Asyifa yang lugu dan polos, menjadi korban permainan kotor dari sepasang suami istri.
Pernikahan Asyifa dengan Randa, ternyata hanyalah bagian dari rencana busuk Randa dan Nikita untuk segera mendapatkan keturunan.
Setelah Asyifa melahirkan anaknya, Asyifa shock ketika Nikita datang tiba-tiba membuka jati dirinya sebagai istri pertama Randa dan berniat untuk merebut Safina anaknya.
Asyifa berjuang keras mempertahankan anaknya Safina. Segala cara yang dilakukan Nikita, selalu bisa ia gagalkan.
Namun suatu hari, Randa yang sudah dilanda cemburu buta karena melihat Asyifa bersama pria lain, berhasil kabur membawa Safina anaknya dari tangan Asyifa.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Apakah Asyifa dan Safina bisa bertemu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afriyeni Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Suasana hening menyelimuti kediaman Arif Budiman. Didalam kamar yang cukup luas, Nyonya Ningsih masih menunggu jawaban dari bibir Kenzie yang masih diam membisu sedari tadi.
"Kau masih mencintainya anakku?" pertanyaan yang sama, kembali terlontar dari bibir Ningsih, ibunya Kenzie.
Kenzie menundukkan wajahnya, menutupi kesedihan yang menyelinap tiba-tiba hadir dalam relung hatinya yang terluka.
"Aku pikir, aku tak perlu menjawab pertanyaan bunda. Semua percuma, dia sudah menikah dan punya anak." Tutur Kenzie dengan nada serak sembari memalingkan wajahnya yang nyaris memerah menahan kesedihan.
"Maafkan bunda Ken, bunda hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu padanya." Ucap Ningsih menyesali pertanyaannya yang hanya mengungkit luka dihati anaknya.
Diam-diam, Ningsih menyadari. Jika putranya memendam perasaan cinta yang teramat dalam untuk seorang perempuan yang telah berstatus istri orang. Kecewa, sedih dan terpukul, bercampur aduk dalam hati Ningsih. Dia ikut merasakan apa yang saat ini dirasakan putranya.
"Lupakan dia Ken, bunda yakin, kelak kau akan mendapat perempuan yang lebih baik darinya." Bujuk Ningsih mencoba menghibur putranya.
Tak ada satupun kata terucap dibibir Kenzie. Dia hanya diam mematung tanpa memandang ibunya sama sekali. Pemuda itu, berusaha keras menyembunyikan perasaan luka dihatinya dihadapan ibundanya yang tercinta.
Ditempat lain, dimana Asyifa berada.
Asyifa terlihat sibuk menyusun aneka kue yang baru selesai dia buat sejak pagi tadi dalam sebuah keranjang. Dengan penuh semangat, Asyifa menaruh keranjang itu di tengah rumah sembari bersenandung kecil.
"Wah, kak Syifa suaranya bagus juga ya." puji Zaki yang mendadak muncul dibelakangnya.
"Ah, kamu bisa aja. Suara kakak jelek begitu dibilang bagus." Kelit Asyifa merendahkan diri.
Senyuman kikuk dan malu-malu karena kepergok Zaki, terukir di bibirnya yang merah tanpa polesan lipstik. Rona merah pun bermunculan menghias kedua belah pipi Asyifa membuat wajah cantiknya kian berseri.
Zaki tersenyum simpul melihat sikap Asyifa yang malu-malu. Padahal, dia tak berniat menggoda. Zaki memang terpukau dengan suara merdu yang baru saja dia dengar keluar dari mulut Asyifa. Pujian yang dia lontarkan bukan sekedar pujian biasa.
"Kakak mendingan jadi artis, daripada jadi tukang kue begini." Sindir Zaki berlagak masa bodoh dengan sikap Asyifa yang makin malu dan grogi mendengar perkataannya.
"Jangan ngeledek, buruan antar kuenya ke warung. Nanti keburu siang." Sungut Asyifa menepis perasaan malu yang timbul dihatinya.
Asyifa menyesali senandung yang sempat keluar dari bibirnya. Andai tadi dia tak bernyanyi, mungkin Zaki takkan menyindirnya. Asyifa memang hobi bernyanyi, dari dulu, ia senang sekali bernyanyi. Kata orang, suaranya bagus. Tapi Asyifa tak pernah percaya diri, dia selalu menyembunyikan suara emasnya.
"Aku nggak ngeledek loh kak. Sumpah! Suaramu bagus, kayak suara penyanyi." Sanggah Zaki meyakinkan Asyifa.
Asyifa yang mengabaikan ucapan Zaki, segera menaruh keranjang kue dihadapan pemuda itu.
"Iya, iya..., Kakak tau, suara Kakak lumayan bagus buat ngusir hewan. Udah, jangan godain kakak pagi-pagi. Sana, antar kue ke warung sebelum nenek ngomel-ngomel." Ucapnya kemudian berbalik menuju dapur meninggalkan Zaki yang memandangnya dengan mencibirkan bibirnya.
"Dibilangin nggak percaya, ntar, aku buktikan kalau kakak cocok jadi penyanyi." Zaki memiringkan bibirnya ke sudut pipinya sebelum dirinya pergi keluar sambil menenteng keranjang yang sudah penuh dengan kue buatan Asyifa.
Semenjak Asyifa tinggal bersama mereka, perempuan itu sekarang sibuk membuat kue setiap pagi untuk dititip ke warung-warung sekitar sana. Zaki bertugas setiap harinya membantu Asyifa mengantar kue itu ke warung-warung. Semua itu dilakukan Asyifa untuk membantu meringankan beban Zaki dan neneknya yang telah berbaik hati memberinya makan dan tempat tinggal.
Asyifa tersenyum sendiri memikirkan perkataan Zaki yang sempat terlintas dibenaknya.
"Ada ada saja." Gumamnya pelan sembari berbalik menuju dapur.
Asyifa sempat mengintip Safina di kamar nenek Zaki. Bibirnya kembali mengulas senyuman melihat anaknya tertidur dengan pulas.
"Asyifa...,!" suara nenek Zaki yang memanggil namanya membuat Asyifa melongok ke arah dapur.
"Ya nek...," sahut Asyifa cepat dan bergegas menuju dapur.
"Mumpung Safina lagi tidur, pergilah ke pasar untuk membeli bahan-bahan kuemu yang hampir habis. Jangan khawatir, biar nenek yang jagain Safina di rumah." Ucap nenek Zaki sambil menepuk-nepuk sarung yang ia kenakan untuk membersihkan tangannya yang basah sehabis cuci tangan.
"Kalau begitu, Asyifa langsung berangkat sekarang saja nek, biar cepat pulang." Ujar Asyifa bersemangat.
"Iya, pergilah cepat." sahut nenek Zaki mengibaskan tangannya menyuruh Asyifa lekas berangkat ke pasar.
Tanpa berlama-lama, Asyifa bergegas menyambar sebuah dompet kecil yang ia taruh di sebuah lemari kecil.
"Asyifa pergi dulu nek, Assalamualaikum...,!" teriak Asyifa berpamitan pada nenek Zaki.
"Iya, Waalaikumsalam!" nenek berteriak membalas salam Asyifa dari arah dapur.
Asyifa bergegas menuju pasar yang tak begitu jauh dari rumah kontrakan Zaki dan neneknya. Hanya beberapa menit berjalan kaki, Asyifa telah sampai di pasar yang lumayan ramai dengan pembeli.
Setelah berbelanja beberapa bahan keperluan untuk membuat kue dan beberapa keperluan lain, dia berniat hendak langsung pulang.
Mendadak langkahnya terhenti, tatkala dia melihat keramaian di salah satu sudut pasar.
"Ada apa sih? Kenapa ramai sekali?" rasa penasaran melihat ramainya orang berkumpul, membuat Asyifa tertarik untuk ikut mendekat kesana.
Tubuhnya yang ramping, dengan mudah menyelinap dibalik kerumunan orang-orang yang berkumpul berdesak-desakan. Sepasang bola matanya tertumpu pada setumpuk lukisan berserakan dilantai pasar yang cuma beralaskan kain terpal.
"Hebat! lukisannya bagus semua." Asyifa terpukau melihat hamparan lukisan yang beraneka macam rupa.
Jemarinya yang dulu sering terlatih menggambar di kertas buku, bergerak sendiri menyentuh salah satu lukisan abstrak.
"Sayang sekali, karya sebagus ini ditaruh seperti ini. Harusnya, karya ini di taruh di museum seni, gedung-gedung promosi atau stand pameran." Batin Asyifa merasa sedih melihat karya sebagus itu ditaruh sembarangan oleh pemiliknya.
Sorot mata Asyifa berputar mencari pemilik lukisan yang rupanya sedang asyik melukis wajah seorang anak kecil. Hati Asyifa makin tergerak untuk mendekati pelukis yang ternyata masih muda dan berwajah tampan.
Cukup lama Asyifa terdiam memperhatikan gerakan lincah jemari pemuda itu memainkan pensil yang ada ditangannya. Matanya tak berkedip, tatkala membandingkan lukisan itu dengan objek aslinya.
"Mirip sekali! Dia benar-benar pelukis yang berbakat." Puji Asyifa dalam hati.
Hanya sepuluh menit, lukisan itu sudah selesai. Anak kecil dan kedua orang tuanya tampak sangat puas dengan hasil lukisan pemuda itu. Mereka mengucapkan terimakasih sekaligus menyerahkan selembar uang seratus ribu.
"Kamu mau di lukis juga?" suara pemuda itu terdengar bicara entah pada siapa.
Asyifa hanya diam memperhatikan sekelilingnya. Pantas saja ramai orang berkumpul, ternyata mereka menonton pertunjukan gratis dari pemuda itu yang mencari nafkah dengan melukis sketsa wajah orang.
"Hei, kamu mau di lukis juga!?" tanya pemuda itu sekali lagi membuat Asyifa kaget.
"Si-siapa? aku...,? Tidak, aku tak mau dilukis." Asyifa langsung gagap.
Tak disangka, pemuda itu ternyata bicara dengannya. Dia pikir, pemuda itu bicara dengan orang lain.
"Kenapa?" pemuda itu menatap wajahnya tajam.
"A-aku, aku tak punya uang untuk membayarmu." Jawab Asyifa gelagapan.
Pemuda itu malah tersenyum dikulum. Dia mengambil selembar kertas putih baru untuk dilukis.
"Duduklah disitu!" ucapnya menunjuk sebuah bangku kecil dihadapannya dengan pensil.
Asyifa tampak bingung dengan sikap pemuda itu.
"Maaf, Aku sedang terburu-buru." Sahut Asyifa bergerak hendak pergi.
Glek!
Langkah Asyifa terhenti seketika saat tangannya dipegang pemuda itu dengan kuat.
.
.
.BERSAMBUNG