Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing
Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.
Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.
Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.
Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.
Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Blade of Requiem
Sementara itu, di sisi lain...
"Kenapa nona Alexia belum kembali, ya ...?"
Siria mengkhawatirkan keadaan Alexia sambil mengusap darah yang masih segar di tangannya dengan kain. Hana dan pelayan yang lain juga sedang sibuk membersihkan darah, kuku, serta gigi yang berserakan di dalam gudang.
Tidak perlu ditanya lagi siapa pemilik semua itu, karena orang yang memilikinya telah tergeletak tidak bernyawa.
'Apakah nona Alexia mengalami masalah?' pikir Siria.
Alexia bilang ingin pergi ke toko pandai besi yang ada di ujung jalan, tapi sampai saat ini dia masih belum pulang.
Hari semakin siang, dan jika dia tidak segera kembali ke rumah pada waktu jam makan siang, para pelayan yang bekerja secara resmi untuk keluarga Swan akan curiga.
"Kalau kak Siria memang khawatir pada nona Alexia, apa perlu saya menyuruh pelayan lain untuk menjemputnya?"
Hana memberikan saran sambil berjalan mendekat.
Namun, ia menolak saran itu setelah memikirkannya lagi.
"Tidak," Siria menggelengkan kepalanya. "Itu tidak perlu."
"Kalau kita melakukan pergerakan yang tidak seharusnya, organisasi yang aku ikuti akan mencium jejak kita." lanjut Siria sambil melempar kain berdarah itu ke tong sampah.
"Baik," balas Hana dengan nada sedih dan kecewa.
Hana beserta pelayan yang lain adalah mantan anggota petualang elit yang lisensinya dicabut karena melakukan tindak pidana pembunuhan. Alasan mereka membunuh adalah karena mereka dilecehkan oleh para penjahat itu.
Tindakan mereka sebenarnya adalah membela diri, tapi serikat petualang menandai mereka sebagai pembunuh.
Itulah yang menyebabkan mereka menjadi assassin.
Selain itu, mereka bukan anggota organisasi yang diikuti oleh Siria. Namun mereka adalah assassin independen.
"Kau dan anak-anak yang lain bereskan semua ini." kata Siria sambil menepuk pundak Hana. "Setelah ini selesai, kau lanjutkan untuk membersihkan kamar nona Alexia."
"Baik, kak Siria." jawab Hana sambil mengangguk.
Setelah menyerahkan semuanya pada Hana dan pelayan yang lain, Siria keluar dari gudang dan menuju ke kamar.
Dalam perjalanannya, Siria mengernyit sambil berpikir.
'Setelah kehilangan banyak bawahannya, orang itu pasti tidak akan tinggal diam. Jika dia mencium sesuatu yang mencurigakan, nona Alexia mungkin bisa berada dalam bahaya lagi. Aku tidak boleh bertindak dengan gegabah!'
Siria perlu melakukan sesuatu agar rencana yang dibuat oleh Alexia tidak rusak. Apalagi, informasi yang tadi dia peroleh dari assassin sebelumnya membuatnya gelisah.
****
Di dalam toko pandai besi, suara dentingan terdengar.
Slash!
Alexia menunduk dan menghindari tebasan. Setelah itu, dia memutar tubuhnya sambil mengayunkan pedang ke arah dua sosok berjubah, namun serangannya ditangkis.
Melihat tidak ada celah dalam kerja sama mereka, Alexia mundur dan mengatur nafasnya yang makin tidak stabil.
'Tubuh ini lemah sekali. Padahal hanya bergerak ke sana kemari beberapa kali, tapi nafasku sudah habis.' batin Alexia, mengeluh tentang kondisi tubuhnya yang lemah.
"Kau hebat juga bisa melawan kami berdua." kata salah satu sosok berjubah dengan nada yang sinis dan rendah.
"Aku tidak butuh pujian dari orang lemah sepertimu."
Sosok berjubah itu kesal setelah mendengar hal itu.
Tanpa pikir panjang, mereka langsung menyerang Alexia tanpa memberikannya waktu untuk bernafas. Serangan demi serangan terasa berat dan membuatnya kesulitan.
Alexia beberapa kali dipojokkan, tapi akhirnya ia berhasil melawan balik meskipun tidak menimbulkan kerusakan.
Hingga pada satu waktu, Alexia terhempas ke belakang.
"Mereka tidak memberiku waktu untuk beristirahat." kata Alexia sambil mengatur nafasnya yang hampir terkuras.
"S-semangat, jangan sampai kalah dari mereka berdua!"
Suara yang berdengung itu terus mengganggunya.
Alexia pun menoleh sambil menurunkan alisnya.
'Kenapa dia tidak bisa menutup mulutnya?!' pikirnya.
Lina yang ketakutan bersembunyi di balik meja kasir. Dia mengamati pertarungan dari jauh dan tidak ingin terlibat sama sekali, yang membuat Alexia cukup kesal padanya.
"Mereka ada dua orang, apa kau sama sekali tidak punya niat untuk membantuku melawan satunya?" tanya Alexia.
"A-aku ingin membantu, tapi aku tidak bisa bertarung."
Trangg
Alexia menangkis jarum besi yang mereka lempar secara tiba-tiba dan berkata, "Kalau kau tidak bisa bertarung, lalu untuk apa kau memegang dua pedang di tanganmu itu?"
"Ah... p-pedang ini hanya untuk pertahanan diri."
Setelah mendengar jawabannya, Alexia pun berpikir.
'Apa sebaiknya aku pergi saja dari sini dan membiarkan mereka membunuh wanita kurang ajar di meja kasir itu?'
Alexia sempat memikirkan hal itu, namun pedang yang ia pegang saat ini adalah pemberiannya. Dia bukanlah tipe orang yang tidak tahu balas budi, jadi Alexia hanya bisa menghela nafas dan memikirkan jalan keluarnya sendiri.
"Sepertinya aku tidak punya pilihan lain." kata Alexia dan menarik tongkat kayu itu hingga menunjukkan bilah yang tajam. "Apalagi, mereka memasang penghalang ruang di sekitar toko. Pantas saja tidak ada orang yang datang ke sini meski ada banyak suara keributan dan juga ledakan."
Dugaannya semakin kuat saat merasakan Mana di udara bergerak dengan cara yang aneh. Selain itu, dua sosok berjubah hitam jauh lebih kuat dari pengguna Aura biasa.
Dengan kata lain, ada seorang penyihir di pihak mereka.
'Melawan penyihir adalah hal yang paling merepotkan.'
Dia menekuk sudut bibirnya setelah memikirkan hal itu.
Setelah berpikir dua kali, Alexia tidak bisa mengalahkan mereka dalam kondisinya yang sekarang. Jadi, dia tidak punya pilihan selain menggunakan sihir untuk melawan.
Namun saat ia mengalirkan energi sihirnya, Alexia tidak percaya bahwa energi sihirnya masuk ke dalam pedang.
'Sihirku diserap pedang ini ...?!' batin Alexia, terkejut.
Beberapa saat setelah pedangnya selesai menyerap sihir yang cukup, bilah pada pedangnya bersinar dan muncul sebuah tulisan kuno yang hanya bisa dibaca oleh Alexia.
Dan kata yang tertulis di sana adalah...
"Blade of Requiem ...?"
Pedangnya makin bersinar setelah Alexia menyebutkan nama itu, dan bentuk yang awalnya adalah tongkat kayu sederhana berubah menjadi pedang perak yang berkilau.
'Apa ini bentuk sejati dari pedang ini?' batin Alexia.
Lina yang melihatnya dari jauh pun sangat takjub.
"Bagaimana tongkat kayu bisa berubah menjadi pedang yang indah seperti itu?! Apa mataku sudah buta karena tidak bisa mengenali keindahan yang tiada duanya itu?!"
Penyesalan karena sudah memberikan pedang ini secara cuma-cuma pada Alexia membuatnya semakin depresi.
Alexia menatap keindahan pedangnya sambil berpikir.
'Entah kenapa, tapi aku merasa seperti bisa melepaskan teknik pedang walaupun tidak dapat menggunakan Aura.'
Bukan hanya tampilannya, tapi Alexia merasa pedang itu telah diperkuat berkali-kali lipat. Dan untuk membuktikan firasatnya, Alexia pun memasang kuda-kuda dan bersiap.
"Kenapa dia tiba-tiba memasang kuda-kuda?"
"Aku juga tidak tahu, padahal dia bukan pengguna Aura."
Teknik pedang memang dapat digunakan oleh mereka yang belum membangkitkan Aura, namun dampak yang akan diberikan sangat kecil dan tidak cukup kuat untuk membelah bebatuan. Jadi, orang-orang hanya memakai teknik pedang saat mereka sudah membangkitkan Aura.
Dua sosok berjubah itu bingung dengan tindakan Alexia.
Hanya pelayan keluarga Swan belaka, mana mungkin dia bisa menggunakan teknik pedang ksatria maupun Aura.
Itulah yang dipikirkan oleh dua sosok berjubah itu.
Namun, dugaan mereka tentang Alexia salah.
Teknik pedang, dia dari dulu bisa menggunakannya.
Alexia adalah satu-satunya orang yang memilliki sebuah pencapaian besar, karena berhasil menggunakan teknik pedang bukan memakai Aura, melainkan dengan Mana.
【 Axia Sword Technique, 1st Form : Falling Moonlight 】
Pedang diayunkan, dan tepat di tempat sosok berjubah itu berdiri, sebuah kilauan cahaya menghantam mereka dari atas hingga tubuh mereka perlahan dilahap cahaya.
Mereka ingin berteriak minta tolong, tapi usaha mereka menjadi sia-sia karena suara mereka tidak dapat keluar.
Lina memperhatikan mereka dengan gemetar ketakutan.
Dan dalam hitungan detik, mereka pun lenyap.