Di puncak gunung dengan ketinggian 2874 MDPL, seorang gadis mendongak menatap lelaki yang berdiri di depannya.
"Mari kita akhiri semuanya." ucap gadis tersebut.
Lelaki yang menjadi lawan bicaranya tersenyum, "apa yang harus diakhiri? Kita tidak pernah memulai apapun."
Mata gadis tadi berkedip dua kali, ia mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut lelaki di depannya. Tak lama kemudian kepalanya mengangguk, "terima kasih."
Jadi kedekatan yang telah mereka lewati selama setahun belakangan tidak berarti apa-apa bagi si lelaki. Sementara lain hal dirasakan oleh si gadis, ia menganggap dirinya spesial.
Namun rupanya takdir punya caranya sendiri untuk menyatukan dua manusia, tidak peduli sejauh apa usaha keduanya untuk saling menjauh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firefly99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Jebakan
"Part dua eh?" tanya Wira kepada para perempuan yang terlihat sedang berusaha menyalakan api.
Mereka kompak mengangguk sambil memasang puppy eyes.
"Kalian lanjut goyang saja. Saya nyalakan api untuk para perempuan dulu." pamit Wira, diikuti oleh Haris.
Hal itu membuat para perempuan kembali duduk manis sambil meracik kembali sambel dan menyiapkan nasi hangat yang masih tersisa banyak.
"Kenapa rajin sekali ka makan dii?" beo Naya.
"Nah, tadi kau cuma minta makan malam. Sekarang Anggi kasih makanko 2 kali dalam semalam." sarkas Wina.
Naya terkekeh.
"Saya juga lapar lagi, mungkin karena kecapean goyang." Wiwi mengaku.
"Saya juga eh." ucap Nadia.
"Makan lah. Mama sengaja masak banyak tadi, itu ikan dan udangnya juga masih banyak. Pokoknya kita disini tembus pagi." ujar Anggi.
Setelah lelah bergerak, beberapa laki-laki membantu membakar ikan dan udang, beberapa lainnya hanya duduk dan ikut bercakap-cakap.
"Nando, piringnya nda cukup." lapor Anggi.
"Kurang berapa?" tanya Nando.
"Tiga." jawab Anggi. "Sorry, tadi lupa bilang."
"Eh, gak usah. Saya bisa berdua dengan Wina." larang Wiwi. "Kasihan juga, baru pulang dari laut."
"Iyaa, disitu saja. Gampang mah." Erwin ikut melarang, ia paham dengan kode yang Wiwi berikan.
"Nanti saya berdua dengan Wira." ucap Nadia.
"Ya iyalah, masa' saya yang dengan Wira. Ogah." Kevin menimpali.
"Nay, ko bisa berdua dengan Ryan kan?" tanya Haris. Ia sedang berusaha untuk tidak tertawa. Apalagi ekspresi Naya kini sangat menggemaskan, matanya melotot tajam.
Naya menatap Ryan yang kebetulan sedang menatapnya juga, "Aman." jawabnya kemudian.
"Ini ikannya dihabiskan kah kak Anggi?" tanya Radit.
"Habiskan saja." jawab Anggi. "Nanti biar gak ribet bolak balik cek ikannya apakah sudah matang atau belum."
Tiga nampan yang tadi sempat kosong, kini kembali diisi ikan bakar dan udang bakar. Ada 6 wadah sambel perasan jeruk dan cabe rawit, juga ada ulekan besar yang berisi sambel terasi. Lima matras dibentangkan dibuat memanjang menghadap ke laut.
"Gak bawa kunciran?" bisik Ryan ke Naya.
Naya menggelengkan kepalanya, "Gak tahu kalau anginnya akan kencang begini." jawabnya.
Ryan lalu mengeluarkan Hoodie nya, "pakai."
"Kamu?"
"Sudah sering."
Naya lalu memakai Hoodie milik Ryan, hal itu membuat rambutnya juga ikut tenggelam dibalik Hoodie.
"Woii, pacaran mulu." teriak Kevin yang kebetulan duduk dipinggir kiri.
"Siapa yang pacaran?" Naya balas berteriak. Ia duduk di sebelah Ryan pinggir kanan.
"Jangan diambil hati, dua orang ini memang kadang jadi tom and Jerry." ujar Haris. "Kalian makan gih!"
"Ryan, Naya gak bisa buka kulit udang." beritahu Erwin yang kebetulan duduk disisi lain Naya. "Perlu saya bantu?"
"Gak usah lah, orang ada Ryan kok." bukan Ryan yang menimpali, melainkan Fajar.
"Iya, kak." Ryan mengangguk paham. Ia lalu mengupas kulit udang dan menyimpannya di pinggir piring nasi. "Langsung dimakan saja."
Naya tentu saja melahap undang yang sudah bersih tadi. "Mau sambel ini atau sambel terasi?"
"Ini saja." jawab Ryan. Ia ikut makan, sepiring berdua dengan Naya.
"Besok ke rumah lagi yaa." pinta Ryan.
Naya mengunyah makanannya lebih dulu sebelum menimpali, "Jangan lah, gak enak. Izin saya sama papa hanya ke rumah Anggi. Apa kata orang juga nantinya?"
Ryan menatap Naya, tangannya yang bersih terjulur untuk mengambil sebutir nasi disudut bibir Naya, "Mau saya minta izinkan ke papamu?"
"Arr!" Naya menatap Ryan dengan tatapan memohon, agar berhenti membahas tentang rumahnya.
"Buka mulutnya!" Ryan menyodorkan udang di depan mulut Naya.
Naya menatap wajah Ryan dan udang tersebut bergantian.
"Ra!"
"Iyaa ih, sabar." Naya lalu membuka mulutnya dan menerima suapan langsung dari tangan Ryan.
Erwin menahan senyumnya, sepertinya Naya sudah jatuh dalam pesona Junior Badung nya. Alih-alih menggoda, ia malah ngobrol dengan yang lain, memberikan waktu kepada Naya dan Ryan untuk menikmati malam dengan cara berbeda dan sederhana di bawah hamparan langit malam yang penuh dengan bintang.
Begitu selesai makan dan bercengkrama sedikit, mereka sepakat untuk pulang. Sekarang bahkan sudah pukul setengah 12 malam. Ryan meminta Nando dan Radit untuk jalan duluan saja ke rumahnya, sementara ia menemani Naya dan yang lain berjalan kaki ke rumah Anggi.
"Naya seperti kurcaci dengan Hoodie kebesarannya." ledek Wiwi.
Naya cemberut, "Tapi lucu kan?"
"Tipi lici kin?" ledek Wiwi lalu menggandeng tangan Wina dan berjalan ke depan.
"Iyaa, lucu." Ryan yang menjawab pertanyaan Naya tadi. Tangan kirinya berada di puncak kepala Naya, seolah melindungi kepala gadis tersebut dari angin malam.
"Yan, main PS lagi boleh?" tanya Kevin.
"Wah, curang. Main PS tapi gak panggil-panggil." ternyata Fajar mendengar obrolan mereka.
"Boleh, kak." Ryan mengangguk. "Pulangnya lusa kan yaa? Besok ke rumah saja."
"Mereka mau naik perahu, Yan." beritahu Anggi.
"Bisa gak yaa naik perahunya sore saja? Sekalian liat senja gitu." tanya Nadya.
"Bisa-bisa saja." jawab Anggi. "Jadi sore aja nih?"
"Iya, Nggi. Biarkan kami istirahat dulu." jawab Haris.
"Aman-aman." Anggi mengangguk.
Ternyata Nando dan Radit menunggu di depan rumah Anggi. Mereka akan nginap di rumah Ryan malam ini.
"Langsung bersih-bersih dan tidur yaa?!"
Naya mengangguk.
"Tenang saja, malam ini gak saya telpon kok." Ryan tersenyum jumawa.
Naya mencebikkan bibirnya, "Iyaa tahu, mau telpon yang lain soalnya."
"Mulutnya." Ryan mempuk-puk puncak kepala Naya. "Masuk gih!"
Naya lalu memutar badannya dan menyusul para perempuan.
"Kak Naya gak mau ikut pulang ke rumah mertua?"
Teriakan laknat Radit terdengar di larut malam begini.
Naya tidak merespon, tapi ia bisa mendengar suara tawa para laki-laki di luar sana.
"Kalian juga pulang, istirahat!" usir Erwin.
"SIAP, SENIOR!" kompak ketiganya. Motor milik Nando dipake boncengan tiga.
Kurang dua menit, mereka tiba di rumah Ryan.
"Jebakan teman-temannya kak Naya keren bener." takjub Nando.
"Iya, bisa-bisanya kompak gitu menjebak kak Naya agar sepiring berdua dengan kau." Radit juga ikut takjub.
Ryan terkekeh kecil, ia juga akan sangat berterima kasih kepada teman-teman Naya. Tingkat kepekaan mereka terlampau tinggi, sehingga memberikan space kepada dirinya untuk bersama Naya. "Definisi teman yang benar-benar teman." katanya.
Nando dan Radit kompak mengangguk.
"Gak ada yang rese pula." ucap Radit.
"Yang rese kan kamu." Nando menyempatkan menginjak kaki Radit sebelum berlari memasuki rumah Ryan.
sedih dgn kisah Naya dan Ryan