Willi, pria dengan pemikiran mendalam jatuh cinta dengan teman sekelasnya. Namun, semua tak akan dapat terjadi. Perempuan itu, adik dari pria jahat yang merenggut kebahagiaan tenteku.
Wanita yang terpaksa menikah dan sengsara, Alisya. Adik angkat dari ibunya Willi. Willi dan Alisya memiliki jarak umur yang tak begitu jauh. Cinta, bisa saja hadir diantara keduanya. Namun, pria jahat itu tak akan membiarkannya.
"Semua wanita adalah milikku." Damar, sang pria kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Modulo12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jemari Lembut
Pagi itu, sinar matahari pagi masuk melalui jendela kamar rumah sakit. Ruangan itu tenang, hanya terdengar suara pelan dari alat-alat medis yang menjaga Alisya tetap stabil. Alisya membuka matanya perlahan, merasakan tubuhnya yang mulai membaik. Pandangannya tertuju pada Willi yang tertidur di samping tempat tidurnya, duduk di kursi dengan kepalanya bersandar di pinggiran tempat tidur. Satu lengannya melingkar di atas selimut, memeluk lengan Alisya dengan erat seolah takut kehilangannya.
Alisya tersenyum lembut melihat betapa lelah dan damainya Willi saat tertidur. Dia tahu betapa keras Willi berusaha untuk melindunginya, dan itu membuat hatinya hangat. Perlahan-lahan, Alisya menggerakkan tangannya, jemarinya menyentuh lembut kepala Willi, mengusap rambutnya yang sedikit berantakan.
Willi tergerak pelan, matanya mulai terbuka. Begitu melihat Alisya sudah terbangun dan menatapnya dengan senyuman, dia langsung duduk lebih tegak, rasa lega jelas terlihat di wajahnya.
“Kakak sudah bangun?” Willi bertanya dengan suara serak karena baru bangun tidur.
Alisya tersenyum lebih lebar, “Iya, aku sudah merasa lebih baik sekarang, terima kasih.”
Willi melepaskan lengannya dari pegangan, meskipun terlihat agak ragu seolah tidak ingin kehilangan kontak dengan Alisya. “Aku senang mendengarnya,” ujarnya dengan mata yang masih sedikit lelah. “Aku semalam takut banget kalau sesuatu terjadi sama kamu.”
Alisya mengangguk pelan, masih merasakan kehangatan yang ada di antara mereka. Tanpa sadar, ia memegang tangan Willi yang sekarang berada di atas tempat tidur. Jemari mereka saling menggenggam dengan erat, seolah ada ikatan yang semakin kuat sejak malam sebelumnya.
“Willi...” Alisya berkata dengan suara lembut, pandangannya tertuju ke mata Willi yang kini menatapnya penuh perhatian. “Terima kasih sudah selalu ada di sampingku. Aku nggak tahu harus gimana kalau kamu nggak ada.”
Willi tersenyum tipis, hatinya berdebar. “Aku nggak akan biarin kamu sendirian, Kak. Aku selalu ada untuk kamu, apapun yang terjadi.”
Alisya merasakan kehangatan dalam kata-kata Willi. Ada sesuatu yang berubah di antara mereka sejak malam itu. Bukan hanya kasih sayang seorang adik dan kakak, tapi ada perasaan yang lebih dalam, yang membuat detak jantung Alisya berpacu lebih cepat setiap kali ia menatap mata Willi.
Perlahan, Alisya meraih pipi Willi, mengusapnya dengan lembut. “Kamu terlalu baik untukku, Will.”
Willi menatapnya dengan penuh cinta, dan tanpa berkata apa-apa lagi, dia mendekatkan wajahnya ke Alisya. Perlahan-lahan, mereka semakin dekat, dan tanpa sadar, bibir mereka bersentuhan dalam sebuah ciuman lembut. Tidak ada yang terburu-buru, semuanya terasa alami dan penuh kehangatan.
Ketika mereka akhirnya melepaskan diri, Willi menatap Alisya dengan senyuman hangat. “Kak, aku nggak akan biarin siapapun menyakitimu lagi. Aku janji.”
Alisya mengangguk pelan, hatinya merasa tenang untuk pertama kalinya setelah semua yang terjadi. “Aku percaya padamu, Will. Kita akan hadapi semuanya bersama.”
Alisya yang masih merasa lemah setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit tiba-tiba merasa perlu ke toilet. Dia mencoba untuk bangun dari tempat tidurnya, namun tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih.
"Willi," panggil Alisya pelan sambil memegang sisi tempat tidur untuk menstabilkan dirinya. "Bisa temani aku ke toilet? Aku masih agak pusing dan perawatnya nggak ada."
Willi yang saat itu sedang duduk di samping tempat tidur, langsung bangkit dengan cepat. “Tentu, Kak. Aku bantu kamu.”
Dengan lembut, Willi meraih lengan Alisya, membantu menopangnya untuk berdiri. Tubuh Alisya terasa lemas, dan langkahnya agak goyah saat mereka mulai berjalan menuju toilet yang tidak terlalu jauh dari tempat tidurnya.
Saat mereka hampir sampai di pintu toilet, tiba-tiba Alisya kehilangan keseimbangannya. Tubuhnya oleng ke depan, hampir jatuh. Namun, dengan cepat Willi menangkapnya, kedua lengannya segera melingkari pinggang Alisya, memapah tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai.
“Whoa! Hati-hati, Kak!” kata Willi dengan nada cemas, namun berusaha tetap tenang. Dia menarik Alisya lebih dekat ke tubuhnya agar kakaknya tidak terjatuh.
Alisya menempel pada Willi, merasa jantungnya berdebar cepat karena hampir terjatuh. “Maaf, aku lemah sekali,” katanya dengan suara lirih.
“Tidak apa-apa, Kak. Kamu belum pulih sepenuhnya,” jawab Willi dengan lembut sambil membantu Alisya berdiri lebih tegak. “Aku akan tetap di sini, jangan khawatir.”
Willi terus memegang Alisya dengan erat, membimbingnya masuk ke dalam toilet dengan hati-hati. Alisya merasa aman berada dalam dekapan Willi, dan meskipun ia merasa malu karena keadaannya yang lemah, ia tahu bahwa Willi akan selalu ada untuk menjaganya.
Setelah selesai, Willi membantu Alisya kembali ke tempat tidur, memastikan dia duduk dengan nyaman sebelum berbaring kembali.
"Terima kasih, Willi," bisik Alisya, menatap adiknya dengan penuh rasa terima kasih. "Aku benar-benar tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpa kamu."
Willi tersenyum dan mengusap lembut rambut Alisya. "Kamu nggak perlu khawatir, Kak. Aku akan selalu ada di sini untukmu, apapun yang terjadi."
Dengan perasaan lega dan tenang, Alisya akhirnya bisa beristirahat lagi, sementara Willi tetap di sisinya, menjaga agar ia tetap aman dan nyaman.
Tak lama perawat datang, Alisya diperbolehkan pulang. Willi tak pernah lepas dari sisinya, selalu memastikan kakaknya mendapat perhatian penuh. Sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit, Willi menuntun Alisya dengan hati-hati. Setelah semua yang terjadi, ia bertekad untuk melindungi wanita yang dianggapnya lebih dari sekadar kakak angkat.
Setiba di rumah, Willi membantu Alisya menuju kamar tidurnya. "Kak, kalau kamu butuh apa-apa, panggil aku ya," katanya, meletakkan bantal di belakang punggung Alisya dan membenarkan selimutnya. Matanya dipenuhi dengan kehangatan dan kecemasan yang mendalam.
"Terima kasih, Wil," Alisya tersenyum kecil, masih lelah dari proses pemulihan. "Aku merasa lebih baik sekarang, berkat kamu."
Willi duduk di sisi ranjangnya, menatap kakaknya dengan penuh perhatian. "Aku akan berada di sini selama kamu butuh. Apa pun yang terjadi, aku nggak akan biarin kamu sendirian lagi."
Mereka berdua terdiam sejenak, hanya menikmati kehadiran satu sama lain. Willi masih merasa berat di dadanya ketika melihat bekas luka di tubuh Alisya. Baginya, setiap tanda itu adalah pengingat betapa rapuhnya kakaknya saat ini, dan betapa besarnya kesalahan Damar.
Saat makan siang tiba, Willi memutuskan untuk memasak sesuatu yang sederhana namun bergizi. "Kamu harus makan, Kak. Aku tahu kamu mungkin nggak terlalu lapar, tapi ini penting untuk pemulihanmu," katanya sambil meletakkan semangkuk sup hangat di atas meja samping tempat tidur Alisya.
Alisya tersenyum lemah dan mengangguk, menerima sendok yang disodorkan Willi. "Kamu benar-benar sudah seperti seorang adik yang baik, Wil. Ibu pasti bangga melihatmu seperti ini."
"Aku cuma ingin kamu sembuh, Kak," kata Willi sambil menatapnya lembut.
Hari-hari berikutnya, Willi tak pernah jauh dari sisi Alisya. Ia berhenti pergi keluar bersama teman-temannya, bahkan absen dari beberapa kelas di sekolah hanya untuk memastikan kakaknya baik-baik saja. Setiap malam, sebelum tidur, ia selalu memeriksa keadaan Alisya, memastikan semuanya aman.
Suatu sore, ketika Alisya sedang beristirahat di ruang tamu, Willi duduk di sofa di sebelahnya, menatap kosong ke arah jendela. Di dalam pikirannya, ia terus memikirkan bagaimana bisa Damar berubah begitu drastis. Damar yang dulu baik hati dan penuh kasih sayang, kini menjadi seseorang yang sangat berbeda, sosok yang tak bisa dimaafkan.
"Kak, aku janji akan melindungi kamu dari sekarang," kata Willi tiba-tiba, suaranya penuh ketegasan. "Aku nggak peduli apa yang harus kulakukan, tapi aku nggak akan biarin Damar mendekatimu lagi."
Alisya mengangguk pelan. "Aku tahu, Wil. Tapi kita nggak bisa terus-terusan hidup dalam ketakutan. Kita harus melanjutkan hidup."
Willi menatapnya dengan serius. "Aku ngerti, Kak. Tapi aku nggak bisa tenang kalau dia masih bebas di luar sana. Kita harus melakukan sesuatu."
Alisya terdiam, menatap Willi dengan tatapan lembut namun penuh kebingungan. "Kita harus berhati-hati, Wil. Aku nggak mau kamu terluka gara-gara ini."
Willi menggeleng. "Aku nggak peduli tentang diriku sendiri. Aku cuma peduli tentang kamu. Aku nggak akan biarin dia menyakitimu lagi."
Beberapa hari kemudian, Alisya mulai pulih dengan baik. Meski tubuhnya masih lemah, semangatnya mulai kembali. Tapi Willi masih terus berjaga-jaga, memastikan Damar tidak punya kesempatan untuk mendekat.
Setiap kali ada panggilan atau pesan dari nomor yang tidak dikenal, Willi langsung memeriksa. Bahkan ketika ada ketukan di pintu, ia selalu memastikan siapa yang datang sebelum membiarkan siapa pun masuk. Ia benar-benar waspada, takut bahwa Damar mungkin mencoba sesuatu.
Suatu hari, Alisya menatap Willi dengan raut wajah penuh kasih sayang. "Wil, kamu nggak bisa terus-terusan hidup dalam ketakutan seperti ini. Kita harus melanjutkan hidup kita, kamu juga."
"Aku nggak akan pernah tenang, Kak, selama Damar masih berkeliaran di luar sana," jawab Willi tegas.
Alisya mendesah pelan. "Aku tahu kamu khawatir, tapi hidup harus terus berjalan. Kamu harus kembali ke sekolah dan mulai fokus lagi pada masa depanmu."
Willi terdiam sejenak, berpikir. "Aku nggak bisa fokus kalau aku tahu kamu masih dalam bahaya."
"Aku sudah jauh lebih baik sekarang, Wil. Kamu sudah melakukan lebih dari cukup. Sekarang waktunya kamu kembali menjalani hidupmu sendiri," kata Alisya dengan lembut.
Willi mengangguk pelan, meski hatinya masih dipenuhi kecemasan. Dia tahu bahwa apa yang dikatakan Alisya benar, tapi sulit baginya untuk melepaskan rasa tanggung jawab ini.
Malam itu, setelah Alisya tertidur, Willi duduk di luar kamar kakaknya, memandangi pintu dengan tatapan serius. "Aku nggak akan biarin dia menyakitimu lagi, Kak. Aku akan selalu berjaga."