NovelToon NovelToon
Devil Dragon System

Devil Dragon System

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Balas Dendam / Sistem
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: BE SA

Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.

Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.

Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.

Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.

Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?

[Ding!]

[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Negosiasi Dan Rencana Pembunuhan

Arjuna berdiri di tengah kepungan puluhan Dragonoid tanpa mengubah postur tubuhnya sedikit pun.

Gold Magna Cyborg Armor masih memancarkan aura keemasan yang megah, dan Abyssal Fang tersarung di pinggang belakangnya secara horizontal. Matanya merah membara menatap Jendral Harjasa dengan tenang.

Tekanan ranah Void Anchoring Realm: Morning Star yang memancar dari tubuh jendral itu cukup untuk menghancurkan batu besar menjadi debu, tapi Arjuna tidak mundur satu langkah pun.

Kalkulasi sudah selesai dalam tiga detik pertama. Melawan Jendral Harjasa adalah bunuh diri yang tidak perlu.

"Jendral Harjasa," ucap Arjuna, suaranya tenang seperti permukaan danau yang tidak pernah disentuh badai, "Sebelum kau mengambil keputusan yang akan kau sesali, izinkan aku menjelaskan satu hal."

Jendral Harjasa menyipit, dan sisik hijau gelap di rahangnya bergerak dengan ketidakpercayaan yang nyata.

"Manusia murni berbicara seolah dia punya posisi tawar menawar di hadapanku?" bentak Harjasa, suaranya menggelegar, dan penuh ancaman yang tidak perlu ditinggikan. "Ini akan menjadi penjelasan yang sangat singkat."

Arjuna tidak terganggu oleh nada itu.

Dia mengangkat tangan kirinya perlahan, lalu menunjuk ke arah tiga mayat Reploid yang bergelimpangan di belakangnya.

"Tiga mayat itu," ucap Arjuna, suaranya mengandung keyakinan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. "Apakah Jendral mengenali mereka?"

Harjasa melirik sebentar ke arah puing-puing Fusion Mechanoid yang sudah terpisah kembali menjadi tiga tubuh tak bernyawa.

Tidak ada reaksi yang terbaca di wajahnya.

"Reploid biasa," jawab Harjasa, matanya kembali ke Arjuna. "Tidak ada yang istimewa."

"Bukan Reploid biasa," balas Arjuna, senyuman tipis merayap di sudut bibirnya. "Mereka adalah Buronan Alliance.”

Keheningan jatuh di antara puluhan Dragonoid yang mengepung.

Harjasa tidak bergerak, tapi sesuatu di matanya berubah. Sesuatu yang sangat kecil tapi tidak luput dari pengamatan Arjuna.

"Mereka sudah lama menghilang dari pantauan Alliance," ucap Arjuna, melangkah perlahan ke arah mayat pertama dengan langkah yang tidak terburu-buru. "Mereka memilih perbatasan zona abu-abu sebagai tempat beroperasi karena tidak ada klaim prefektur manapun di sini.”

“Tempat yang sempurna untuk membantai ksatria lemah yang melintas tanpa meninggalkan jejak."

Dia berhenti tepat di samping mayat Reploid terbesar itu, menatapnya sebentar.

"Aku sudah mengikuti jejak mereka selama beberapa waktu," lanjut Arjuna, suaranya tidak naik tidak turun. "Walaupun harus mempertaruhkan nyawa melawan tiga ksatria Spirit Awakening Realm sekaligus, perhitunganku mengatakan momen ini tidak akan datang dua kali."

Harjasa menatap Arjuna dengan mata yang menyipit semakin dalam.

"Kau mengklaim memburu buronan Alliance?" ulangnya, nada suaranya mengandung keraguan yang tidak disembunyikan. "Seorang manusia murni dengan ranah Mortal Frame Realm mengklaim memburu buruan penjahat internasional? Sungguh ironi!”

"Buktinya ada di hadapan Jendral," jawab Arjuna, suaranya datar. "Tiga mayat. Satu pertempuran. Hasilnya tidak bisa dipalsukan."

Harjasa tidak segera menjawab.

Matanya bergerak dari Arjuna ke tiga mayat, lalu kembali lagi ke Arjuna dengan perhitungan yang dalam.

"Bahkan jika klaimmu benar," ucap Harjasa akhirnya, suaranya menajam seperti bilah tombak. "Itu tidak mengubah fakta bahwa kau telah berbuat onar di perbatasan wilayah Prefektur Draconis tanpa izin. Aku tetap berhak menangkapmu."

Arjuna mengangguk pelan. Seolah dia sudah mengantisipasi jawaban itu.

"Tentu saja," balas Arjuna, senyumannya tidak berubah. "Jendral Harjasa berhak melakukan apapun yang Jendral anggap tepat."

Dia berhenti sebentar, membiarkan keheningan itu mengisi ruang di antara mereka.

"Tapi ada satu pertanyaan yang ingin aku ajukan sebelum itu," lanjut Arjuna, matanya menatap Harjasa dengan langsung. "Apakah Prefektur Draconis memiliki sistem hadiah atas kepala mereka?”

Salah satu prajurit Dragonoid di barisan belakang bergerak maju. Tubuhnya lebih kecil dari Harjasa, tapi aura yang dia pancarkan menunjukkan pengalaman tempur yang panjang.

Dia berbisik ke telinga Harjasa dengan ekspresi yang berubah cepat. Harjasa mendengarkan tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Lalu prajurit itu mundur kembali ke barisannya.

"Jendral," ucap prajurit itu dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang di sana. "Data Alliance mengkonfirmasi identitas Trio Naraka. Nara, Raka, dan Kara. Buruan internasional level hazard: SS rank. Tercatat sudah membantai seribu ksatria dari tujuh prefektur dalam dua tahun terakhir."

Keheningan yang berbeda jatuh kali ini.

Bukan keheningan yang menunggu keputusan, melainkan keheningan yang sudah membuat keputusan sendiri tanpa perlu diucapkan.

Harjasa menatap Arjuna dengan ekspresi yang sulit dibaca, campuran antara kemarahan yang belum reda, perhitungan yang baru dimulai, dan sesuatu yang jauh lebih personal dari keduanya.

"Kau beruntung," geram Harjasa, rahangnya terkatup rapat, "Atau kau memang tahu apa yang kau lakukan sejak awal."

Arjuna tidak menjawab pertanyaan itu.

Dia hanya berdiri dengan postur yang sama, mata yang sama, dan senyuman yang sama.

"Hadiah atas kepala Trio Naraka bisa diklaim melalui Guild terdekat atau langsung melalui Alliance," ucap Harjasa, suaranya kembali ke nada jendral yang terbiasa memberi perintah. "Tapi proses klaim membutuhkan waktu, dan aku tidak punya waktu untuk menunggu birokrasi Alliance bergerak."

Harjasa melangkah maju satu langkah, dan aura Void Anchoring Realm memancar lebih kuat sejenak sebelum mereda.

"Aku ingin mayat Trio Naraka," ucapnya langsung. "Sebagai bukti perburuan yang akan aku serahkan kepada Kaisar Draconis."

Arjuna menatap Harjasa, dan menunggu kelanjutannya.

"Sebagai gantinya," lanjut Harjasa, matanya berkilau dengan keserakahan yang tidak dia sembunyikan. "Kau boleh meminta apa saja yang ada dalam kemampuanku. Medali pencapaian dari Kaisar Draconis jauh lebih berharga dari apapun yang bisa ditawarkan Guild atau Alliance kepadamu."

Arjuna diam selama dua detik penuh.

"Awakening Stone," ucap Arjuna akhirnya, suaranya singkat, dan langsung.

Keheningan jatuh lebih lama seperti di luar ruang, dan waktu.

Lalu tawa Harjasa meledak, suaranya bergema di seluruh perbatasan itu seperti guntur yang tidak tahu sopan santun.

"Awakening Stone?!" ulang Harjasa, tawanya tidak berhenti. "Kau membunuh buruan level SS rank, mempertaruhkan nyawa melawan tiga Spirit Awakening Realm, dan hadiah yang kau minta hanyalah Awakening Stone?"

Beberapa prajurit Dragonoid di belakangnya ikut tertawa pelan, dan suara tawa mereka bercampur dengan deru angin malam.

Harjasa menggeleng, tangan besarnya menekan bracelet di lengan Dragon Cyber Armor miliknya.

Sebuah batu kecil berwarna putih kebiruan muncul di telapak tangannya, dan memancarkan cahaya lembut yang berdenyut seperti nafas.

"Ini! seru Harjasa melempar Awakening Stone itu ke arah Arjuna dengan gerakan yang mencerminkan betapa kecilnya nilai benda itu di matanya. "Ambil Awakening Stone milikmu, manusia."

Arjuna menangkap batu itu dengan tangan kiri, menggenggamnya tanpa mengubah ekspresi. “Arjuna, namaku Arjuna Sasrabahu.”

Harjasa merogoh kembali, kali ini mengeluarkan sebuah lencana berbentuk kepala Hydra dengan sisik hijau gelap yang diukir detail di permukaan logam hitamnya.

"Baik, Arjuna. Ini juga!” ucap Harjasa, menyerahkan lencana itu langsung ke tangan Arjuna. "Lencana klan Hydra. Kau sudah membantuku mendapatkan medali Kaisar, maka aku memberimu akses perlindungan klan Hydra selama kau berada di wilayah Prefektur Draconis."

Arjuna menatap lencana itu sebentar, lalu menyimpannya di dalam bracelet penyimpanannya.

"Terima kasih, Jendral," ucap Arjuna, nada suaranya datar seperti biasa.

Harjasa menatap Arjuna satu kali lagi dari atas ke bawah. Ekspresinya campuran antara geli, dan tidak percaya.

"Manusia aneh," gumamnya pelan, lalu berbalik memberi isyarat kepada pasukannya untuk bergerak. "Pastikan kau tidak membuat masalah lagi di perbatasan kami."

Arjuna mengamati punggung Jendral Harjasa yang menjauh bersama puluhan Dragonoid di belakangnya. Langkah mereka teratur seperti mesin perang yang berjalan pulang.

Tangannya menggenggam Awakening Stone itu dengan erat.

Panel hologram berkedip pelan di hadapannya.

[Awakening Stone diterima]

[Breakthrough ke Spirit Awakening Realm tersedia]

Arjuna menutup panel itu. Matanya menatap ke arah timur, yaitu ke wilayah Prefektur Draconis yang membentang luas di balik perbatasan.

"Takdir," bisik Arjuna, tawa licik pelan keluar dari bibirnya. "Bahkan takdir pun bisa dikalkulasi."

Arjuna melangkah ke arah timur, siluetnya menghilang perlahan di balik perbatasan Prefektur Draconis.

Jauh di atas, tersembunyi di antara cabang pohon tertinggi yang tidak tersentuh cahaya bulan ada satu sosok berdiri tanpa suara.

Tubuhnya dibalut jubah hitam tanpa ornamen, dan wajahnya tertutup masker tipis yang tidak meninggalkan celah untuk dikenali.

Matanya mengikuti setiap langkah Arjuna sampai siluet itu benar-benar lenyap.

Lalu tangannya bergerak, mengaktifkan komunikator hologram kecil yang tersembunyi di pergelangan tangannya.

Cahaya biru tipis memancar yang menampilkan wajah Komandan Wiryo di sisi lain sambungan.

"Targetnya masuk ke Prefektur Draconis," ucap sosok itu, suaranya datar tanpa intonasi. "Membawa lencana klan Hydra."

Wiryo diam sebentar di sisi lain sambungan, matanya menyipit.

"Phantom sudah menerima kontraknya," jawab Wiryo final, suaranya dingin. "Pastikan dia tidak keluar dari Prefektur Draconis dalam keadaan hidup!"

Sosok itu menutup komunikator tanpa menjawab. Lalu menghilang dari cabang itu seperti bayangan yang tidak pernah ada.

1
carat28
Hai kak, boleh follback? Saya mau kirim inbox terkait penawaran kepenulisan. Terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!