Karena hutang pada mantan kekasihnya dan biaya kuliah yang nunggak, Fahira terpaksa mencari sampingan dengan menyamar sebagai peramal.
Akhirnya lapak jasa ramalnya didatangi pelanggan pertama, dia seorang duda ganteng yang kaya raya. Sudah lima tahun menduda. Ternyata duda itu merupakan tetangga sebelah rumah kos-kosan Fahira yang sudah lama Fahira taksir.
Fahira akhirnya merencanakan sesuatu. Dengan menyamar sebagai peramal, dia menjerat duda itu.
Apa yang dilakukan Fahira sebagai Peramal palsu pada sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Faheera Pergi
Faheera menuruni tangga dan berjalan seraya menyeret tas jinjingnya yang berisi semua pakaiannya tanpa sisa. Faheera menangis, sungguh ia berat meninggalkan rumah ini terutama Gelora.
Di tengah rumah ia bertemu dengan dua ART rumah ini yang sengaja diperintahkan untuk mengawasi Faheera. Faheera berpamitan pada dua ART itu dengan sopan.
"Bi Sonia dan Bi Jelita, terimakasih sudah menerima saya dengan baik di rumah ini. Saya harus pergi, karena sudah tidak ada yang percaya saya lagi di rumah ini. Silahkan periksa isi tas saya, biar kalian yakin bahwa isi tas saya tidak ada barang di rumah ini yang saya ambil." Faheera menyodorkan tasnya untuk diperiksa Bi Sonia dan Jelita.
Sejenak Bi Sonia memeriksa isi dalam tas Faheera, setelah merasa aman dan tidak ada barang di rumah ini yang diambil Faheera, Bi Sonia mengembalikan tas itu ke tangan Faheera.
"Saya minta maaf berani periksa tas Non Faheera, karena saya mendapat tugas dari Nyonya Besar," ujar Bi Sonia merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, Bi. Saya mengerti semua ini hanyalah tugas yang diberikan majikan pada kalian. Bi Sonia dan Bi Jelita baik-baik di sini, ya." Faheera meraih tasnya dan berbalik.
Namun baru saja membalikkan badan, Faheera merasa perutnya mual ingin muntah.
Faheera segera berlari menuju kamar mandi ART yang berada di belakang dapur, cukup lumayan jauh juga. Tapi Faheera harus sampai di sana, sebab rasa mual itu disertai ingin muntah yang tidak tertahan.
"Kenapa dengan Non Faheera, dia mual-mual. Kasihan, dia terusir dalam keadaan sakit," iba Bi Jelita sedih.
Sepuluh menit kemudian Faheera keluar dari kamar mandi ART, dia merasa puas setelah menumpahkan rasa mual di sana. Faheera mendadak bingung dengan keadaan dirinya yang tiba-tiba saja mual dan kini kepalanya dilanda sakit juga.
"Ya Allah, jangan karena gara-gara sakit, aku terpaksa menunda kepergianku dari rumah yang sudah tidak menginginkan kehadiranku. Aku tidak mau dianggap perempuan yang sengaja masuk ke dalam keluarga ini hanya demi harta dan ingin morotin uang Mas Gelora. Aku harus kuat dan segera pergi sebelum Mas Gelora kembali," tekadnya seraya kembali ke ruang tengah menemui kedua ART itu.
"Bi Jelita, bolehkah saya bawa saja minyak kayu putih ini untuk mengoles rasa mual di pundak saya?" Faheera meminta minyak kayu putih milik Bi Jelita.
"Ambil saja, Non."
"Non Faheera, apakah Nona benar-benar akan pergi, kami rasanya khawatir dengan keadaan Nona yang saat ini sakit?" lanjut Bi Jelita berkata dengan nada sangat khawatir.
"Tidak apa-apa, Bi. Sepertinya saya memang kena masuk angin, dan sekarang saya mual-mual. Baiklah saya harus segera pergi. Titip Mas Gelora, ya, Bi. Jangan biarkan dia tidak sarapan pagi apabila akan pergi ke kantor atau ke toko bangunan," amanatnya sebelum kakinya melangkah dari ruangan itu.
Bi Sonia dan Bi Jelita saling tatap sedih. Sementara Faheera menyeret kakinya keluar dari rumah itu dan menunggu kedatangan grab yang sudah dia pesan tadi lewat aplikasi grab.
Sepuluh menit kemudian, grab pesanan Faheera tiba. Faheera segera menaiki grab itu setelah tas jinjingnya dibantu dinaikin Pak Supir.
Faheera sudah berada di dalam taksi yang kini mulai berjalan perlahan. Faheera menatap lekat rumah Gelora dengan raut wajah sedih. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil baru saja tiba di depan gerbang rumah Gelora. Ternyata itu memang Gelora yang tadi sejenak pergi karena tiba-tiba ada hal penting di pabrik gula miliknya.
"Bi, siapa mobil yang tadi parkir dari depan gerbang rumah ini?" heran Gelora seraya menatap ke arah pintu gerbang.
"Itu tadi grab yang menjemput Non Faheera. Non Faheera baru saja pergi dari rumah ini," jelas Bi Sonia apa-adanya.
Gelora tertegun mendengar perkataan Bi Sonia barusan, sudut hatinya seakan ada yang hilang dan kecewa atas kepergian Faheera. Namun, melihat rekaman vidio saat Faheera menghampiri dan memberikan amplop pada lelaki yang menjadi mantan kekasih Faheera itu, hati Gelora kembali dibalut amarah. Dia kini harus mengikhlaskan kepergian Faheera karena dianggapnya sudah berkhianat.
"Ngomong-ngomong, kenapa dia lama dan tidak segera pergi, apakah dia sengaja mengulur waktu supaya aku menghalanginya untuk pergi?" tukas Gelora lagi penasaran.
"Non Faheera tadi tiba-tiba saja mual dan sempat muntah-muntah di kamar mandi, sepertinya Non Faheera sedang sakit," terang Bi Jelita seadanya.
"Deg."
Jantung Gelora tiba-tiba berdegup kencang saat mendengar Faheera mual dan muntah-muntah. Gelora segera menaiki tangga dan memasuki kamarnya. Dia akan memeriksa kamarnya apakah ada barangnya yang hilang atau diambil Faheera.
"Kenapa kamu tega khianati aku Heera? Jika kamu tidak lakukan itu, maka aku tidak akan rela melepaskanmu," bisik Gelora sembari mengayun langkahnya ke atas tangga dan segera menuju kamar yang sempat jadi tempat memadu cinta kasih bersama Faheera, istri yang hanya dia miliki saja.
Tiba di dalam kamar, suasana begitu lengang. Bayang Faheera yang manja tapi perhatian terlintas kembali di kepala Gelora. Tapi bayang pertemuan Faheera tadi siang lewat vidio rekaman yang diketahui oleh mamanya, secepat mungkin menghempas kesedihan Gelora atas kepergian Faheera.
"Buat apa aku meratapi kepergiannya. Dia sudah berkhianat dan berniat menguras hartaku demi lelaki bangsat itu. Jadi, aku tidak perlu merasa sedih atas kepergiannya," hibur Gelora pada dirinya sendiri.
Gelora kini mulai menyasar kamarnya, kamudian matanya memendar ke seluruh ruangan. Tidak ada yang hilang di sana. Lalu Gelora menuju lemari dan laci, dia sempat menyimpan beberapa uang lembaran merah. Uang itu masih ada dan utuh di sana, lalu dia membuka sertifikat tanah dan STNK kendaraan yang sengaja dia simpan di sana. Tapi aman dan sama sekali tidak menghilang.
"Dia tidak membawa apa-apa dari lemari ini."
Gelora menutup lemari itu, lalu menuju ranjang. Ditatapnya lekat ranjang yang pernah menjadi saksi cintanya bersama Faheera. Di mana di situlah pertama kali Gelora merengkuh kesucian Faheera. Bagitu indah dan luar biasa. Tapi ketika ingat akan pengkhianatan Faheera tadi siang, rasa haru itu kini terhempas kembali bersama rasa bencinya yang membara.
Mata Gelora kini menyasar menuju bantal, di sana dia tertegun lalu mendekat setelahnya. Gelora terkejut, sebab di atas bantal Faheera meninggalkan cincin nikah, kartu ATM milik Faheera, serta sebuah amplop putih yang isinya sangat membuat Gelora penasaran.
"Kenapa Faheera meninggalkan cincin dan kartu ATM nya, apa maksudnya." Gelora segera meraih amplop berisi dua lembar surat dari Faheera.
Gelora mulai membuka kertas itu. Susunan tulisan begitu rapi. Di sana bayang-bayang Faheera yang sedang menangis tiba-tiba ikut menyertai Gelora yang akan membaca isi dari surat itu.