Dhita selalu percaya bahwa pernikahan yang ia bangun dengan Reza adalah rumah yang kokoh—tempat ia menaruh seluruh harapan, kasih sayang, dan kesetiaannya. Namun semua runtuh ketika cinta pertama Reza kembali muncul, menghadirkan bayang-bayang masa lalu yang tak pernah benar-benar padam.
Dalam hitungan hari, Dhita yang selama ini berjuang mempertahankan rumah tangga justru dipaksa menerima kenyataan pahit: Reza menceraikannya demi perempuan yang pernah ia cintai bertahun-tahun lalu. Luka itu dalam, merembes sampai ke bagian hati yang Dhita pikir sudah kebal.
Di tengah serpihan hidup yang berantakan, Dhita harus belajar berdiri lagi—menata hidup tanpa sosok yang selama ini ia sayangi, menghadapi pandangan orang, dan menerima bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan berakhir. Namun Tuhan tak pernah meninggalkan hati yang hancur. Dalam perjalanan menyembuhkan diri, Dhita menemukan kekuatan yang tak pernah ia sadari, serta harapan baru yang perlahan mengetuk pintu hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Menikah
Pagi itu langit tampak cerah, seolah ikut merestui hari besar yang telah lama direncanakan. Gedung pernikahan dihias dengan dominasi warna putih gading dan sentuhan emas lembut. Rangkaian bunga segar tersusun rapi di sepanjang lorong, memancarkan aroma harum yang menenangkan. Para tamu berdatangan dengan wajah-wajah penuh harap, membicarakan kebahagiaan yang sebentar lagi akan diikrarkan di pelaminan.
Reza duduk tegap mengenakan setelan jas hitam. Wajahnya terlihat tenang, meski ada sesuatu yang lebih dalam di balik sorot matanya—sesuatu yang tak sepenuhnya bisa disebut gugup. Ini bukan pertama kalinya dia duduk di kursi akad, bukan pula pertama kalinya dia menunggu ijab kabul mengalir dari bibirnya. Dulu, di tempat yang berbeda, dengan dekorasi yang juga tak kalah indah, dia pernah melakukan hal yang sama bersama Dhita. Kenangan itu sempat melintas sekilas, seperti bayangan yang datang tanpa diundang, lalu berlalu. Reza menarik napas pelan, meyakinkan dirinya bahwa hari ini adalah langkah baru, meski jejak masa lalu tak mungkin benar-benar dihapus.
Musik lembut mengalun, menandai kedatangan pengantin perempuan. Tari melangkah masuk dengan anggun, mengenakan gaun putih berpotongan sederhana namun elegan. Wajahnya berseri, senyumnya merekah, seolah tak menyisakan ruang bagi keraguan. Namun di balik sorot matanya, tersimpan kesadaran penuh bahwa lelaki yang akan menjadi suaminya hari ini pernah mengucapkan janji serupa pada perempuan lain. Kesadaran itu tak membuatnya gentar—justru menjadi alasan mengapa dia berdiri di sini, memilih dengan sadar, bukan sekadar berharap.
Tatapan Reza dan Tari bertemu di pelaminan. Ada getar halus di dada Reza, perasaan yang berbeda dari dulu. Jika pada pernikahan pertamanya dia melangkah dengan keyakinan polos, hari ini dia melangkah dengan pemahaman: tentang kegagalan, tentang kehilangan, dan tentang konsekuensi dari setiap janji. Tari duduk di sampingnya, bahu mereka berdekatan, membawa keheningan yang terasa sakral.
Prosesi akad berlangsung khidmat. Suara penghulu memandu dengan tenang. Saat Reza mengucapkan ijab kabul, suaranya terdengar mantap, tak terbata. Kalimat itu selesai dalam satu tarikan napas—lebih cepat, lebih pasti, seolah dia tak ingin memberi ruang bagi keraguan apa pun. Kata “sah” menggema, disusul helaan napas lega dari banyak orang. Tari menunduk, air mata menetes perlahan, sementara Reza memejamkan mata sesaat. Dalam hatinya, dia tahu, janji ini bukan sekadar pengulangan dari masa lalu, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Reza menggenggam tangan Tari. Hangat. Nyata. Bukan tangan Dhita yang dulu pernah dia genggam dengan janji serupa. Perbandingan itu muncul singkat, lalu hilang, tergantikan oleh kesadaran bahwa setiap pernikahan membawa takdirnya sendiri. Tari membalas genggaman itu erat, seolah berkata tanpa suara bahwa dia siap berjalan bersama, dengan segala bayang-bayang yang mungkin mengikuti.
Ucapan selamat mengalir dari para tamu. Senyum, doa, dan pelukan mengiringi mereka di atas pelaminan. Dari luar, pernikahan itu tampak sempurna—penuh kebahagiaan dan harapan. Namun di antara senyum yang terukir, terselip cerita tentang masa lalu yang telah terjadi dan masa depan yang belum sepenuhnya terbaca.
Hari itu, Reza resmi menikahi Tari. Bukan sebagai lelaki yang sama seperti saat dia menikahi Dhita, melainkan sebagai seseorang yang telah belajar dari runtuhnya janji lama. Pernikahan ini menjadi babak baru—bukan untuk mengulang kesalahan, melainkan untuk menebus, memperbaiki, dan mencoba kembali percaya bahwa cinta, meski pernah gagal, tetap layak diperjuangkan.
Kasak-kusuk itu muncul pelan, nyaris tenggelam oleh alunan musik lembut dan suara doa yang baru saja selesai dipanjatkan. Namun bagi telinga-telinga yang terbiasa mencari bahan cerita, bisik-bisik itu justru terdengar jelas.
"Jeng, menurut aku cantikan istri yang dulu ya,” seorang perempuan setengah baya berbisik sambil mencondongkan tubuh ke arah temannya. Matanya melirik sekilas ke arah pelaminan. “Wajahnya lembut, cantiknya juga kalem, pakaiannya sopan. Yang dulu itu cantiknya luar dalam. Kalau yang ini…” Dia menggantung kalimatnya sejenak, lalu melanjutkan dengan nada meremehkan, “agak sombong kelihatannya.”
Temannya menutup mulut, berusaha menahan tawa, lalu menyenggol lengan si pembisik. “Hus, kamu itu ya… kedengaran Bu Lastri baru tahu rasa.” Katanya setengah berbisik, setengah menertawakan, seolah gosip itu hanyalah hiburan ringan di tengah pesta sakral.
Bisikan-bisikan serupa berpindah dari satu bangku ke bangku lain. Ada yang mengangguk setuju, ada pula yang hanya tersenyum canggung. Nama Dhita kembali melayang di udara, disebut-sebut lirih sebagai pembanding yang tak diundang, namun selalu hadir dalam ingatan sebagian orang.
Di atas pelaminan, Reza tetap tersenyum, meski matanya sempat menangkap lirikan-lirikan aneh dari arah tamu. Tari pun duduk tegak dengan senyum terlatih, seolah tak mendengar apa pun. Namun di dalam hatinya, dia sadar betul—pernikahan ini bukan hanya tentang dua orang yang saling mengikat janji, melainkan juga tentang penilaian, perbandingan, dan masa lalu yang belum sepenuhnya dilepaskan oleh banyak orang.
Akad itu tetap sah. Doa tetap dipanjatkan. Namun di sela-sela ucapan selamat dan senyum manis, bisik-bisik kecil itu menjadi pengingat sunyi: bagi sebagian orang, masa lalu Reza akan selalu ikut duduk di bangku tamu, tak peduli seberapa indah dekorasi hari ini.
Senyum Bu Lastri tak pernah lepas dari wajahnya sejak awal prosesi hingga akad dinyatakan sah. Duduk anggun di deretan keluarga mempelai pria, dia tampak begitu puas, bahkan sesekali mengangguk kecil seolah membenarkan pilihannya sendiri. Baginya, hari ini adalah kemenangan yang lama dinanti. Akhirnya Reza memiliki istri yang menurutnya benar-benar sepadan. Bibit, bebet, dan bobot Tari jelas—asal-usulnya terhormat, pergaulannya luas, dan latar belakang keluarganya dianggap pantas berdampingan dengan keluarga mereka.
Tak ada lagi keraguan, tak ada lagi perasaan "kurang” seperti yang dulu pernah diam-diam dia rasakan. Bu Lastri tersenyum lebar setiap kali pandangannya tertuju ke pelaminan, menatap Tari dengan kebanggaan yang nyaris berlebihan. Dalam hatinya, dia merasa Reza telah membuat keputusan yang benar kali ini—keputusan yang, menurutnya, jauh lebih baik dari pilihan sebelumnya.
Di pihak mempelai wanita, pemandangan yang hampir serupa terlihat. Ayah dan ibu Tari pun tak henti tersenyum, menerima uluran tangan para tamu dengan wajah cerah. Namun senyum mereka memiliki rasa yang berbeda. Jika senyum Bu Lastri lahir dari kepuasan sosial dan gengsi keluarga, senyum orang tua Tari menyimpan hitung-hitungan yang lebih dingin.
Bagi mereka, Reza bukan semata-mata menantu, melainkan jalan pintas. Jalan tercepat untuk kembali berdiri di puncak, mengembalikan kekayaan yang sempat tergerus, dan menutup lubang-lubang kerugian yang selama ini disembunyikan rapat-rapat. Pernikahan ini adalah investasi—ikatan yang diharapkan mampu membuka kembali akses, jaringan, dan kekuasaan finansial yang dulu pernah mereka miliki.
Mereka tersenyum saat menatap Tari di pelaminan, bukan hanya sebagai anak perempuan yang kini resmi menjadi istri, tetapi sebagai kartu penting yang telah dimainkan dengan tepat. Di balik doa-doa yang terucap, terselip harapan-harapan yang jauh dari kata sederhana.
Di hari yang sama, di ruang yang sama, senyum-senyum itu berdampingan—tampak serupa di mata orang lain, namun menyimpan niat yang berbeda. Pernikahan Reza dan Tari pun bukan sekadar penyatuan dua hati, melainkan pertemuan dua kepentingan, dua keluarga, dan dua ambisi yang kini terikat dalam satu janji suci.
semangat ok