NovelToon NovelToon
Gadis Introvert Milik Ardiaz

Gadis Introvert Milik Ardiaz

Status: tamat
Genre:Teen / Cintamanis / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:17.7k
Nilai: 5
Nama Author: Itsaku

"Menarik...!" seringai misterius seorang Ardiaz menghiasi wajah tampannya.

"Jangan panggil gue Ardiaz, kalau untuk mendapatkannya saja gue nggak bisa!!" imbuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Alea terlalu larut dalam kesedihan dan terbuai oleh pelukan Ardiaz, hingga baru menyadari kalau saat ini Ardiaz sedang memeluknya. Dengan canggung Alea melepaskan diri dari dekapan Ardiaz.

"Sorry..." ujar Ardiaz. "Gue gak ada maksud macam-macam. Gue..."

"Aku mengerti. Maaf, sudah membuat jaket kamu basah." sahut Alea tanpa menoleh ke arah Ardiaz.

Ardiaz justru tersenyum karena melihat Alea salah tingkah dan telinganya memerah. Ardiaz lalu meraih tangan Alea, membuat pemiliknya menatap tangannya yang kini digenggam Ardiaz.

"Alea..., jujur. Gue belum rela lo pergi dari rumah gue. Lo gak akan pergi secepat ini kan?" Ardiaz menatap wajah Alea yang masih menunduk.

Alea mencoba menarik tangannya, tapi Ardiaz menahannya.

"AL..., gue ingin kita bisa lebih dekat lagi." kata Ardiaz lagi.

"Diaz, lepas...!" Alea masih berusaha menarik tangannya.

"Alea, gue cinta sama lo." ujar Ardiaz pada akhirnya.

Deg

Untuk sekian detik Alea terkejut mendengar pangkuan Ardiaz. Tapi detik berikutnya dia tersenyum miring. Dan menarik paksa tangannya, karena genggaman tangan Ardiaz mengendur seiring senyuman miring yang terbit di wajah Alea.

"Kamu salah orang, Diaz." balas Alea dengan datar.

"Tidak ada yang salah. Gue sangat yakin dengan perasaan gue." bantah Ardiaz.

"Sebaiknya kita pulang." Alea beranjak dari tempat duduknya.

"Tunggu!!"

Ardiaz menarik tangan Alea, hingga tubuh Alea terhuyung dan jatuh tepat di pangkuan Ardiaz. Insiden itu membuat hidung mancung keduanya saling bertemu, karena posisi mereka sudah tak lagi berjarak. Jantung keduanya pun seakan berlomba, siapa yang paling cepat keluar dari singgasananya.

"Gue cinta sama lo, Alea..." suara itu sangat lembut, hingga membuat tubuh Alea seketika meremang.

Alea merasakan sesuatu akan terjadi, karena bibir Ardiaz seakan semakin mendekat. Sebelum hal itu benar-benar terjadi, Alea bergegas berdiri dari pangkuan Ardiaz.

"Sudah hampir gelap. Nanti om dan tante khawatir." kata Alea dengan cepat, dan posisinya sudah membelakangi Ardiaz.

Ardiaz baru akan angkat bicara, tapi Alea sudah pergi duluan meninggalkannya.

"Aaahh...!!" Ardiaz kesal lalu menendang udara.

___

Alea benar-benar tidak bisa tidur gara-gara teringat terus dengan kejadian di taman sore tadi. Alea memutuskan untuk keluar kamar, dan duduk di depan teras kamarnya sambil menatap langit yang gelap. Sesekali dia mengusap bahunya karena udaranya cukup dingin dan lembab, sisa hujan yang turun beberapa menit yang lalu.

Handphone di sampingnya tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan dari Ardiaz.

Ardiaz : Ngapain di luar sendirian?

Alea menoleh ke sekitarnya mencari keberadaan Ardiaz. Tapi dia tidak menemukannya. Alea juga tidak ada keinginan untuk membalasnya.

Ardiaz : Di luar dingin, AL. Sebaiknya masuk, jangan sampai sakit

Liana masih tak merespon, hanya membacanya.

Ardiaz : Kalau masih duduk di situ, gue akan samperin lo sekarang juga

Alea menghela nafas panjang sebelum mengetik balasan untuk Ardiaz.

Alea : Udah malam, tidur sana. Besok telat ke sekolah lagi. Ngapain juga sih ngurusin orang??

Alea mengabaikan ancaman Ardiaz. Dia tetap duduk di tempat yang sama.

"Ekhem...!!"

"Astaga!!" Alea terperanjat, tiba-tiba Ardiaz muncul di balik tembok tak jauh dari tempatnya.

Ardiaz tersenyum simpul, menyilangkan tangannya sambil bersandar di tembok itu. Sedangkan Alea beranjak dari tempatnya, menghampiri Ardiaz dengan langkah cepat. Sesekali Alea menoleh kiri kanan, untuk memastikan tak ada yang melihat mereka.

"Diaz, kamu ngapain di sini...?!" protes Alea dengan suara berbisik.

"Mau ketemu lo. Gak boleh?!" sahut Ardiaz dengan santainya.

"Diaz, jangan aneh-aneh, deh. Ini sudah malam. Balik sana ke kamar kamu...!!" perintah Alea.

"Siapa lo ngatur-ngatur gue. Orang ini rumah gue, suka-suka gue lah..." balas Ardiaz kelewat slow.

"Ya sudah, terserah!!" sahut Alea.

Alea hendak pergi dari hadapan Ardiaz, tapi lagi-lagi Ardiaz menahannya.

"Diaz...!!" suara Alea sangat pelan tapi penuh tekanan.

"Gue butuh jawaban lo." bisik Ardiaz setelah menarik tangan Alea agar lebih dekat dengannya.

"Ardiaz, jangan kurang ajar kamu!!" balas Alea yang tetap berusaha tenang. Padahal jantungnya seakan ingin meledak saja.

"Lepasin...!!" Alea mencoba berontak. Tapi itu hanya sia-sia, karena tenaga Ardiaz jauh lebih kuat darinya.

"Tidak, sampai lo jawab!" ujar Ardiaz dengan tegas.

"Aku nggak cinta sama kamu. Puas!!" balas Alea dengan cepat, kemudian memalingkan wajahnya ke kanan.

"Gue ragu." kata Ardiaz. "Lalu ini apa?" Ardiaz menekan pipi Alea dengan telunjuknya.

"Pipi lo udah kek strawberry. Dan..." Ardiaz terdiam. "Gue bisa rasain debaran jantung lo." bisiknya tepat di telinga Alea.

"Ardiaz, cukup!!" hardik Alea, masih dengan suara pelan. Karena tak ingin ada yang mendengar.

Alea terus meronta, tapi Ardiaz tidak memberi ruang yang cukup untuknya. Ardiaz malah semakin berani memeluknya. Alea mati kutu dibuatnya.

"Kalau lo gak cinta sama gue. Lalu apa arti debaran ini AL...?" Ardiaz bergumam lirih sambil memejamkan matanya. Dia benar-benar menikmati debaran di dada Alea.

Alea tidak bisa berkata-kata. Dia terdiam dalam pelukan Ardiaz. Nyaman, itulah yang dia rasakan. Tapi Alea menolak yakin kalau itu cinta. Dia terlalu takut jatuh cinta. Karena pada akhirnya cinta itu sendiri yang menyakiti orang yang dia cintai. Terakhir kali dia jatuh cinta dengan seseorang, dan mencoba menjalin hubungan lebih dekat. Orang itu justru sekarat. Dan lagi-lagi karena Marcel.

"Buang jauh-jauh perasaan kamu, Diaz." akhirnya Alea buka suara. "Kamu lebih pantas jadi adikku." begitu katanya.

Ardiaz melepaskan pelukannya, dia sedikit kaget dengan kalimat yang dikatakan Alea. Melihat Ardiaz bengong, Alea mengambil kesempatan untuk pergi dan kembali ke kamarnya.

___

Ardiaz merasa terhina sekali, karena secara tak langsung Alea menganggapnya tak pantas dijadikan pacar.

"Dia benar-benar menganggap gue bocah. Yang lebih pantas jadi adiknya...?!! Yang benar saja...?!!" gerutu Ardiaz.

"Apa dia lupa kalau dia malah lebih cengeng dari Evelin...?!!" Ardiaz tampak sangat kesal.

"Menarik...!" seringai misterius seorang Ardiaz menghiasi wajah tampannya.

"Jangan panggil gue Ardiaz, kalau untuk mendapatkannya saja gue nggak bisa!!" imbuhnya.

"Lo lihat Alea. Bocah inilah yang justru akan membuat lo jatuh cinta...!!"

......................

1
TriAileen
kurang satu thor
TriAileen
syukaaa ma cerita nya. semoga gak muter2 n ending nya bahagia
Itsaku: Terimakasih...🙏 mohon kritik dan sarannya ya...😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!