Tak kusangka takdir hidupku akan jadi serumit ini
Kisah percintaan seorang gadis cantik idola SMA Nusa Bangsa, bernama Ariana Kamilla dengan seorang cowok cool bernama Eza. menjadi awal mula dilema panjang cinta segi tiga dimasa yang akan datang
Pelecehan, penghianatan dan dendam membawa Ariana pada kehidupan kelam yang menyedihkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon morieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selingkuh
Image yg selama ini tersemat pada diri Arin sebagai cewek cantik, pintar, anggun, penuh percaya diri, seakan rontok dalam waktu kurang dari setengah hari. membuat Arin kehabisan kata. meskipun pria yg tengah bersamanya itu seolah tidak ambil pusing dengan kejadian yg di lihatnya tadi
"berhenti di depan situ..ee.."
"Mas...panggil aja Mas.."
"iya..iya..M..m..as...." Arin mengucapkan kata panggilan yg di minta sendy dengan sedikit terbata bata
"terimakasih ya..m..mas Sendy.. atas tumpanganya"
"sama sama Arianaa.." senyum khasnya itu kembali muncul mengakhiri perjumpaan mereka pagi itu. Arin pun segera turun dan berlari masuk kedalam gerbang sekolah yg mulai sepi.
Baru kali ini Arin merasa bahwa hari ini merupakan hari yg sial baginya, mulai dari kejadian memalukan tadi pagi, terlambat masuk sekolah, sampai Eza yg tiba tiba tidak datang ke sekolah. setelah memberi kabar melalui pesan singkatnya tadi pagi, Eza tak lagi dapat di hubungi, bahkan semua pesan yg Arin kirimkan tidak ada satupun yg dibalas , hal itu sungguh membuat Arin kesal
Baru setelah beberapa menit yg lalu bunda menelepon memberi kabar bahwa tante Ira sudah melahirkan, hati Arin merasa sedikit terhibur. dan karena kemungkinan buda akan menginap di Rumah Sakit untuk menemani Om Bram menjaga Tante Ira. Bunda meminta Arin untuk mengantarkan pakaian ganti seusai pulang sekolah nanti, Arin memaklumi jika bunda memberi perhatian lebih pada tante Ira, itu karena Tante Ira adalah saudara kandung bunda satu satunya, dan setelah orang tua mereka meninggal bunda menggantikan peran menjadi orang tua bagi Tante Ira. bahkan duluTante Ira tinggal bersama di rumah Arin sebelum ia menikah dengan Om Bram.
Karena Amel dan Alfon yg juga mengenal Tante Ira dengan baik mereka begitu bersemangat untuk menemani Arin pergi ke Rumah Sakit sekaligus ingin mengucapkan selamat pada Tante Ira atas kelahiran putri cantiknya.
"gue dah nggak sabar guy's buat liat babynya tante Ira, kira kira mirip siapa ya..?"
"Asal nggak mirip lo.."
wajah Alfon tanpak merengut mendengar celetukan Amel yg spontan
"secara foon..Tante Ira cantik, Om Bram guanteeng ya anaknya udah pasti di kutuk cantik"
hahaha...gelak tawa mewarnai sepanjang perjalanan mereka ke Rumah sakit, Arin yg duduk di kursi depan hanya menggelengkan kepala melihat ulah Amel dan Alfon. sesekali Arin memperhatikan pak Kusno yg ikut tergelak mendengar candaan kedua sahabatnya itu. sedang perasaan Arin masih saja tidak tenang memikirkan Eza yg tak kunjung memberi kabar.
Arin sering kali jengah dengan sikap Eza yg seperti ini, ia kerap kali hilang tanpa memberi kabar, membuat hati Arin di landa kekhawatiran. semakin Arin mengenal Eza semakin Arin merasa banyak hal yg di sembunyikannya darinya, Eza justru menjelma menjadi sosok yg misterius, meskipun sudah 5 bulan mereka menjalani masa pacaran sepertinya Eza masih enggan berbagi cerita seputar kehidupanya
Sesampainya di Rumah sakit mereka bertiga segera bergegas menuju ke ruangan Tante Ira, rasanya sudah tidak sabar ingin segera melihat dan menggendong putri cantiknya
Senyum merekah tak pernah lenyap dari wajah kedua pasangan itu, ketika Arin, Amel dan Alfon sampai disana, meski Tante Ira tampak masih lemah, tapi sorot matanya menggambarkan kebahagiaan yg teramat sangat. Arin tak henti memeluk dan menciumi pipi Tantenya itu
"nggak pengen liat babynya Riin...?"
"emang boleh ya Om..?"
"boleh donk..tapi liatnya dari kaca, sekarang babynya masih dalam inkubator"
dengan arahan Om Bram, mereka bertigapun berjalan menuju ruang perawatan bayi yg letaknya terpisah, mereka harus berjalan beberapa blok baru bisa sampai disana. dinding luar dari ruangan itu berlapis kaca tebal, sehingga pemilik bayi atau keluarga hanya bisa melihat bayi mereka dari luar kaca
mereka tengah asik mengamati gerak gerik si baby yg menggemaskan, sesekali mereka membahas tetang kemiripan wajahnya, Arin yg mulai bosan mendengarkan perdebatan kedua bocah telat gede itu mencoba mengalihkan pandangnya, tampak deretan pasien yg tengah mengantri daftar tunggu, oh ya lupa, ruang perwatan bayi itu tak jauh dari rawat jalan poli kandungan sehingga kebanyakan dari pasien pasienya adalah ibu ibu hamil yg di dampingi pasanganya.
Arin tampak tersenyum sendiri melihat macam macam gaya pasangan calon orang tua baru di ruang tunggu itu. membuat imajinasi liarnya mulai aktif berkreasi, membayangkan bagaimana jika esok ia dan Eza sama sama tengah menantikan kelahiran bayi mereka, iihh...ekspresi geli dan malu tergambar di raut wajah Arin
Arin yg merasa lelah berdiri memutuskan untuk duduk di bangku kosong pasien ruang tunggu, dan Om Bram memilih kembali ke ruang perawatan. tak lama Amel dan Alfon menyusul Arin duduk di sebelahnya
No urut dan nama pasien silih berganti di panggil untuk menjalani pemeriksaan, seorang ibu ibu yg tengah hamil besar tampak di gandeng oleh suaminya masuk ke ruangan di sambut oleh seorang suster yg membukakan pintu dengan tersenyum ramah, tiba tiba Arin membulatkan matanya, terkejut tak percaya dengan apa yg di lihatnya, tampak seorang pria dan pasanganya keluar dari ruang pemeriksaan, pria itu Eza bersama wanita yg pernah di lihatnya di Mall waktu itu, begitu jelas Arin masih mengingat wajahnya. jemari Arin spontan menutup sebagian mulutnya yg menganga tak percaya, pria itu benar benar Eza, Eza pacarnya. tanpa sadar Arin berdiri dari duduknya dengan nafas terengah dan Air mata yg tiba tiba saja terjun bebas tak terbendung dari kedua sudut kelopak matanya.
"Ezaaa...!!!"
dengan suara yg keras dan lantang ia memanggil sosok yg tengah berjalan berlalu
semua orang di ruangan itu terkejut mendengar teriakan Arin yg begitu nyaring penuh emosi, begitupun Amel dan Alfon yg langsung berdiri keheranan
badan Arin bergetar, matanya membulat tajam menatap Eza penuh Amarah
Arin tak sanggup lagi menguasai diri, seketika ia berlari meninggalkan ruang tunggu, hatinya benar benar hancur, tak sanggup lagi ia melihat wajah pria itu di hadapanya. bagaimana mungkin Eza bisa menghianatinya begitu rupa, berselingkuh dengan wanita lain, lantas apa arti ucapan cintanya kemarin, Eza sungguh menjijikan
"Ariiiinn...!!!"
Eza berlari mengejar Arin dengan wajah sangat panik, di tinggalkanya wanita yg bersamanya itu berdiri terpaku.
"Ariinn tunggu...Ariin...tunggu sayang..."
bahkan kata kata sayang saat ini terdengar begitu menjijikan bagi Arin. pantas saja Eza sering menghilang tanpa jejak, pantas saja tak satupun pesan Arin yg di balas, ternyata ia sedang sibuk mengurus selingkuhanya yg hamil.
Eza terus berlari mengejar Arin yg tampak tak dapat lagi menguasai emosinya.
"Bruuk..."
karena limbung tubuh Arin terjatuh di halaman parkir rumah sakit, lututnya tampak berdarah terantuk jalanan aspal yg kasar, tp seolah tak memperdulikan lukanya yg mengalirkan darah, Arin mencoba bangkit lagi, tapi belum sempat ia berdiri tegak Eza sudah terlebih dulu menggapainya
Arin meronta ronta mencoba melepaskan diri, Eza yg mengetahui itu berusaha terus mendekapnya Erat,
seperti sudah kehabisan tenaga tubuh Arin melemas,ia tak lagi melawan, hanya air matanya saja yg terus berderai.
"lepas Zaaa.....lepasin akuuu...." rintih Arin penuh kepiluan
"nggak sayang...dengerin aku duluu...aku bisa jelasin ini semuaa.."
suara Eza bergetar, pelukanya kian erat, disandarkan keningnya pada punggung kepala Arin
"kamu jahat Zaaa....kamu udah selingkuhin aku...."
udh bosan kali erza..si arin ukur 17 thn kaya umur 25 thn keliatan tua,,peyot,suram wajahnya tubuhnya langsung melar, pantatnya langsung turunnnn, buah dada nya langsung kendor kaya udh netein anak.
si arza nanti nikahnya sama yg msh perawan, yg msh suci,tertutup dan tdk liar lagj murahan.