NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Setelah hari yang panjang di kantor pusat Pratama Group, Diandra harus kembali mengenakan topengnya sebagai Gia.

Ia berjalan melewati gerbang sekolah dengan tenang, membawa status barunya sebagai konsultan khusus korporasi raksasa yang tersimpan rapi sebagai rahasia besar.

Diandra tahu, sekolah ini adalah medan perang pertamanya sebelum ia menghancurkan Mita.

Di sudut koridor, dua pasang mata menatap kedatangannya dengan kilat penuh dendam. Kinanti dan Ferdian berdiri bersedekah dada. Insiden di kantin beberapa hari lalu—saat Gia mempermalukan mereka di depan ratusan murid—masih menyisakan luka parah pada harga diri mereka yang tinggi.

"Aku tidak sudi melihat anak haram itu berjalan dengan kepala tegak," desis Kinanti, kukunya mencengkeram ponsel dengan erat.

Ferdian tersenyum licik, sebuah senyuman yang menyembunyikan rencana busuk.

"Tenang saja, Kinan. Hari ini kita akan memastikan dia tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di sekolah ini lagi. Bahkan dunia luar pun akan menutup pintu untuknya."

Saat bel masuk berbunyi dan kelas dalam keadaan kosong karena seluruh murid berada di aula untuk pengarahan, Ferdian secara diam-diam menyelinap ke bangku Gia.

Dengan gerakan cepat, ia membuka ritsleting tas ransel kumal milik gadis itu dan memasukkan sebuah bungkusan plastik bening berisi bubuk putih serta sebuah dompet kulit bermerek milik salah satu guru.

Dua jam kemudian, ketenangan kelas mendadak pecah.

Pintu ruang kelas digebrak kasar. Dua orang petugas kepolisian berseragam lengkap masuk bersama Kepala Sekolah dan Wali Kelas.

"Perhatian semuanya, tetap di tempat masing-masing!" seru salah satu polisi dengan tegas.

"Kami menerima laporan adanya tindakan pencurian dan kepemilikan zat terlarang di kelas ini. Kami akan melakukan penggeledahan."

Kinanti dan Ferdian saling melirik,

menyembunyikan senyum kemenangan mereka.

Polisi langsung berjalan lurus ke arah bangku Gia.

Tanpa permisi, petugas merenggut tas ransel Gia dan membalikkan isinya ke atas meja.

Di antara buku-buku tulis yang usang, sebuah bungkusan plastik berisi narkoba dan dompet kulit terjatuh dengan suara berdebuk yang nyaring.

Seluruh murid di kelas langsung riuh, berbisik-bisik penuh kengerian.

"Gia, apa maksud semua ini?!" bentak Kepala Sekolah dengan wajah memerah.

Diandra menatap barang-barang di atas mejanya dengan tatapan dingin.

Ia tidak tampak panik sedikit pun, melainkan hanya menatap bergantian ke arah Kinanti dan Ferdian yang berpura-pura syok.

"Ini bukan milikku!!" ucap Diandra dengan suara yang lantang dan tegas, matanya berkilat tajam menembus ketakutan para penuduhnya.

"Bukti sudah jelas ada di dalam tasmu, Nak. Kamu harus ikut kami ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut," ujar petugas polisi sambil menarik paksa kedua tangan Gia ke belakang.

Klek.

Kedua pergelangan tangan kecil itu kini terkunci oleh borgol besi yang dingin.

Kinanti hampir saja bersorak kegirangan melihat pemandangan tersebut.

"Bawa dia," perintah polisi.

"Tunggu!!"

Sebuah teriakan histeris memecah ketegangan. Anita berdiri dari bangkunya dengan tubuh gemetar hebat namun matanya memancarkan keberanian yang luar biasa.

Ia berlari ke depan kelas, menghadang para petugas yang hendak membawa sahabatnya.

"Tunggu! Jangan bawa Gia! Polisi, tolong dengar penjelasan saya dulu! Ini semua jebakan!" teriak Anita dengan suara serak, berusaha sekuat tenaga melindungi Diandra yang kini berada dalam raga sahabatnya.

"Itu gula halus untuk donat dan itu dompet milikku yang aku titipkan ke Gia!" ucap Anita dengan lantang, memotong pergerakan polisi yang hendak menyeret Diandra.

Suasana kelas mendadak hening. Polisi itu mengernyitkan dahi, menurunkan bungkusan plastik tersebut lalu membukanya sedikit.

Setelah memeriksa baunya, polisi itu tampak ragu. "Ini... memang seperti gula halus."

"Tentu saja! Kami tadi pagi berniat membuat donat, tapi tidak jadi." lanjut Anita, berbohong dengan sangat meyakinkan demi melindungi sahabatnya. "Dan dompet itu adalah dompetku! Aku sengaja menitipkannya pada Gia karena ritsleting tasku rusak."

Kinanti yang melihat rencananya mulai goyah langsung berteriak panik, "Bohong! Jelas-jelas itu dompet milik Kepala Sekolah yang dilaporkan hilang tadi pagi! Polisi, periksa saja isi dompet itu!"

Mendengar hal itu, Diandra (Gia) justru tersenyum miring.

Dengan pergelangan tangan yang masih diborgol, ia menatap Kinanti dengan pandangan meremehkan.

"Menarik sekali. Bagaimana bisa kamu tahu kalau dompet Kepala Sekolah hilang tadi pagi, Kinanti? Padahal Kepala Sekolah baru saja masuk ke kelas ini dan belum sempat mengumumkan dompet siapa yang hilang."

Wajah Kinanti seketika pucat pasi. "A-aku... aku hanya menebak!"

Dengan bantuan Anita yang terus mengalihkan perhatian polisi dan pihak sekolah dengan argumennya, Diandra menggunakan kemampuan taktisnya yang luar biasa.

Saat perhatian semua orang tertuju pada perdebatan Anita dan Kinanti, Diandra memanfaatkan celah dari borgol yang sengaja dilonggarkannya sejak awal dengan kemampuan fisik tersembunyi.

Sebelum razia melebar ke seluruh area sekolah, Diandra telah berhasil menukar barang bukti yang asli.

Menggunakan gerakan tangan yang sangat cepat dan tidak terlihat, ia mengambil kembali dompet Kepala Sekolah yang asli dan bungkusan narkoba yang sebenarnya—yang sempat ia amankan di saku jaketnya sebelum polisi menggeledah—lalu menjatuhkannya ke dalam tas Kinanti yang posisinya sangat dekat dengannya.

"Untuk membuktikannya, kenapa kita tidak melakukan razia menyeluruh ke loker dan tas semua murid?" tantang Diandra dengan nada tenang.

"Siapa tahu, pencuri yang sebenarnya sedang mencoba memfitnah saya."

Kepala Sekolah yang merasa ada yang janggal segera menyetujui.

"Petugas, tolong periksa loker dan tas siswi di barisan depan."

Polisi langsung bergerak memeriksa tas milik Kinanti yang berada di atas mejanya.

Saat polisi merogoh bagian dalam tas bermerek tersebut, mata petugas itu membelalak.

Ia mengeluarkan sebuah dompet kulit hitam besar dan sebungkus plastik bening berisi bubuk putih yang asli.

"Ini, dompet kulit dengan inisial nama saya!" seru Kepala Sekolah dengan wajah syok. "Dan ini baru narkoba yang asli!"

"Tidak mungkin! Itu bukan milikku! Gia yang menaruhnya di sana! Dia menjebakku!" jerit Kinanti histeris, wajahnya mendadak dibanjiri keringat dingin.

"Bukti sudah jelas ada di dalam tas Anda, Nona," ucap polisi itu dengan tegas.

Tanpa membuang waktu, polisi tersebut melepaskan borgol dari tangan Diandra dan langsung memasangkannya ke pergelangan tangan Kinanti dengan kasar.

Klek!

"Lepaskan aku! Papa! Tolong Kinan, Pa!" Kinanti

berteriak dan menangis histeris saat diseret oleh dua polisi melewati koridor sekolah yang kini dipenuhi oleh ratusan murid yang menonton.

Reputasi geng Kinanti yang selama ini menguasai sekolah hancur berkeping-keping dalam satu kedipan mata untuk pertama kalinya.

Diandra berdiri di ambang pintu kelas, bersedekah dada sambil menatap kepergian musuh kecilnya itu dengan senyum kemenangan yang dingin.

Satu parasit di sekolah telah dibersihkan, dan kini target selanjutnya adalah Ferdian.

Kepala Sekolah berdehem canggung, membetulkan letak kacamatanya sambil memandang Gia dengan tatapan yang kini dipenuhi rasa bersalah sekaligus ketakutan.

Di hadapan seluruh murid yang masih berbisik-bisik di koridor, ia menundukkan kepalanya sedikit.

"Gia, atas nama pihak sekolah, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya karena telah salah menuduhmu. Kami bertindak terlalu cepat tanpa memeriksa kebenaran terlebih dahulu," ucap Kepala Sekolah, berusaha meredam situasi agar nama baik sekolah tidak semakin tercoreng.

Diandra, dalam raga Gia, tidak lantas tersenyum ramah atau menerima permintaan maaf itu dengan kepatuhan seorang murid biasa.

Ia justru melipat kedua tangannya di dada, menatap sang Kepala Sekolah dengan sorot mata yang begitu mengintimidasi—tatapan seorang petinggi korporat yang sedang menyidang bawahannya yang lalai.

"Minta maaf? Itu saja?" tanya Diandra, suaranya terdengar renyah namun dingin, menggema di antara keheningan kelas.

Kepala Sekolah tersentak. Ia tidak menyangka akan mendapat reaksi sekeras ini dari seorang siswi yang biasanya dikenal pendiam dan tertindas. Wajahnya memerah karena merasa wibawanya kembali diuji.

"Lalu, apa yang kamu inginkan, Gia?" tanya Kepala Sekolah akhirnya, berusaha menahan kekesalannya sambil melirik ke arah murid-murid lain yang menonton.

"Kekeliruan ini sudah diluruskan, dan Kinanti pun sudah dibawa oleh pihak berwajib."

Diandra melangkah satu tindak lebih maju, membuat Kepala Sekolah secara refleks mundur selangkah.

"Saya hampir saja diseret ke penjara, nama baik saya dipertaruhkan, dan sahabat saya, Anita, harus ikut berteriak histeris hanya untuk menegakkan keadilan yang hampir kalian injak-injak," ucap Diandra dengan penekanan di setiap kata.

"Saya tidak butuh permohonan maaf formalitas yang diucapkan setengah hati demi menyelamatkan muka sekolah ini."

Diandra melirik ke arah Ferdian yang kini duduk pucat pasi di sudut kelas, gemetar menyaksikan bagaimana runtuhnya Kinanti dalam hitungan menit.

"Pertama, saya ingin pemulihan nama baik secara tertulis di mading sekolah dan pengumuman resmi saat upacara besok pagi," tegas Diandra.

"Kedua, saya ingin pihak sekolah mengusut tuntas siapa saja kaki tangan Kinanti yang ikut membantu menyelundupkan barang-barang itu ke tas saya. Karena saya yakin, Kinanti tidak bekerja sendirian."

Mendengar tuntutan kedua, keringat dingin langsung bercucuran di pelipis Ferdian.

Ia tahu, jika sekolah melakukan penyelidikan mendalam, rekaman CCTV koridor atau sidik jarinya di tas Gia bisa saja terungkap.

Kepala Sekolah menghela napas panjang, tidak punya pilihan lain selain mengangguk pasrah.

"Baik... Baik, Gia. Semua tuntutanmu akan saya penuhi. Sekolah akan melakukan penyelidikan menyeluruh."

Diandra tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kemenangan yang membuat siapa pun yang melihatnya merinding.

"Terima kasih, Kepala Sekolah. Saya pegang janji Anda."

Ia lalu berbalik menatap Anita yang langsung mengacungkan jempol dengan mata berbinar bangga.

Diandra tahu, satu benteng pertahanan musuh di sekolah ini telah runtuh, dan kini giliran Ferdian yang sedang menghitung hari menuju kehancurannya sendiri.

1
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!