"Tanggal 1 April pukul 11.11 aku sepertinya telah jatuh cinta!"
Gema menyadari perasaannya dan pada hari itu juga pemuda yang masih duduk di bangku sekolah itu akan melamar sang pujaan hati.
"Aku akan menikahi Chila sekarang juga!"
Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasien Chila
Pagi itu, Chila bangun lebih dulu jadi kali ini dia bisa melihat wajah Gema yang masih terpejam matanya.
Chila memandangi suaminya itu dengan perasaan sulit diartikan.
"Kenapa kau melakukan semua ini, Gema," batin Chila merasa sedih.
Gadis itu perlahan menjauhkan dirinya tapi sepertinya Gema merasakan pergerakan dari istrinya.
"Mau kemana?" tanya Gema yang menarik Chila kembali dalam pelukannya. "Masih pagi jadi ayo tidur lagi!"
Kali ini Chila tidak marah tapi terkejut karena suhu tubuh Gema yang panas.
"Gema, kau demam?" Chila mencoba memeriksa kening suaminya dan memang benar kalau pemuda itu sedang demam.
"Aku akan memanggil daddy!"
"Tidak perlu, kau di sini saja istriku," Gema tidak mau Chila meninggalkan dirinya.
"Kau harus segera diperiksa, Gema!" Chila tetap keluar dari kamar dan memanggil Armon.
Pada saat itu Armon tengah bersama Sean di taman. Keduanya sibuk membuat kolam ikan.
"Daddy..." panggil Chila.
Sean yang mendengar suara sang kakak mencoba memberitahu Armon.
"Sepertinya daddy dicari kak Chila," ucap Sean.
Armon menghentikan kegiatannya sejenak lalu menoleh ke belakang dan melihat putrinya mendekat.
"Ada apa?" tanyanya.
"Gema demam, coba daddy periksa!" pinta Chila.
"Pasti karena bermain drama hujan-hujanan semalam," komentar Armon.
Entah kenapa mendengar itu, Chila jadi tidak suka. Seolah sang daddy meremehkan Gema.
"Gema begitu karena mengambilkan vitamin untukku, dia memang lebay tapi hatinya tulus," ucap Chila membela suaminya.
Pupil mata Armon membesar karena melihat sendiri respon dari Chila. Sepertinya gadis itu sudah mulai menaruh rasa simpati pada Gema, baguslah artinya Chila tidak mati rasa lagi pada laki-laki.
Kalau begini harapan pada Chila bisa terbuka lebar, Armon tidak mau melihat putrinya mengabdikan diri ke kuil.
"Baiklah, Daddy akan memeriksa suamimu," ucap Armon kemudian.
Lelaki itu membersihkan tangan lalu mengambil peralatan dokternya untuk memeriksa Gema.
Saat diperiksa suhu tubuh Gema memang panas tinggi jadi Armon meminta menantunya itu untuk segera makan dan minum obat.
"Lebih baik besok jangan masuk sekolah dulu," ucap Armon.
"Tidak apa-apa, aku akan tetap pergi ke sekolah. Aku harus menjaga istriku," Gema menolaknya.
"Kau sepertinya memang sangat menyukai putriku, ya," tanggap Armon dengan kekehan.
"Bukan sepertinya, aku sangat menyukai Chila, daddy," ucap Gema penuh penekanan.
Sudah sampai sejauh ini tapi perasaannya selalu diragukan.
"Aku bukan laki-laki aneh yang tiba-tiba saja mengajak seorang gadis menikah, aku memang salah di awal karena ingin mengajak Chila hidup menjadi rakyat jelata. Tapi, hal itu tidak akan terjadi lagi," tambah pemuda itu.
"Walaupun kau sudah tahu tentang riwayat penyakit Chila? Apa benar perasaanmu tidak akan berubah?" cecar Armon.
"Tidak akan, Daddy!" tegas Gema.
"Sekarang aku percaya padamu tapi aku ingin lihat ke depannya nanti bagaimana," ucap Armon yang sudah mengalami banyaknya asam garam kehidupan.
Satu hal yang dia pelajari bahwa perasaan orang itu bisa berubah seiring berjalannya waktu.
Tak lama Chila menyusul ke kamar dengan membawa semangkuk sup buatan sang mami.
"Makanlah dulu!" pinta Chila seraya mendekat ke arah Gema.
"Karena demam, tenagaku jadi berkurang banyak bahkan tidak bisa mengangkat sendok," ucap Gema penuh modus.
"Ish, bilang saja kalau ingin disuapi," Chila menggerutu sebal.
Walaupun begitu Chila tetap menyuapi Gema dengan hati-hati. Dia menganggap pemuda itu adalah pasien.
cui cui cui