Azka yang biasanya duduk di bangku cadangan saat pertandingan basket, tiba-tiba ada yang merasuki tubuhnya dan memberinya kekuatan. Dia menjelma menjadi pemain basket profesional.
Raga Azka kini dikuasai oleh jiwa lain. Bagaimana jika jiwa itu adalah mantan dari mamanya yang telah meninggal dua puluh tahun lalu?
Masalah apa yang belum dia selesaikan di dunia ini hingga membuat jiwanya menetap di dunia? Apa dia memang diutus untuk menjaga Azka dan meraih impiannya melalui raga Azka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Azka menghentikan motornya di depan sebuah sekolah dasar. Sekolah itu sudah sepi, tapi masih ada dua mobil dan beberapa sepeda motor di sana. Dia turun dari motor dan menghampiri seorang satpam yang sedang duduk di dalam posnya.
"Permisi Pak, saya mau bertanya ...." Belum selesai Azka dengan pertanyaannya, dia melihat ada seorang ibu-ibu yang baru saja keluar dari ruang guru sambil menangis. Dia melihat ada hantu anak kecil yang baru saja muncul di dekat ibu itu. Hantu kecil itu berusaha memegang tangan ibunya dan mengajaknya berbicara. Ya, hantu itulah yang dia lihat di rumah sakit dan meneror Amira.
Azka berjalan mendekat dan berhenti di dekat ibu-ibu itu. "Maaf, apa ibu mencari anak laki-laki yang masih sekitar umur 8 tahun."
"Iya, sudah dua hari hilang. Terakhir dia bersama Ayahnya, tapi Ayahnya bilang dia sudah pulang. Kamu tahu dimana dia?"
"Dia di rumah sakit," jawab Azka singkat.
"Di rumah sakit?" Seketika ibu itu duduk dengan lemas di kursi dekat pos satpam. "Aku memang sudah cerai dengan Ayahnya. Apa yang sudah dilakukan Hendra sama Raffa? Dia terluka parah?"
Azka terdiam. Dia tidak tega mengatakan yang sebenarnya pada ibu itu bahwa putranya sebenarnya telah tiada. "Aku antar saja ke rumah sakit. Nanti ibu lihat sendiri."
Ibu itu menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah Azka keluar dari gerbang sekolah.
Azka segera mengendarai motornya menuju rumah sakit bersama ibu itu. Beberapa saat kemudian, Azka sudah sampai di rumah sakit.
Azka dan ibu itu segera masuk ke dalam rumah sakit. Dia bertanya pada bagian informasi tentang mayat seorang anak laki-laki yang ditemukan di sungai.
"Maksud kamu apa? Anak aku sudah mati?" tanya ibu itu saat mendengar Azka yang justru bertanya tentang mayat anak laki-laki.
"Ibu lihat saja pastinya karena mayat itu belum ada identitasnya."
Ibu itu hanya meremas kedua tangannya sendiri. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi keluarganya agar segera melapor pada polisi. Sepertinya firasat buruk akhir-akhir ini memang nyata, mantan suaminya lah yang bersalah.
Saat berada di kamar mayat, ibu itu menangis histeris setelah kain penutup itu dibuka oleh petugas di kamar mayat itu. "Raffa, sayang. Maafkan Mama yang tidak bisa jaga kamu. Maafkan Mama yang percaya begitu saja sama Ayah kamu."
Satu lagi masalah telah dipecahkan oleh Azka. Dia berjalan keluar dari ruang mayat itu dan melihat hantu anak kecil itu yang tersenyum sambil melambaikan tangannya. Dia berharap tidak ada lagi hantu penasaran yang meminta tolong pada Amira agar Amira tidak ketakutan lagi.
"Kenapa aku jadi memikirkan Amira? Aku ke rumahnya ajalah," gumam Azka.
Azka kini mengendarai motornya lalu melajukan motor itu menuju rumah Amira. Tidak bertemu Amira sehari saja rasanya sepi karena tidak mendengar cerewetnya.
Beberapa saat kemudian, dia telah sampai di depan rumah Amira. Dia turun dari motornya dan berjalan masuk ke teras rumah Amira. Dia kini menekan bel rumah itu.
"Azka." Risa membuka pintu itu lalu dia mempersilakan Azka masuk. "Masuk dulu, Amira baru mau makan. Dari tadi ketakutan."
Azka hanya menganggukkan kepalanya kemudian dia mengikuti Risa masuk ke dalam rumah itu lalu duduk di ruang makan di dekat Amira.
"Azka, sudah beres masalahnya?" tanya Amira.
"Udah dong. Dia udah gak ada kan di sini."
Amira menganggukkan kepalanya. "Makanya aku baru makan. Makan juga, yuk!"
"Iya, Azka kamu makan juga ya biar Amira lahap makannya. Dari tadi gak mau makan dan minum karena ketakutan." Risa mempersiapkan makanan juga untuk Azka.
"Iya, Tante."
Setelah Risa keluar dari ruang makan, Azka mendekatkan piring lalu mengambil nasi serta lauknya. Tidak ada yang namanya rasa sungkan ataupun malu-malu. Dia mengambil porsi makan yang cukup banyak karena perutnya memang sangat lapar padahal dia sudah memakan bekalnya sampai habis.
Amira hanya tersenyum sambil menatap Azka yang makan dengan lahap. "Hantu bisa lapar juga ternyata."
"Aku manusia bukan hantu, uhuk!" Azka hampir saja tersedak makanan yang dia telan.
"Eh, sorry." Amira segera mengambil air putih untuk Azka.
Azka segera meneguk segelas air putih itu hingga habis lalu menatap Amira yang masih saja menatapnya. "Kenapa?"
Amira hanya menggelengkan kepalanya lalu dia kembali menyantap makanannya.
Kenapa dada aku berdebar gini setiap dekat Azka? Aku gak jatuh cinta kan sama Azka? No! Aku gak boleh jatuh cinta sama jiwa itu. Dia gak nyata. Suatu saat nanti dia juga akan pergi dari dunia ini.