Pernikahan sebuah komitmen yang panjang, istri cantik, pekerja keras, mapan, tetaplah dicari kurangnya. Suami yang tidak bersyukur tidak akan pernah merasa cukup sebaik apapun pasangannya.
***
Kania kehilangan rumah tangga bahagia yang dia bina selama 10 tahun, dia kalah, tersingkirkan bahkan dikhianati karena satu kekurangannya yang belum bisa memberikan keturunan.
Kekurangan itu menjadi alasan untuk membela dirinya saat dia sudah terdesak dari segala arah.
Ditengah badai, sepi, dan sakit, Kania bertemu malaikat cantik yang mandiri, kuat juga selalu memberikan kenyamanan. Pertemuan dengan Alia, alasan utama Nia jika dirinya juga istimewa dan pantas untuk punya kebebasan.
Lanjut baca ya kita lihat penyesalan Amer, kehancuran pelakor, dan jalan baru yang Nia lewati.
***
follow Ig vhiaazaira
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vhia azaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAIK-BAIK
Wajah Kania panik, dia berlarian ke rumahnya, tapi tidak nampak kedua anaknya pulang ke rumah.
"Apa di rumah El?" Nia berlari keluar lagi, mengecek rumah El yang terkunci.
Nia berlari masih memakai heels, dia ngos-ngosan menuju minimarket, tapi tidak terlihat keberadaan Lia dan Dea. Pilihan terakhir ada di Coffe shop, ternyata belum buka.
"Di mana mereka?" Nia mengusap keringat dikening nya.
Dari jauh Lia dan Dea menatap ibu Nia yang ngos-ngosan, binggung apa yang dilakukannya sampai lari-larian.
"Ibu," panggilnya.
Kepala Nia menoleh, dia menarik napas lega menatap dua anak kecil memegang ice cream berjalan ke arahnya.
"Ibu kenapa?"
"Lia baik-baik saja, apa ada yang menganggu pikiranmu?"
Kepala Lia menggeleng, dia merasa baik. Tidak ada yang menganggu pikirannya. Selama ada uang, bisa jajan, tidak ada masalah bagi Lia.
"Ibu mencemaskan Lia, aku sudah besar." Gigi nyengir.
Nia memeluk lembut, satu tangannya meraih Dea yang langsung dipeluk juga.
Tidak ada yang paling berharga selain Lia dan Dea, Nia tidak punya orangtua lagi, tidak ada saudara, dirinya hanya seorang diri.
"Kenapa ibu menangis?"
"Ibu cariin kalian, tapi tidak ada."
Air mata diusap, Lia meyakinkan bisa jaga diri dan menjaga adiknya.
"Ayo kita pulang, ibu buatkan makanan." Nia mengandeng keduanya.
"Hah makan di rumah, katanya mau nongkrong di coffe shop?" bibir Dea manyun, dia belum pernah main ke cafe.
Senyuman Nia terlihat, nanti dia akan menemani keduanya pergi ke cafe. Mereka bisa memesan cake dan minuman yang segar.
Di depan gerbang rumah sudah berdiri dua orang, sengaja menunggu kepulangan Nia.
"Akhirnya kamu pulang, ibu sudah menunggu."
"Temui Amer di penjara, dia tidak tinggal disini lagi." Nia meminta Lia dan Dea masuk lebih dulu.
Bapak Amer mendekati Nia, menantunya tidak punya sopan santun, bertemu orangtua bukannya dipersilahkan masuk, diberi minum, tapi dimintai segera pergi.
"Rumah ini juga hak Amer, kamu tidak bisa mengusirnya."
"Dari mana letaknya hak Amer?"
Ibu tertawa lucu, sepuluh tahun menikah. Kania memanfaatkan Amer untuk memajukan bisnis keluarga, tapi tidak menganggap sedikitpun perannya.
"Saya sangat menghargai kerja Amer, terima kasih banyak. Tetapi, apa saya harus menujukkan bukti penggelapan dana yang Amer lakukan?" Nia tidak ingin mengungkit, tapi Nia sudah cukup mengalah.
Seandainya Amer tahu diri, pernikahan mereka sudah berjalan baik, kenapa harus ada kebohongan. Kania paham dirinya tidak bisa memberikan keturunan, tapi selama ini bukan usaha memiliki momongan yang dilakukan, tapi kata sabar yang berakhir selingkuh.
"Bukan setahun dua tahun Bu, lima tahun dia mendua. Aku terlihat sangat bodoh selama lima tahun ini," tegas Nia.
"Itu masalahmu dengan Amer, kami hanya meminta hak Amer selama sepuluh tahun menikah denganmu." Ibu menunjuk wajah Nia untuk tidak serakah.
Memberikan hak Amer tidak membuat Kania miskin, dia hanya perlu memberikan dua puluh persen dari kekayaannya.
"Pak, jangan paksa saya untuk membawa obrolan ke jalur hukum. Bukan hanya Amer yang bisa aku tuntut, tapi kalian juga." Nia menatap tajam.
"Kurang ajar, tunggu sampai Amer bebas, kami pastikan dapat hak atas rumah ini."
Kepala Nia mengangguk, dia tidak takut dengan ancaman. Apapun resiko ke depannya pasti akan dihadapi, Nia sudah cukup tahu wajah buruk orang-orang yang pernah ditolongnya.
"Perempuan satu ini benar-benar sudah berani, Nia yang dulu lemah lembut berubah jadi anjing gila," ucap ibu yang geram.
"Hemm, dia harus diberikan pelajaran." Bapak menghubungi temannya di desa yang bekerja sebagai preman.
Nia harus diberikan efek jera agar tahu batasan, dia sudah kelewatan batas. Bapak dan ibu Amer pergi meninggalkan rumah Nia dengan perasaan marah.
"Ibu, jam berapa kita pergi?" Lia nampak tidak sabar lagi.
"Ini lagi siap-siap, kalian berdua juga pakai sendal." Nia memoleskan lipstik ke bibirnya.
Senyuman Nia lebar, dia berjalan keluar bersama Lia dan Dea untuk pergi bersantai di cafe.
"Lia senang jalan sama ibu, beda sama ayah. Baru duduk bentar sudah call dari rumah sakit, Lia langsung diantar pulang," keluhnya.
Tawa Nia terdengar, hal seperti itu tidak akan terjadi. Nia Dokter senior dan tiap ada pertemuan pasti sudah terjadwal, beda dengan Elber yang suka mengambil pekerjaan doubel.
"Mobil Ayah," ucap Dea.
"Iya, tumben ayah pulang cepat." Lia berjalan masuk ke cafe.
El sudah melihat Nia dan Lia yang masuk ke cafe, sengaja pulang lebih dulu untuk membersihkan diri.
"Siapa itu?" El mengerutkan keningnya saat melihat lima orang yang melempari rumah Kania.
Pagar dirobohkan, tanaman di depan rumah dirusak, pintu dan kaca jendela dipecahkan.
"Apa yang kalian lakukan," tegur El.
"Jangan ikut campur jika kamu masih ingin hidup." Pria bertato mengarahkan benda tajam ke arah El.
"Kalian bisa dilaporkan atas penyerangan dan perusakan properti." El geleng-geleng kepala, dia coba menahan diri karena tidak ingin terlipat perkelahian.
Tinju menghantam wajah El, dia menyentuh pipinya. Emosinya ikut terpancing, langsung menyerang.
Satu pria tumbang, empat orang yang menyerang rumah balik menyerang El dengan senjata yang dibawa.
Warga yang mendengar keributan panik, sekalipun El mampu bertahan, dia tidak bisa menghindar dari serangan benda tajam.
"Sial!" El menendang dan meninju kuat.
Lima orang tumbang, El terduduk sambil memegang lengannya yang terluka.
"Pak Dokter, apa kamu baik-baik saja?"
"Ya, apa sudah menghubungi polisi?" El meminta warga menahan para pelaku.
Tidak bisa El bayangkan jika ada Nia di dalam, dia pasti ketakutan sekali didatangi para preman.
"Pak Dokter harus ke rumah sakit," ucap tetangganya.
"Tidak apa, aku harus ke kantor polisi sekarang."
Teriakkan Alia terdengar, mendapat kabar rumah Nia diserang membuat Nia dan kedua anaknya berlari pulang.
"Ayah, Ayah," teriakan Alia histeris.
Elber lari memeluk putrinya, Lia teriak-teriak sambil memukuli kepalanya. El memegang tangan Lia, mengusap punggungnya agar tenang.
"Ayah disini Nak, Ayah baik-baik saja." El memeluk erat.
Tangisan Alia terdengar, dia memeluk ayahnya. Takut kejadian dulu terulang lagi, ayahnya dibawa ke polisi dan dipenjara meninggalkan nya di panti.
"Ayah, jangan berantem."
"Lia, ayah hanya membela diri."
"Tapi polisi tidak peduli itu, kita tetap salah bagi mereka yang berkuasa."
Nia berlutut, menyentuh lengan El yang berdarah. Tangan Nia digenggam, El hanya mengangguk pelan memastikan dirinya baik.
Air mata Nia menetes, dia tidak bermaksud melibatkan El apalagi sampai melukainya.
"Ayah ke kantor polisi dulu, Lia tetap bersama ibu. Mana Dea?" El menatap Dea yang bersembunyi di balik pohon, takut melihat pria berbadan besar.
"El, kamu harus...."
"Jaga anak-anak, ke rumahku saja. Kunci pintu, jangan keluar sampai aku datang. Ingat, tetap di rumah," tegasnya.
Kepala Nia mengangguk, dia meminta El berhati-hati dan cepat pulang.
***
Follow Ig vhiaazaira
kapan mau dianjut pasti othornya males nulis karna gak ada yg komentar menyemangati padahal ceritanya bagus
peperangan baru mau dimulai.. si amer bakalan shock kalau lihat kalian nikah
segera otw dpat SIM
weeeh mau malemingguan ber 2
ayoo kak vhia lanjutin dong