Dunia memiliki sistem mutlak yang ditetapkan jutaan tahun lamanya. Sistem rimba, yang terkuat dialah yang berkuasa dan yang lemah akan tersingkir. Sistem itulah awal terlahir kasta antara mahkluk hidup, sebuah hukum yang tidak dapat diubah dan akan terus berjalan. Tahun berganti, hukum mulai goyah. Keadilan tidak diberikan pada yang hak. Namun pada yang berkuasa. Jutaan tahun berlalu. Langit menciptakan hukum baru yang berpusat pada keseimbangan. Malaikat penyelamat bagi mereka yang tersingkir, memiliki tujuan menghancurkan sistem yang telah goyah. Dewa agung menjadi dakwa yang berdosa telah menciptakan iblis berwujud cahaya. Mereka yang berkuasa melawan mereka yang dibuang, terus bertahan hidup untuk melanjutkan perang tiada akhir demi jawaban kebenaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkara Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 —Kenangan
Hujan masih mengguyur kota Celestria dengan sangat deras, tak terlihat tanda akan reda. Disaat semua orang berteduh dibawah atap, sembari memandangi tetesan air yang turun. Shi Jian, masih tertunduk dengan air mata yang sudah tercampur dengan tetesan hujan.
Menyesali sikap nya yang dahulu memberontak, ingin meminta maaf juga tidak bisa. Ayah nya tidak mungkin bisa mendengar ucapan itu, yang tersisa hanyalah kenangan yang semakin lama menjadi semakin sakit.
Ia tidak mampu berkata-kata, sampai tangisan nya tidak lagi terdengar. Teredam oleh raungan petir dan gemuruh hujan, beberapa menit berlalu. Shi Jian masih berada diposisi nya, sampai membuat penasihat Lan Bing khawatir. Iapun menyuruh putrinya yang adalah teman lama Shi Jian untuk menenangkan nya.
Hubungan erat keduanya dulu mungkin bisa meredam kesedihan tuan muda nya, putri penasihat Lan Bing dengan senang hati menerima. Ia juga sedikit merindukan pemuda itu, tidak disangkal sejak dahulu. Ia sedikit menaruh rasa pada nya, dan memendam kerinduan itu selama enam tahun.
Ia menghampiri Shi Jian yang masih berada didepan makam ayah nya, menggunakan payung bermotif indah. Ia melewati jalan yang tergenang itu dengan tenang, melewati gemuruh hujan membuat nya tidak goyah. Sampai, ia menepuk pundak pemuda itu Yang berguncang.
"Shi Jian... Sudah cukup, ayo kita masuk. Hujannya deras sekali... Kamu bisa sakit kalau begini terus" Gumam gadis itu lembut, sembari menggoyang pundak Shi Jian pelan. Namun tak ada jawaban dari nya, ia masih terisak dan meratapi kematian ayah nya itu.
Gadis itu termenung, diabaikan seperti itu membuat hati nya retak. Ia seperti bisa merasakan kesedihan yang pemuda itu rasakan. Iaa kemudian membujuk lagi, "Tidak ada guna nya menangis ayah mu... Tuan sudah hidup tenang dialam yang lain, pikirkan kesehatan mu... Jian" Gumam gadis itu lagi, dan kali ini bisa membuat Shi Jian menghentikan tangis nya.
Dalam keraguan dan tubuh yang bergetar, Shi Jian sedikit menoleh kearah gadis itu, yang tersenyum lembut. "Ayo kita kembali... Kamu masih ada kami disini, yang senantiasa bersama mu!" Seru gadis itu lagi, Yang masih tidak dijawab oleh Shi Jian. Dengan mata sedikit merah, bibir nya bergetar dan berkata.
"Shu'er... A-Apakah, karena aku... Ayahku jadi seperti ini?" Suara nya pelan terdengar, karena teredam gemuruh hujan. Namun, Gadis itu yang bernama Lan Shu menggeleng dan mengatakan. "Tidak... Patriak kalah oleh penyakit nya, ini semua terjadi bukan hanya karena salah mu... Ini adalah bagian dari takdir, dan siapapun tidak bisa menentang nya... Patriak sekalipun!" Balas nya dengan bijak, menyadarkan Shi Jian kembali dari kesedihan yang hampir merenggut kewarasannya.
"Maka dari itu... Ikutlah aku, kita kembali kerumah itu. Biarkan ayahmu beristirahat dengan tenang, jika ia melihat kondisi mu... Mungkin ia akan kecewa melihat putranya kalah dengan kesedihan ini!" Balas Lan Shu lagi, kali ini Shi Jian bisa berpikir jernih. Apa yang dikatakan oleh gadis itu ada benarnya.
Ia kemudian melihat kembali kearah nisan ayah nya, sadar bahwa sekeras dan selama apapun ia menangisi kepergian orang tua nya. Orang Yang sudah mati, tidak akan pernah bisa hidup kembali.
Namun, air mata masih tergenang di mata nya. Masih terpancar kesedihan yang mendalam, sampai dari sudut mata nya ia melihat siluet tangan terulur. Ia menoleh dan melihat Lan Shu mengulurkan tangan nya, sembari menatap lurus kearah nya. Senyuman manis wanita itu kini menyadarkannya sepenuhnya.
Iapun akhirnya menurut dan menyambut uluran itu, kemudian berdiri. Menatap lagi makam ayah nya, ia berjalan pelan mengikuti gadis itu, yang mengenakan gaun putih dengan hiasan emas dileher dan dada nya, rambut hitam tergerai halus dipunggung nya. Memegang payung dengan motif bunga sakura itu, membuat penampilannya bagai bidadari ditengah badai yang mengamuk.
Sejenak ia sedikit lepas dari kesedihan nya, membawa perasaan hangat di hati nya. Akan ucapan, dan kehadiran gadis itu yang selama enam tahun tidak pernah bertemu. Namun kini, teman lama nya itu sudah benar-benar berubah menjadi wanita anggun dan begitu cantik, serta wibawa Dan cerdas seperti ayah nya —penasihat Lan Bing.
Walaupun kesedihan masih terasa, ia tidak bisa terus-terusan seperti itu. Apalagi, tujuan nya kali ini adalah menghadiri rapat itu. Itulah kenapa, walaupun masalah muncul ia lah yang diundang. Karena hanya ia lah satu-satunya kandidat pemimpin sekte resmi, setelah kepergian ayah nya.
Baju nya yang masih basah membuat ia sedikit menggigil, apalagi udara dingin yang menusuk kulit membuat nya tidak nyaman berada diluar ruangan. Lan Shu menuntun nya kesebuah rumah yang cukup besar, berada jauh dalam klan. Itulah rumah yang menjadi tempat ia dibesarkan dan dilahirkan.
"Sudah terlalu lama aku tidak kembali kerumah ini!" Gumam Shi Jian pelan, namun didengar jelas oleh Lan Shu. Ia hanya tersenyum, setelah sekian lama. Wajah yang dahulu ia rindukan kini ada disamping nya. Dan seperti ada gejolak dihati nya ingin memeluk pemuda itu, namun ia tahan. Ia tidak ingin merusak citra nya dan ayah nya hanya karena keinginan sesat itu.
"Silahkan masuk, ini adalah rumah yang ditinggal kan oleh ayah mu... Aku akan membiarkan mu disini, Jian!" Suara gadis itu terdengar lagi, mendayu lembut ditelinga nya. Shi Jian hanya mengangguk dan masuk kedalam rumah yang terkunci itu, halaman depan yang dihiasi taman dan air pancur kecil, sampai pohon sakura yang dibawah nya terdapat kursi meja bersantai.
Rumah kayu berwarna merah itu terkesan elegan, dan terbuat dari kayu terpilih yang harganya sangat mahal. Ia membeku sesaat melihat semua itu, sementara Lan Shu. Sudah meninggalkan Shi Jian sendiri, ia masih memiliki tugas lain.
Berjalan dibawah gerbang rumah, ia menerobos hujan yang masih mengguyur, sampai tiba didepan pintu kayu besar itu. Yang memiliki begitu banyak kenangan didalam nya, walaupun sudah ditinggalkan. Rumah ini masih terawat dan rapi. Dengan pijaran lampu lentera tergantung disetiap sudut, membuat lantai depan rumah terang.
Ia kemudian mendorong pintu itu, hingga terbuka tidak ada suara decit. Itu begitu halus dan ringan, sampai ruangan tamu ini membuat air mata nya hendak menetes lagi, sebuah ruangan yang memiliki kursi meja ditengah nya. Beberapa tanaman disudut, lentera besar tergantung di langit-langit. Poster-poster pemimpin terdahulu, sampai lukisan keluarga terpajang disana.
Ia mulai mendekat, dan melihat lukisan yang terpajang. Dimana ia, ayah dan ibu nya masih utuh saat itu. Dengan kehangatan keluarga yang begitu kental menghadirkan kenangan tak terlupakan. Sampai, wanita cantik bergaun merah gradasi putih dengan mahkota emas di sanggul rambut nya itu —yaitu ibunya. Meninggal terlebih dahulu, akibat penyakit Yang tidak tahu dari mana asal nya.
Saat itu ia masih sangat kecil untuk memahami rasanya kehilangan, sampai saat menginjak remaja. Ia yang terus dipaksa oleh sang ayah menjadi pewaris klan, dengan mengorbankan kebebasan nya. Iapun memberontak dan kabur dari klan.
Sampai ia kembali lagi, barulah ia memahami apa itu kehilangan. Itu begitu menyakitkan, sampai hatinya seakan dihancurkan oleh palu yang begitu besar berkali-kali.
Iaa melihat kearah wajah ayah nya, pria paruh baya dengan jenggot dan kumis tipis itu, Dan bentuk wajah diamond mengenakan topi hitam dikepala nya. Yang memiliki dua sisi cabang dikiri dan kanan. Wajah penuh ketenangan itu membuat hatinya kembali sakit.
Saat ini, ia tidak memiliki kedua orang tua. Saat ini ia hanya memiliki klan, sebagai warisan dan hadiah terakhir kedua orang tuanya. Bagaimana pun ia menolak demi kebebasan nya, ia masih lah putra pemimpin sekte. Yang harus mengemban tanggung jawab besar itu.
Ia kemudian mengambil enam buah dupa, membakarnya dan kemudian berlutut didepan lukisan itu. Dengan posisi piring Dupa dan lukisan, ia meletakan dupa yang terbakar dipiring. Dan Berdo'a untuk kedua orang tuanya. Dan berjanji, ia akan memenuhi keinginan terakhir ayah nya, menjadi pemimpin baru di klan ini.
"Ayah... Ibu... Jian tidak berbakti pada kalian selama ini. Maafkan anak mu yang durhaka ini, Dan Jian berjanji... Akan melanjutkan tugas kalian, membawa klan ini menggapai tingkat yang tertinggi!" Suara nya terdengar bergetar.
Setelah ucapara pengiriman do'a itu, ia kemudian bangkit dan menuju lantai atas. Dimana dahulu, kamar nya berada ditempat itu. Melewati setiap ruangan yang tertutup, bayangan semua orang yang pernah melewati tempat itu muncul seperti ilusi dikepala nya.
Sungguh ironis, rumah yang dahulu penuh kehangatan dan cahaya kegembiraan, sekarang hanya menjadi rumah kosong penuh kehampaan disetiap sisi nya. Begitu banyak yang berubah, sampai ia tidak bisa mengingat semua ingatan nostalgia itu dalam satu momen.
Ia kemudian tiba disebuah pintu yang tertutup, dipintu itu terdapat sebuah kertas yang ditempel. Dengan gambar tiga orang yang tersenyum bahagia dipadang rumput, itu adalah lukisan nya dahulu. Ia tersenyum mengingat saat-saat itu, dan membuka nya.
Seakan semua nya berubah saat pintu itu terbuka, memperlihatkan seorang wanita didalam nya. Sedang duduk diatas kasur, wanita itu walaupun memiliki keriput samar. Kecantikannya masih lah tidak tertandingi, Shi Jian tersenyum dalam sakit. Bayangan ilusi itu, adalah ibu nya.
Bibir nya bergetar, menahan rindu tak tertahan. Akan kehadiran sosok yang paling ia sayangi, "Ibu... Aku pulang!" Gumam nya pelan, seakan sedang berbicara dengan sang ibu. Ilusi ibu nya kemudian tersenyum dan melambaikan tangan, menatap kearahnya —tidak, jauh dibelakang sana.
Seorang anak berlari kecil kearah kamar, langsung memeluk sang ibu dengan gembira. Ilusi ini bukan lah sekedar ingatan, melainkan kenangan masa lalu didalam kepala nya.
Ia melihat dirinya dulu, penuh senyuman dan keceriaan. Anak polos itu, kini telah menjadi pemuda yang hebat. Tanpa orang tua yang menjadi pembimbing nya.
Ia tenggelam dalam kenangan indah itu, tanpa sadar berjalan pelan kearah kasur. Membaringkan tubuh nya, dan menutup mata. Seakan tempat itu masih bisa ia rasakan kehangatan dari pelukan sang ibu, yang masih melekat dihati nya.
judul : Professor & Student: Love Through Time.
ikuti setiap langkah bab barunya sampai tamat enggak setengah², terima kasih ☺️🙏🏻💪.