Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Pagi itu, suasana rumah terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Dewangga sudah berangkat sejak pukul enam pagi karena ada pertemuan mendadak dengan investor asing. Kepergiannya yang terburu-buru meninggalkan keheningan yang dimanfaatkan Siham dengan sebaik-baiknya.
Siham berdiri di depan lemarinya, tangannya yang kurus gemetar saat memasukkan beberapa potong pakaian, laptop, dan berkas-berkas penting ke dalam sebuah koper kecil. Ia tidak hanya membawa keperluan medis, tapi juga keperluan kerja. Hari ini adalah hari besar bagi identitas rahasianya, Aksara Renjana. Ia dijadwalkan melakukan pertemuan Zoom penting dengan produser film dari Global Screen untuk mendiskusikan naskah adaptasi novelnya.
Siham menatap koper itu dengan senyum getir. Ia akan bekerja dari ranjang rumah sakit, tempat yang seharusnya menjadi saksi perjuangan hidupnya, kini juga menjadi kantor bagi karya terakhirnya.
Pak Mamat, sopir setia keluarga Dewangga, sudah menunggu di depan teras. Ia tampak terkejut melihat Siham keluar dengan menyeret koper, meskipun koper itu kecil, namun bagi Siham yang sekarang, benda itu tampak seperti beban yang sangat berat.
"Loh, Bu Siham mau ke mana membawa koper? Bapak tidak bilang kalau Ibu kan cuma ke rumah sakit," tanya Pak Mamat dengan wajah bingung sekaligus khawatir melihat wajah majikannya yang sangat pucat.
Siham memaksakan senyum, meski napasnya terasa pendek. "Saya memang mau ke rumah sakit, Pak Mamat. Mas Dewangga sudah tahu. Saya akan rawat inap beberapa hari untuk observasi, jadi saya bawa keperluan kerja saya juga."
"Oh baik Bu." Jawab pak Mamat.
Pak Mamat segera mengambil alih koper itu. Ia merasa ada yang tidak beres. Tubuh majikannya ini terlihat sangat ringkih, bahkan jaket tebal yang dikenakan Siham seolah tidak mampu menyembunyikan fakta bahwa tubuh di dalamnya telah menyusut drastis.
Sepanjang perjalanan, Siham hanya memejamkan mata. Ia memegang dadanya yang mulai terasa panas dan sesak. Di dalam kepalanya, ia menyusun kalimat-kalimat yang akan ia sampaikan pada produser nanti. Ia ingin film ini menjadi sempurna, sebuah persembahan terakhir sebelum "Aksara Renjana" benar-benar menghilang.
Begitu mobil memasuki lobi Rumah Sakit Utama, sosok pria berkacamata dengan jas putih sudah berdiri di sana. Dr. Aris, dokter spesialis onkologi yang selama ini merawat Siham secara rahasia, telah menunggu bersama seorang perawat yang membawa kursi roda.
"Siham, akhirnya kamu datang," ucap Dr. Aris dengan nada tegas namun penuh keprihatinan.
Pak Mamat yang baru saja turun untuk membukakan pintu mobil terpaku. Ia melihat Suster langsung mengambil alih koper dari tangannya, sementara Dr. Aris membantu Siham duduk di atas kursi roda.
"Ibu... Ibu benar-benar harus pakai kursi roda?" tanya Pak Mamat dengan suara bergetar. Ia sering melihat orang sakit, tapi melihat majikannya yang biasanya tampak tegar kini harus didorong seperti itu, hatinya merasa pilu.
Siham menoleh ke arah Pak Mamat, berusaha memberikan tatapan menenangkan. "Tidak apa-apa, Pak Mamat. Ini prosedur rumah sakit. Pak Mamat kembali saja ke kantor, ya. Jangan lupa sampaikan ke Mas Dewangga kalau saya sudah di rumah sakit."
Pak Mamat hanya bisa mengangguk kaku. Ia berdiri di samping mobil, menatap punggung Siham yang perlahan didorong masuk ke dalam lorong rumah sakit yang dingin dan berbau antiseptik. Perasaannya tidak enak. Sebagai orang yang sudah lama bekerja untuk keluarga itu, ia tahu Dewangga sangat cuek, tapi ia tidak menyangka kondisi Siham sudah separah ini tanpa diketahui suaminya sendiri.
Siham langsung dibawa ke ruang rawat VIP yang sudah dipesan. Begitu pintu tertutup, Dr. Aris langsung memeriksa tanda-tanda vitalnya.
"Siham, saturasi oksigenmu rendah. Kita harus mulai dengan oksigen tambahan sebelum rapatmu dimulai," ujar Dr. Aris.
"Dok, tolong... jam sepuluh nanti saya harus Zoom. Hanya satu jam. Setelah itu, Dokter boleh lakukan apa saja pada saya," pinta Siham dengan mata memohon.
Dr. Aris menghela napas panjang. "Kamu ini penulis atau pejuang, Siham? Baiklah, satu jam. Tapi jika saya lihat kamu mulai sesak hebat, saya akan hentikan rapat itu secara paksa."
Siham mengangguk setuju. Ia segera memasang laptopnya di atas meja overbed. Ia memoles sedikit lip cream untuk menutupi bibirnya yang pucat, dan mengatur sudut kamera agar selang oksigen yang terpasang di hidungnya tidak terlihat jelas oleh produser di layar.
Tepat jam sepuluh, layar laptop menyala. Wajah produser ternama dan sutradara muncul di sana.
"Selamat pagi, Ibu Siham. Senang sekali bisa bertemu secara virtual. Kami sangat terkesan dengan naskah Aksara Renjana. Ini adalah mahakarya," ucap sang Produser.
Siham tersenyum, meski setiap kata yang ia ucapkan terasa seperti menguras seluruh tenaganya. "Terima kasih. Saya ingin memastikan bahwa karakter suaminya tidak digambarkan sebagai orang jahat sejak awal, tapi sebagai orang yang kehilangan arah karena masa lalunya. Saya ingin penonton merasakan betapa sunyinya rumah itu..."
Di tengah diskusi yang intens itu, Siham sesekali menekan dadanya di bawah meja. Ia harus berjuang melawan batuk yang ingin meledak. Ia mematikan mikrofon sesaat ketika ia harus menarik napas panjang agar suaranya tidak terdengar bergetar.
Sementara itu, di kantor pusat Dewangga Group, Pak Mamat berjalan dengan langkah tergesa-gesa menuju ruang kerja CEO. Ia mengabaikan sekretaris Dewangga dan langsung mengetuk pintu.
"Masuk!" suara bariton Dewangga terdengar dari dalam.
Pak Mamat masuk dengan napas yang belum stabil. Dewangga yang sedang memeriksa berkas mendongak dengan kening berkerut. "Ada apa, Mamat? Kenapa wajahmu seperti habis melihat hantu?"
"Bapak... itu... Bu Siham, Pak," ucap Pak Mamat terbata-bata.
Dewangga meletakkan pulpennya. "Kenapa dengan dia? Dia sudah di rumah sakit, kan? Saya yang menyuruhnya tadi malam."
"Iya, Pak. Tapi... kondisi Ibu, Pak. Tadi di rumah sakit, Ibu disambut dokter pribadinya dengan kursi roda. Ibu bahkan membawa koper besar seolah mau menginap lama. Wajah Ibu pucat sekali, Pak, lebih pucat dari yang pernah saya lihat," lapor Pak Mamat dengan nada sangat khawatir. "Suster dan dokter langsung membawa Ibu masuk ke ruang perawatan khusus. Sepertinya bukan sekadar pemeriksaan biasa, Pak."
Dewangga terdiam. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Kursi roda? Mengapa Siham butuh kursi roda hanya untuk pemeriksaan yang katanya lemas sedikit itu?
"Mamat, kamu serius? Tadi malam dia masih bisa jalan ke dapur sendiri," tanya Dewangga, mencoba mencari pembenaran untuk egonya.
"Saya serius, Pak. Ada yang tidak beres. Ibu sepertinya menyembunyikan sesuatu yang besar dari Bapak. Dokter itu... Dr. Aris, dia terlihat sangat akrab dengan kondisi Ibu, seperti sudah lama menangani Ibu," tambah Pak Mamat lagi.
Dewangga menyandarkan punggungnya ke kursi. Kalimat Pak Mamat tentang menyembunyikan sesuatu menghantamnya seperti palu godam. Ia teringat kembali betapa ringannya tubuh Siham di pangkuannya semalam. Ia teringat betapa dinginnya kulit istrinya itu.
"Siapkan mobil," perintah Dewangga tiba-tiba. Suaranya dingin, namun ada getaran kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
"Sekarang, Pak? Tapi rapat dengan dewan direksi sepuluh menit lagi—"
"BATALKAN!" bentak Dewangga sembari menyambar jasnya. "Siapkan mobil sekarang juga!"
Dewangga melangkah keluar ruangan dengan langkah lebar. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, urusan bisnis tidak lagi menjadi prioritas utamanya. Di dalam mobil menuju rumah sakit, Dewangga terus mencoba menghubungi nomor Siham, namun tidak diangkat. Ia tidak tahu bahwa saat itu, Siham sedang mempertaruhkan sisa napasnya untuk berbicara dengan produser tentang naskah yang terinspirasi dari kekejaman suaminya sendiri.
Dewangga mengepalkan tangannya. "Siham... apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku?" bisiknya penuh amarah yang bercampur dengan ketakutan yang mendalam.
Ia tidak tahu, bahwa jawaban yang akan ia temukan di rumah sakit nanti akan menjadi luka yang tidak akan pernah sembuh seumur hidupnya.