Sequel DUREN MANIS...
Si kembar Rava dan Reva sudah beranjak dewasa. Mereka mulai mengenal cinta.
Reva yang lebih supel dan nakal jatuh cinta pada Flora, gadis cantik dan judes yang bekerja di rumahnya. Tapi Flora sudah terlanjur kesal pada sikap cuek Reva yang tidak sengaja mengotori seragam Flora.
Bagaimana Reva berjuang menaklukkan hati gadis pujaannya?
Sedangkan Rava yang serius dan tenang mulai tertarik pada Diva, gadis manis yang pintar memasak. Diusia yang masih muda, Diva sudah memiliki sebuah restaurant yang selalu ramai pembeli. Diva yang selalu tersenyum mengalihkan dunia Rava yang sepi karena takut kehilangan cinta pertamanya.
Sanggupkah Rava menyatakan perasaannya pada Diva? Apalagi dengan adanya Akbar yang lebih dulu hadir menaut hati Diva.
Akankah nasib mereka sama dengan Alex dan Rio atau justru kutukan itu sudah berakhir saat Rio mendapatkan kebahagiaannya bersama Gadis?
Kisah ini adalah sequel Duren Manis yang menceritakan cinta si kembar Ravando dan Revaldo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanny Rama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Ciuman pertama
Flora benar-benar asyik dengan dunianya sendiri saat
membersihkan kamar Reva. Ia tidak menyadari dinginnya AC di kamar itu dan juga
penghuninya yang masih betah di bawah selimut sedang menatapnya. Gadis itu baru
sadar setelah headset-nya tersangkut di kursi yang biasa diduduki Reva saat
bermain game.
Awalnya Flora ingin menyapa Reva dengan santai,
tapi ia teringat statusnya yang cuma pembantu di rumah itu. Flora hanya
tersenyum sekilas sambil sedikit membungkuk pada Reva. Tubuhnya terasa
merinding saat ia melakukan itu.
“Flo, kamu kenapa?”tanya Reva heran dengan
perubahan sikap Flora.
“Tidak apa-apa, tuan Reva. Aku keluar dulu.”saut
Flora buru-buru keluar dari kamar itu.
Reva hampir mengejar Flora keluar dari kamarnya,
tapi bunyi ponsel Flora yang terjatuh di atas kursi, menghentikan langkah Reva.
Pria itu mengambil ponsel Flora, ia melihat chat dari Sandra.
“Flo, sorry banget tadi mamaku emang keterlaluan
ngatain kamu gitu. Harusnya mamaku bisa menghargai pekerjaanmu. Pembantu di
rumahku juga kadang diperlakukan nggak baik, Flo. Sekali lagi aku minta maaf
ya. Tolong jangan jauhin aku ya. Kita tetep teman baik kan?”ketik Sandra dengan
emoji mewek yang banyak sekali.
Reva menyusul Flora setelah mengetahui masalah yang
dialami gadis pujaannya itu. Flora ada di lantai bawah, sedang membersihkan
debu di atas meja sofa. Reva mendekat sambil tersenyum melihat Flora tidak
bersemangat seperti biasanya.
“Flora!!!”teriak Reva kencang di belakang Flora.
Flora terperanjat kaget, ia menoleh horor menatap
Reva yang cengar-cengir nggak jelas.
“Apa!!”bentak Flora. Sesaat kemudian ia terdiam
lalu menunduk meminta maaf pada Reva.
“Cuma gara-gara ini bisa buat Flora yang galak,
jadi nurut gini ya.”kata Reva sambil memberikan ponsel Flora kembali ke tangan
Flora.
Flora menerima ponselnya dengan bingung, tapi
otaknya sedang malas mikir. Ia kembali mengambil lap lalu mengelap meja lagi. Reva
menarik tangan Flora, memeluk pinggang gadis itu sambil mendekatkan wajah
mereka.
“Flo, kamu kenapa galau gini? Apa karena ciuman
kita yang gagal semalam?”bisik Reva menatap tajam mata Flora.
Flora mencoba mendorong Reva, ia merasa tidak
nyaman dipeluk seperti itu. Flora juga tidak menanggapi kata-kata Reva yang
mengungkit masalah ciuman yang gagal semalam. Ia hanya ingin menyelesaikan
pekerjaannya dan beristirahat.
Reva menghantamkan kepalanya ke kepala Flora sampai
gadis itu meringis memukuli lengannya.
“Addoowww!!! Sakitt!!! Kamu udah gila ya!!”bentak
Flora memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing.
“Cepatan ganti baju. Ikut aku.”perintah Reva.
“Kema... hiiii!!! Kenapa kamu nggak pake baju?!!!!”jerit
Flora yang baru menyadari kalau Reva cuma pakai boxer. Flora mulai memberontak
mendorong-dorong tubuh Reva.
“Jangan gerak-gerak. Nanti dia bangun.”kata Reva
masih memeluk pinggang Flora.
Flora langsung berhenti bergerak, ia menanyakan
siapa yang dimaksud Reva. Dan saat pria itu melihat ke bawah tubuhnya, Flora
refleks melayangkan tangannya ke pipi Reva. Plak! Rasa panas sedikit menyengat
membuat Reva memegangi pipinya.
*****
Disaat yang bersamaan di rumah Riri, Rava juga
memegangi pipinya yang barusan di tampar Devina. Gadis itu menghentakkan
kakinya dengan kesal lalu pergi meninggalkan Rava bengong sendirian.
“Aku salah lagi ya.”gumam Rava mengelus pipinya.
Tadi saat Rava bertemu dengan Devina, ia mencoba
bicara baik-baik. Mia mengatakan pada Rava untuk meminta maaf pada Devina. Jadi
hubungan mereka bisa kembali membaik. Tapi saat Rava berusaha meminta maaf, ia
malah kena tampar Devina.
Rava berjalan gontai kembali ke tempat Mia duduk
bersama putra kedua Riri, Michaelangelo. Mia bengong melihat pipi Rava memerah
berbentuk telapak tangan.
“Kamu kenapa, Va? Itu pipi kamu kok merah gitu?”tanya
Mia.
“Rava ditampar Devina, mah.”saut Rava lesu.
“Hah?! Kok bisa?”tanya Mia bingung. “Kamu gimana
minta maafnya, sih?”
Rava hampir cerita tapi ia melirik Michaelangelo
yang menatapnya kepo. Mia yang melihat arah pandangan Rava, meminta
Michaelangelo pindah ke dekat Riri. Bocah laki-laki itu mengeluh malas pindah
tapi beranjak juga karena takut melihat Rava meliriknya tajam.
Rava menceritakan kalau ia tadi sudah meminta maaf karena
mencium Devina saat mereka kecil dulu. Devina yang masih kesal, memarahi Rava
dan mengatakan kalau ciuman itu adalah ciuman pertamanya. Rava yang memang
cepat sekali terpancing emosinya kalau sudah menyangkut Devina, mengatakan kalau itu juga ciuman pertamanya.
Devina tidak akan memaafkan Rava sebelum pria itu
mengembalikan ciuman pertamanya. Galau, emosi, kesal, tanpa pikir panjang, Rava
langsung memegang tengkuk Devina dan menciumnya lagi seperti saat ia kecil
dulu.
“Apa??!!”pekik Mia kaget.
“Iya, mah. Aku cium aja lagi. Kan disuruh ngembaliin
tuch. Ya, aku cium lagi. Habis gimana caranya?”tanya Rava dengan bloonnya.
Mia menepuk jidatnya, ia menatap Rava lagi lalu
menjewer telinga putranya itu. “Addoww!!! Sakit, mah. Ampun!”jerit Rava. Mia
juga mencubiti Rava sampai melungker di lantai.
“Cepetan bangun! Ikut mama.”kata Mia masih menjewer
telinga Rava. Mia bertanya pada Lili tentang keberadaan Devina dan Lili
mengatakan kalau putrinya sedang menangis di kamarnya di bawah tangga.
Mia menyeret Rava sampai ke depan pintu kamar
Devina, ia mengetuk pintu sebentar lalu membuka pintunya.
“Devina, oma boleh masuk?”tanya Mia. Devina menoleh
dengan mata sembab habis menangis, ia mengangguk. Mia menarik Rava berdiri di
depan Devina. “Devina, oma minta maaf ya atas kenakalan Rava. Nich, udah oma
jewer.”kata Mia sambil menjewer Rava lagi.
Devina tidak bisa menahan senyumnya ketika melihat
ekspresi kesakitan Rava.
“Maaf.”ucap Rava sambil meringis. Sudah cukup ia
jadi bulan-bulanan mamanya karena Devina.
Devina mengangguk, tersenyum malu pada Rava yang
juga tersenyum melihat senyuman Devina.
”Cantik juga kalo senyum gitu. Eh, aku mikir apa
sich.”
“Sudah ya. Kalian sudah baikan. Mama keluar dulu.”kata
Mia meninggalkan mereka berdua di kamar itu. Keduanya saling pandang tanpa tahu
harus bicara apa.
“Gimana kuliahmu?”tanya Rava memutuskan
kecanggungan diantara mereka.
“Baik. Bulan depan aku wisuda.”saut Devina.
Rava mengangguk-angguk. Ia melirik Devina lagi,
menatap bibirnya lebih tepatnya.
“Tadi manis juga. Rasa stawberry?”tanya Rava.
Devina berpikir sejenak sebelum bangkit dan
menimpuk Rava dengan bantal yang ada di dekatnya. Rava nyengir lebar melihat reaksi
Devina yang malu karena Rava mengungkit tentang ciuman mereka tadi.
“Nggak usah di bahas dech. Nyebelin banget!”gerutu
Devina.
Wajahnya merona merah dan dihatinya terasa sesak
penuh dengan bunga-bunga. Devina tidak bisa membohongi dirinya kalau pria di
depannya itu sudah menawan hatinya sejak Rava mencuri ciuman pertamanya.
Rava yang masih memegang bantal yang dipegang
Devina, balas melempar bantal itu tepat mengenai wajah Devina yang sedang
berbunga-bunga.
“Lo mikir jorok ya. Ampe merah gitu mukanya.”tuduh
Rava.
“Rava!”jerit Devina sambil mengejar pria itu keluar
dari kamarnya.
*****
Makasih udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejakmu
rate bintang 5, like, komen, dan yang paling penting vote, vote, vote. Ty.
Visual Rava
Visual Devina
Visual Michaelangelo