Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit membelah kepadatan kota, sedan mewah milik Fadhlan akhirnya berhenti di pelataran sebuah restoran bergaya klasik modern. Bangunannya megah, dikelilingi taman vertikal yang asri dengan deretan mobil premium berjejer di area parkir.
Rupanya Fadhlan sudah memikirkan segalanya dengan matang. Ia telah memesan sebuah VVIP room di restoran tersebut, agar dia dan Syifa memiliki privasi penuh dan lebih leluasa untuk mengobrol berdua tanpa perlu khawatir terganggu oleh pandangan orang lain atau mahasiswa yang kebetulan berada di tempat yang sama.
Ruangan itu sangat nyaman, ber-AC sejuk dengan interior dinding kayu yang hangat. Namun, begitu pelayan berseragam rapi mengantarkan buku menu, mata Syifa membelalak kecil. Jantungnya mencelos melihat deretan angka yang tertera di sana.
‘Astaghfirullah... harga makanan di sini mahal-mahal sekali. Satu porsi steak saja bisa untuk jatah makanku dan teman-teman kos selama seminggu,’ batin Syifa menjerit, tangannya agak gemetar membalik halaman menu.
"Saya pesan yang ini dan yang ini. Kamu mau pesan yang mana, Dek?" tanya Fadhlan lembut, menatap Syifa yang sejak tadi hanya membolak-balik buku menu dengan raut wajah bimbang.
Syifa mencondongkan tubuhnya ke depan, berusaha memperkecil jarak agar suaminya bisa mendengarnya. "Ehmm... Mas. Harga makanannya mahal-mahal sekali. Kita pindah tempat saja yuk? Cari warung makan biasa saja," bisik Syifa dengan nada memohon yang amat sangat.
Fadhlan tidak bisa menahan senyum tipisnya melihat kepolosan sang istri. Ia menutup buku menunya sendiri, lalu menatap matanya dalam-dalam, mengulas senyum meyakinkan yang begitu menenangkan. "Pilih saja apa yang kamu mau, Dek. Jangan memikirkan hal lain."
Pelayan restoran yang berdiri tidak jauh dari meja mereka dan tidak sengaja mendengar bisikan Syifa, buru-buru menundukkan kepala, berusaha bersikap profesional seolah-olah tidak mendengar apa pun.
Melihat suaminya yang bersikeras, Syifa akhirnya menyerah dengan pasrah. "Hm... kalau begitu saya pesan menu yang sama dengan Mas saja deh, kalau minumnya yang ini saja. Terima kasih, Kak," ujar Syifa lembut sembari menyerahkan kembali buku menu itu kepada pelayan.
"Sama-sama. Mohon tunggu sebentar, pesanan Tuan dan Nona akan segera diantarkan," ucap pelayan itu dengan ramah sebelum membungkuk hormat dan meninggalkan ruangan.
Kini, tinggallah Syifa berdua dengan Fadhlan di dalam ruangan yang mendadak terasa begitu sunyi. Suasana seketika berubah menjadi sedikit canggung karena mereka berdua sempat bingung hendak memilih topik pembicaraan apa untuk memulai. Syifa mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan, lalu matanya tertuju pada sebuah poster promosi hidangan daging di dinding.
"Kalau mengajak Jihan dan Adiba ke sini, pasti mereka akan senang sekali. Makan steak premium seperti yang sering mereka lihat di drama Korea," ujar Syifa, membuka percakapan demi mencairkan kecanggungan.
Fadhlan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat tangan di dada dengan minat yang kentara. "Oh ya? Kamu juga suka menonton drama seperti itu?"
"Sedikit, sih. Saya cuma ikut menonton saja kalau sedang berkumpul di rumah Jihan atau Adiba. Malah mereka sempat bilang, ada salah satu aktor atau idol di drama itu yang wajahnya mirip sekali sama Mas," cerita Syifa polos, matanya berbinar menceritakan sahabat-sahabatnya.
Fadhlan menaikkan sebelah alisnya, senyum percaya diri langsung terkembang di wajah tampannya. "Benarkah? Tapi sudah pasti lebih tampan saya, bukan?" tanya Fadhlan dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, sengaja ingin melihat reaksi istrinya.
Syifa tertawa geli, rasa canggung yang sempat mendera seketika menguap begitu saja. "Iya aja deh, Mas, biar suamiku ini senang," jawab Syifa setengah meledek, membuat Fadhlan terkekeh pelan.
"Biasanya kalian bertiga menghabiskan waktu luang ke mana saja kalau di kampus?" tanya Fadhlan lagi, benar-benar ingin tahu bagaimana kehidupan sehari-hari gadis yang kini telah menjadi tanggung jawabnya itu.
"Ehmm... paling makan seblak atau bakso di warung tenda dekat kampus. Kalau bosan, paling nonton film bareng di rumah Jihan atau Adiba. Sesekali kami jalan-jalan ke toko buku yang ada di mall, terus main ke taman kota. Kadang... kami juga sengaja cari tempat atau kafe yang menyediakan fasilitas Free Wi-fi, hehe," tutur Syifa diakhiri tawa kecil yang terdengar renyah.
Fadhlan mengernyitkan dahi, sedikit asing dengan istilah terakhir. "Free Wi-fi?"
"Iya. Bagi mahasiswa dengan uang saku pas-pasan seperti kami, fasilitas Wi-Fi gratis itu sangat membantu, Mas. Apalagi kalau di rumah Abi, sinyal internetnya susah sekali. Tapi, mungkin Mas Fadhlan ngga pernah ngerasain hal-hal sekadar berburu internet gratisan seperti kita ya?" tanya Syifa, sedikit menyindir latar belakang suaminya yang sejak lahir sudah bergelimang kemudahan.
Fadhlan tersenyum maklum, bersedekap. "Memang sebenarnya apa yang kalian cari di internet dengan fasilitas gratis itu?"
"Ya tentu saja untuk mencari referensi data untuk membuat tugas makalah kuliah, Mas," jawab Syifa bangga.
Fadhlan mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang dagu dengan satu tangan sembari melemparkan tatapan jenaka yang menyudutkan. "Mencari referensi... atau justru melakukan copy-paste dari makalah mahasiswa universitas lain, lalu tinggal kalian ganti bagian sampulnya dengan nama kelompok kalian sendiri?" sindir Fadhlan telak, menggoda istrinya dengan nada khas seorang dosen penguji.
Perkataan suaminya berhasil membuat Syifa terkesiap seketika. Matanya membelalak kaget. Ia mendadak lupa kalau pria di hadapannya ini adalah dosen muda yang sangat teliti di kampus, yang sudah berulang kali menjumpai tulisan hasil jiplakan yang dilakukan oleh mahasiswanya.
"I-itu... itu kan juga termasuk salah satu bentuk usaha mencari referensi, Mas!" elak Syifa, mendadak gugup dengan wajah memerah karena tertangkap basah.
"Ya, referensi yang diambil utuh dari mulai daftar isi sampai ke bagian kesimpulan, kan?" kejar Fadhlan lagi, menahan tawa melihat wajah defensif istrinya.
Syifa mengerucutkan bibirnya, menggeser duduknya sedikit menjauh dari Fadhlan ke sudut kursi. "Ih, males ah sama Mas! Udah di luar lingkungan kampus, tapi masih saja bahas tugas dan urusan kuliah. Menyebalkan."
Melihat istrinya merajuk, Fadhlan tidak bisa lagi menahan rasa gemasnya. Ia menggeser duduknya, merapatkan jarak hingga tidak ada celah di antara mereka. Lengan kokohnya meraih pundak Syifa, menarik gadis itu lembut ke dalam dekapannya, lalu Fadhlan menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu sang istri.
"Iya sayang, maaf... Jangan marah, ya? Kemarilah, saya merindukanmu," bisik Fadhlan dengan suara rendah yang begitu lembut di dekat telinga Syifa.
Seketika hati Syifa berdegup kencang tidak karuan. Meskipun ini bukan pertama kalinya mereka melewati momen romantis bersama, perlakuan manis dan panggilan "sayang" yang spontan dari Fadhlan selalu sukses membuat pertahanannya runtuh dan mendatangkan ribuan kupu-kupu di perutnya.
Di sela keheningan itu, Fadhlan diam-diam mengagumi kesederhanaan yang dimiliki oleh istrinya. Ia merasa sangat bahagia karena perlahan tapi pasti, Syifa sudah mulai terbuka dan mau berbagi cerita tentang dunianya, tidak kaku dan penuh ketakutan seperti saat awal pertemuan mereka kembali dalam ikatan pernikahan.
Tak lama kemudian, pelayan kembali masuk membawa nampan berisi pesanan mereka. Setelah hidangan tertata rapi, pelayan itu kembali undur diri. Fadhlan dan Syifa pun mulai menyantap makanan mereka dalam diam, menikmati cita rasa kuliner kelas atas tersebut. Di tengah makan, tiba-tiba Fadhlan memotong sepotong kecil dagingnya, lalu menyodorkan sendok yang berisi makanan itu tepat di depan bibir Syifa.
"Cobalah, ini sangat enak," ujar Fadhlan.
Syifa sedikit terkejut dan mencoba menghindar. "Eh... tidak usah, Mas. Biar saya makan bagian saya sendiri saja."
"Buka mulutnya, Dek... Aaa?" paksa Fadhlan tidak mau dibantah, tangannya tetap bertahan di depan mulut Syifa.
Karena suaminya terus memaksa dengan tatapan mata yang tidak bisa ditolak, akhirnya Syifa pasrah dan menerima suapan itu. Namun, sedetik kemudian Syifa sempat syok dan terpaku saat melihat Fadhlan tanpa ragu kembali menggunakan sendok yang sama, yang baru saja masuk ke dalam mulutnya untuk melanjutkan makannya sendiri.
‘Eh... Pak Fadhlan? Sendoknya kan bekas saya?’ jerit Syifa dalam hati, wajahnya memanas hebat.
"Bagaimana? Enak, kan?" tanya Fadhlan santai tanpa beban.
"Hehe... iya, Mas, enak sekali," jawab Syifa canggung, mencoba menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang luar biasa.
"Mau lagi?"
"Ngga usah, Mas, nanti saya ambil sendiri saja dari piring saya. Eh, Mas... cobain deh minuman ini. Segar banget rasanya," ujar Syifa mengalihkan pembicaraan, menggeser gelas minuman miliknya yang berwarna kuning cerah ke hadapan suaminya.
Tanpa keraguan sedikit pun, Fadhlan menerima gelas tersebut dan langsung meminumnya menggunakan sedotan yang sama dengan yang digunakan Syifa tadi. Namun, baru dua tegukan, Fadhlan langsung menyipitkan matanya rapat-rapat, menahan rasa kecut yang menusuk lidah.
"Dek... ini masam sekali. Adek benar-benar tidak apa-apa minum ini?" tanya Fadhlan heran, menatap istrinya dengan wajah yang masih berkerut menahan asam.
Syifa tertawa renyah melihat ekspresi suaminya yang jarang sekali terlihat sekonyol itu. "Hihi... segar tahu, Mas! Rasa masamnya pas, bikin mata yang tadinya mengantuk berat jadi langsung melek lagi."
Fadhlan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah, tak habis pikir dengan selera sang istri yang ternyata sangat menyukai rasa masam yang ekstrem.
...----------------...
Sementara itu, di sudut lain area kampus yang mulai lengang karena jam perkuliahan siang telah berakhir, Jihan dan Adiba sedang berjalan beriringan menuju parkiran motor. Langkah mereka mendadak terhenti ketika sebuah suara familiar memanggil dari arah belakang.
"Jihan, tunggu sebentar," panggil Hasbi. Pria itu bergegas melangkah lebar menghampiri motor Jihan yang terparkir di bawah pohon.
Tadinya, Hasbi hanya berniat menanggapi sapaan sopan Jihan seperti biasanya. Namun, ingatan tentang kejadian kemarin sore terus berputar di kepalanya, menimbulkan rasa penasaran yang teramat besar dan mengganjal di hatinya.
Jihan dan Adiba menoleh, sedikit terkejut. "Eh, iya Mas Hasbi? Ada apa ya?" tanya Jihan ramah.
"Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan kepada kalian. Ini mengenai Syifa," ucap Hasbi dengan nada serius, matanya menatap lekat kedua sahabat Syifa tersebut.
Mendengar nama Syifa disebut oleh Hasbi, Jihan dan Adiba seketika terkesiap. Mereka saling melempar pandangan rahasia yang sarat akan kegugupan.
"Syif-Syifa? Emangnya ada apa ya Mas dengan Syifa?" tanya Jihan lagi, berusaha menata suaranya agar terdengar senormal mungkin.
Hasbi menghela napas pendek sebelum memulai ceritanya. "Kemarin sore, saya tidak sengaja bertemu dengannya saat hujan deras. Saya memutuskan untuk berteduh di minimarket depan kampus. Saat itu, Syifa bilang dia mau pulang naik angkutan umum."
"Pulang naik angkot?" sela Adiba cepat, memotong kalimat Hasbi karena merasa aneh.
"Justru itu yang membuat saya heran sampai sekarang," lanjut Hasbi, dahinya berkerut dalam. "Biasanya Syifa selalu naik sepeda motor sendiri ke kampus, bukan? Sampai hampir menjelang maghrib saya menemaninya di sana. Karena khawatir, saya menawarkan diri untuk mengantarnya pulang sampai ke rumah. Tapi dia tetap bersikeras menolak, alasannya karena dia menunggu dijemput oleh Abinya."
Adiba dan Jihan menyimak cerita itu dengan saksama tanpa berani memotong lagi. Di dalam hati, mereka berdua merinding karena mereka sendiri pun sebenarnya tidak tahu perihal kejadian Syifa yang kehujanan kemarin sore.
"Lalu... bagaimana kelanjutannya, Mas? Akhirnya Syifa pulang naik apa?" tanya Jihan yang sudah tidak sabar dan mulai merasa cemas jika rahasia sahabatnya terbongkar.
"Waktu saya sedikit memaksanya untuk pulang bersama karena hari sudah semakin gelap, tiba-tiba ada sebuah motor sport hitam berhenti, dan ada orang yang datang menjemputnya. Dan, kalian tahu siapa orang yang menjemput Syifa sore itu?" Hasbi sengaja menjeda kalimatnya, menatap lekat-lekat mata Jihan dan Adiba.
Jihan dan Adiba kompak menggelengkan kepala dengan cepat, meski dada mereka sudah berdegup kencang menanti jawaban yang sebenarnya sudah bisa mereka tebak.
"Dosen baru kita, Pak Fadhlan," lanjut Hasbi dengan volume suara yang direndahkan, namun terdengar begitu penuh penekanan di telinga kedua gadis itu.
Seketika, Jihan dan Adiba syok bukan main. Mulut mereka sedikit terbuka, bingung harus memberikan respons seperti apa. Pikiran mereka mendadak buntu, kalang kabut memikirkan jawaban apa yang paling aman agar status pernikahan Syifa dan Pak Fadhlan tidak bocor, sesuai dengan janji suci yang telah mereka sepakati bersama Syifa.
"Mungkin Mas Hasbi salah lihat kali, hehe. Mana mungkin Pak Fadhlan jemput Syifa," pungkas Jihan dengan tawa renyah yang dipaksakan, mencoba mengaburkan fakta.
"Saya yakin seratus persen tidak salah lihat, Jihan. Itu memang Pak Fadhlan," tegas Hasbi, matanya menyipit mengingat kejadian kemarin. "Sore itu, Pak Fadhlan kelihatan sangat marah dan tanpa banyak bicara langsung membawa Syifa pergi dari sana. Dan anehnya... Syifa menurut saja. Dia sama sekali tidak menolak saat disuruh naik ke motornya. Sebenarnya mereka berdua ada hubungan apa? Apa kalian sebagai sahabat dekatnya tahu sesuatu tentang hal ini?"
‘Ya jelaslah Syifa menurut saja tanpa menolak. Orang dia diajak pulang sama suaminya sendiri!’ lirih Adiba menjerit di dalam hati, menahan gemas setengah mati.
Jihan sudah mulai berkeringat dingin, jemarinya meremas ujung almamaternya. Ia tahu ia harus segera memikirkan sebuah alasan yang masuk akal sebelum Hasbi mencium kejanggalan yang lebih dalam.
"Itu... anu, Mas... Pak Fadhlan itu sebenarnya... kakak sepupunya Syifa!" ujar Adiba tiba-tiba dengan suara yang dibuat setegas dan seyakin mungkin, memotong kebingungan Jihan.
Hasbi tampak tertegun, matanya membelalak kecil. "Kakak sepupu?"
"I-iya, benar Mas!" timpal Jihan cepat, menyambar umpan dari Adiba dengan penuh semangat. "Jadi, Pak Fadhlan sama Syifa itu sebenarnya masih ada hubungan saudara dekat dari keluarga kakeknya. Mungkin saja kemarin sore itu, Pak Fadhlan ditelfon dan disuruh langsung oleh orang tuanya Syifa untuk menjemputnya, karena Syifa tidak membawa motor. Nah, makanya Syifa langsung menurut saja, Mas."
Hasbi terdiam sejenak, mencerna penjelasan panjang lebar dari kedua sahabat Syifa tersebut. "Benar... begitu kah?" gumam Hasbi lirih.
Meskipun dalam hatinya ia masih merasa ada sesuatu yang janggal, terutama mengingat tatapan mata posesif dan penuh amarah yang dilayangkan Fadhlan kepadanya kemarin sore yang sama sekali tidak mencerminkan tatapan seorang kakak sepupu, Hasbi memilih untuk tidak memperpanjang urusan. Ia tidak ingin dianggap terlalu mencampuri urusan pribadi orang lain.
"Hm... ya sudah kalau begitu, Jihan, Diba. Terima kasih banyak atas informasinya ya. Saya permisi dulu, assalamu'alaikum," pamit Hasbi akhirnya, berbalik melangkah menuju motornya sendiri.
"Wa'alaikumussalam..." jawab Jihan dan Adiba bersamaan.
Begitu punggung Hasbi sudah menjauh dan menghilang di balik gerbang kampus, Jihan langsung membuang napas lega seolah baru saja lolos dari kejaran singa. "Aduh, gila! Jantungku mau copot rasanya, Diba!"
"Sama, Han. Maaf ya, terpaksa aku bohong bawa-bawa status kakak sepupu. Habisnya aku bingung mau alasan apa lagi," bisik Adiba, menyandarkan tubuhnya ke stang motor dengan perasaan bersalah yang mengganjal di dada karena telah berbohong, namun di sisi lain ia merasa lega karena berhasil menepati janji untuk melindungi nama baik sahabatnya.
...****************...