"Setiap orang memiliki alasannya sendiri mengenai bagaimana ia harus bersikap. Jadi, tugas kita bukanlah untuk membenci ataupun bertanya mengapa? tapi kita wajib menghargainya"
.
Aisyah Raina Abdullah, gadis cantik yang memilih menutup dirinya, demi untuk menjaga marwah pribadinya juga keluarganya.
Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak ia mengenal sifat. Ada yang murah senyum, ada pula yang dingin layaknya es.
Saat itu juga, Raina menemukan sosok pria yang sangat berbeda baginya, namanya Malik Fajar Admajaya. Akrab di sapa Fajar, ia adalah laki-laki yang memiliki sifat sedingin es.
Ia juga sangat membenci sosok wanita, kecuali sang Ibunda. Selama ini ia tak mau perduli dan tersenyum pada wanita manapun, kalaupun ia memiliki seorang 'wanita' itu hanyalah permainan baginya.
.
Kemudian, dua anak manusia yang berbeda karakter itu dipersatukan dalam mahligai cinta yang halal.
Walaupun pasti banyak rintangan yang akan menghadang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tris riyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Rasa Dua Jiwa
Author Pov
Setelah sekitar lima belas menit, Raina selesai membersihkan tubuhnya. Diliriknya jam diding yang terpaku di kamarnya sudah menunjukkan pukul 17.25 WIB, itu artinya sebentar lagi akan masuk waktu shalat maghrib.
Di pandangnya wajah sang suami, yang masih tertidur pulas.
Seperti biasa, menurut Raina, saat Fajar tidur ketampanan dan karismatiknya bertambah seribu persen.
Tapi harus bagaimana lagi, seganteng-gantengnya Fajar ketika tidur ia harus dibangunkan. Karena tidak baik tidur di waktu maghrib. Lagi pula masnya, Arkan pasti sebentar lagi menjemput Fajar untuk diajak shalat di masjid.
“Ok.. ini singa bakalan nerkam gak ya kalau dibangunin? atau nanti aku malah dicabik-cabik,” – cicit Raina pelan dengan kekehan yang susah dikendalikan.
Nah.. ternyata sejak tadi Fajar sudah bangun dan mendengar semua perkataan serta kekehan Raina.
Fajar sengaja pura-pura tidur, agar ia bisa mengetahui apa yang akan Raina lakukan jika dirinya tertidur. Dan benar saja dugaannya, gadis ayu itu terkekeh ketika mengatakan Fajar adalah singa yang tertidur.
Ketika Raina mendekat kerah Fajar dan memperhatikan dengan seksama sudut wajah tampan Fajar, tiba tiba ia dikejutkan dengan 'raungan singa yang terbangun'
tapi.. kelucuan kembali terjadi.
“Hauk hauk hauk,” ucap Fajar yang berniat menirukan auman singa.
Seketika tentu saja Raina menjadi terkejut dan terdorong kebelakang kemudian jatuh pelan.
Walaupun sebenarnya ia kaget, Raina malah terkekeh, karena wajah lucu serta suara aungan Fajar terdengar seperti anak anjing yang kehilangan induknya.
Melihat wajah Raina yang memerah akibat tertawa, membuat Fajar heran, bukannya merintih sakit akibat terjatuh, Raina malah tertawa.
“Haha haha haha haha, Abang.. lihat deh wajah Abang dicermin, dan.. haha hahaha. Ana kira Abang itu kalau tidur kayak singa. Awalnya takut banguninnya, takutnya diterkam singa. Eh.. malah pas Abang mengaung kayak cihuahua,” ucap Raina masih dengan kekehan yang belum bisa berhenti.
“Cihuahua? Artis Korea ya?” ucap Fajar polos, sambil berpose dengan gaya keren khas dirinya. Namun, kali ini Raina semakin tak mampu mengontrol kekehannya.
“Abang.. coba deh searching, tanya sama mbah google, cihuahua itu apa,” kata Raina sambil menjulurkan ponselnya pada Fajar.
Kemudian Fajar langsung mencari tahu seperti apa sosok cihuahua yang disebutkan oleh Raina.
Tapi berbeda dengan Raina yang masih terkekeh, Fajar justru dengan wajah datarnya lagi membuka suara.
“Sumpah ini gak lucu Raina..” katanya yang mulai kesal menjadi bahan kekehan sang istri.
“Iya.. itu gak lucu. Yang lucu itu Abang, lucu banget tadi, beneran," ucapnya terjeda, "Ya udah, Abang langsung aja mandi, bentar lagi maghrib soalnya," ucap Raina yang akhirnya bisa menghentikan kekehannya.
Sambil tersenyum melihat Raina tertawa lepas, kemudian Fajar langsung berjalan menuju kamar mandi.
...*****...
Sekitar sepeluh menit kemudian, akhirnya Fajar selesai juga membersihkan tubuhnya. Di lihatnya, gadis yang tengah fokus dengan Al-Qur’an didepannya yang masih tak menyadari kehadirannya disampingnya.
Fajar tampak memutar otaknya untuk mencari cara membalas kekehan Raina padanya tadi.
“Ahaa..” kata Fajar dengan senyuman licik yang penuh dengan taktik.
“Astagfirullah.. Bang Fajar,” ucap Raina sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.
Karena Fajar yang sengaja keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk yang ia lilitkan dipinggangnya. Dan tentu saja Raina kaget, karena memang ia belum pernah sebelumnya melihat tubuh laki-laki selain Arkan dan Abinya.
Wajah puas, dari Fajar akhirnya timbul juga. Setelah ia berhasil membuat Raina yang tadi menertawakan dirinya, kini giliran Fajar yang terkekeh. Ia tak habis fikir di zaman semodern ini, Raina masih terkejut melihat tubuh seorang pria.
“Nggak apa-apa Raina, bukak aja matanya, kan kita udah halal, gak akan dosa kok,” ucapnya sambil terkekeh.
“Gak kok, ana tadi cuma----” ucap Raina sambil membuka matanya. Namun, terpotong karena kebiasaan buruk yang dimilikinya, yaitu termenung secara tiba-tiba.
MasyaaAllah.. sungguh indah Engkau ciptakan makhluk seperti Bang Fajar ya Allah - katanya dalam batin.
Karena memang jika dilihat secara fisik, Fajar adalah tipe pria yang ideal. Hidung mancung, rambut hitam lurus, mata hitam pekat, serta kulitnya yang sawo matang, dan tingginya yang sempurna, dan satu lagi ada roti sobek diperutnya.
“Raina? hey..” ucap Fajar menyadarkan lamunan Raina.
“Kamu lihat baju Abang nggak? soalnya Abang cari-cari di tas nggak ada,” ucap Fajar sambil menggendikkan bahunya.
“Oh iya.. sampai lupa, baju Abang ada di gantungan di dalam lemari. Bentar ya, ana ambilin dulu,” ucap Raina yang tampak kikuk dan langsung berdiri untuk mengambilkan baju milik Fajar.
Setelah memakai pakaian yang Raina ambilkan, suasana canggung tiba-tiba menyelimuti dua anak manusia itu. Raina yang berpura-pura sibuk dengan Qur’annya sedangkan Fajar sibuk dengan gadget ditangannya.
Akhirnya suasana kembali mencair, setelah mereka mendengar suara ketukan pintu dan salam dari Arkan, yang berniat mengajak Fajar shalat bersama di Masjid yang masih berada di lingkungan Pesantren.
“Assalamu’alaium..”
Mendengar itu, Raina dan Fajar kompak berdiri, mereka sama-sama memiliki niat untuk membuka pintu kamar itu.
Namun, Raina mencegah langkah Fajar dengan mengatakan, “Biar ana saja yang buka Bang..” kata gadis itu pelan yang hanya di iyakan oleh Fajar dengan anggukan.
“Mas mau ajak Fajar ke Masjid,” ucap Arkan to the point, tanpa menyapa adiknya terlebih dahulu.
“Oh iya.. gue udah siap kok,” kali ini Fajar sudah siap, dengan penampilannya yang rapih untuk menerima ajakan Arkan.
Bukan Arkan namanya jika tidak menggoda sang adik, yang masih tampak malu jika harus melihat senyuman dari Fajar.
“Mas bawa dulu pangeran surganya ya.. jangan risau, nanti kalian bisa lanjutkan lagi kok kegiatannya, hehe,” ucap Arkan membuat Raina membelalakkan matanya pada Arkan yang sedikit terkekeh.
“Kalau gitu Abang berangkat dulu ya, Assalamu’alaikum..” ucap Fajar sambil mengusap lembut ujung kepala Raina.
"Wa'alaikumusallam warahmatullahi wabarakatuh.."
Apa yang difikirkan oleh Raina kali ini, mengapa ia harus malu pada Fajar? Bukankah ia memiliki hak untuk semua itu?
Namun, kali ini rasanya Raina lega karena tidak perlu lagi menahan gemuruh di dadanya akibat semua yang Fajar lakukan padanya.
Akhirnya azan maghribpun berkumandang. Sementara para pria shalat berjama’ah di Masjid, Umi Fatma dan Raina melaksanakan shalat di kamar mereka masing-masing.
Usai shalat maghrib, Raina kemudian turut serta membantu Umi Fatma menyiapkan makan malam mereka, tak ada obrolan antara ibu dan anak itu.
Karena sejak kecil, Raina selalu diajarkan oleh Umi Fatma untuk tidak mengobrol ketika mengerjakan sesuatu.
Raut bahagia juga selalu menghiasi wajah ayu mereka berdua. Raina dan Umi Fatma ini memiliki kemiripan dalam banyak hal, yang paling menonjol adalah wajah mereka, ya.. Raina mewarisi kecantikan dari sang Umi.
...*****...
Setelah selesai menyajikan makan malam di meja makan, Raina kemudian kembali lagi ke kamarnya, untuk menunaikan shalat isya, begitu juga dengan Umi Fatma.
Sementara Fajar dan Arkan yang lebih dulu selesai shalat di Masjid, sambil berjalan menuju rumah, mereka tampak saling mengobrol.
“Makasih ya.. tempo hari lo udah sadarin gue, mengenai Raina. Coba aja, lo nggak tarik gue malam itu, mungkin gue nggak akan bisa rasain perasaan bahagia kayak sekarang ini,” ucap Fajar dengan senyuman yang mengembang kepada kakak iparnya itu.
“Raina emang gadis yang berbeda. Elo tahu gak? Ketika orang lain disekitarnya tidak merasakan bahagia, pasti dia akan mencoba untuk membuat seseorang itu bahagia, walaupun hanya sebatas tersenyum.” Kali ini raut bangga jelas tampak di wajah Arkan ketika membahas sang adik, Raina.
Tak butuh waktu lama, mereka kemudian tiba di rumah. Mereka menyebarkan pandangan ke sekeliling ruangan, tak ada tanda-tanda Raina ataupun Umi Fatma disana, sedangkan Abi Abdullah masih mengobrol dengan salah satu Ustadz di Pesantren itu.
“Gue ke kamar dulu ya Kan,” ucap Fajar yang dijawab dengan anggukan oleh Arkan.
Setelah memasuki kamar, Fajar melihat Raina yang tengah khusuk ber’doa, ia bahkan melihat gadis itu tengah meneteskan air matanya.
Rasa khawatir tentu saja menyelimuti Fajar, ia takut apakah Raina baik-baik saja hingga sampai meneteskan air matanya.
Setelah selesai shalat, Raina kemudian mengambil Al-Qur’an yang sengaja ia letakkan di sampingnya untuk dibaca.
^^^الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ^^^
Fajar yang mendengarakan bacaan Raina, kemudian menitihkan air matanya, ia tampak menyesali sesuatu. Kemudian dengan berjalan pelan, Fajar mengahampiri Raina.
Raina yang mengetahui Fajar duduk disampingnya kemudian mengalihkan matanya untuk menatap mata sayu dari Fajar, yang tengah tertunduk.
“Bang Fajar...” sapa Raina pelan.
“Abang fikir, dengan semua yang Abang miliki itu sudah cukup selama ini. Abang banyak lupa, sehingga Abang malu ketika mendengarkan suaramu mengaji,” ucap pria itu masih tertunduk.
“Setiap manusia memiliki kemampuan berbeda-beda Abang. Ana yakin, Abang memiliki suara yang indah ketika melantunkan ayat suci Al-Qur’an, hanya saja.. Abang belum berlatih selama ini.” Kelembutan suara dan penjelasan dari Raina, kemudian membuat Fajar berani mendangakkan kepalanya.
“Abang boleh tahu arti ayat yang kamu baca tadi?” katanya sambil menatap lekat mata indah Raina.
Dengan anggukan pelan Raina mengiyakan pinta Fajar, dan kembali membuka mushaf miliknya. Dan mulailah ia membaca arti dari ayat yang membuat hati Fajar bergetar.
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”
(Q.S An-Nur ayat 26).
Hati Fajar kali ini semakin tersayat dangan arti yang Raina bacakan. Fajar berfikir sesuai ayat itu, berarti dirinya tidak layak untuk Raina.
Menyadari itu semua Raina kemudian membuka suaranya, “Dari ayat ini, Allah ingin menegaskan bahwa kita diciptakan untuk pasangan yang memiliki sifat yang sama seperti kita.”
“Tapi.. wanita baik sepertimu seharusnya tidak denganku bukan?” ucap Fajar lagi.
Raina kemudian tersenyum, dan mengusap kedua mata sayu Fajar dengan lembut, “Ana bukan lah wanita yang sempurna jika tidak memiliki mu. Ana yakin dan percaya, disetiap penyatuan hamba-Nya, Allah selalu memiliki rencana indah dibaliknya," ucap Raina terjeda, kemudian ia lebih mendekatkan posisi duduknya dengan Fajar.
“Kata Nabi.. lingkungan kita, teman kita itu mencerminkan diri kita. dan bukankah kita sudah berkomitmen untuk memulai segalanya lagi? Jangan pernah katakan, hal seperti itu lagi Abang, kita akan bersama-sama menjemput Hidayah yang sudah Allah berikan,” sambungnya lagi.
“Terimakasih Raina, kamu adalah rencana terindah yang Allah siapkan untuk hidupku.” Mendengar itu, Raina kembali tersenyum, kemudian ia bangkit dan mengulurkan tangannya untuk mengajak Fajar bangkit dari posisi duduknya.
“Bangkitlah bersamaku Bang Fajar, untuk meraih keridhoan dan jannah-Nya nanti. Kita akan sama-sama dan saling memperbaiki diri.”
Fajar tersenyum. Rasanya ia ingin sekali memeluk gadis di hadapannya ini. Tapi.. ia masih ragu, apakah Raina akan menerima pelukannya, ataukah justru penolakanlah yang akan ia dapatkan.
Sedangkan Raina, saat ini ia berharap Fajar akan memeluknya dengan erat serta menceritakan segala kesusahan hatinya.
Tapi.. Raina kembali ragu, menurutnya itu adalah sebuah kemustahilan jika Fajar memeluknya, mana mungkin seorang pria akan memeluk wanita yang tidak dicintainya.
Aku menunggumu untuk mengatakan segalanya padaku bang Fajar, aku akan selalu menunggu hal itu terucap indah di bibir manismu – batin Raina yang kembali termenung.
Fajar dan Raina saat ini seperti dua anak manusia yang memiliki satu rasa, yaitu cinta. Namun.. sayang seribu sayang, keduanya belum mampu membaca rasa yang tersirat dalam hati mereka.
...*****...
soundtrack on
Iman dan takwamu yang meluluhkan...
rasa ini menjadi cinta..
Kekasih idaman, yang kuharapkan..
Semoga cinta ini menjadi nyata..
Ana uhibbuka fillah, kumencintaimu karena Allah...
...-----♡●♡-----...
Alhamdulillah bisa Up lagi
Ternyata manusia itu memiliki sifat yang susah mengungkapkan perasaannya ya, betul tidak?🤔🤔
Anyway.. terimakasih banyak-banyak buat teman-teman yang sudah mendukung cerita ini, Ana uhibbuka fillah😍
Jangan lupa pencet jempolnya🖒 tulis komentarnya😉dan berikan vote dan ratenya ya✔
Jazakillah Khair💖
semangat terus ya thor...
tetap semangat untuk karya selanjutnya .... love you full....😍😍😍
semangat ya....
aku udah baca sampai sini....
lanjut terooos....💪💪💪💪💪💪
di tunggu kelanjutan nya 👍👍❤❤❤
salam hangat dari Zahra Anak Yang Tak Berdosa