Ini kisahku. Tentang penderitaan dan kesakitan yang mewarnai hidupku. Kutuangkan dalam kisah ini, menjadi saksi bisu atas luka yang sengaja mereka perbuat padaku sepanjang hidupku.
Karina, lahir dari seorang ibu yang pemabuk sejak ia masih kecil. Menikahi pria yang sangat ia cintai tak kalah buruk memperlakukan Karina. Di tambah sang mertua yang tak pernah berpihak padanya. Hingga satu tragedi telah mengambil penglihatannya. Karina yang mengalami kebutaan justru mengalami perlakuan buruk dari suami dan mertuanya.
Namun seorang pria tak di kenal telah membawanya keluar dari kegelapan. Yang tak lain pria yang sama yang merenggut penglihatannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 20
Ava membawa karina ke rumah yang ia sewa. Meski Ava tahu, apa yang ia lakukan salah. Adat di Indonesia dan Negaranya tentu beda. Namun Ava sangat menghormati Adat di mana ia tinggal saat ini.
"Karina, kau minum dulu."
Ava memberikan gelas berisi air mineral ke hadapan Karina. Ia lupa kalau Karina buta, lalu menarik tangan Karina supaya memegang gelas di tangannya.
"Terima kasih."
Karina meminum air dalam gelas, lalu ia berikan lagi pada Ava.
"Bisa kau antarkan aku pulang ke rumah Ibuku?" ucap Karina dengan tatapan ke samping, padahal Ava duduk di hadapannya.
"Tentu," sahut Ava sembari meletakkan gelas di atas meja lalu berdiri. "Ayo."
"Terima kasih."
Tangan Karina menggapai tangan Ava untuk di jadikan pegangan, karena penglihatannya sudah mulai gelap. Ava meraih tangan Karina dan mengenggamnya erat. Karina berdiri menarik tangannya dari genggaman Ava lalu mencengkram baju yang Ava kenakan untuk pegangan.
"Berangkat sekarang?" tanya Ava menoleh ke arah Karina yang hanya menjawab dengan anggukkan kepala.
Ava berjalan pelan menuntun langkah Karina keluar dari rumah. Namun baru saja sampai di halaman, nampak Pramudya dan salah satu anggota Polisi berdiri di hadapan mereka.
"Dia orangnya yang sudah membawa lari istriku!" seru Pramudya menatap marah pada Ava.
Mendengar suara Pramudya berteriak marah, Karina mengeratkan pegangannya.
"Mas Pram.."
"Tangkap saja dia, Pak!" seru Pramudya menunjuk ke arah Ava.
"Pak Pram tenang, kita bisa bicara baik baik." Pak Polisi itu menenangkan Pramudya, karena ia tidak melihat adanya gerak gerik kejahatan yang di lakukan Ava.
"Karina, ayo pulang!"
"Tidak!" pekik Karina.
Pramudya maju mendekati Karina dan menarik paksa tangan Karina. Namun Karina menepis tangan Pramudya lalu memeluk erat tubuh Ava.
"Aku tidak mau, mas jahat!" pekik Karina.
"Karina!" Pramudya dengan emosi menarij tubuh Karina yang semakin erat memeluk Ava.
"Mas tolong, aku tidak mau pulang!" Karina terus menjerit memohon perlindungan Ava dari suaminya sendiri.
Polisi yang sedari tadi diam memperhatikan, melihat kekasaran Pramudya akhirnya menarik tubuh Pramudya.
"Bapak bisa tenang, atau bapak saya tangkap!"
"Harusnya dia yang di tangkap!" tunjuk Pramudya pada Ava.
"Pak, kalau saya bersalah. Saya tidak akan melawan kalau Bapak tangkapm Tapi pria ini sudah melakukan kekerasan kepada istrinya sendiri." Ava angkat bicara karena tidak tega melihat Karina terus memohon kepadanya.
"Bohong!" elak Pramudya.
"Dia yang bohong Pak, dia yang jahat! pekik Karina berlinangan air mata.
" Pak Pram, sebaiknya anda selesaikan semua secara kekeluargaan. Saya tidak melihat ada kejahatan di sini." Pak Polisi memberikan saran kepada Pramudya.
Pramudya hanya diam menatap tajam Ava, dadanya naik turun terbakar cemburu melihat Karina begitu nyamannya memeluk Ava.
"Pak Pram, kalau begitu saya permisi. Sekesaikan dengan damai tanpa ada kekerasan atau saya menangkap Bapak." Ancam Pak Polisi. Lalu Pak Polisi itu meninggalkan tempat.
"Karina, kau ikut denganku atau aku akan memaksamu?" Pramudya semakin terbawa emosi.
"Tidak, aku tidak mau. Aku mau kita cerai!" pekik Karina.
"Ayo ikut!"
Pramudya kembali menarik tangan Karina, namun mendapat perlawanan dari Ava.
"Cukup! kau seolah olah bukan terlahir dari seorang wanita. Tidak seharusnya seorang wanita kau perlakukan kasar! asal kau tahu, semua perempuan di muka bumi ini calon Ibu! apa kau paham itu Pramudya!" ucap Ava lantang.
"Diam kau! tidak perlu berkhotbah di depanku!" Pramudya semakin marah. "Baiklah Karina, jika kau tidak mau pulang. Tapi ingat, jangan harap aku menceraikanmu. Sampai kapanpun kau istriku!'
Pramudya balik badan, melangkahkan kakinya meninggalkan mereka berdua dengan hati di penuhi rasa cemburu dan amarah.
" Karina, apa kau tidak apa apa?" tanya Ava melepaskan tangan Karina yang memeluknya erat. Tangannya terulur mengusap air mata di pipi Karina. Namun wanita itu memalingkan wajahnya dan mundur selangkah menjauh dari tubuh Ava.
"Maaf."
"Tidak apa apa Karina, ayo kuantar kau pulang."
Karina menganggukkan kepalanya, mencengkram kerah baju Ava.