutuskan ke arah lain.
"Kenapa tidak mengabari kalau papa sudah pulang?" Kavi bertanya dengan nada seperti biasa. Raut wajahnya terlihat kesal karena tanpa tahu kalau ayahnya sudah diperbolehkan pulang.
"Apa aku punya hak untuk itu?"
Kavi tertegun sejenak. "Jangan memperumit keadaan Cael ! Setelah papa pulih ada yang harus kita bicarakan." Tanpa menunggu balasan ia memutar tubuhnya turun kembali.
Tidak lama suara mobil meninggalkan halaman. Cael menarik nafas panjang berusaha menekan kaca-kaca kristal yang hampir retak menutupi pandangannya. Tubuhnya lemah ia seret sekuat tenaga untuk masuk ke dalam kamar lama nya dirumah itu. Cael tidak ingin orang melihat kehancurannya.
...----------------...
Lampu gantung di atas meja kayu berpendar kekuningan, menciptakan lingkaran cahaya yang memisahkan mereka dari kegelapan ruang tamu yang sunyi. Di luar, rintik hujan sisa sore tadi masih mengetuk kaca jendela dengan irama yang malas, namun di dalam sini, udara terasa pekat oleh aroma semur daging dan uap nasi yang baru saja matang.
Sadipta duduk di kursi yang biasa begitu juga Shania dan Cael. Mereka siap menikmati makan malam. Cael sengaja tidak pulang karena ingin menemani Shania dan juga Sadipta.
Namun kehangatan itu pecah saat langkah kaki yang berat mendekat, berhenti tepat di ambang ruang makan. Kavi berdiri di sana, namun ia tidak sendiri. Di sampingnya, Sheza dengan riasan tipis dan jemari yang menggenggam erat lengan Kavi berdiri sambil tersenyum tipis.
Seketika, denting sendok terhenti. Uap nasi yang tadinya harum kini terasa menyesakkan paru-paru. Shania, yang baru saja hendak menyendokkan sayur, mematung dengan tangan gemetar; sorot matanya yang teduh berubah menjadi kaca yang retak. Udara di ruang makan itu mendadak turun beberapa derajat, membekukan kalimat-kalimat manis yang tadi hampir terucap.
"Bagaimana kondisi papa," suara Kavi memecah sunyi, rendah namun cukup tajam untuk merobek ketenangan malam.
Lingkaran cahaya lampu gantung kini terasa seperti panggung interogasi yang menyakitkan. Ruangan yang tadinya penuh tawa kini hanya menyisakan deru napas yang tertahan dan detak jantung yang berpacu liar dalam keheningan yang mencekam.
Shania tidak langsung berteriak. Ia meletakkan sendoknya perlahan, namun bunyi denting logam yang menghantam piring porselen itu terdengar seperti ledakan di tengah kesunyian. Tangannya yang gemetar kini mengepal kuat di atas taplak meja, hingga buku-buku jarinya memutih.
"Keluar," desis Shania. Suaranya rendah, bergetar oleh amarah yang baru saja tersulut.
Sadipta hendak membuka mulut, namun Shania lebih cepat. Ia berdiri dengan sentakan yang membuat kursi kayunya terseret kasar dan jatuh terjungkal ke lantai. Bunyi itu mengguncang ruangan.
"KAMU PIKIR RUMAH INI TEMPAT UNTUK SAMPAH YANG KAMU BAWA?!" Shania berteriak, suaranya melengking memecah ketenangan malam. Wajahnya yang biasa teduh kini memerah padam, urat-urat di lehernya menegang.
"Ma, dia istri ku." Sahut Kavi tak kalah marahnya namun tetap mengontrol nada bicara. "Kami kesini untuk menjenguk papa bukan untuk bertengkar. Sheza ingin bertemu mama dan papa. Dia sedang hamil, Ma... Tolong jangan perlakukan dia berbeda."
Suasana langsung hening.
Sendok di tangan Cael langsung terlepas. Atensi teralihkan begitu saja pada gadis itu. Air matanya jatuh tanpa aba-aba karena dorongan sesak dan sakit bercampur jadi satu. Sadipta tanpa bicara langsung berdiri membawa tubuh lemah nya. Melihat itu Shania langsung sigap memapah suami nya.
"Pulanglah." Ucapnya sebelum melangkah pergi.
Cael masih menunduk sementara Kavi mencoba meredam emosinya. Tapi genggaman jari halus Sheza di lengannya kembali memicu rasa marah yang belum tuntas.
"Kamu puas..." Ucap Kavi setengah berbisik ke arah Cael. "Seandainya kamu tidak ada, maka pernikahan ini juga tidak ada. Kamu ! Kamu awal mula masalah ini. Seharusnya aku menikahi Sheza dan hidup bahagia, tapi kamu datang dalam hidup kami meletakan beban mu pada orang tua ku dan memaksaku untuk mengambil alih semua nya. Kamu egois, Cael !"
Semoga kelak, Kavi akan dihinggapi rasa sesal yang mendalam karena telah memilih Sheza