Boy mencoba menghindari tragedi pembunuhan saat dia melintasi jalanan sepi, namun nasib malang menimpanya. Pria pewaris tunggal perusahaan besar itu malah menjadi tersangka utama dari tragedi pembunuhan dan kini menjadi burunon kepolisian.
Apakah Boy mampu mengungkap pembunuh sebenarnya?
Bagaimana nasib perusahaannya setelah kejadian malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon soesan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecewa
Ken membuka pintu dengan kasar fan kesal sehingga suara benturan daun pintu pada dinding terdengar keras. Kesal, marah, kecewa. Itulah yang dia rasakan saat ini. Papanya tidak mau mengakui kalau Boy masih hidup.
Dedi sendiri merasa bersalah atas apa yang dia lakukan. Sebenarnya pria itu sudah memperkirakan kalau hal ini pasti akan terjadi. Peristiwa kematian memang tidak bisa dibuat permainan, tapi Dedy dan Boy sudah melakukan hal itu.
"Kenapa Papa tidak mempercayai kalau aku ini Boy? Boy putra kandungnya." Ken kesal dan menendang sofa di depannya.
"Wajar saja kalau Om Make tidak percaya padamu. Berita kematianmu bukan hanya keluargamu yang dibuat syok, tapi semua orang yang mengenalmu. Sekarang kamu kembali dengan utuh dan lengkap. Siapa yang akan percaya?"
"Ini semua karna ide gilamu."
"Kenapa kamu selalu menyalahkan aku?" ucap Dedy merasa kesal atas perkataan Boy.
"Maaf. Aku hanya kesal saja. Papaku sendiri tidak mempercayai aku dan tidak mau mengakui aku sebagai anaknya. Bagaimana dengan orang lain?"
"Orang lain tidak harus mempercayai bahwa kamu adalah Boy. Bahkan aku ingin mereka tidak percaya kalau kamu masih hidup."
"Apa lagi ide gila yang akan kamu lakukan?"
Dedy tersenyum melihat wajah Boy yang sudah tidak sabar ingin mendengar idenya. Pria itu berjalan dan duduk di sofa dengan santai.
"Sekarang yang terpenting adalah bagaimana caranya membuat papamu percaya bahwa kamu adalah Boy. Setelah itu baru kita jalankan rencana kedua," ucap Dedy yakin.
"Rencana apa?"
Boy duduk di depan Dedy dan menatap mata pria yang menjadi sahabatnya sejak kecil.
"Kamu tidak harus kembali menjadi Boy. Kamu tetap akan menjadi Ken. Saudara kembar Boy. Dengan begitu kita tidak perlu mengurus hal yang tidak penting tentang kematianmu dan kembalinya kamu hidup."
Boy menatap mata Dedy, pria itu sebenarnya kagum dengan pemikiran Dedy. Pria itu selalu ada saja muncul ide-ide cemerlang dan yang pastinya masuk ke dalam logika. Hanya salah kadang idenya benar-benar harus menggunakan pengorbanan yang tidak tanggung-tanggung.
"Tapi bagaimana cara meyakinkan Papa?"
"Kita ke rumahmu."
"Untuk apa?"
"Kalau kita tidak bisa meyakinkan papamu, masih ada mamamu. Kita akan mendekati mamamu dan menanyakan padanya tentang apa yang sebenarnya terjadi."
"Bagaimana kalau Mama juga tidak percaya? Tapi malah menjadi syok saat melihatku?"
"Kamulah yang harus tanggung jawab kalau mamamu syok," ucap Dedy sembari bercanda.
"Kamu gila! Kamu yang mempunyai ide, kenapa aku yang bertanggung jawab?"
Dedy tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Boy.
"Dasar pria aneh! Ide gilamu selalu membuatku pusing."
"Tapi kamu sebenarnya mengagumi ide-ide gilaku khan?"
"Iya. Aku akui idemu memang selalu cemerlang."
"Tuh khan benar." Dedy tersenyum menang.
"Sudahlah aku mau membereskan pekerjaanku dulu, setelah itu kita meluncur ke rumahmu," ucap Dedy berjalan menuju meja kerjanya.
"Aku akan menunggumu di sini."
"Hey, bukannya kamu harus bekerja sebagai OB?"
"Kamu pikir dengan pakaianku seperti ini aku harus mengaduk kopi untukmu?! Di mana harga diriku sebagai lelaki berwibawa? Aku ini pewaris tunggal," ucap Boy sombong.
"Dengar! Pewaris tunggal itu sudah mati. Kamu tidak ingat ucapan papamu? Anakku Boy sudah mati, jadi jangan berharap terlalu banyak!" ucap Dedy sengaja membuat Boy marah.
"Kalau sampai Papa benar-benar mencoretku dari daftar pewarisnya. Orang pertama yang akan aku habiskan adalah kamu."
Dedy kembali tertawa melihat kekesalan di wajah pria dengan jambang tipis yang membuat ketampanannya sempurna.
***
Dengan langkah ragu, Boy berjalan mengikuti langkah Dedy mendekati pintu rumahnya. Jantung pria itu berdebar semakin cepat, melebihi saat dia jatuh cinta pertama kali.
Dedy berdiri di depan pintu lama, pria itu sengaja memperlambat gerakan tubuhnya. Dia sengaja membuat jantung Boy semakin gelisah dan gugup.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa tidak mengetuk pintunya?" tanya Boy tidak sabar.
"Aku hanya ingin membuat jantungmu lepas," ucap Dedy menggodanya.
"Sialan!"
Dedy mengetuk pintu dengan senyum tipis mengembang dari bibirnya.
"Siapkan mentalmu! Aku yakin mamamu akan syok melihatmu."
"Sekali lagi kamu mengatakan hal itu, aku akan menyumpal mulutmu!"
Benar saja, begitu pintu dibuka oleh seorang wanita dan mata wanita itu langsung terpaku pada wajah Boy. Matanya membulat sempurna, pada wajahnya menyiratkan sebuah kerinduan yang mendalam. Boy dapat merasakan hal itu.
Dengan cepat wanita itu mencoba mengendalikan dirinya dan ekspresi wajahnya berubah menjadi wajah yang biasa saja.
"Tante," panggil Dedy memberi salam pada wanita itu.
"Hey Dedy, tumben ke sini di jam begini?" ucapnya sumringah tanpa menunjukkan bahwa dia syok saat melihat Boy.
"Iya Tante, ada yang mau Dedy bicarakan dengan Tante."
"Masuklah!" ucapnya menyuruh Dedy masuk.
Matanya beralih pada pria yang masih berdiri kaku di samping Dedy.
"Ken, wajahmu baru. Habis potong rambut ya? Kamu terlihat sangat tampan kalau seperti ini," ucap wanita itu tersenyum melihat Ken dengan penampilan baru.
'Ken? Mama memanggilku Ken. Berarti Mama tidak menganggapku sebagai Boy?' gumam Boy dalam hati.
"Kenapa Ken? Kok bengong?" tanyanya lagi saat melihat Ken masih terpaku dan menatapnya.
"Ah, tidak Tante. Aku hanya teringat pada mamaku saja. Dia wanita yang sangat cantik dan penyayang," ucap Ken masih terus memandangi mamanya.
Ada kerinduan yang terdalam dalam hati pria itu. Ingin rasanya dia memeluk wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya, tapi saat ini tidak bisa dia lakukan. Boy harus mengikuti saran Dedy.
"Ada apa Dedy?" ucap wanita itu saat mereka sudah duduk di sofa tamu.
"Tante, sebelumnya aku mau tanya sama Tante," ucap Dedy ragu.
"Tanya apa?" ucapnya lembut.
"Tante kenal dengan dia?" tanya Dedy, matanya melihat pada Boy.
Bibir wanita itu tersenyum mendengar pertanyaan Dedy. Matanya melihat pada Boy. Wajah pria itu mendadak tegang dan kaku.
"Kamu lucu Dedy, kenapa kamu bertanya seperti itu pada Tante? Tentu saja Tante kenal," ucap wanita itu.
"Ma, Mama kenal denganku?" ucap Boy senang.
"Mama? Kenapa kamu memanggilku mama Ken? Apa wajah Tante ini mirip dengan mamamu?" ucap wanita itu dengan wajah datar.
Berbeda dengan Boy, wajah pria itu sontak berubah menjadi kecewa. Dia kira mamanya mengenalinya sebagai Boy, tapi nyatanya tidak. Harapannya pupus. Boy tidak dapat berkata-kata lagi.
"Tante, apa benar Tante tidak mengenali wajahnya?" tanya Dedy.
"Maksudmu wajahnya mirip dengan Boy?" tanyanya tersenyum.
"Dia memang Boy, Tante"
"Apa kamu bercanda Dedy?"
"Tidak Tante, aku tidak bercanda. Ken memang Boy."
"Boy sudah tiada Dedy. Jangan lagi menyebut namanya dengan tidak sopan!"
"Tante, sebenarnya Boy belum meninggal."
"Apa maksudmu?"
"Kecelakaan itu hanya rekayasaku untuk mengelabuhi polisi dan musuh. Sebenarnya Boy masih hidup. Selama ini dia mengasingkan diri sampai kasus ini tutup."
"Aku tidak akan semudah itu percaya padamu Dedy. Kalau mayat yang ditemukan dalam mobil Boy bukan anakku, lalu mayat siapa?"
Dedy menceritakan semua kronologinya sampai mendetail. Dia berharap dengan menceritakan semuanya, wanita itu akan mempercayai ucapannya.
"Bagaimana pun aku tidak akan begitu mudah mempercayai ceritamu itu Dedy."
Wanita itu mengalihkan pandangannya pada Boy.
"Ken, wajahmu emang mirip dengan putraku, Boy. Tapi bukan berarti kamu bisa dengan seenaknya mengaku sebagai Boy yang hidup kembali dari kematian. Aku tidak mau karna ulahmu ini arwah putraku menjadi tidak tenang."
"Ma, aku Boy. Boy anak Mama satu-satunya," ucap Boy mencoba meyakinkan mamanya.
"Anakku sudah meninggal Ken."
"Tidak Ma. Aku belum mati Ma. Aku masih hidup," ucapnya.
Boy tersungkur di kaki mamanya dan memegang erat tangan wanita itu.
"Ma, percayalah padaku! Aku adalah Boy, anak Mama. Aku belum mati Ma. Semua itu hanya rekayasa dan sekarang aku kembali."
"Ken, Tante memang rindu pada Boy tapi Tante tidak rela kalau kamu mengaku sebagai Boy."
"Ma, aku mohon percayalah padaku. Aku Boy anak Mama," ucap Boy sembari mencium tangan mamanya.
Wanita itu mengelus punggung Boy dengan lembut. Air matanya hampir jatuh, tapi dia berusaha menahannya. Untuk beberapa saat keadaan itu menjadi haru biru.
"Ken, bangunlah!" ucap wanita itu.
"Tidak Ma, aku tidak akan bangun sampai Mama percaya kalau aku adalah Boy, anak Mama."
"Tidak Nak, kamu tidak bisa melakukan ini. Kamu tetap Ken dan tidak bisa menjadi Boy."
Boy mengangkat wajahnya dan memandangi wajah mamanya nanar. Pria itu tidak menyangka kalau mamanya juga tidak mempercayai dia sebagai Boy.
"Ma, apa Mama sama sekali tidak mengenaliku? Apa Mama tidak merindukan aku?"
"Aku merindukan anakku Boy. Sangat merindukannya, tapi dia sudah tidak ada."
"Aku masih ada di sini Ma."
"Bangunlah Nak! Kalau kamu mau menganggap Tante seperti mamamu, Tante tidak keberatan Nak. Tapi jangan mengaku sebagai Boy!"
Raut kecewa nampak jelas di mata pria itu. Bukan hanya Boy yang merasa kecewa, Dedy juga merasa kecewa dan sedih melihat keadaan Boy. Dia merasa ini semua adalah kesalahannya dan dia akan bertanggung jawab untuk membuat orang tua Boy menerimanya kembali.
eh, nih cewek petugas hotel, jadi lucu sih
hilih matanya ternoda
Kasihan andai Boy tak bisa menghindari masalah