NovelToon NovelToon
Anti Myth

Anti Myth

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Robot AI / Spiritual / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sizzz

Novel ini merupakan lanjutan dari Novel:

Chase the Dreams & Petualanganku sebagai hantu di dunia lain

Berawal dari sebuah legenda yang menjelaskan:

Mereka bilang, dulu kami sama

Dewa dan Dewi kedudukannya setara, menciptakan dunia dengan napas yang sama. Laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan, bahu boleh sama tinggi

Lalu datanglah Hari Keretakan

Tak ada yang tahu pasti apa yang memicunya

Yang jelas, perang saudara para penguasa alam itu berlangsung lama tanpa henti

Yang tersisa hanya tiga Dewi. Dan sebagai tanda kemenangan abadi, mereka melakukan sesuatu pada realita

Sejak saat itu, setiap anak laki-laki yang lahir akan tumbuh lebih pendek dari saudara perempuannya. Bahu mereka tak akan selebar leluhur mereka

Suara mereka tak akan menggema seperti para pendahulu mereka. Mereka hidup dalam dunia yang didominasi perempuan, bukan hanya dalam kekuasaan, tapi juga dalam postur, dalam kekuatan fisik, dalam segala hal yang kasatmata dan tidak kasatmata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehidupan baru Rey part 4

Rey mencoba gilirannya. Ia mengambil bola merah dari tumpukan, lalu melemparkannya ke arah tumpukan kaleng. Sayangnya, bolanya meleset jauh, menggelinding tak karuan di lantai stan.

"Jangan asal dilempar, Rey. Kau harus fokus pada targetnya. Bayangkan garis dari tanganmu ke kaleng itu," saran Kasula dengan sabar.

"Aku tidak paham maksudmu," ucap Rey dengan jujur, matanya masih bingung antara tumpukan kaleng dan bola di tangannya.

"Kau prajurit kerajaan, kan? Kau harus percaya dengan tangan dan bola yang kau pegang. Anggap saja itu senjata," jelas Kasula selengkap mungkin.

Meski begitu, Rey masih tampak ragu. Namun, dia memutuskan untuk mencoba saran itu.

Ia mengangkat tangan kanannya, membidik ke arah tumpukan kaleng dengan fokus tajam layaknya sedang mengarahkan senapan.

Penjaga stan mengerutkan kening, heran melihat cara bidikan yang tak biasa ini.

Belum pernah ia melihat seseorang melempar bola dengan sikap seperti hendak menembak musuh. Setelah yakin dengan bidikannya, Rey melepaskan lemparan.

Namun, bola itu meleset lagi, hanya mendarat dengan suara di atas meja di sebelah tumpukan kaleng.

"Masih ada tiga bola lagi, Rey. Tenang, dan fokus saja pada targetmu," Kasula kembali menyemangati.

Kali ini, Rey menarik napas dalam-dalam. Dia menenangkan diri, matanya tak lagi panik tetapi tajam menatap piramida kaleng di depannya. Saat merasa sudah siap, dia melepaskan lemparan.

Bola berhasil mengenai bagian atas tumpukan. Sebuah kaleng terjatuh. Semangatnya langsung membara. Dengan dua bola tersisa, dia melemparkannya lagi, satu demi satu dengan presisi yang semakin baik.

Tapi, bagian bawah dari tumpukan kaleng masih berdiri kokoh. Rey hanya berhasil meruntuhkan sebagian.

"Awal yang bagus untuk pertama kali," puji Kasula, tersenyum bangga melihat usaha Rey.

Tiba-tiba, pemilik stan menghampiri mereka. Di tangannya, ada sebuah gantungan kunci kecil berbentuk beruang.

"Ini hadiah untukmu," ucap perempuan itu dengan ramah, menyodorkan gantungan kunci itu ke Rey.

"Aku dapat hadiah juga?" tanya Rey yang heran.

"Tentu saja. Meski belum sempurna, usahamu sudah layak dihargai," jawab Kasula sambil tersenyum.

Rey masih ragu sejenak. Matanya beralih antara Kasula dan si pemilik stan yang ramah, sebelum akhirnya menerima gantungan kunci itu.

Ia memutar-mutarnya di antara jarinya, ini mungkin pertama kalinya, sejak lama ia menerima sesuatu dari tugas atau prestasi tempur.

Setelah itu, mereka berdua bergabung kembali dengan Shida, Fianna, dan Sany yang tampaknya, baru saja menyelesaikan serangkaian tarikan di stan gacha.

"Hadiah apa yang kalian dapat?" tanya Kasula penasaran.

Mereka bertiga serentak mengangkat tangan, memamerkan barang-barang kecil yang baru saja diperoleh.

"Aku dapat kartu tanda tangan bintang film," ujar Shida sambil mengacungkan kartu bergambar aktris terkenal.

"Aku dapat kamera polaroid mini," tambah Sany dengan senyum, memperlihatkan kamera retro berwarna pastel di telapak tangannya.

"Dan aku dapat bola tenis berlogo spesial," sambung Fianna dengan datar, menggenggam bola hijau dengan logo taman hiburan.

Kasula mengangguk, lalu menunjukkan boneka beruang besarnya dengan bangga.

"Aku dapat boneka beruang, dan Rey dapat gantungan kunci beruang yang lucu,"

Rey dengan malu-malu mengangkat gantungan kuncinya, seolah-olah ikut serta dalam pameran kecil itu.

"Seperti anak kecil saja," sindir Shida sambil menyeringai melihat boneka beruang besar Kasula.

"Emang kenapa? Tidak ada larangan perempuan suka boneka," balas Kasula dengan cepat, memeluk bonekanya lebih erat.

"Ya... tidak ada masalah sih," jawab Shida terbata-bata, tidak bisa membantah lagi.

"Kalau begitu, ayo kita lanjutkan mencoba permainan lain," ajak Sany, berusaha mencairkan suasana sambil menunjuk ke arah wahana roller coaster yang tampak menjulang di kejauhan.

"Ayo!" seru mereka kompak, kecuali Rey yang hanya diam mengamati.

Namun, mereka tetap menariknya ikut serta.

Mereka pun menjelajahi berbagai wahana: dari roller coaster yang memacu adrenalin, ayunan raksasa yang membuat jantung berdebar, hingga rumah hantu yang penuh teriakan.

Rey yang awalnya canggung, perlahan mulai tersenyum kecil, bahkan berani menjerit di atas roller coaster.

Hingga matahari mulai naik tinggi, menandakan siang telah tiba. Sebelum pulang, mereka sepakat untuk berfoto bersama di depan patung maskot taman hiburan sebagai kenangan yang tak terlupakan.

Sany menggunakan sihirnya dengan lihai. Kameranya melayang di udara, mengatur sudut dan komposisi seolah-olah dipegang oleh fotografer tak terlihat, lalu *klik!* mengabadikan momen mereka berlima dengan latar taman hiburan yang ramai.

Setelah berfoto, mereka mencari sudut yang sepi. Sany mengaktifkan sihir berpindah tempatnya, mengantar Shida, Kasula dan Fianna ke depan rumah masing-masing dengan efisien.

Terakhir, dia dan Rey berpindah dalam sekejap, di tengah lobi Istana Estburg yang megah.

"Aku masih ada urusan dengan Bianca. Kalau ada apa-apa, kau bisa menemuiku di kantornya," kata Sany sebelum berbalik dan pergi meninggalkan Rey sendirian di lobi.

"Iya," balas Rey singkat. Ada sesuatu yang terencana di matanya.

Begitu Sany cukup jauh, Rey mulai mengikuti diam-diam. Dia berhenti di depan pintu kantor Bianca yang tertutup rapat, lalu menempelkan telinganya. Pengalamannya sebagai prajurit intel di Planetarium membuatnya ahli dalam hal ini.

Tapi anehnya, tidak ada suara yang terdengar. Bukan bisikan atau percakapan, melainkan kesunyian total, seolah-olah ruangan itu terisolasi dari dunia luar.

Ada satu alasan kuat yang membuatnya melakukan ini. Rasa penasaran yang membara tentang hubungan antara Sany dan Komandan Bianca.

Sejak pertama kali melihat Sany berada di dalam kantor Bianca, ada sesuatu yang terasa berbeda. Bukan sekadar hubungan atasan dan bawahan, bukan pula pertemanan biasa. Ada kedekatan, kepercayaan, dan mungkin sebuah rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu.

Saat Rey sedang fokus mencoba mendengar sesuatu dari balik pintu...

"Bah...!"

Tiba-tiba, ada suara yang mengejutkannya. Rey langsung berputar dengan sigap, tubuhnya otomatis dalam posisi siap bertahan.

Rupanya, yang mengagetkannya adalah dua sosok yang sangat dikenalnya: Chika dan Penny. Mereka adalah rekan seangkatannya, dan sekarang mereka menjabat sebagai pihak keamanan di wilayah ini.

Chika, seorang Demi dengan rambut biru pendek yang berkilauan dan sepasang telinga kelinci yang selalu waspada di atas kepalanya.

Dan Penny, seorang manusia dengan rambut merah panjang yang diikat dalam ponytail yang ikut bergoyang setiap kali dia menoleh. Postur tubuhnya yang mungil seringkali membuat orang salah sangka, dia terlihat seperti anak sekolah dasar, padahal di balik itu tersimpan pengalaman tempur yang tak bisa diremehkan.

"Hayo, mau menguping komandan, ya?" tanya Chika dengan nada menggoda, menyoroti tindakan mencurigakan Rey.

"Iih bukan! Ada orang bernama Sany. Aku penasaran dengan hubungannya dengan komandan," bantah Rey cepat, tidak ingin dicap sebagai penyusup.

"Orang itu sekarang ada di dalam kantor komandan," tambahnya, berusaha terdengar meyakinkan.

"Iyakah? Coba aku periksa," kata Penny dengan skeptis, mendekati pintu.

Penny mengetuk pintu kantor komandan dengan tiga ketukan rapi. Hanya beberapa detik kemudian, pintu terbuka, dan Bianca berdiri di ambangnya dengan tatapan pertanyaan.

"Ada apa?" tanya Bianca, matanya berpindah antara Rey, Chika, dan Penny.

"Ah... kami hanya ingin memastikan, apakah benar ada seorang bernama Sany di dalam kantor Komandan, seperti yang dikatakan Rey," kata Penny dengan suara tegang namun tetap formal.

Bianca tidak menjawab. Dia membuka pintu lebih lebar, memperlihatkan interior ruangan. Di sana, duduklah Sany dengan santai di sebuah kursi, sedang asyik menyantap semangkuk camilan dari meja tamu Bianca.

Bersambung...

1
T28J
baiklah saya baca novel pertamanya dulu kak 👍
Dania
semangat tor
Dania: sama"kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!