Adila Dimitri... Kesucian yang sudah terenggut, tidak mengubahnya menjadi wanita lemah. Mandiri, kuat, berani dan tidak takut dengan apapun, sudah menjadi slogan dalam hidupnya.
"Hidup ini pilihan, apapun yang membuatmu sedih, tinggalkan...!!!
Apapun yang membuatmu tersenyum, pertahankan...!!!"
Aditya Putra Wiriaatmaja... kehilangan cinta karena kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan.
"Aku bukannya tak mau merelakan kepergianmu, aku hanya menyesali kelemahanku memperjuangkanmu untuk tetap disisiku. Aku belajar tulus untuk mencintai meski tak harus memiliki, belajar ikhlas merelakan meski harus kehilangan...!!"
Pertemuan yang diawali dengan drama settingan yang Adila ciptakan, membuat mereka terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam kondisi yang jauh berbeda.
Akankah sifat absurd Adila mampu meluluhkan hati Aditya yang menyukai wanita sederhana dan anggun seperti mantan kekasihnya dulu???
Sequel dari ❤Cinta Yang Hilang❤...
Pantengin terus di semua partnya👌👌
Happy reading💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aksi Moly Diamnya Dua Lelaki
...........................................................
...........................................................
"Pucuk dicinta ulam pun tiba."
Moly mencengkram lutut Adila yang seketika meringis karena guncangan yang maha dahsyat dengan kuku-kuku panjang yang menancap di sebagian kulitnya. Menunjukan ekspresi yang lebih parah daripada saat diawal tadi melihat David.
Adila menggoyangkan lutut agar Moly segera melepaskan tangan yang malah mencengkramnya semakin kuat.
"Moly sakit." Bisik Adila dengan geramnya.
"Nikmat mana lagi yang kalian dustakan." Ucapnya mengacuhkan protes Adila.
Wah kerasukan si manis jembatan ancol nih anak... batin Adila.
Gigi Moly yang mengering karena terlalu lama dia suguhkan, berbeda dengan mata yang basah karena terharu saking bahagianya. Pria tampan itu kini sedang berdiri diambang pintu, keluar dari sebuah majalah bisnis yang tadi sempat dia baca, menjelma menjadi sesosok pangeran dengan pesona cool yang memanjakan penglihatannya.
Adira yang mendapati genangan air mata yang sebentar lagi akan terjun dari mata Moly, menyikut lengannya bertanya tanpa bersuara," Kenapa?"
"Ek terhura hiri manis...hiks.." Bisiknya sambil mengelap sudut matanya.
Adira bingung sendiri dengan jawaban Moly, disini tidak ada sekelebat pun situasi yang membuatnya merasa terharu, aneh.
David berdiri," Ada yang bisa saya bantu Pak?"
"Nanti saja, sepertinya kamu sedang sibuk."
Bu Dina ikut berdiri," Selamat siang Pak?"
"Selamat siang."
Serentak Moly pun ikut berdiri, ingin menyapa pria tampan yang sekarang memandangnya sangat lekat. Tapi.... kening Moly berkerut, sepertinya tatapan itu bukan untuknya, tetapi untuk Adila yang kini sedang bersembunyi dibalik wajahnya sendiri.
Kenapose Dila... ah hempaskan...
"Selamat siang Bapak Aditya."
Aditya melirik," Siang."
Moly mengusap dada, mengerling manja, teringat lagu A Rafiq, Lirikan matamu menarik hati, oh senyumanmu... Upps, Moly menutup mulut, si Duren belum tersenyum.
Seketika Adila mengaduh, saat kakinya terinjak Moly yang terburu-buru menyusul Aditya yang akan keluar dari ruangan David.
Moly menarik tangan Aditya yang masih tertinggal di handle pintu. Aditya kembali berbalik merasakan seseorang menyentuh tangannya. Kemudian melihat Moly dengan tatapan mata yang sarat penuh makna.
Seketika Moly melepasnya," Uups maaf,... bawaannya kayak materai, pengen nempel terus."
Adila menepak kening mendengar rayuan gombal Moly
Prangko wooiii bukan materai...
"Perkenalkan name ek Princess Moly Sekar Ningrat Mangukembang Mewangi Seeeeepanjang Hari." Ucapnya sambil mengulurkan tangan.
".... tapi cukup panggil ek dengan MOOOLY...," Ucapnya lagi dengan bibir yang maju beberapa senti.
Ibu Dina, Adila dan Adira menutup mulut berbarengan, menahan tawa. Tak elak, David yang sulit tersenyum pun, terlihat samar menutupi tawanya.
Aditya hanya diam, nampak bingung memperhatikan tingkah Moly yang aduhai genitnya.
"Ek siap membantu perusahaan Bapak Aditya Putra Wiriaatmaja, duren montong beranak satu yang berasal dari Jakarta, putra tunggal Bapak Wiriaatmaja yang bertempat tanggal lahir di Jerman 20 Oktober 1990, yang merupakan pengusaha muda tampan dan mapan yang sukses di tahun 2020 peringkat nomor satu di Indonesia." Tuturnya panjang dengan diakhiri kedipan mata yang membuat Aditya memundurkan langkah saking anehnya.
Adila dan Adira saling melempar pandangan, memikirkan pertanyaan yang sama, Bagaimana Moly bisa tahu???
Kening Aditya semakin berkerut, melihat jari-jari tangan Moly yang terus bergerak meminta dibalas. Lalu dia melihat David, meminta penjelasannya.
David yang paham dengan ketidakmengertian mata Aditya, berjalan menghampiri keduanya.
"Ini Moly make-up artis yang akan merias para karyawan di acara ulang tahun perusahaan kita Pak."
Sekarang Aditya baru mengerti, dengan ragu-ragu ia menarik tangannya ke atas, namun Moly yang sudah tidak sabar langsung menyambar tangan Aditya dan menjabatkan dengan tangannya sendiri.
"Ek seneng bingits bisa say hello langsung dengan Pak Aditya. Ek sudah baca semua berita tentang Pak Aditya, ek syuka.. syukaaa..."
Tidak ingin membuat Moly tersingung, Aditya hanya tersenyum kaku menanggapinya.
"Dan itu Nona Adila, yang nanti akan melatih karyawan kita yang mengikuti lomba fashion show untuk memeriahkan acara nanti." Lanjut David.
Mendengar namanya disebut, mau tak mau Adila melihat kearah Aditya, tersenyum dengan sedikit menganggukan kepala, sebagai tanda pengenalan dirinya.
Aditya diam tidak menjawab, hanya bisa memandang Adila dengan tatapan yang tidak bisa dijabarkan.
"OMG... kenapa hati ek maju mundur syantik begini yup." Seraya menakupkan sebelah tangannya diatas tangan Aditya, tak sedikitpun matanya berpindah selain kepada Aditya.
Aditya terhenyak dan kembali melihat Moly, meringis dalam hati karena tangan yang masih berada dalam genggaman Moly. Jantungnya pun ketar ketir ketakutan dengan pria over kemayu didepannya ini.
Perlahan Aditya menarik tangannya, namun Moly tak juga melepasnya, dicoba lebih kuat lagi, Moly malah semakin menariknya.
"Maaf tangan saya."
Moly tersipu malu," Maaf.... gimana kalau kita selvong dulu?"
"Selvong?"
"Maksud ek selfi..."
"Maaf saya...."
"Please..," Moly merajuk manja,".... only one yup, please!" Bergelayut ditangan Aditya.
Aditya bergidik sambil melirik David, meminta bantuannya agar bisa menjauhkan dia dari makhluk tak kasat mata didekatnya ini.
"Moly maaf Pak Aditya sedang...."
"Oh yup sama Pak David juga..." Menarik tangan David,"... ek ditengah and kalian disinong and disinong... cucok kan?" Lanjutnya dengan menyandarkan kepala bergantian di pundak Aditya dan juga David.
Adiitya dan David tidak bisa mengelak sedikitpun, Moly sudah mengunci pergerakan keduanya dengan mengandeng erat lengan mereka.
Adila menutup bibirnya, tertawa dalam hati. Moly sudah berhasil meruntuhkan benteng perlawanan kedua pria dingin didepannya sekarang.
"Ciiin... cepet fotoin kita."
Adila kaget dan langsung menyentuh dada dengan telunjuknya.
"Iya Nek emang siapose... ayuk gercep." Moly menghentak-hentakan kaki tidak sabaran.
Dengan kaki bergetar menopang badan yang terasa lemas, Adila menarik pantat untuk berdiri, mengambil paksa ponsel yang juga enggan untuk disentuhnya.
Pulang gue jitak lu Momon, nggak tahu apa gue lagi jantungan....
Entah keberapa kali pandangan mereka bertemu lagi, Adila pun tidak tahu. Tatapan Aditya seperti mengorek-ngorek jantungnya yang bergenderang ingin perang.
"Smile ya Bebs..." Ucapnya kepada Aditya dan David.
Adila mengarahkan ponselnya, cekrek....
"One more ciin..."
Moly merubah posisi. Lutut diangkat sedikit menekuk, punggung disandarkan ke lengan Aditya dan tangan berpegang pada pundak David, ditambah mulut yang dibiarkan menganga lebar dengan sedikit jentikan di dagu, pose sexy, menurutnya.
Cekreek....
Adila menahan tawa dengan hasil jepretannya, sepasang wajah malang dengan bibir yang terpaksa ditarik untuk tersenyum.
"Emm... so cuteee..." Moly berjingkrak-jingkrak dengan menggoyangkan pinggang melihat fotonya sendiri.
"Makasih full Pak Aditya, Pak David... kalian the best for me."
"Kalau begitu saya per..."
Moly langsung memotong ucapan Aditya," Pak Aditya juga harus foto sama model dung, pasti aspirin kan?"
Mata Adila membelalak, mendengar ide gila yang dilontarkan Moly.
"Aspirin... obat?" Aditya kembali tidak mengerti dengan kosakata Moly yang sangat aneh menurutnya.
"Maksud ek Asli Pinisirin alias penasaran." Ucapnya sambil terkikik centil.
Moly menarik tangan Adila untuk bersanding dengan Aditya," Ayo pose syantik Nek...!"
"Moly tapi...."
"Sssssttt...." Moly menyimpan telunjuknya di bibir Adila.
"Oke kamera ready...," Moly mengarahkan kameranya, namun seketika bibirnya mengerucut,"... aduh kok pose KTP sih, ayuk lebih deket lagi dung, jangan kaku gicyuuu."
Kesal sendiri, Moly menghampiri Adila dan mendorong tubuhnya dengan keras hingga ia terjerambat kedalam tubuh Aditya yang seketika memegang kedua bahunya agar tidak terjatuh. Tangan Adila pun berpegangan pada baju di dada Aditya. Jarak yang begitu dekat, membuat pandangan mereka saling terikat.
Cekreeek...
"Emmm... sweetnya."
Suara Moly yang cempreng, menyadarkan posisi mereka yang sangat berdekatan. Secepatya Adila melepas tangannya dari dada Aditya, begitupun sebaliknya.
"Maaf Pak."
Kata Pak langsung terucap lirih dari bibir Adila, entah angin dari mana sapaan itu bisa keluar begitu saja, setelah beberapa kali ia bertemu dengan Aditya.
Aditya tidak menjawab, ia hanya bisa melihat Adila yang tampak salah tingkah dengan wajah yang sudah berubah merah.
"Kalau begitu saya permisi, silahkan dilanjutkan." Ujar Aditya yang terburu-buru pergi dari ruangan David.
"Baik Pak." Jawab David.
David yang sedari tadi memperhatikan sikap canggung Adila dan Aditya, bertanya dalam hati, Apa mungkin kejadian waktu itu akan kembali berlanjut menjadi sebuah kisah yang baru??? yang pasti sekarang semuanya jadi lebih mudah setelah ia menemukan satu titik darimana dia bisa mulai mencari tahu, siapa Adila ini sebenarnya.
"Silahkan, mari kita lanjutkan." Ajak David.
"Yuhuuu... yuk mariii..." Balas Moly dengan mengandeng tangan David.
Ya ampun Moly.... molen gateeelllll