NovelToon NovelToon
Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andrean Matabuh

Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'

Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.

Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Kejutan di Rumah Kontrakan

 Matahari pagi baru saja menyembul di ufuk timur, menyinari gang sempit di kawasan pinggiran kota. Di sebuah rumah kontrakan sederhana berdinding tripleks dan beratap seng, suasana terasa sangat sunyi. Kirana duduk di tepi ranjang usang, matanya menatap kosong ke arah langit-langit yang sedikit berjamur. Semalaman dia tidak bisa memejamkan mata. Kejadian dramatis di Restoran Royal Jade beberapa jam lalu terus berputar di otaknya seperti kaset rusak.

Bagaimana mungkin suaminya, Adrian, yang selama dua tahun ini hidup luntang-lantung, memasak, mencuci baju, dan menerima makian keluarganya tanpa pernah membalas, tiba-tiba menjelma menjadi sosok miliarder yang mampu membeli restoran bintang lima dalam hitungan menit? Lebih dari itu, apa yang dikatakan Adrian hingga membuat Kakek Bramasta—pria paling berkuasa dan keras kepala di keluarga Wijaya—sampai berlutut bersujud di kakinya?

Krieeek...

Suara pintu kamar yang lapuk terbuka perlahan, memutus lamunan Kirana. Aku melangkah masuk sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan sepiring pisang goreng yang baru saja kumasak di dapur kecil kami.

"Kamu belum tidur sama sekali, Kirana?" tanyaku lembut, meletakkan nampan itu di atas meja kayu yang salah satu kakinya sudah diganjal dengan potongan kardus.

Kirana mendongak, menatapku dengan pandangan campur aduk antara rindu, asing, dan takut. "Bagaimana aku bisa tidur, Adrian? Tolong jelaskan padaku. Semua ini terasa seperti mimpi buruk... atau mungkin mimpi yang terlalu indah hingga membuatku takut untuk bangun. Siapa kamu sebenarnya?"

Aku duduk di kursi plastik di hadapannya, menghela napas panjang. "Aku tetap Adrian yang sama, Kirana. Pria yang kamu selamatkan dari jalanan dua tahun lalu. Uang itu... adalah warisan rahasia dari mendiang ayah kandungku yang baru bisa dicairkan kemarin setelah aku mencapai batas usia tertentu. Aku sengaja merahasiakannya karena aku ingin melihat siapa saja orang yang tulus bersamaku saat aku berada di titik terendah." Aku menggenggam tangan Kirana yang terasa dingin. "Dan terbukti, hanya kamu satu-satunya orang yang memperlakukanku seperti manusia."

Air mata Kirana kembali menetes, namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa lega yang luar biasa. Dia tahu suaminya tidak melakukan tindakan kriminal untuk mendapatkan uang tersebut.

Tepat saat Kirana hendak berbicara lagi, suara deru mesin mobil mewah yang sangat halus terdengar berhenti di depan gang kontrakan kami. Suara itu disusul oleh langkah kaki beberapa orang yang tergesa-gesa membelah jalanan tanah yang becek.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu depan terdengar sangat sopan, seolah-olah orang di luar sana sedang mengetuk pintu istana seorang raja, bukan rumah kontrakan kumuh.

Aku melirik jam dinding tua di kamar. Tepat jam sembilan pagi. "Mereka sudah datang," ujarku datar sambil berdiri.

"Mereka? Siapa yang datang, Adrian?" tanya Kirana dengan wajah panik.

"Lihat saja sendiri keluar," jawabku sambil melangkah menuju ruang tamu yang merangkap sebagai ruang keluarga berukuran tiga kali tiga meter itu.

Saat aku membuka pintu kayu depan, pemandangan mengejutkan langsung tersaji. Kakek Bramasta Wijaya berdiri di sana dengan tubuh yang tampak jauh lebih rapuh dibandingkan semalam. Di sebelah kanannya, berdiri seorang pria paruh baya berkacamata tebal yang mengenakan setelan jas abu-abu formal sambil memegang sebuah koper kulit hitam—dia adalah Haryanto, pengacara pribadi kepercayaan Kakek Bramasta yang mengurus seluruh aset hukum Wijaya Group.

Namun, yang membuatku sedikit mengernyitkan dahi adalah keberadaan Erika dan Kevin yang berdiri di belakang Kakek. Wajah Erika tampak bengkak karena terlalu banyak menangis semalaman, sementara Kevin menunduk dalam-dalam, tidak berani mengangkat wajahnya sama sekali sejak melihat bayanganku di pintu. Rupanya, Kakek sengaja menyeret mereka berdua ke sini untuk menebus kesalahan mereka.

"A-Adrian... cucuku," suara Kakek Bramasta bergetar hebat saat dia menyapaku. Dia bahkan tidak berani melangkah masuk sebelum mendapat izin dariku. "Sesuai dengan janjiku semalam di restoran... aku datang tepat waktu."

"Masuklah. Rumahku sempit, jadi jangan mengeluh jika tempat duduknya tidak senyaman kursi di rumah mewah Anda," sahutku dingin tanpa ekspresi, lalu berbalik dan duduk di satu-satunya sofa busa yang sudah kempes di ruangan itu.

Kakek Bramasta masuk dengan perlahan, diikuti oleh pengacara Haryanto. Kirana yang baru keluar dari kamar langsung mematung di sudut ruangan, matanya membelalak lebar melihat kakek, ibu, dan kakak iparnya berada di dalam rumah kontrakannya yang kumuh.

"Kakek? Ibu? Kak Kevin? Kenapa kalian semua ke sini?" tanya Kirana dengan suara bergetar.

Erika yang biasanya berteriak histeris dan menunjuk-nunjuk wajah Kirana, tiba-tiba maju dan langsung berlutut di lantai semen di depan Kirana. Bruk!

"Kirana! Tolong Ibu, Nak! Tolong bicaralah pada Adrian!" ratap Erika sambil menangis tersedu-sedu, memegang erat ujung celana Kirana. "Ibu bersalah! Ibu adalah wanita tua yang buta harta! Ibu sering menyiksa Adrian dan menghina ibunya! Sejak semalam, semua rekening bank milik Ibu dibekukan oleh Kakek, dan kami akan diusir dari rumah jika Adrian tidak memaafkan kami! Tolong katakan pada suamimu untuk melepaskan kami, Kirana!"

Kevin juga ikut melangkah maju, lalu dengan sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur, dia membungkuk sembilan puluh derajat di hadapanku. "Tuan Adrian... saya mengaku kalah. Saya yang bodoh, saya yang sampah. Perusahaan logistik saya benar-benar berada di ambang kebangkrutan pagi ini karena seluruh investor menarik modalnya setelah mendengar saya masuk daftar hitam Restoran Royal Jade. Tolong... beri saya jalan hidup, Tuan."

Melihat pemandangan menggelikan ini, aku hanya tersenyum sinis. Aku tidak memedulikan Erika ataupun Kevin. Pandanganku beralih sepenuhnya kepada Pengacara Haryanto.

"Haryanto, langsung saja ke intinya. Keluarkan dokumennya," perintahku tegas.

Pengacara Haryanto menatap Kakek Bramasta sejenak untuk mendapatkan anggukan konfirmasi. Setelah Kakek mengangguk pasrah, Haryanto membuka koper kulitnya dan mengeluarkan sebuah draf dokumen tebal dengan logo Wijaya Group berstempel hukum resmi di atasnya.

"Nyonya Kirana, Tuan Adrian..." Pengacara Haryanto berdeham kecil, menata suaranya agar terdengar seprofesional mungkin. "Hari ini, atas perintah mutlak dari Pemegang Saham Utama sekaligus Kepala Keluarga, Tuan Bramasta Wijaya, kami datang untuk melakukan penyerahan kembali hak kepemilikan saham yang sah. Berdasarkan dokumen otentik kelayakan waris almarhum ayah Anda, Nyonya Kirana... dengan ini dinyatakan bahwa enam puluh persen saham kepemilikan atas seluruh anak perusahaan Wijaya Group dialihkan secara mutlak dan tidak dapat diganggu gugat kepada atas nama Kirana Wijaya."

Deg!

Kirana merasa dunianya mendadak berputar. Enam puluh persen saham Wijaya Group? Itu artinya, mulai detik ini, dia bukan lagi anak pinggiran yang diabaikan, melainkan pemilik sah dan penguasa tertinggi atas seluruh gurita bisnis keluarga Wijaya!

Di dalam kesadaranku, suara mekanis Sistem kembali berdengung, membawa kepuasan yang tiada tara.

[Ding! Misi Rahasia: 'Penyerahan Kekuasaan Tahap Pertama' berhasil diselesaikan dengan sukses mutlak!]

[Hadiah Telah Dikirimkan: Kartu Pemulihan Medis Tingkat Dewa telah disimpan di dalam inventaris jiwa Anda!]

[Saldo Tambahan Rp 50 Miliar telah berhasil ditransfer ke rekening pribadi Anda!]

Aku melirik Kakek Bramasta yang menatapku dengan mata yang dipenuhi permohonan hidup. Waktunya memberikan umpan balik agar permainan ini tetap berada di bawah kendaliku.

1
Darns Jabat
👍
Andrean Matabuh: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!