“Jangan pernah kembali ke rumah ini sebelum membawa laki-laki itu, untuk bertanggung jawab.”
Diana Rosemery Falika merasa hidupnya runtuh: diusir dari rumah karena kehamilan, dikhianati oleh laki-laki yang mengambil kehormatannya lalu menghilang tanpa jejak.
Di tengah kesedihannya, Aksatama Dikara hadir sebagai penopang—membantunya bangkit, dan perlahan membuat hatinya kembali percaya pada cinta.
Namun saat ia mulai berdamai dengan masa lalu, sosok yang menghilang itu kembali… Tibra Janari Sajana muncul membawa sebuah fakta mengenai transaksi rahasia yang berpotensi mengubah segalanya—fakta yang bisa menyeret Diana kembali pada luka yang sama.
Kini Diana harus memilih: menyambut masa lalu yang kembali menuntut tempat, atau menjauh demi melindungi hatinya sendiri.
Spin-off Rush Wedding. Lanjutan kisah Diana dan Tibra—dua hati dari dua kasta berbeda. Sebagian kisah awal mereka bisa ditemukan di novel pertama, namun buku ini dapat dinikmati secara terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muffin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Geng Rohto!
.......
.......
...🍓🍓🍓...
“Maaf, Pak … saya belum kepikiran untuk mencari calon. Saya ingin fokus pada pengembangan desa.”
Subangkit terdiam. Tatapannya menelisik wajah Raka beberapa detik lebih lama dari biasanya. Lalu ia mengangguk pelan, seolah menerima jawaban itu.
“Kamu punya potensi besar, Raka,” ujarnya tenang. “Dan saya suka idealismemu. Fokus pada desa itu bagus.”
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, jari-jarinya saling bertaut di atas meja.
“Tapi kamu juga harus realistis.”
Raka tetap diam.
“Membangun desa tidak cukup hanya dengan niat baik dan program kerja,” lanjut Subangkit, suaranya menurun setingkat lebih rendah. “Perlu jaminan. Perlu jaringan. Perlu … dukungan yang kuat.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit.
“Kamu pasti tahu, pemilihan selanjutnya tidak sesederhana laporan kinerja selama kamu menjabat. Akan ada banyak pertimbangan. Banyak yang ingin duduk di kursimu.”
Raka mulai merasakan napasnya memberat.
“Kalau kamu menjadi bagian dari keluarga saya,” kata Subangkit lebih pelan, “Saya bisa pastikan posisi kamu, aman!”
Hening sesaat. Hanya terdengar dengung mesin pendingin ruangan.
Subangkit menatap Raka tajam, menunggu jawaban. Sementara Raka menelan ludah, dadanya terasa sesak.
Kalimat itu membuatnya sadar satu hal.
Menjadi kepala desa bukan hanya soal membangun desa yang layak bagi warga.
Kadang, yang paling sulit justru menjaga diri sendiri agar tidak terseret arus kepentingan yang lebih besar dari jabatannya.
Sementara itu, di sudut lain—
Jenar duduk di balkon kamarnya. Langit senja perlahan memudar, menyisakan semburat jingga yang menyelinap di antara awan tipis.
Angin berembus pelan, menggerakkan helaian rambutnya hingga menutupi sebagian wajah.
Di tangannya, ponsel menyala saat satu notifikasi muncul.
Akun Instagram resmi Desa Sukojati.
Bibirnya melengkung tipis.
Cepat-cepat ia mengetuk layar.
Foto pertama menampilkan lahan pertanian yang siap ditanami. Hamparan sawah hijau terbentang luas di bawah langit cerah.
Ia menggeser ke foto berikutnya.
Menampilkan sosok yang ia cari lagi berdiri di tengah sawah, dikelilingi warga yang sedang menanam padi. Lengan kemejanya digulung sampai siku, wajahnya serius saat menjelaskan penyuluhan pupuk organik.
Jenar memperbesar gambar itu.
“Mas Raka…” desisnya pelan.
Sudut bibirnya terangkat. Tatapannya melembut, namun ada tekad yang justru semakin mengeras di dalam dirinya.
Pria itu bukan hanya pantas dikagumi.
Ia pantas dimiliki.
Jemarinnya menyentuh layar, seolah bisa meraih sosok di dalamnya. “Aku akan buat kamu memilihku, Mas!”
“Hanya … Aku!”
...----------------...
“Bini lo kapan lahiran, Ja?”
Kala menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu yang keras. Ia mengembuskan napas panjang, tampak puas setelah menghabiskan coffee caramel-nya hingga hanya menyisakan tumpukan es batu di dasar gelas.
Rajata hanya melirik sekilas dari balik layar laptop. Jemarinya masih menari lincah di atas keyboard, bergelut dengan draf laporan yang tampaknya enggan ia tunda sedetik pun.
“Bulan depan. Doain aja lancar,” jawabnya pendek tanpa mengalihkan fokus.
“Gila, ya ... nggak nyangka gue, lo berdua akhirnya jadi bapak juga!” celetuk Jevan tanpa beban.
Seketika, keriuhan kecil di meja itu membeku. Aksa yang sedari tadi menunduk menekuni game di ponselnya, refleks mengangkat kepala. Tatapannya, bersamaan dengan Rajata dan Kala, menghujam tajam ke arah Jevan. Atmosfer di sudut kafe itu mendadak turun beberapa derajat, membuat pemuda berdarah cindo yang baru saja hendak menggigit donatnya ragu untuk mengunyah.
“Loh, kenapa? Gue bener, kan?” Jevan membela diri, matanya beralih pada Tibra yang duduk paling tenang di antara mereka. “Tibra dan Rajata emang udah punya anak, kan?”
Kala yang gemas lantas menyambar sepotong kentang goreng dan melemparnya tepat ke arah dada Jevan. “Mulut lo! Bisa diem nggak?!” desisnya pedas.
Sementara itu, yang jadi pusat perhatian tidak bergeming. Ia seolah tersesat di dunianya sendiri, menatap layar ponsel yang menyala redup. Di sana, terpajang wallpaper seorang bayi yang masih merah, nampak begitu mungil dan rapuh. Ujung ibu jarinya mengusap layar itu dengan gerakan sangat perlahan—sebuah gestur pilu, seolah ia sedang berusaha menyentuh kulit asli sang putra yang belum pernah ia timang.
Aksa berdehem pelan. Ia meletakkan ponselnya ke meja, lalu menatap sahabatnya dengan raut prihatin.
“Lo beneran nggak bisa nemuin Diana di mana, Bra?”
Yang ditanya hanya menggeleng lemah. “Belum,” jawab Tibra singkat. Suaranya serak, menyimpan kelelahan yang tak mampu dijelaskan lewat kata-kata.
Aksa beralih ke pria di sampingnya. “Lo, Ja? Lo bisa nemuin Tibra di Melbourne waktu itu, masa lo nggak bisa nemuin Diana sekarang? Minimal bokap lo pasti punya akses, kan?”
Rajata akhirnya menutup layar laptopnya lalu menatap satu per satu sahabatnya sebelum menyesap minumannya yang mulai dingin.
”Bukan nggak bisa,” ujar Rajata dengan nada datar yang sarat otoritas. “Cuma gue nggak mau bantuin.”
“Kenapa?” tanya Kala spontan.
“Biar dia usaha sendiri.” Rajata melirik Tibra yang masih menunduk. “Diana pergi juga karena dia kelamaan gerak, kan? Biar dia berjuang sendiri kalau emang mau Diana-anaknya balik.”
Hening menyergap. Alunan musik jazz dari pengeras suara kafe yang tadinya terdengar santai, kini justru terasa menyiksa telinga. Ada ketegangan antara rasa solider dan realitas pahit yang menggantung di udara. Kala yang duduk paling dekat dengan Tibra akhirnya mengulurkan tangan, menepuk pundak pria itu dengan mantap—berusaha menyalurkan sedikit kekuatan.
“Udah ... kalau jodoh nggak bakal ke mana, Bra. Yang penting lo jangan putus asa nyarinya.”
Tibra hanya mengangguk pelan, meski matanya tetap terpaku pada layar ponsel yang sudah menggelap. Di dalam kepalanya, janji itu terpatri kuat: ia tidak akan berhenti sampai menemukan dua orang yang kini menjadi separuh hidupnya.
Aksa yang merasa suasana mulai terlalu mencekam segera mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ngomong-ngomong, lo beneran mau buka proyek logistik baru, Ja?”
Rajata membenarkan posisi duduknya, seketika kembali ke mode profesional. “Iya. Gue mau perluas jangkauan, kali ini fokus ke jalur pertanian. Gue nggak mau para petani terus-terusan dicekik tengkulak karena potongan harga yang nggak masuk akal.”
“Wah, ide bagus tuh. Target lokasinya di mana?”
“Jawa Timur. Gue lagi cari titik yang akses jalur lautnya paling strategis buat distribusi ke luar pulau. Banyuwangi salah satu opsi gue, sih!”
“Wah, bakalan dinas di Jawa dong lo?” tanya Kala dengan nada yang lebih antusias, mencoba menghidupkan suasana.
Rajata menggeleng pelan, lalu melirik ke arah sahabat sekaligus partner kerjanya yang masih bergeming.
“Bukan gue. Tibra yang bakal pegang kendali penuh buat proyek itu besok!”
...Halo semuanya ✨...
...Selamat menunaikan ibadah puasa yaaa 🤍 Bacanya habis tarawih aja biar makin syahdu hihi\~...
...Tebak tebakan yukk bab selanjutnya ada apaaa? Hihi ...
...kaliam udah nemu clue kan dari bab ini??? ...
...Masih banyak kejutan yang udah aku siapin 🤭🔥...
...Stay tuned terus yaaa!!...